Sabtu, 31 Maret 2012 0 komentar

JUJUR ATO MALING: ITU PILIHAN CUY!


Kita selama ini dijejali dengan statement APBN akan jebol kalo harga BBM tidak dinaikkan. Padahal kita tahu riilnya seperti apa. Masyarakat negeri ini sudah jengah dengan KORUPSI dimana-mana, mulai dari elemen aparat negara di kampung sampai ibu kota yang sudah mendarah daging, terutama yang duduk di DPR yang memainkan anggaran negara dengan mengutak-atiknya sehingga terlihat wajar. Seandainya mereka tidak korupsi, tidak menjual aset negara kepada asing (termasuk minyak mentah yang banyak dibor oleh perusahaan minyak asing *off the record lah nama perusahaannya). Pemerintah tak perlu memangkas subsidi untuk BBM. MEMANG, sasaran untuk subsidi harus lebih akurat dan akuntabel (tidak malah dinikmati oleh mobil2 dan motor milik kelas menengah atas). Sulit pada awalnya, namun jika dilakukan dengan baik dan benar sesuai prosedur, masyarakat bawah pun akan menikmati hasilnya. Memang Indonesia sudah ruwet, semacam benang yang sudah kusut masai. Tapi jika tidak ada perubahan sedikit demi sedikit dari sekarang, ya kapan juga negeri ini akan makmur, adil, sejahtera.
Mengutip kata Bapakku,”Kapan sih pemerintah mendengar aspirasi rakyat? Kami sudah capai dengan isu2 macam ini,” lewat sambungan telepon pagi tadi.
Kadang ada celetukan miris dari Ibuku,”Harga BBM naik, harga barang2 naik, sudahlah tak usah bersedih, yang merasakan ini kan juga seluruh masyarakat Indonesia. Yang penting kita bisa makan.”
Saya hanya bisa berdehem, mengingat masa2 susah kami waktu krisis 98 dulu, waktu saya masih SD kelas 5. Waktu itu harga beras hanya Rp 450 lalu melambung menjadi Rp 2500 setelah krisis. Inflasi 5,5 kali lipat dari harga sebelumnya.  Hidup susah. Pernah makan hanya dengan lauk garam dan sambal kelapa, saking miskinnya keluarga saya waktu itu. Dan jika saya mengingat kata Ibu saya, sungguh sederhana sekali pemikirannya. Semua orang menanggung kenaikan harga ini. Bagi masyarakat menengah atas kondisi ini tidak akan berdampak berarti karena memiliki bantalan ekonomi yang kuat, bagaimana dengan masyarakat bawah, apalagi yang di bawah garis kemiskinan, yang kadang makan dan kadang tidak.
Memang saya tidak turun ke jalan menyuarakan aspirasi karena memang sudah bukan mahasiswa lagi dan tidak sedang terafiliasi dengan organisasi mana pun. Mungkin kalo saya masih mahasiswa, sudah turun ke jalan bersama teman2 seperjuangan (tentu saja dengan aksi damai, say no to ANARKIS). Malah barusan ada gelaran “koin for APBN” yang digarap oleh BEM UNAIR, gara2 miris dengan kondisi negeri ini.
Memang jujur ato maling itu adalah choice, pilihan. Kalo semua orang berjiwa maling, sudahlah, bakal rusak negara ini, tinggal menunggu waktu. Susah juga jika BPK tidak independen untuk meng-audit keuangan negara beserta jajaran kementriannya. Padahal di atas kertas, Indonesia sudah investment grade, kondisi ekonomi sedang baik, inflasi sedikit naik karena isu kenaikan harga BBM. Namun, secara politis, masih gonjang ganjing, ini akibat efek pemilu yang korup dan penuh tipu, menyumpal suara rakyat dengan recehan rupiah. Dan sekarang pusing mencari pengganti modal pemilu dengan korupsi di berbagai lini. It’s complicated. I hope: masih ada para wakil rakyat yang memiliki hati nurani dan berkepribadian JUJUR, bukan MALING. InsyaALLAH saya percaya, walau mereka tidak terlihat dan banyak ucapan sinis kepada wakil rakyat minoritas baik. Semoga, harga BBM tidak naik dalam kurun 6 bulan ini. Rakyat sudah susah, jangan ditambah lagi dengan kenaikan harga yang menyebabkan tidak bisa tercapainya kualitas kehidupan yang semakin baik.
Ini juga ada sejumput kejadian yang juga bisa diambil hikmah mengenai sebuah harta karun yang sangat berharga yakni KEJUJURAN.
Kemarin sore, menjelang tutup buku di kantor saya, di Jakarta Utara. Tiba2 susana menjadi runyam dan sedih ketika ada salah satu teller yang kehilangan uang 500ribu. Uang tersebut terjatuh dari laci mejanya yang terbuka karena tersenggol dan tidak sadar karena sibuk melayani nasabah  (terliat dari cctv). Namun tidak terlihat di cctv siapa yang mengambil uang jatuh tersebut. Saya hanya berpikir, pasti ada oknum yang mengambil uang jatuh tersebut. Tetapi, siapa? SayAng sekali, letak cctv kurang pas, sehingga tidak terlihat siapa pengambilnya. Saya hanya berpikir, bagaimana bisa setega itu. Gaji teller berapa, lalu kalo udah nombok 500rb gimana, apalagi tellernya cowok punya tanggungan keluarga. Apa ya tega gitu yang ngambil. Sudah membuat ribut kantor dan membuat SPV kas menghitung ulang, namun hasil tetap sama. LIMA RATUS RIBU RAIB.
Padahal kalo dipikir, makanan yang kita dapatkan dengan bekerja, apalagi dari kerja yang baik dan halal, maka rasanya akan terasa nikmat di lidah serta tidak akan dipenuhi rasa was-was. Berikutnya, kita sebagai insan manusia harus terus memperbaiki diri, dari yang kecil, mulai dari sekarang. JUJUR itu tak ternilai harganya. Janganlah kau tukar KEJUJURANMU hanya dengan secuil makanan lezat dan sebongkah berlian. Wallahu’alam
Minggu, 25 Maret 2012 0 komentar

ALLAH PUNYA SKENARIO YANG INDAH UNTUK HAMBANYA: TERUNTUK JIWA2 PERINDU



Menjadi kaum minoritas itu gampang-gampang susah. Iya gak sih? Kalo versi penulis sih iya, hehe. Konteksnya apa dulu nih? Oke, mari kita kupas habis…
Kali ini kita membicarakan mengenai yang namanya jatuh cinta. Saya rasa, setiap orang pernah merasakan perasaan ini. Hati terasa menjadi semakin rumit, meliuk2, ups and down semacam labil, kalo bisa dibilang kayak kurva distribusi normal, klimaks dan antiklimaks.
Lalu apa kaitannya dengan kita? Ya, manusia diciptakan dengan fitrah akan perasaan ini. Semua makhluk hidup pun seperti hewan juga mempunyai rasa kasih sayang, kerennya mungkin juga ada jatuh cinta di antara mereka, namun tentunya karena tidak ada akal yang mengendalikan, jadi syahwat yang bertindak.
Manusia juga diciptakan dengan syahwat dan akal pikiran yang berfungsi untuk mengendalikan setiap keinginannya. Manusia sejak lahir sudah dianugerahi poerasaan indah ini. MENCINTAI kepada ALLAH, RASUL, IBU, BAPAK, KAKAK, ADIK, EYANG, sodara, dsb.
Yang menjadi semakin special adalah ketika muncul perasaan kepada seseorang yang tidak ada hubungan darah dengan kita. Mungkin atau pasti pernah ada yang pernah ngerasain yang namanya cinta monyet. Kenapa ya dinamain cinta monyet, kenapa gak cinta masa kecil ato apalah, hehe. Waktu SD dan SMP mungkin bisa diklasifikasikan dengan masa2 cinta masa kecil ini.
Penulis pernah merasakan kejadian konyol bin ajaib gara2 pernah dihinggapi perasaan unik satu ini. Pernah kecemplung parit sawah samping sekolah SD gara2 cemburu trus semacam jadi mata2 gituh. Kalau SMP pernah ngelempar tas anak cowok yang ditaruh di lorong mejaku, sampe mengenai temenku gara2 salting. Konyol dah pokoknya.
Loh jadi curcol! Intermezzo dikit boleh kan? Lalu apa korelasinya dengan kaum minoritas. Begini, entahlah, saya dulu walau pernah dihinggapi perasaan unik tersebut, tetapi tekad saya kuat, terutama untuk memutuskan tidak pacaran. Tanya kenapa? Karena saya berpikir bahwa ketika saya memberikan sedikit porsi otak saya untuk seseorang, saya akan kehilangan sekian % daya memori otak saya untuk berprestasi. Termasuk kehilangan waktu lebih untuk belajar, untuk lebih dekat dengan keluarga dan teman2 kita. Hal ini pun saya pegang sampai  SMA. Dan BEHASIL. Saya selalu 3 besar di kelas. Memang gak pernah namanya ikud olimpiade atau sejenisnya, namun bagi saya ini sebuah pencapaian dari sebuah perjuangan.
Berikutnya badai godaan makin besar. Terutama waktu kuliah. Hampir dipastikan, yang namanya pacaran itu lazim. Tergoda? Pernah. Tapi semuanya berakhir dengan ketidakjelasan dan sungguh menyedihkan. Konsistensi sulit dipegang. Tetapi, saya sadar ini tidak benar. Tidak pernah ada ayat Al Qur’an atau hadist yang menyebutkan bahwa pacaran islami itu ada dan halal. Tidak pernah.
Lalu, apa yang perlu kita lakukan untuk mengelola perasaan ini. Rawat, pupuk, siram dengan baik dan benar. InsyaALLAH akan ada saat yang tepat perasaan yang sabit menjadi purnama, jiwa2 perindu itu akan tersambut karena skenario ALLAH itu begitu indah, kawan.
Saya belajar dari kehidupan. Tidak sedikit saya menemui orang yang tidak pernah pacaran namun akhirnya bisa menjemput takdirnya, menikah dan akhirnya dikaruniai 3 orang anak. Berawal dari kisah saling mengagumi tanpa pernah saling memuji atau bertegur sapa. Akhirnya mereka pun bertemu dengan seijinNYA. Sepertinya mustahil, tapi bagi ALLAH tidak ada di dunia ini yang mustahil.
Skenario yang indah itu pasti berikutnya akan menyapa jiwa2 perindu yang sabar, ikhtiar dan tawakkaltu’alallah. Yakinlah, jagalah, waktu itu akan datang menyambutmu dengan senyuman haru biru. Wallahu’alam.
*di dalam penantian, berikan kesabaran dan keistiqomahan padaku ya RABB.
_Allegria Mila, jalan Industri 2, Gunung Sahari, Jakarta Pusat_

Selasa, 20 Maret 2012 0 komentar

SELESAI SUDAH CERITA THR HINDU

Kemarin, tanggal 19 Maret 2011, tepatnya ketika istirahat jam makan siang. Aku ditemani Adis berkunjung ke divisi AMK lagi untuk kedua kalinya. Aku menanyakan mengenai THR Hindu yang nyasar ke rekeningku. Ternyata kata Bu Nunung, penyebabnya adalah aku tercatat sebagai TRAINEE BERAGAMA HINDU. Astaghfirulloh! Saya beragama ISLAM. Hmmm, yang jelas ini pasti kesalahan pihak Administrasi Divisi MSDM ketika meng-entry dataku. Tahu sendiri lah, jumlah trainee di sini banyak sekali, hampir dua minggu sekali pasti ada trainee baru yang datang. Jadi, kesalahan ini harus dimaklumi, human errors.
                “Saya sudah menghubungi Pak Seno Bagian SIM Divisi MSDM dan Bu Ayu Bagian Administrasi Divisi MSDM. Mereka bilang akan diproses, saya sebagai teller tidak bisa memproses kalau tidak ada surat perintah dari Divisi MSDM. Coba langsung menghubungi Pak Seno atau Bu Ayu ya Mbak,” kata Bu Nunung.
                Baiklah, lagi-lagi masalah procedural. Saya harus maklum. Bagaimanapun saya harus sabar mengurus kasus ini karena juga berkaitan dengan THR Lebaran saya. Bisa-bisa saya gak dapat THR Lebaran kalo masih tercatat beragama Hindu.
                Akhirnya, kami menemui Pak Seno Bagian SIM Divisi MSDM. “Datanya sudah direvisi di Bagian Administrasi Divisi MSDM. Uang THR Hindu itu untuk sementara masuk ke rekening titipan Mbak Mila, jadi nanti Mbak Mila menerima gaji sebesar selisih gaji dikurangi dengan jumlah THR Hindu yang masuk ke rekening tersebut,” kata Pak Seno.
                Baiklah, akhirnya kasus ini selesai, menyisakan kelegaan. Alhamdulillah.


Kamis, 15 Maret 2012 0 komentar

Thalhah bin Ubaidillah



Thalhah bin Ubaidillah bin Utsman  bin Amru bin Ka'ab bin Sa’ad bin Taim bin Murrah bin Ka’ab bin Lu’ai. Beliau seorang pemuda Quraisy yang memilih profesi sebagai saudagar. Meski masih muda, Thalhah punya kelebihan dalam strategi berdagang, ia cerdik dan pintar, hingga dapat mengalahkan pedagang-pedagang lain yang lebih tua. Pada suatu ketika Thalhah bin Ubaidillah dan rombongan pergi ke Syam. Di Bushra, Thalhah bin Ubaidillah mengalami peristiwa menarik yang mengubah garis hidupnya.
Tiba-tiba seorang pendeta berteriak-teriak,"Wahai para pedagang, adakah di antara tuan-tuan yang berasal dari kota Makkah?." "Ya, aku penduduk Makkah," sahut Thalhah. "Sudah munculkah orang di antara kalian orang bernama Ahmad?" tanyanya. "Ahmad yang mana?" "Ahmad bin Abdullah bin Abdul Muthalib. Bulan ini pasti muncul sebagai Nabi penutup para Nabi. Kelak ia akan hijrah dari negerimu ke negeri berbatu-batu hitam yang banyak pohon kurmanya. Ia akan pindah ke negeri yang subur makmur, memancarkan air dan garam. Sebaiknya engkau segera menemuinya wahai anak muda," sambung pendeta itu.
Ucapan pendeta itu begitu membekas di hati Thalhah bin Ubaidillah, hingga tanpa menghiraukan kafilah dagang di pasar ia langsung pulang ke Makkah. Setibanya di Makkah, ia langsung bertanya kepada keluarganya,"Ada peristiwa apa sepeninggalku?" "Ada Muhammad bin Abdullah mengatakan dirinya Nabi dan Abu Bakar As Siddiq telah mempercayai dan mengikuti apa yang dikatakannya," jawab mereka.
"Aku kenal Abu Bakar. Dia seorang yang lapang dada, penyayang dan lemah lembut. Dia pedagang yang berbudi tinggi dan teguh. Kami berteman baik, banyak orang menyukai majelisnya, karena dia ahli sejarah Quraisy," gumam Thalhah bin Ubaidillah lirih.
Setelah itu Thalhah bin Ubaidillah langsung mencari Abu Bakar As Siddiq. "Benarkah Muhammad bin Abdullah telah menjadi Nabi dan engkau mengikutinya?" "Betul." Abu Bakar As Siddiq menceritakan kisah Muhammad sejak peristiwa di gua Hira' sampai turunnya ayat pertama. Abu Bakar As Siddiq mengajak Thalhah bin Ubaidillah untuk masuk Islam. Usai Abu Bakar As Siddiq bercerita Thalhah bin Ubaidillah ganti bercerita tentang pertemuannya dengan pendeta Bushra. Abu Bakar As Siddiq tercengang. Lalu Abu Bakar As Siddiq mengajak Thalhah bin Ubaidillah untuk menemui Muhammad dan menceritakan peristiwa yang dialaminya dengan pendeta Bushra. Di hadapan Rasulullah, Thalhah bin Ubaidillah langsung mengucapkan dua kalimat syahadat.
Bagi keluarganya, masuk Islamnya Thalhah bin Ubaidillah bagaikan petir di siang bolong. Keluarganya dan orang-orang satu sukunya berusaha mengeluarkannya dari Islam. Mulanya dengan bujuk rayu, namun karena pendirian Thalhah bin Ubaidillah sangat kokoh, mereka akhirnya bertindak kasar. Siksaan demi siksaan mulai mendera tubuh anak muda yang santun itu. Sekelompok pemuda menggiringnya dengan tangan terbelenggu di lehernya, orang-orang berlari sambil mendorong, memecut dan memukuli kepalanya, dan ada seorang wanita tua yang terus berteriak mencaci maki Thalhah bin Ubaidillah, yaitu ibunya, Ash-Sha'bah. Tak hanya itu, pernah seorang lelaki Quraisy, Naufal bin Khuwailid yang menyeret Abu Bakar As Siddiq dan Thalhah bin Ubaidillah mengikat keduanya menjadi satu dan mendorong ke algojo hingga darah mengalir dari tubuh sahabat yang mulia ini. Peristiwa ini mengakibatkan Abu Bakar As Siddiq dan Thalhah bin Ubaidillah digelari Al-Qarinain atau sepasang sahabat yang mulia. Tidak hanya sampai disini saja cobaan dan ujian yang dihadapi Thalhah bin Ubaidillah, semua itu tidak membuatnya surut, melainkan makin besar bakti dan perjuangannya dalam menegakkan Islam, hingga banyak gelar dan sebutan yang didapatnya antara lain Assyahidul Hayy, atau syahid yang hidup.
Julukan ini diperolehnya dalam perang Uhud. Saat itu barisan kaum Muslimin terpecah belah dan kocar-kacir dari sisi Rasulullah. Yang tersisa di dekat beliau hanya 11 orang Anshar dan Thalhah bin Ubaidillah dari Muhajirin. Rasulullah dan orang-orang yang mengawal beliau naik ke bukit tadi dihadang oleh kaum Musyrikin.
"Siapa berani melawan mereka, dia akan menjadi temanku kelak di surga," seru Rasulullah. "Aku Wahai Rasulullah," kata Thalhah bin Ubaidillah. "Tidak, jangan engkau, kau harus berada di tempatmu."
"Aku wahai Rasulullah," kata seorang prajurit Anshar. "Ya, majulah,"kata Rasulullah. Lalu prajurit Anshar itu maju melawan prajurit-prajurit kafir. Pertempuran yang tak seimbang mengantarkannya menemui kesyahidan.
Rasulullah kembali meminta para sahabat untuk melawan orang-orang kafir dan selalu saja Thalhah bin Ubaidillah mengajukan diri pertama kali. Tapi, senantiasa ditahan oleh Rasulullah dan diperintahkan untuk tetap ditempat sampai 11 prajurit Anshar gugur menemui syahid dan tinggal Thalhah bin Ubaidillah sendirian bersama Rasulullah.
Saat itu Rasulullah berkata kepada Thalhah bin Ubaidillah,"Sekarang engkau, wahai Thalhah." Dan majulah Thalhah bin Ubaidillah dengan semangat jihad yang berkobar-kobar menerjang ke arah musuh dan menghalau agar jangan menghampiri Rasulullah. Lalu Thalhah berusaha menaikkan Rasulullah sendiri ke bukit, kemudian kembali menyerang hingga tak sedikit orang kafir yang tewas.
Saat itu Abu Bakar As Siddiq dan Abu Ubaidah bin Jarrah yang berada agak jauh dari Rasulullah telah sampai di dekat Rasulullah."Tinggalkan aku, bantulah Thalhah, kawan kalian," seru Rasulullah. Keduanya bergegas mencari Thalhah bin Ubaidillah, ketika ditemukan, Ia dalam keadaan pingsan, sedangkan badannya berlumuran darah segar. Tak kurang 79 luka bekas tebasan pedang, tusukan lembing dan lemparan panah memenuhi tubuhnya. Pergelangan tangannya putus sebelah.
Dikiranya Thalhah sudah gugur, ternyata masih hidup. Karena itulah gelar syahid yang hidup diberikan Rasulullah. "Siapa yang ingin melihat orang berjalan di muka bumi setelah mengalami kematiannya, maka lihatlah Thalhah," sabda Rasulullah.
Sejak saat itu bila orang membicarakan perang Uhud di hadapan Abu Bakar As Siddiq, maka beliau selalu menyahut, "Perang hari itu adalah peperangan Thalhah seluruhnya hingga akhir hayatnya."

Pribadi yang Pemurah dan Dermawan
Kemurahan dan kedermawanan Thalhah bin Ubaidillah patut kita contoh dan kita teladani. Dalam hidupnya ia mempunyai tujuan utama yaitu bermurah dalam pengorbanan jiwa. Thalhah  bin Ubaidillah merupakan salah seorang dari sepuluh orang yang pertama masuk Islam, dimana pada saat itu satu orang bernilai seribu orang.
Sejak awal keislamannya sampai akhir hidupnya dia tidak pernah mengingkari janji. Janjinya selalu tepat. Ia juga dikenal sebagai orang jujur, tidak pernah menipu apalagi berkhianat. Pernahkah anda melihat sungai yang airnya mengalir terus menerus mengairi dataran dan lembah ? Begitulah Thalhah bin Ubaidillah. Ia adalah seorang dari kaum muslimin yang kaya raya, tapi pemurah dan dermawan. Istrinya bernama Su'da binti Auf. Pada suatu hari istrinya melihat Thalhah bin Ubaidillah sedang murung dan duduk termenung sedih. Melihat keadaan suaminya, sang istri segera menanyakan penyebab kesedihannya dan Thalhah mejawab, " Uang yang ada di tanganku sekarang ini begitu banyak sehingga memusingkanku. Apa yang harus kulakukan ?" Maka istrinya berkata, "Uang yang ada ditanganmu itu bagi-bagikanlah kepada fakir-miskin." Maka dibagi-bagikannyalah seluruh uang yang ada ditangan Thalhah tanpa meninggalkan sepeserpun.
Assaib bin Zaid berkata tentang Thalhah bin Ubaidillah, katanya, "Aku berkawan dengan Thalhah baik dalam perjalanan maupun sewaktu bermukim. Aku melihat tidak ada seorangpun yang lebih dermawan dari dia terhadap kaum muslimin. Ia mendermakan uang, sandang dan pangannya."
Jaabir bin Abdullah bertutur, "Aku tidak pernah melihat orang yang lebih dermawan dari Thalhah walaupun tanpa diminta." Oleh karena itu patutlah jika dia dijuluki "Thalhah si dermawan", "Thalhah si pengalir harta", "Thalhah kebaikan dan kebajikan".

Wafatnya Thalhah bin Ubaidillah
Sewaktu terjadi pertempuran "Aljamal", Thalhah (di pihak lain) bertemu dengan Ali bin Abu Thalib dan memperingatkan agar ia mundur ke barisan paling belakang. Sebuah panah beracun mengenai betisnya, maka dia segera dipindahkan ke Basra dan tak berapa lama kemudian karena lukanya ia wafat. Thalhah bin Ubaidillah wafat pada usia enam puluh tahun dan dikubur di suatu tempat dekat padang rumput di Basra.
Dia wafat dalam usia lebih kurang 60 tahun. Dia telah dikaruniai 14 orang putera dan puteri, yaitu:
  1. Muhammad As Sajjad
  2. Imran
  3. Isa
  4. Ismail
  5. Ishak
  6. yaakub
  7. Musa
  8. Zkaria
  9. Yusuf
  10. Yahya
  11. Aisyah (Istri Mush'ab bin Zubair bin Awwam)
  12. Ummu Ishak (Istri Hasan bin Ali
  13. Sha'bah
  14. Maryam.
Sesungguhnya Thalhah bin Ubaidillah berharap bisa gugur ketika berjuang bersama Rasulullah saw saat menghadapi musuh Islam. Namun, ketentuan Ilahi menghendaki dia tewas di tangan orang Islam sendiri.
Rasulullah pernah berkata kepada para sahabat Ra, "Orang ini termasuk yang gugur dan barang siapa senang melihat seorang syahid berjalan diatas bumi maka lihatlah Thalhah bin Ubaidillah. Hal itu juga dikatakan ALLAH dalam firmanNya : "Di antara orang-orang mukmin itu ada orang -orang yang menepati apa yang telah mereka janjikan kepada ALLAH, maka diantara mereka ada yang gugur. Dan diantara mereka ada (pula) yang menunggu-nunggu dan mereka sedikitpun tidak merubah janjinya." (Al-Ahzaab: 23).





Sabtu, 10 Maret 2012 0 komentar

HATI YANG TELAH BERKUMPUL


Seperti biasa, tiap hari sabtu bakda dhuhur, ada halaqoh. Kali ini berbeda, biasanya nebeng dengan si Arik, berhubung Arik cuti ke Kediri, so aku harus mencari alternatif tebengan dan akhirnya bareng Ibu Indah. Mencari tebengan adalah hal yang biasa aku lakukan semenjak semester 7 waktu kuliah dulu. Dulu biasanya aku nebeng sama Au.
                Entahlah, hari ini aku merasa menjadi melankolis. Terutama ketika aku diantar Bu Indah ke tempat halaqoh padahal Bu Indah tidak ikut liqo karena anaknya (nabila) sakit panas. Aku pikir, jika aku jadi Bu Indah, mungkin aku akan bilang supaya orang yang nebeng gak jadi nebeng coz anakku sakit. Tetapi sudut pandang Bu Indah berbeda. Beliau bilang karena aku sedang niatnya menuntut ilmu jadi Beliau pikir karena sudah janji dan tidak ingin mengecewakanku makanya aku diantar. Walau, in fact Beliau harus pulang ke rumah lagi untuk merawat anaknya yang sakit dan tidak ikut liqo. Subhanallah.
                Tokoh berikutnya adalah Arik. Dia orangnya easy going. Dengan senang hati menjemputku di Halte Bea Cukai, Jaktim tiap sepekan sekali. Demikian juga waktu aku kuliah dulu, sering menawariku untuk nebeng.
                Tokoh yang paling protagonis dan sabar adalah si Au. Temenku satu ini, sangat konsisten untuk menebengiku. Menjemputku dan bersama2 datang ke tempat liqo. Tak jemu menawari by sms untuk nebengin. Padahal kan yang butuh aku, seharusnya aku yang sms Au kan???

                Ketika aku menulis artikel ini, hatiku bergetar, berputarlah memori masa lalu dan serasa menyanyikan lagu Izzis yang berjudul Rabithah yang pernah dinyanyikan bersama saat menjadi panitia *** di Surabaya dulu. Pengen nangis rasanya. KANGEN!

Sesungguhnya Engkau tahu
Bahwa hati ini tlah berpadu
Berhimpun dalam naungan cintaMu
Bertemu dalam ketaatan
Bersatu dalam perjuangan
Menegakkan syariat dalam kehidupan
Kuatkanlah ikatannya
Tegakkanlah cintanya
Tunjukilah jalan2nya
Terangilah dengan cahyaMu yang tiada pernah padam
Ya Rabbi bimbinglah kami

                Atas kuasanya, hati ini telah berkumpul, berpadu, menapaki jalanNya. Allah menggerakkkan hati sahabat2ku ini untuk memudahkan langkahku menempuh ilmuNya. Dalam suatu surat di Alqur’an disebutkan bahwa persaudaraan seiman takkan bisa membeli bumi dan seisinya. Subhanallah. Semoga sahabat2ku ini memang tanpa pamrih dan kelak semoga ALLAH menggantinya dengan yang lebih baik di surga nanti, amin.

Jumat, 09 Maret 2012 2 komentar

UANG 2 JUTA YANG BUKAN MENJADI HAK SAYA part 2


Hari ini tanggal 9 Maret 2011, tepatnya pagi tadi saya menelpon diklat bagian Jasa Penunjang dan terhubung Mas Yudi. Setelah saya menjelaskan kondisi saya, Mas Yudi berpesan kalau akan menghubungi saya setelah mengecek apakah transaksi kemarin berasal dari Divisi Diklat. Beberapa menit kemudian, Mas yudi menelepon karena HP saya silent. Akhirnya saya yang harus nelpon Divisi Diklat. Mas Yudi bilang bahwa uang DUA JUTA tersebut bukan berasal dari Diklat dan saya diminta mengecek ke Divisi AMK atau Divisi MSDM.
Berhubung saya sedang di Kantor Pusat, jadi ketika istirahat makan siang, saya langsung ke Divisi AMK dan mencari bagian LKP. Bertemu dengan seorang staff laki2 berkacamata dan dia bilang kalau saya lebih baik bertemu dengan Ibu Endang karena dia adalah teller yang membuku di bagian LKP. Berikutnya saya bertemu Bu Endang.
Setelah menceritakan kondisi saya. Bu Endang bilang bahwa uang tersebut adalah THR Hindu yang baru saja dibuku. Bu Endang juga bilang kalau meminjam rekening Koran yang saya cetak sebagai bukti salah buku dan berpesan supaya menyisakan uang tersebut di rekening saya supaya bisa didebet. Dalam hati saya nyengir, ya iyalah bu, akan saya sisakan. Kalo saya berniat jelek ya dari kemarin tidak saya laporkan. Hmmm, saya kan trainee audit buk,,, hehe. Apalagi Islam tidak mengajarkan hal yang tidak baik seperti ini.
Akhirnya saya lumayan lega karena saya telah melapor pada pihak terkait dan berharap semoga rekening saya segera didebet sebesar uang yang salah buku itu. Namun ternyata, mungkin masalah people, system, birokrasi menyebabkan apa yang saya inginkan belum terlaksana. Sore tadi, saya mengambil sejumlah uang di ATM, ternyata uang salah kirim itu masih ada di rekening saya. Saya hanya bisa beristighfar dan berdoa semoga uang tersebut segera didebet dan bisa segera disalurkan kepada pihak yang berhak yakni trainee Hindu.

*bersambung

Hikmah:
1.       JUJUR mahal harganya. ALLAH tidak ridho atas harta diperoleh secara  tak halal apalagi yang bukan haknya. Mungkin saat ini, kita bisa menikmatinya, namun cepat atau lambat. Allah akan meminta gantinya dengan arah yang tidak disangka-sangka.
2.       PELAJARAN HIDUP: ALLAH menguji kita dengan ujian yang kecil terlebih dahulu, apakah kita bisa melewatinya atau tidak
3.       Ada yang bisa nambahin????
Please give me a comment….
Kamis, 08 Maret 2012 6 komentar

UANG 2 JUTA YANG BUKAN MENJADI HAK SAYA


Hari ini tanggal 8 Maret 2011, tepatnya ketika istirahat jam makan siang. Saya datang ke kantor cabang khusus salah satu bank di daerah Sudirman-Jakarta dengan maksud mau menyetor sejumlah uang ke rekening saya sendiri. Kemudian teller nge-print buku tabungan saya. Berikutnya saya dan mbak lufi duduk di ruang tunggu banking hall karena masih menunggu teman saya yang lain.
Saya iseng melihat transaksi 4 bulan terakhir di buku tabungan saya. Saya sangat terkejut. Bagaimana mungkin ada uang sebesar DUA JUTA RUPIAH bisa nangkring di buku tabungan saya. Tunjangan tempat tinggal dan gaji sudah dibayarkan ketika awal dan akhir bulan kepada saya. Kedua orang tua saya juga tidak mungkin mengirim uang sebesar itu, walaupun akhir bulan ini panen, tapi saya tahu bagaimana kondisi ortu saya yang pas-pasan. Apalagi dari adik saya, dia bisa bertahan hidup di ITB karena dapat beasiswa Bidik Misi. Jadi, kedua probabilitas itu sepertinya mustahil. Sementara, saudara dari Ibu dan Bapak saya sepertinya juga tidak mungkin. Mereka tidak seloyal itu untuk memberi uang Cuma-Cuma kepada saya. Saya tanya teman saya, dia tidak mendapat uang 2 juta seperti saya. Wah, kemungkinan ada orang salah transfer nih. Akhirnya untuk memastikan, saya keluar dari KCK lalu menuju ATM untuk memastikan saldo rekening saya.
Hmmm, betapa kagetnya saya. Memang benar, angka itu riil ADA di rekening saya. Saya semakin gusar. Bagaimana mungkin ada uang siluman masuk begitu saja ke rekening trainee seperti saya. Bonus dan insentif jelas belum saya terima karena saya masih seorang trainee. Saya pun segera melanggah ke CS yang kebetulan di tempat itu ada Adis dan Mas Ryan yang sedang ada urusan di CS. Saya pun ikut nimbrung dan bertanya apakah saya bisa mencetak rekening Koran untuk mengetahui asal muasal uang DUA JUTA tersebut.
Setelah menunggu beberapa menit. Saya bisa mengetahui darimana uang itu berasal. Ada kata-kata sebagai berikut:
Salary credit kanpus 2.060.870 tertanggal 8 Maret 2011 User ID ***0229090
Saya langsung bisa menebak bahwa uang tersebut telah dibuku oleh bagian Layanan Keuangan Kanpus Divisi AMK karena kemarin habis on site ke Divisi tersebut.

Beberapa menit kemudian, akhirnya kami sholat dhuhur berjamaaah di mushola gedung 2 lantai 5. Kemudian saya menceritakan perihal uang tersebut. Akhirnya, temen-temen pun bercanda supaya uang tersebut buat makan-makan rame2 aja. Tapi saya berpikir bahwa uang itu BUKAN HAK SAYA dan saya harus mengembalikan secepatnya kepada yang berhak karena jika kita mengambil uang yang bukan Hak kita, maka cepat atau lambat Allah akan mengambil secara paksa uang tersebut entah bagaimana caranya, sungguh itu KuasaNya….
Kemudian saya menghubungi mentor dan kakak angkatan dari divisi AMK. Mereka menyarankan saya untuk menghubungi Divisi Diklat karena saya sebagai trainee masih menjadi tanggung jawab diklat. Sore hari saya menghubungi fasilitator diklat yakni Mas Agung. Mas Agung menyarankan saya untuk menghubungi bagian JPS Divisi Diklat keesokan harinya.

*bersambung….



 
;