Senin, 04 Mei 2015 0 komentar

kangen liqo-an


0 komentar

kembali padaNya

Ketika pelarian kepada sesuatu yang tidak kekal tidak bisa menghapus rasa gelisah dan rasa khawatir yang buncah.

Ketika hatimu sudah tak tentram dengan semua yang terjadi.

Itu adalah waktu yang tepat buatku kembali padaNya. Kembali membersihkan hati dan pikiran hingga ikhlas menjadi warna dalam hidup.

Astaghfirulloh.  Semoga bisa hidup dalam ketaatan dan kesyukuran. Semoga bisa jadi target harian yang bisa menghapus semua resah dan gundah. Amin
Senin, 20 Oktober 2014 3 komentar

BORI (Bolang Sendiri): Chapter Mojokerto

Hi Blog!

 Niatnya sih ke nikahan temen, cuman pas sadar kalo rumah temenku ini di Trowulan, Mojokerto, kenapa gak sambil minum air kita nyelam? Hehe kebalik ya...

Oke, intip nih chapter bori aka bolang sendiri ditemani mamang ojek Pak Nurochman namanya, bapak paro baya yg pendiem... Padahal aku kriuk juga, klop dah...

1. Vihara Buddha Majapahit

Kirain ini peninggalan Majapahit, ternyata Vihara yg dibangun oleh komunitas Buddha Mojojerto, keren nih patung Buddha yg tiduran (melambangkan wafatnya Buddha). Nih patung Buddha terbesar ketiga loh sedunia katanya...

2. Candi Brahu


Masuk ke sini dipalak sama penjaganya, harusnya ada karcis gitu ya biar masuk kas daerah... Lokasinya gak jauh dari Vihara cuman 5 menit ( km) via google map.

Di sini juga ada tumbuhan dibentuk stupa, coba aq punya tumbuhan kayak gitu hehe



3. Candi Gentong

Lokasinya juga gak jauh dari Candi Brahu. Intinya kalo ada kendaraan sendiri enak sob, deket cuman satu kecamatan.


4. Kolam Segaran

Konon katanya saking kayanya Kerajaan Majapahit, tiap habis jamu tamu, peralatan makannya dibuang di sini. Really?



Keliling selama 2 jam ini disponsori oleh uang saku 100ribu. Lumayan lah..

Sanpai jumpa di chapter berikutnya.... Happy travelling fellas!
Minggu, 22 Juni 2014 0 komentar

Jamur Merang Saus Tiram

Hari Minggu bosan, main ke Pasar Wonokriyo, Gombong dan mencoba membeli ini...


Akhirnya saya putuskan memasak jamur merang saus tiram (masaknya pake magic com hehe) Ini nih bahan-bahannya:

- jamur merang disuir-suir panjang
- 5 siung bawang merah
- 1 siung bawang putih
- lada bubuk
- garam secukupnya
- buncis 3 biji diiris panjang 5 cm
- wortel 1 biji diiris seperti korek api
- seledri
- daun bawang
- saus tiram
- saus tomat
- sosis dipotong potong tebal 2 cm

Tra lala, this is it ala chef Mila :)


Minggu, 25 Mei 2014 0 komentar

HUJAN BULAN JUNI





Sepilihan sajak yang berjudul Hujan Bulan Juni ini adalah karya pujangga terkemuka Indonesia kelahiran Surakarta, 74 tahun yang lalu yakni Sapardi Djoko Damono yang ditulis pada tahun 1959-1994 yang diterbitkan oleh PT Gramedia Pustaka Utama. Buku ini terdiri dari 102 judul puisi yang isinya mengenai bermacam hal mulai dari waktu, tentang hubungan manusia kepada Tuhan, cinta, kematian, hubungan antar manusia, doa, hujan, lingkungan, dan kota; puisi-puisi tsb menggambarkan kekhasan karya Sapardi Djoko Damono.

Ada satu judul puisi di buku ini—yang sempat saya bacakan di sebuah forum peningkatan kinerja—yang berjudul Sajak Desember. Ini adalah pengalaman pertama saya membaca puisi di depan 200-an audiens tanpa nervous.

kutanggalkan mantel serta topiku yang tua
ketika daun penanggalan gugur
lewat tengah malam. kemudian kuhitung
hutang-hutangku pada-Mu

mendadak terasa: betapa miskinnya diriku;
di luar hujan pun masih kudengar
dari celah-celah jendela. ada yang terbaring
di kursi letih sekali

masih patutkah kuhitung segala milikku
selembar celana dan selembar baju
ketika kusebut berulang nama-Mu; taram
temaram bayang, bianglala itu

1961

Selain puisi di atas saya juga tertarik dengan puisi-puisi berikut yang memang tidak sepopuler judul lainnya:

Ketika Jari-Jari Bunga Terbuka
Ketika Jari-jari bunga terluka
mendadak terasa betapa sengit, cinta kita
cahaya bagai kabut, kabut cahaya
di langit menyisih awan hari ini
di bumi meriap sepi yang purba
ketika kemarau terasa ke bulu-bulu mata

suatu pagi, di sayap kupu-kupu
disayap warna, suara burung
di ranting-ranting cuaca
bulu-bulu cahaya
betapa parah cinta kita
mabuk berjalan diantara
jerit bunga-bunga rekah…

Ketika Jari-jari bunga terbuka
mendadak terasa betapa sengit, cinta kita
cahaya bagai kabut, kabut cahaya
di langit menyisih awan hari ini
di bumi meriap sepi yang purba
ketika kemarau terasa ke bulu-bulu mata

Sepasang Sepatu Tua
sepasang sepatu tua tergeletak di sudut sebuah gudang, berdebu
yang kiri terkenang akan aspal meleleh, yang kanan teringat jalan berlumpur sehabis hujan – keduanya telah jatuh cinta kepada sepasang telapak kaki itu
yang kiri menerka mungkin besok mereka dibawa ke tempat sampah dibakar bersama seberkas surat cinta, yang kanan mengira mungkin besok mereka diangkut truk sampah itu dibuang dan dibiarkan bersama makanan sisa
sepasang sepatu tua saling membisikkan sesuatu yang hanya bisa mereka pahami berdua
(1973)
Berikut, puisi karya Sapardi Djoko Damono yang cukup populer:

Puisi Cat Air Untuk Rizki
angin berbisik kepada daun jatuh yang tersangkut kabel telpon itu, "aku rindu, aku ingin mempermainkanmu! "
kabel telpon memperingatkan angin yang sedang memungut daun itu dengan jari-jarinya gemas, "jangan berisik, mengganggu .
hujan!"
hujan meludah di ujung gang lalu menatap angin dengan tajam,
hardiknya, 'lepaskan daun itu!"
--Puisi di atas sering dijadikan tebakan untuk mengetahui karakter seseorang—

Sihir Hujan
Hujan mengenal baik pohon, jalan dan selokan
Swaranya bisa dibeda-bedakan
Kau akan mendengarnya meski sudah kaututup pintu dan jendela
Meskipun sudah kau matikan lampu

Hujan, yang tahu benar membeda-bedakan, telah jatuh di pohon, jalan, dan selokan
Menyihirmu agar sama sekali tak sempat mengaduh
Waktu menangkap wahyu yang harus kaurahasiakan
--Tentang kebesaran Tuhan dalam menciptakan hujan—

Hujan Bulan Juni
tak ada yang lebih tabah
dari hujan bulan juni
dirahasiakannya rintik rindunya
kepada pohon berbunga itu  

tak ada yang lebih bijak
dari hujan bulan juni
dihapusnya jejak-jejak kakinya
yang ragu-ragu di jalan itu  

tak ada yang lebih arif
dari hujan bulan juni
dibiarkannya yang tak terucapkan
diserap akar pohon bunga itu
                                                1989
--Puisi di atas membahas tentang kerinduan yang ditahan, disembunyikan—

Aku Ingin
Aku ingin mencintaimu dengan sederhana
Dengan kata yang tak sempat diucapkan
Kayu kepada api yang menjadikanya abu

Aku ingin mecintaimu dengan sederhana
Dengan isyarat yang tak sempat disampaikan
Awan kepada hujan yang menjadikannya tiada
1989
--Puisi ini cukup popular dan sering menjadi hiasan dalam undangan pernikahan. Diksinya sederhana namun memiliki ruh yang menyusup ke relung hati apabila diresapi--

Kepopuleran puisi-puisi di atas sebagian disebabkan oleh musikalisasi terhadapnya. Musikalisasi puisi karya SDD dimulai pada tahun 1987 ketika beberapa mahasiswanya membantu program Pusat Bahasa, membuat musikalisasi puisi karya beberapa penyair Indonesia, dalam upaya mengapresiasikan sastra kepada siswa SLTA. Saat itulah tercipta musikalisasi Aku Ingin oleh Ags. Arya Dipayana dan Hujan Bulan Juni oleh H. Umar Muslim. Kelak, Aku Ingin diaransemen ulang oleh Dwiki Dharmawan dan menjadi bagian dari "Soundtrack Cinta dalam Sepotong Roti" (1991), dibawakan oleh Ratna Octaviani. Beberapa tahun kemudian lahirlah album "Hujan Bulan Juni" (1990) yang seluruhnya merupakan musikalisasi dari sajak-sajak Sapardi Djoko Damono. Duet Reda Gaudiamo dan Ari Malibu merupakan salah satu dari sejumlah penyanyi lain, yang adalah mahasiswa Fakultas Sastra Universitas Indonesia (sumber: Wikipedia.org).

Salam Puisi {}
 
;