Sabtu, 31 Maret 2012

JUJUR ATO MALING: ITU PILIHAN CUY!


Kita selama ini dijejali dengan statement APBN akan jebol kalo harga BBM tidak dinaikkan. Padahal kita tahu riilnya seperti apa. Masyarakat negeri ini sudah jengah dengan KORUPSI dimana-mana, mulai dari elemen aparat negara di kampung sampai ibu kota yang sudah mendarah daging, terutama yang duduk di DPR yang memainkan anggaran negara dengan mengutak-atiknya sehingga terlihat wajar. Seandainya mereka tidak korupsi, tidak menjual aset negara kepada asing (termasuk minyak mentah yang banyak dibor oleh perusahaan minyak asing *off the record lah nama perusahaannya). Pemerintah tak perlu memangkas subsidi untuk BBM. MEMANG, sasaran untuk subsidi harus lebih akurat dan akuntabel (tidak malah dinikmati oleh mobil2 dan motor milik kelas menengah atas). Sulit pada awalnya, namun jika dilakukan dengan baik dan benar sesuai prosedur, masyarakat bawah pun akan menikmati hasilnya. Memang Indonesia sudah ruwet, semacam benang yang sudah kusut masai. Tapi jika tidak ada perubahan sedikit demi sedikit dari sekarang, ya kapan juga negeri ini akan makmur, adil, sejahtera.
Mengutip kata Bapakku,”Kapan sih pemerintah mendengar aspirasi rakyat? Kami sudah capai dengan isu2 macam ini,” lewat sambungan telepon pagi tadi.
Kadang ada celetukan miris dari Ibuku,”Harga BBM naik, harga barang2 naik, sudahlah tak usah bersedih, yang merasakan ini kan juga seluruh masyarakat Indonesia. Yang penting kita bisa makan.”
Saya hanya bisa berdehem, mengingat masa2 susah kami waktu krisis 98 dulu, waktu saya masih SD kelas 5. Waktu itu harga beras hanya Rp 450 lalu melambung menjadi Rp 2500 setelah krisis. Inflasi 5,5 kali lipat dari harga sebelumnya.  Hidup susah. Pernah makan hanya dengan lauk garam dan sambal kelapa, saking miskinnya keluarga saya waktu itu. Dan jika saya mengingat kata Ibu saya, sungguh sederhana sekali pemikirannya. Semua orang menanggung kenaikan harga ini. Bagi masyarakat menengah atas kondisi ini tidak akan berdampak berarti karena memiliki bantalan ekonomi yang kuat, bagaimana dengan masyarakat bawah, apalagi yang di bawah garis kemiskinan, yang kadang makan dan kadang tidak.
Memang saya tidak turun ke jalan menyuarakan aspirasi karena memang sudah bukan mahasiswa lagi dan tidak sedang terafiliasi dengan organisasi mana pun. Mungkin kalo saya masih mahasiswa, sudah turun ke jalan bersama teman2 seperjuangan (tentu saja dengan aksi damai, say no to ANARKIS). Malah barusan ada gelaran “koin for APBN” yang digarap oleh BEM UNAIR, gara2 miris dengan kondisi negeri ini.
Memang jujur ato maling itu adalah choice, pilihan. Kalo semua orang berjiwa maling, sudahlah, bakal rusak negara ini, tinggal menunggu waktu. Susah juga jika BPK tidak independen untuk meng-audit keuangan negara beserta jajaran kementriannya. Padahal di atas kertas, Indonesia sudah investment grade, kondisi ekonomi sedang baik, inflasi sedikit naik karena isu kenaikan harga BBM. Namun, secara politis, masih gonjang ganjing, ini akibat efek pemilu yang korup dan penuh tipu, menyumpal suara rakyat dengan recehan rupiah. Dan sekarang pusing mencari pengganti modal pemilu dengan korupsi di berbagai lini. It’s complicated. I hope: masih ada para wakil rakyat yang memiliki hati nurani dan berkepribadian JUJUR, bukan MALING. InsyaALLAH saya percaya, walau mereka tidak terlihat dan banyak ucapan sinis kepada wakil rakyat minoritas baik. Semoga, harga BBM tidak naik dalam kurun 6 bulan ini. Rakyat sudah susah, jangan ditambah lagi dengan kenaikan harga yang menyebabkan tidak bisa tercapainya kualitas kehidupan yang semakin baik.
Ini juga ada sejumput kejadian yang juga bisa diambil hikmah mengenai sebuah harta karun yang sangat berharga yakni KEJUJURAN.
Kemarin sore, menjelang tutup buku di kantor saya, di Jakarta Utara. Tiba2 susana menjadi runyam dan sedih ketika ada salah satu teller yang kehilangan uang 500ribu. Uang tersebut terjatuh dari laci mejanya yang terbuka karena tersenggol dan tidak sadar karena sibuk melayani nasabah  (terliat dari cctv). Namun tidak terlihat di cctv siapa yang mengambil uang jatuh tersebut. Saya hanya berpikir, pasti ada oknum yang mengambil uang jatuh tersebut. Tetapi, siapa? SayAng sekali, letak cctv kurang pas, sehingga tidak terlihat siapa pengambilnya. Saya hanya berpikir, bagaimana bisa setega itu. Gaji teller berapa, lalu kalo udah nombok 500rb gimana, apalagi tellernya cowok punya tanggungan keluarga. Apa ya tega gitu yang ngambil. Sudah membuat ribut kantor dan membuat SPV kas menghitung ulang, namun hasil tetap sama. LIMA RATUS RIBU RAIB.
Padahal kalo dipikir, makanan yang kita dapatkan dengan bekerja, apalagi dari kerja yang baik dan halal, maka rasanya akan terasa nikmat di lidah serta tidak akan dipenuhi rasa was-was. Berikutnya, kita sebagai insan manusia harus terus memperbaiki diri, dari yang kecil, mulai dari sekarang. JUJUR itu tak ternilai harganya. Janganlah kau tukar KEJUJURANMU hanya dengan secuil makanan lezat dan sebongkah berlian. Wallahu’alam

0 komentar:

Posting Komentar

 
;