Jumat, 10 Februari 2012

DENTING HATIKU BICARA


Denting hatiku bicara…
Aku masih melihatnya menari salsa di kubangan labirin memori yang berkunang-kunang…
Masih saja seperti itu…
Cukup…
Cukup….
Tapi tak pernah merasa cukup…
Masih berputar-berputar…
Masih sibuk dengan usahanya yang lain…
Masih membuat sketsa,
Masih menebalkan garis, lengkung, lingkaran,
Masih berusaha mewarnainya pakai spidol, crayon, cat air,
Masih setia pada lukisan kata itu….

Padahal angin puting beliung telah berusaha mencabutnya dari dunia
Padahal ombak ganas di pantai telah bersusah payah merubuhkan karang yang melindungi dunianya
Padahal api yang nyala telah membakar energi semangat hidupnya didunia….

Tetapi dia masih menyanyikan harapan di setiap jejak pikirnya yang masih melayang-layang mengikuti sudut pandangnya atas kata itu….
Tetapi dia masih tersenyum atas kekacauan yang timbul tenggelam di antara kisahnya yang segarang banjir bah yang menyeret barang-barang berharga dari tempat berpijak semula…
Dan tidak menyisakan sedikitpun….
Tetapi dia masih bisa menggambar senyum diantara sendu yang berebut menggelayut di matanya yang bening….
Masih…
Masih…
Bertahan menggenggam kata itu….

Tiada lagi yang peduli dengan kata itu…
Tapi ia masih terus memperjuangkan kehormatan selarik kata itu…
Walau dia harus berdarah-darah ketika pedang tajam sindiran menghunus hatinya….
Walau tangis masih pagi….dan belum kelar cemoohan menamparnya sampai lebam hatinya…
Walau ia harus terseok-seok sambil memeluk erat kata itu…
                                               Dia masih sanggup bertahan….            

Dia berkata, “Aku sanggup mempertahankan kesucian selarik kata ini sampai aku harus mati sudah!”

Aku terperangah dengan jalan pikirnya….
Dia memang telah gila,
Dia memang telah hilang,
Dia memang telah lebur,
Dia memang telah mati.
Aku tertegun ketika dia bicara…
“Aku masih mencintainya. Dan aku tiada peduli bagaimana akhirnya nanti….”

0 komentar:

Posting Komentar

 
;