Minggu, 12 Februari 2012

Oh Ternyata


Created by allegria mila 22 agustus 2008

3 Maret 2008
            Oh, my lovely diary. Akhirnya …….Semester dua datang juga. Tak terasa libur telah menyublim bersama dengan purnanya semester satu. Yuhui…bentar lagi ketemu kelas baru, sobat baru, dosen baru, ehm…..apalagi yang baru ya?
17 Maret 2008
            Sory, my sweety…Aku beberapa hari ini lagi sibuk kuliah. Bayangin, coba! Banyak mata kuliah lain yang ngantri untuk berlomba-lomba merampok waktu bersantai kita, Diary!
            Ughh….capek, deh! Diary, aku juga punya kabar superhueboh lho, makanya tarik nafas dulu… Kemaren, ketika aku sampai di ujung tangga yang menghubungkan lantai dua dengan taman fakultas, mataku tertambat pada anak cowok yang duduk di bawah naungan gazebo. Dia sangat khusyuk mengerjakan sesuatu. Tapi, aku bisa menebak, pasti dia sedang ngerjain pe-er PA2 1. Soalnya, di atas pangkuannya ada buku setebal satu buah batako. Ya, tak salah lagi…..
            “Duh, anak cowok kok bisa serajin itu,”aku geleng-geleng kepala.
            Seseorang menepuk bahuku. Aku menoleh.
            “Kay, kamu dah ngerjain tugas PA2 buat besok?”tanyaku.
            “Alya…Alya…Ya, belum lah ,”sahut Kayla.
            “Btw, mau dapat contekan gratis nggak?”
            “Bukannya dari dulu aku slalu dapat contekan gratis selama aku ce-esan ma kamu,” kata Kayla sambil nyengir, “ mana bukunya? Aku mau nyontek, nih…”
            “Sayangnya aku nggak bisa ngerjain. Kita bisa pinjem dari anak IP 4 kalau mau.”
            “Tumben belom ngerjain, tapi bab ini emang sulit, kok. Anak IP 4 yang mana?”
            “Sssttt, jangan keras-keras. Tuh...” kataku sambil menunjuk sosok itu.
            “Oalah…Fath to? Tapi, sorry ya, Al. Aku nggak bisa pinjem ke dia. Aku nggak kenal dia soale. It’s impossible, baby!”katanya sambil merapikan poninya yang tak karuan karena hembusan angin.
            “Tapi, kita butuh jawaban itu, Kay.”
            “Kita bisa pinjam anak lain kalau mau.”
            “Ya kalau ada yang bisa dipinjemin. Lha wong, anak pinter macam Disa ma Ulva aja nggak bisa. Trus…”
            “Kalau kau berani pinjem jawaban itu dari Fath. Aku akan traktir kamu ke BreadTalk,”kata Kayla sambil beranjak meninggalkanku yang masih asyik menggaruk kepalaku yang terbungkus jilbab peach.

            “Permisi, bisa mengganggu sebentar?”
            “Ya.”
            “Kamu dah selesai ngerjain tugas PA2 buat besok? Sebenarnya, aku sudah berusaha untuk ngerjain tapi sampai otakku gegar otak pun, aku nggak bisa,”kataku sok hiperbolis.
            Dia hanya tersenyum dan menyodorkan bukunya yang bertabur angka-angka dan huruf. Aku segera mengambil tempat duduk di gazebo lainnya, tapi masih bersebelahan.
            “Sorry, masih coretan, belum ku tulis dengan rapi. Masih males.” Akhirnya dia berbicara dalam beberapa kalimat, bukan satu kata! Hyakkk, skor satu-satu nih…
            “What’s!!!Gini dibilang coretan? Nyindir aku opo? Tulisannya rapi banget. Lurus lagi. Nggak seperti tulisanku yang seperti cakar ayam dan naik turun mengikuti perpaduan gelombang transversal atau longitudinal itu…”kataku dalam hati.
            Secepat waktu bergerak, aku segera menyalin jawabannya. Beres.
            “Trims ya…”
            Dia cuma menyunggingkan bibir. Mungkin bingung dengan keberanianku yang sok bersahabat ini.
            Ketika kakiku telah menginjak bibir pintu taman dan hampir turun ke trotoar di sepanjang jalan fakultas.
            “Hey, sepertinya aku sering melihatmu. Kita sering sekelas, ya?”
            Aku cuma tersenyum dan mengangguk lalu meninggalkannya.
           
            Aku menangkap sosok Kayla yang rupanya masih menungguku dibalik rimbunnya bunga bougenville ungu disamping pintu taman.
            “Aku hutang BreadTalk sama kamu. Gimana kalo abis aku menyalin jawaban itu, kita ke Delta Plaza? Kutraktir BreadTalk di sana. Tapi, aku salut sama kamu. Sejak kapan kamu bisa berinteraksi dengan makhluk berjenis kelamin laki-laki? Bicara tanpa menatap matanya aja kamu dah grogi. Apalagi sampe menatap matanya, pasti kamu sudah pingsan dan minta diampuni dosa-dosamu karena zina mata. Jurus apa yang barusan kamu pakai, Non? ”
            “SKSD 2 kali…”jawabku sekenanya. Aku tak mengerti, mengapa aku senekad itu. Selama ini aku hanya berani curi-curi pandang saja pada makhluk berjenis kelamin laki-laki. Aku tak pernah seberani ini menghadapi dan menantang mata lelaki karena aku tahu hukumnya. Tapi kali ini….Aku benar-benar melakukannya. Berbicara face to face dengan laki-laki. Oh, my God.
            “Jadi ke Delta, nggak?”Kayla membuyarkan segunung pikiranku.
            “Aku tak bernafsu dengan BreadTalk. Aku sudah kenyang,”kataku melenggang pergi dan meninggalkannya sendirian.
            “Hei, tunggu….Aku pinjam jawabanmu dulu, Non!”
31 Maret 2008
            Kuliah Binal 3.
            Akhirnya, kelompok yang kutunggu performance-nya maju juga. Kelompok Fath dengan tiga orang cewek modis. Aku bisa menarik kesimpulan awal bahwa Fath memang cenderung berteman dengan cewek karena sifat alamiah dari cewek itu sendiri yang rajin dan studi oriented. Mereka sering keliatan terlibat dalam diskusi mata kuliah ketika jeda kuliah, biasanya di lorong-lorong kampus sambil duduk dan diselingi gurauan.
            Kali ini Fath benar-benar menguasai kelas. Suaranya renyah dan menyelusup ke gendang telingaku dan bertransformasi menjadi tetabuhan yang mengiringi nyanyian decak kagumku. Fath memaparkan final project produk jasanya berupa agen perjalanan sebagai pendukung Visit Indonesia 2008. Two tumbs up! Tak kalah menariknya, dia memandangku agak lama. Diary, hatiku benar-benar rontok.

            Sampai-sampai aku merasakan semua makanan yang kutelan di kantin manis rasanya. Tak terkecuali sambal tempe penyet yang biasanya terasa sangat pedas di lidahku berubah menjadi manis, semanis gula yang dikuadratkan derajat kemanisannya. Oh….aku semakin menumpuk sambal itu dan terus melahapnya dalam hitungan detik. Tangan Kayla menahan tanganku yang akan menambah sambal di piring. Aku melotot protes.
            “Al, kamu nggak kasihan sama lambungmu. Itu sambal, Non. Bukan gulali,”dia mulai melepas tangannya dari tanganku,” boleh aja jatuh cinta tapi jangan nganggap sambal itu gulali. Bisa berabe nanti.” Dia memarahiku.
            “Ah, Kayla. Andai kau tahu. Hatiku benar-benar telah jatuh ke sarang yang berlumur segentong madu cinta. Begitu melenakan hanya karena sebuah pandangan. Aku tahu, belum tentu Fath suka sama aku. Aku sadar, cowok mana yang berani dekat dengan jilbaber macam aku?” kata sudut hatiku.
14 April 2008
            Setumpuk buku tebal itu mampir di sebelah bangku yang kutempati. Aku mendongak. Fath!!!!! Aku segera pindah ke bangku lain yang agak jauh darinya. Dia mengikutiku lalu duduk disampingku lagi. Aku berdiri dan menenteng tas slempangku.
            “Kenapa sih dari tadi pindah mulu. Kamu alergi ya sama cowok? Aku kan pengen kenal sama kamu. Jadi, aku berinisiatif duduk di sebelahmu,”kata Fath sambil menarik tas slempangku.
            “Bukannya aku nggak mau bergaul sama cowok, tapi kamu bukan muhrimku. Jadi, ya nggak boleh duduk berdekatan.” Terus terang, aku bingung untuk menjelaskannya.
            “Sorry, aku nggak bermaksud menyalahkanmu. Aku kurang ngerti hal begituan. Tapi, kenapa kamu juga nggak mau memandangku. Setidaknya kamu menghormati orang yang diajak bicara sambil sesekali menatap matanya? ”
            Aku menyodorkan buku yang salah satu babnya menjelaskan tentang ghodul bashar4 kepadanya. Kebetulan tadi barusan liqo5 dengan murobbi6. Dan pekan ini giliranku untuk memberi taujih7 tentang bagaimana caranya menjaga pandangan. Padahal, aku masih sulit untuk mengaplikasikannya dalam kehidupan sehari-hari.
            “Besok, akan aku kembalikan. Oh, ya. Namamu siapa?”
            “Alya…”
            “Fath. Kamu kok duduk di deretan dua, sih. Duduk di deret depan dong seperti biasa. Nanti aku nggak konsen kalo duduk di situ,”celetuk Sela sambil menaruh tasnya.
            “Ya, Fath. Di depan aja,” sahut Rike.
            “Mana tasmu?”pinta Aurel.
            “Aku bisa pindah sendiri, kok. Kalian nggak pengen ada variasi gitu. Sekali-kali nggak duduk di depan, bisa kan?”
            “Aduh, Fath. Aku nggak bisa melihat dengan jelas kalau duduk di situ. Kamu nggak kasihan sama aku, ya?”kata Rike, gadis berkacamata minus yang selalu tampil modis dan cantik itu.
            “Pindah saja, Fath. Nggak usah ribut segala,”sergahku.

5 Mei 2008
            “Thanks, ya Al. Aku jadi ngerti sekarang, walau belum paham betul. Kamu bisa pinjemin buku kayak itu lagi nggak? Biar aku bisa makin tambah wawasan keislaman,”kata Fath sambil duduk di sebelahku dan mulai menjaga jarak.
            “Oleh. Sesok ae, yo. Saiki aku nggak nggowo. Fath, iso ngajari tugas Statistik opo ora? Aku kok ra mudeng, yo?” 8 kataku sambil mengamati mahasiswa yang hilir mudik di lorong lantai dua.
            “Al, jangan pake bahasa Jawa, dong. Aku nggak paham. Aku dibesarin di Jakarta. Papa en mamaku nggak pernah ngajarin aku bahasa Jawa walau mereka asli Jawa Tengah. Mereka selalu pake bahasa Indonesia.”
            “Maaf.”
            Akhirnya dia mengajariku. Aku jadi mengerti sekarang. Tapi ada yang aneh. Dia tak sekalipun memandangku. Tak terkecuali ketika dia mengembalikan buku itu tadi. Jangan…..Jangan?
7 Mei 2008
            Pintu lift itu hampir tertutup. Alhamdulillah terbuka lagi. Aku kaget. Di sana ada Fath. Sendirian. Segera kulangkahkan kakiku dan aku pun bersandar di sisi sebelah kanan sementara dia berada di sisi sebelah kiri. Dia tidak menatapku sedikit pun. Apa dia masih melanjutkan aksi ghodul bashor-nya? Aku hanya bisa menduga-duga saja.
            “Rupanya susah juga menjaga pandangan. Apalagi dengan teman cewek-cewekku. Setidaknya, aku berusaha menghormatimu dengan menjaga pandanganku,”kata Fath memecah keheningan yang tercipta beberapa jenak diantara kami.
            Aku jadi ingin tertawa geli. Jadi, selama ini? Ternyata…
9 Mei 2008
            Diary, aku nggak tahu harus gimana sekarang. Aku takut tak bisa menjaga hatiku. Aku jadi teringat syair lagu “Jagalah Hati”.
            Jagalah hati, jangan kau nodai. Jagalah hati, lentera hidup ini...
Ughh…Pusing.&$%*^@#%$*!
15 Mei 2008
            “Al, kamu tau nggak kalo Fath kemarin ditembak Rike di depan anak-anak seusai kuliah ISBD 9 ? Pokoknya seru, deh. Kayaknya Fath bingung gitu. Mau nerima pa nggak. Tapi, akhirnya dia nerima Rike juga. Kalo Fath nggak nerima Rike. Pasti Rike akan malu dan nggak berani lagi nongol di kampus.”
            “Oh, gitu ya? Aku kemaren nggak masuk karena sedang ngajuin proposal ke sponsor buat acara SKI,”kataku lirih.
            “Kamu nggak papa kan, Al?”
            Aku berusaha tersenyum walau ingin rasanya aku menangis saat itu juga. Tetapi, sekarang di kampus. Jadi, sebagai intelektual jangan jadi anak cengeng, tetap berkepala tegak dan boleh nangis ketika di kos. Akhwat harus kuat!!!

16 Mei 2008
            Aku tersentak kaget ketika pintu lift terbuka dan menghasilkan semburat wajah yang aku kenali. Segera aku menekan tombol untuk menutup pintu lift. Saat ini, aku tak ingin bersua dengannya, apalagi dalam satu lift. Di sini hanya ada aku.
            Lift terbuka lagi. Aku tetap bersikukuh menekan tombol untuk menutup pintu lift. Lift terbuka dan menghadirkan sedikit celah. Kutekan lagi. Tetapi, lift sedikit terbuka lagi. Akhirnya, aku menyerah. Sosok itu masuk. Lift akhirnya bisa berjalan normal kembali setelah permainan konyol tadi.
            Aku melihat di tangan kanannya tergenggam surat bersampul kuning. Dia menyerahkannya padaku. Aku menerima dengan tangan gemetar. Aku tak bisa mengendalikan emosiku yang kacau semenjak aku mendengar berita dari Kayla itu.
            “Maaf, aku sudah berusaha tapi tak bisa.” Akhirnya dia berkata tanpa melihatku. Dia menatap taman fakultas yang terlihat dari kaca lift ini, tempat pertama kali kami bisa bercakap-cakap. Kemudian, ketika lift sampai di lantai tiga, dia keluar. Masih tanpa melihatku sedikit pun.
            Aku sedikit bisa bernafas lega. Segera aku merobek sampul surat yang sedari tadi kugenggam dengan erat. Dan….
           
            Kudapati cintaku seperti kurva integral yang ingin mendekat, tetapi sampai kiamat pun takkan pernah bertemu pada sumbunya.
            Mungkin cinta ini bisu, pilu, rindu, syahdu. Tetapi inilah cinta.
Fath

N.B. : the greatest love for my mom, dad and my brothers.

Ini nih cerpen jaman jadul dulu waktu awal2 kuliah. Cerpen jaman SMAyg lain pernah dimuat di mading SMA 2 KEDIRI, tapi sudah tidak ada arsipnya.

2 komentar:

superpikar mengatakan...

ternyata jago bikin cepen :O aku daridulu hanya sebatas penikmat cerpen mil :|

mila mawaddah mengatakan...

iya, lagi pengen nih bikin yg lebih panjang (novel), semoga segera terwujud, keep writing

Posting Komentar

 
;