Kamis, 19 April 2012 0 komentar

Nyanyian Perahu-Perahu


Kita adalah sekumpulan perahu yang berlayar di ombak samudra
Kita adalah sekumpulan perahu penuh misi
Kita adalah sekumpulan perahu yang punya dedikasi
Kita adalah sekumpulan perahu yang sarat emosi

Kita berlayar meliuk-liuk, menari, seirama desau dan terpaan angin
Kita ikut gelombang samudra yang melenguh, mendesak
Kita perahu-perahu yang berarah dan berusaha merebut kendali sang angin

Perahu? Kemanakah kamu?
Akankah kau ikut angin utara?
Akankah kau ikut warna fajar yang merekah di timur sana?

Kita adalah perahu yang berbeda,
Perahu-perahu,
Kapankah kalian merapat ke tepian?
Apakah daratan tidak membuatmu kepalang rindu?
Apakah rindumu telah raib dikoyak gelombang samudra?
Datalanglah ke tepi
Perahu-perahu terpilih
Kapankah kalian bersandar di dermaga?
Untuk menatap esok hari yang cerah penuh pengorbanan
Tiada lagi warna yang berbeda
Hanya ada satu warna nyanyian perahu
Nyanyian riang perahu-perahu




oya, mampir ke sini sob: ada novel menarik dari toko buku afra semisal da conspiracao novel berlatar sejarah Islam di Sumbawa, diskonnya pun juga bikin ketagihan. 

http://www.tokobukuafra.com/da-conspiracao-afifah-afra?tracking=513ebafb39e93

Jumat, 13 April 2012 0 komentar

BANDUNG: EVERLASTING BEAUTY


Pekan lalu, ketika long weekend di awal bulan april. Saya memutuskan pergi ke Bandung, berniat untuk mengunjungi adik saya yang kuliah di Bioengineering ITB. And you know? For the first time, I visited Bandung a week ago!
Saya naik kereta bisnis Argo Parahyangan yang menurut saya semacam kereta kelas ekonomi. Mungkin karena naik bukit2 jadi jalannya sangat pelan, berasa kelas ekonomi deh, apalagi panas terik gini, kipas angin kurang berkontribusi. Bukan manja, tapi saya sudah biasa naik kereta untuk proletar (baca: ekonomi), karena saya naik bisnis, jadi saya boleh berharap sesuai yang saya inginkan kan? Cepat dan tidak kepanasan. Tapi harapan saya buyar ternyata, baiklah, focus ke pokok bahasan.
Pemandangan perbukitan begitu asri ketika menuju Bandung. Sawah yang menghijau dan sungai yang masih asri. Ketika saya sampai di stasiun Bandung (pukul 14.15), hawa kuno menyeruak. Stasiunnya bener2 gaya retro, gak gaya minimalis modern kayak stasiun Gubeng, Surabaya yang keliatan sedikit angkuh. Akhirnya kami memutuskan pergi ke Pasar Baru for the first destination.
Di sana, saya berburu sepatu, batik dan kaos bertuliskan Bandung 2012 everlasting beauty (yang menginspirasi judul artikel saya ini). Saya akhirnya mendapatkan ketiga barang itu setelah capek menyusuri ketujuh lantai Pasar Baru. Adik saya dapat dua sepatu dan dua baju batik, serba DUA, karena di sini harganya sangat murah, yang penting kita bisa MENAWAR. Penjual di Pasar Baru bisa menaikkan harga 2-3 kali lipat dari harga normal, jadi pandai-pandailah menawar (sepertinya saya mewarisi sifat Bapak yang pandai menawar, sometimes, hehe).
Setelah waktu semakin senja, kami memutuskan segera bergerak dan kembali ke ITB untuk sholat Ashar. Mampir sejenak di kantin Salman ITB buat mengisi bahan bakar. Setelah selesai akhirnya saya bisa mengabadikan jejak saya di ITB untuk pertama kalinya, setelah pernah mendambakannya waktu SMA kelas 3 dulu. Saya pun sudah sangat bahagia karena adik saya bisa kuliah di sini GRATIS setelah saya menerima info Beasiswa ITB Untuk Semua dari grup facebook SMADA NGANJUK yang saya ikuti (padahal saya sekolah di SMADA KEDIRI)
Ada kejadian yang ajaib, saya dibuntuti kucing sedari saya mengambil foto di area kampus ITB. Sepertinya kucingnya juga pengen ikut diabadikan. Tak hanya itu, ketika kami beranjak ke daerah hotspot, dia ikut juga. Bikin saya bingung, hal apa gerangan yang menyebabkan dia mengikuti saya. Saya hanya punya roti kering dan air mineral, saya tidak membawa ikan asin :D
 Malam semakin merapat, kami pun menuju kontrakan salah satu teman ALD  (perkumpulan anak Kediri di Bandung) dengan naik angkot dan saya bermalam di sana, sementara adik saya tinggal di asrama Sangkuriang ITB. Pagi menjelang, kami memutuskan berjalan kaki dari Simpang Dago menuju Monumen Dipati Ukur, mumpung ada car free day. Akhirnya saya bisa melihat Unpad. 

Lalu kami kembali berjalan kaki ke Gedung Sate. Di sepanjang perjalanan menuju Gedung Sate, banyak penjual yang berjualan di Lapangan Gasibu dan jalan2 lain sekitar Gedung Sate. Di Bandung barangnya murah2, saya pikir ini bisa menyebabkan orang-orang bisa konsumtif habis ngiler pas tahu harganya. Alhamdulillah saya bisa meredam keinginan dan hanya beli oleh2 buat teman2 di kantor.

Ada juga nih kejadian lucu yang menimpa saya. Ketika kami ingin memasuki areal Gedung Sate, ada dua orang satpam berpakaian safari yang mencegat kami dan meminta KTP saya, mereka sepertinya curiga. Okelah, memang penampilan saya seperti ini Pak, berjilbab dan membawa tas backpack item penuh muatan, tapi isinya baju dan makanan Pak. Saya hanya bisa menghela nafas masygul dan menyerahkan KTP saya, yang penting kan saya bisa masuk. Hore,,,, istirahat sebentar lah di areal Gedung Sate.
Setelah waktu menunjukkan jam 9.30 pagi, kami segera bergegas keluar dan di jalan kami menemukan makanan yang yummy. Sop buah durian! Adik saya bertanya,”mau mampir?” saya mengangguk, cukup Rp 11.000 Anda bisa menikmati sop buah macam2 plus durian yang yummy di belakang areal Gedung Sate…..
Akhirnya jam 11.15 saya meninggalkan Bandung dengan travel menuju Jakarta Pusat. Walau hanya dua hari satu malam, rasanya saya kurang puas, next time, ke Bandung lagi dan nikmati keindahan panoramanya. Keindahan yang abadi! Sampai jumpa Paris Van Java.


Selasa, 10 April 2012 1 komentar

DREAMS COME TRUE: edisi bertemu penulis IDOLA


Salah satu impian saya ketika saya berada di ibukota Indonesia (Jakarta) adalah saya harus berburu tanda tangan penulis favorit saya, jangan lupa sama fotonya juga. Saya pun harus bermodal beli novel atau buku si penulis. Kali ini, ada event bernama Islamic Book Fair yang digelar di Istora Senayan, Jakarta. Saya pun memborong EMPAT buku sekaligus, mumpung discount until 20%. Saya bungkus tuh novel Bidadari2 Surga dan Pukat karya Tere Liye, buku Notes From Qatar 2-nya Muhammad Assad, dan La Tahzan for Teens-nya Qomarruzzaman Awwab.
                Beruntung sekali saya waktu itu, datang ke IBF pas ada Tere Liye sedang bedah buku. Saya pun ikutan nimbrung duduk dengan takzim mendengarkan celoteh Bang Tere (nama aslinya Darwis). Kaget karena penampilan Bang Tere yang nyentrik abis. Padahal performance is the first impression, saya pun kaget. Bagaimana tidak? Bang Tere tuh pake sandal jepit, topi urakan gaya anak gaul (topi yg paling gak disuka Ibuk aku), celana 7/8, kaos lengan panjang dekil. Sudah deh, nyeni banget, HAHA. Padahal kalo saya sedari kuliah mau usaha, saya tinggal datang ke bedah buku yang ada di ITS pun saya bisa ketemu orang nyentrik ini. Tapi kan dulu saya belum interested. Akhirnya setelah membaca ketiga novelnya (Hafalan Sholat delisa—saya pinjam dari tante saya), saya ketagihan dengan kalimat-kalimat puitis yang menurut teman saya lebay. Tapi saya suka karena di sana disisipkan sebuah NILAI. Apalagi PUKAT, pas banget buat kado untuk anak2 deh. Serta yang bikin saya tambah kagum, beliau misterius dan gak mau di foto sambil pose dengan pengagumnya… Jadi ini hasil jepretan saya dari kejauhan.
 Satu minggu berselang, saya akhirnya bisa datang di acara Book signing Notes From Qatar 2 dengan mendatangkan penulis aslinya yakni si ganteng Kak Assad di Gramedia Pondok Indah Mall (PIM). Mupeng banget pengen dapet doorprize, tapi kagak dapet. Udah usaha menjadi orang yang pertama kali bertanya dan mengirim twitpic dengan hastag #NFQ2, tapi yg namanya blom rejeki kali ya, ya udah deh. Cukup bersyukur dapet tanda tangan dan foto bareng. Setidaknya memupuk dan menyiram motivasi saya supaya lebih semangat lagi meraih mimpi2 saya selanjutnya. Make dreams come true, Mila! Wake Up and give the best for yourself and your nation, Indonesia.
 Myva, kak Assad, Mila
0 komentar

I LOVE JAKARTA, SOMETIMES

Pagi itu, aku berangkat dari daerah Benhil, Sudirman, Jakarta menuju Plaza Sarinah dengan menumpang busway yang sepi, weekend. Hari masih sangat pagi, aku bertemu dengan adikku Rizal (setelah naik travel dari Bandung), di sebuah restoran cepat saji, sarapan di sana. Lumayanlah buat bekal backpacker-an hari ini. Kenapa kami layak disebut backpacker? Hahay, karena kami memakai tas punggung backpack. ^-^V
Kami memutuskan untuk berjalan kaki dari Plaza sarinah menuju Bundaran HI. Lumayan membuat kami berkeringat di pagi yang sejuk dan Alhamdulillah karena car free day, jalanan di sini sepi, hanya sedikit kendaraan yang lalu lalang sehingga kami pun bisa mengabadikan salah satu ikon kota Jakarta ini.

Kami pun mampir di Grand Indonesia, setelah clingak-clinguk coz gak tahu pintu utamanya mana, maklum first time kesana. Akhirnya kami disapa petugas dan dikasi saran untuk lewat pintu petugas. Kami pun tak kan pernah mau kehilangan satu momen pun, setidaknya saya berandai2 bisa pergi ke Kanada, Belanda, atau Jepang untuk S2 saya. Amin ya Rabb, semoga mendapat beasiswa kesana.

Setelah puas mengelilingi pusat perbelanjaan ini yang konon katanya banyak artis Ibukota main ke Mall ini, kami naik Busway menuju MONAS, capai lagi muter2, ngaso dulu bentar deh di sini, apalagi matahari sedang terik2nya walau mendung. Lalu sujud di masjid Istiqlal, konon katanya masjid terbesar di Asia Tenggara. Sempat juga mampir ke stasiun gambir buat nyari tiket buat adik pulang ke Bandung, tapi karena antri banget, gak jadi beli.
Next, naik busway lagi-- maklum si transjakarta ini terkenal murah meriah (cukup Rp 3.500) dan bisa menjangkau sudut kota serta bermanfaat bagi pengguna yang bermodalkan peta seperti kami ini—sampai juga di stasiun kota. Mampir di museum Bank Mandiri, sempat mengabadikan beberapa foto. Ini nih mesin ketik dari masa ke masa.

Kami juga ingin mengunjungi museum Bank Indonesia, namun sayang sekali sudah tutup, akhirnya perjalanan kami tutup dengan main di Taman Fatahillah sambil menikmati music jadul yang tersaji dan menikmati es krim coklat sambil jalan2 mengelilingi taman. Tak lupa oleh2nya, haha, kaos bertuliskan I LOVE JAKARTA. Sampai jumpa di edisi travelling berikutnya…




oya, mampir ke sini sob: ada novel menarik dari toko buku afra semisal da conspiracao novel berlatar sejarah Islam di Sumbawa, diskonnya pun juga bikin ketagihan. 

http://www.tokobukuafra.com/da-conspiracao-afifah-afra?tracking=513ebafb39e93


Jumat, 06 April 2012 0 komentar

BOGOR: memang kota hujan

Bogor, jika kata ini disebut, terlintas sudah di benak kita dengan sebutan kota hujan. Saya pun membuktikannya akhir Februari tahun ini (2012). Saya dan Myva berangkat ke Bogor dari Jakarta Pusat dengan naik KRL AC, dengan 6000 saja, tiket ini sudah di tangan. Perlu satu setengah jam  untuk sampai di kota ini. Setelah sampai di stasiun Bogor, naik angkot O2, kami pun turun di Kebun Raya Bogor, refreshing di penghujung bulan. Berikut ini, foto2 hasil jepretan fotografer amatir mengabadikan keelokan Kebun Raya Bogor.

 Subhanallah ciptaan ALLAH, di sini ada pohon-pohon yang besar sekali menjulang tinggi. Malah ada yang berakar panjang banget dari ujung pohon yang menjulang sampai tanah, sayang gak bisa mengabadikan karena pohonnya sedang dikerubuti pengunjung lain. Alam yang asri, indah, damai. Sejenak menghilangkan penat kota Jakarta yang complicated. Tadabbur alam serta mensyukuri nikmatNya kita masih bisa menghirup oksigen dengan GRATIS di bumi ini. Tak lupa, kami juga mengunjungi museum zoology dan tak jemu mengelilingi semua sudut Kebun Raya Bogor.

                Ketika adzan Dhuhur berkumandang, hujan deras menyapa, membuat kami harus berteduh di masjid. Setelah reda, kami mengunjungi Dedaunan Café. Lumayan mahal untuk ukuran kantong kami. Kenyang! Berikutnya kami keluar dari Kebun Raya Bogor dan pergi ke tempat yang menjual Roti Unyil Venus setelah menjangkau dengan angkot. Ramai sangat! Gile bener tempatnya rame banget kayak antri sembako murah. Semrawut. Rotinya per biji harganya Rp 1300 dengan bermacam2 rasa. Tak lupa, saya juga beli asinan bogor, rasanya seger buah-buahan. Sore kami pulang dengan hujan yang mengguyur lagi, lebih deras, sehingga kami pun memakai ojek payung untuk menjangkau stasiun Bogor.
               

0 komentar

BERSEDEKAHLAH SELAGI MAMPU DAN JANGAN PELIT (edisi SETELAH HUJAN, AKAN ADA PELANGI, percayalah!)




Ketika saya menulis tulisan ini, saya sedang berusaha sabar, ikhlas, dan tawakkal atas kondisi yang menimpa saya beberapa hari ini. Saya yakin, ALLAH akan menguji seorang hambaNya sesuai dengan kemampuan untuk menanggung ujian ini. Pelajaran akan kehidupan ini dimulai hari Selasa kemarin tanggal 3 April 2011, yang membuat hidup saya lebih berwarna.
                “Apakah manusia mengira mereka dibiarkan saja mengatakan: kami telah beriman. Sedang mereka belum diuji? Dan sesungguhnya Kami telah menguji orang-orang sebelum mereka, sesungguhnya ALLAH Maha Mengetahui orang-orang yang benar dan orang-orang yang berdusta.” (QS Al Ankabut (29): 2-3)

#1                                              
Saya duduk santai di depan Ibu Asisten Manajer Operasional (AMO) kantor saya, kami asyik mengobrol mengenai operasional di kantor ini, maklum saya seorang trainee, sehingga belajar dengan metode interview kayak gini sangatlah berguna bagi saya. Tiba-tiba Ibu AMO berteriak,”Cepat segera diurus, bisa2 kena DHN (Daftar Hitam Nasional),” kata beliau ke seorang petugas Dana dan Jasa (DJS).
                Berikutnya datang seorang teller membawa cek yang dicoret sadis dengan tinta merah seraya berkata,”Bu, ini yang nyoret siapa? Padahal belum dicairkan, ini kan rekening titipan.”
                Beberapa jenak kemudian, banyak orang berkumpul di meja Ibu AMO, mulai dari CS, teller, SPV DJS, petugas DJS dan tentu saja saya.
                Lalu dengan polos menjawab,”Saya Bu yang mencoretnya.” Saya reflek menjawab ini karena saya ingat kemarin Senin melihat cek yang salah tanggal, lalu saya dengan tanpa bertanya ke SPV Kas mencoret dengan tenang. Namun berakibat FATAL.
                “Bagaimana cek ini bisa sampai ke tangan mereka, ini kan cek yang belum divalidasi, jadi gak boleh dicoret, wah, yang punya cek bisa marah2 ini!” seru SPV DJS.
                Rasanya langit mau runtuh, saya lemas, dan berpikir kenapa ketika saya ragu; saya tidak bertanya ke SPV Kas mengenai keganjilan cek tersebut.
                Lalu mereka berganti berkumpul ke SPV Kas. Saya memberanikan diri mendekati mereka dan meminta maaf ke teller. Tellernya bilang,”Seharusnya kamu minta maaf kepada empunya cek, tetapi sudah diurus kok, biar yang punya datang dan memparaf cek tersebut.”
                Sebenarnya ini adalah kesalahan beruntun, pertama teller salah mengumpulkan cek yang belum divalidasi dengan yang sudah divalidasi, seharusnya dipisah. Kedua, murni kesalahan saya, kenapa ketika saya merasa ada keganjilan tidak bertanya ke SPV Kas, malah tetap melanjutkan verifikasi.
                Seperti kata pepatah, MALU BERTANYA SESAT DI JALAN. Benarlah pepatah ini menimpa saya. Namun saya tetap harus berani mengakuinya karena yang melakukan verifikasi adalah saya. Walaupun kenyataannya saya tidak ingat apakah benar saya yang mencoret cek tersebut, karena gaya coretannya bukan gaya saya, namun saya hanya ingat ada keganjilan mengenai tanggal cek. Tapi ya sudahlah, ini memang salah saya.

#2
                Berikut sore harinya, setelah hujan deras membasahi Ibukota Jakarta, dan banjir pun sukses menyapa di jalanan yang selalu macet ketika jam pulang kerja. Saya dengan teman saya menyusuri jalan yang banjir itu, lalu kami berpisah karena saya mau mencari indomaret untuk membeli tiket kereta api. Malam itu sungguh gelap, lampu penerangan jalan redup. Saya berharap ada bajaj lewat, nahas semuanya terisi penumpang. Mau naik taksi, hmmm, kaki saya sudah basah oleh air banjir. Lalu saya mengamati seorang Bapak bisa lewat jalan itu tanpa suatu kejadian nahas apapun. Saya masih ragu, saya mencermati aliran air, saya ingat di tempat itu ada got, tapi malam ini gelap, saya tidak bisa menebak letak got dengan aliran airnya. Saya berjalan, NAHAS, saya jatuh di got, air menggenangi tubuh saya sampai sepinggang. ASTAGHFIRULLOH, saya berseru lalu bangkit. Di benak saya, saya hanya berpikir saya harus pulang Mei bulan depan, saya harus mengunjungi Ibu saya di Nganjuk, Jawa Timur, birul walidain. Setelah bangkit, ternyata ujian belum selesai, saya terjatuh ke got lagi untuk kedua kalinya, dengan kondisi banjir seperti ini, saya tidak bisa membedakan mana jalan raya, dan yang mana gotnya. MASYAALLAH, tetapi saya tidak gentar. Saya bangkit dan menatap sedih rok hitam saya, basah dan bau najis air got, dan tak terelakkan sepatu kerja saya satu2nya, OMG padahal besok masih hari kerja.
                Saya pun berjalan menyusuri trotoar, sampai 1 kilometer, saya tidak menjumpai satu Indomaret pun. Saya menghela nafas, bertanya ke warga sekitar, sepertinya mereka kurang begitu paham dengan daerah ini. Baiklah, saya pun mencegat pengemudi bajaj, saya bilang,”Antarkan saya ke Indomaret dekat sini ya, Bang,” kataku lelah.
                Saya cemas, ini kok lama amat ya, mana Indomaretnya???? Macet dimana2 dan saya tidak sampai juga ke Indomaret dan ini daerah mana??? Malam yang muram dan redup. Abang bajaj yang sekiranya seumuran adik saya bilang, “Bentar lagi sampai di Indomaret Mangga Besar, Mbak.”
                Saya melihat plang Indomaret, saya berseru senang. Saya memesan tiket Gajayana untuk tujuan Kertosono-Gambir. Saya tidak memesan tiket Gambir-Kertosono karena jamnya tidak cocok, jadi baru 1 tiket ada di tangan. Besoknya saya berburu tiket pesawat.

#3
                Saya BBM teman saya kalau ada tiket murah tolong saya dikasi kabar. Siang hari bakda dhuhur dia membooking pesawat Batavia Air untuk dia dan saya, namun tidak bisa melakukan pembayaran karena kami tidak memiliki ke3 ATM yang bisa digunakan untuk melakukan transaksi e-banking dengan Batavia Air. Baiklah, sorenya saya membooking pesawat Batavia Air tujuan Surabaya untuk diri saya sendiri, lalu meminta tolong adik saya untuk membayarkan tiket saya tersebut (saya di Jakarta, adik saya di bandung). Pembayaran SUKSES. Saya berseru senang, saya mendapatkan harga tiket sesuai dengan budget saya, mengingat semenjak saya bisa menghidupi diri saya sendiri, saya sangat perhitungan, semua pengeluaran saya kalkulasi ke dalam ms excel setiap bulannya, jangan sampai boros, walau in fact saya belum bisa menabung karena ada kejadian force majeur dan faktor2 lain yang tidak bisa saya sebutkan di sini. Menurut ilmu Makro Ekonomi: makin banyak pendapatan, makin banyak pengeluaran, hadeh!
                Saya menelepon teman saya dan saya mengabarkan kalau saya sudah membooking pesawat untuk saya dan saya bilang tolong kamu booking sendiri, adik saya bisa membayarkan lewat kartu ATM yang dia punya, biar adikku yang nalangi dulu. Waktu itu, sinyal telepon putus2, dan waktu mendesak, karena adik saya telah menunggu lama di dekat atm untuk membayarkan transaksi teman saya. Teman saya membooking pesawat dan bilang mengenai kode pembayarannya, lalu saya smskan ke adik saya.
                Beberapa menit kemudian, adik mengirim sms dan bilang,”Mbak, struknya Mbak sudah benar 506.900 tapi kok struk teman Mbak 1.014.000 ya??? Katanya pesan masing2 untuk 1 tiket, uangku di ATM tinggal 3.000.”
                Saya terlonjak kaget, MASYAALLAH. Cobaan apa lagi ini???? Saya menelepon teman saya dan mengabarkan miskomunikasi ini. Teman saya sadar, sambungan telepon tadi memang putus2 karena sinyal jelek. Dia membooking kan pesawat untuk dia dan saya. Dia baru bisa menyadari,”Mengapa Mila bertanya mengenai tata cara membayar lewat ATM kalau dia belum membooking duluan buat dirinya sendiri?”. Akhirnya teman saya bilang, “Baiklah biar saya yang mengganti kekeliruan ini”. Tidak kalah sengitnya, saya juga beseru, “Ini kesalahan saya, kamu hanya perlu membayar 506.900, kesalahan itu biar saya tanggung.” Saya membuat keputusan biar saya yang menanggung, karena saya bingung, siapa yang layak dipersalahkan, saya atau dia. Saya hanya bisa mengambil posisi prudential muammalah, kehati-hatian dalam bermuamalah (istilah aneh yg saya ciptakan sendiri).
SAYA LINGLUNG DAN LESU. Astaghfirulloh, kesalahan beruntun karena miskomunikasi dan saya juga tidak bisa mejaga KOMITMEN sedari awal, saya memang panik karena harga tiket semakin melambung kalau kami tidak segera pesan. TERNYATA KETERGESAAN INI MEMBAWA SAYA KE DALAM KEJADIAN YANG NAHAS.

#4
Kemarin Kamis Malam, saya telah membooking tiket untuk ke Bandung untuk mengambil struk pembayaran tiket Batavia Air, saya pikir sebagai bukti untuk refund tiket saya yang DOUBLE BOOKING atas nama saya pada jam dan hari yang sama itu. Saya menyusuri jalan Gunung Sahari raya, padat merayap, 3 hari libur, long weekend, mungkin orang2 banyak yang bergegas untuk mudik. Saya menyeberang ke halte Jembatan Merah dan naik Transjakarta tujuan Halte Juanda. Seperti biasanya, bisnya penuh sesak, seperti penumpang pada umumnya, saya naik dan berjejalan dengan penumpang, saya bingung, saya harus transit ke Halte Senen tetapi saya tidak hafal Haltenya, saya menoleh melihat seorang Mas berbaju abu2, saya pikir dia adalah petugas Busway, saya bilang,”Mas, kalo sudah sampai Halte Senen, tolong saya dikasitau ya?” dia pun mengangguk. Posisi kami memang berlawanan arah. Baru ketika turun saya menyadari dia bukan petugas Transjakarta, dia penumpang, sekilas saya melihat, salah satu matanya cacat. ASTAGHFIRULLOHALADZIM. Alhamdulillah Mas tadi baik kepada saya, namun saya belum sempat berterima kasih padanya. Fabiayyiaalaairabbikumaatukadzibaan. NIKMAT TUHANMU YANG MANAKAH YANG KAMU DUSTAKAN?
Entahlah, kalo saya tidak dikasi tahu Mas tadi mungkin saya sudah tersesat karena posisi saya yang terjepit dan tidak bisa melihat keluar. Akhirnya sampai juga di Halte Juanda setelah perjuangan berdesak2an dan bergelantungan di Bus. Saya berjalan sekitar 1 KM dan menemukan Kantor Pusat Batavia Air, saya menghadap teller dan bilang saya ingin refund karena terjadi double booking. Saya tahu, biaya CF (Cancellation Fee) nya adalah 50% dari harga dasar, otomatically saya hanya mendapat refund sekitar 200ribuan. Tidak apa2. INSYAALLAH, SEMUA INI ADA HIKMAHNYA.
Tetapi yang membuat saya getir, teller nya bilang, “Mbak harus menyertakan  fotokopi buku tabungan dan fotokopi KTP rekening adik Mbak karena pembayarannya dilakukan oleh adik Mbak. Uang refund nya pun baru bisa diterima 1 bulan setelah pengaduan ini karena harus mengikuti prosedur yang sudah ada.”
Saya bilang,”Adik saya di Bandung, apakah bisa kalau adik saya memfoto buku tabungan dan KTPnya lalu mengirim ke email Mas?”
“Iya gak papa Mbak,” sahut teller.
Saya menelepon dan sms adik saya. Tidak diangkat dan tidak dibalas. Mungkin dia sudah tidur, padahal ini masih jam 8 malam. Saya pamit kepada Mas teller dan berjalan gontai meninggalkan kantor itu. Kembali berdesak2an di Bus menuju Halte Senen, lalu bisa duduk santai menuju Jembatan Merah sambil menikmati Jakarta di malam hari, sungguh redup namun menggeliat ramai.

HIKMAH:
1.       Jujurlah, walau itu PAHIT.
2.       Jaga komitmen sedari awal, kalau ingin merubah kesepakatan, nyatakan dengan jelas, jangan sampai terjadi miskom.
3.       Jangan sering merepotkan orang lain, memang sepertinya keliatan mudah meminta tolong, namun pada akhirnya menjadi rumit seperti ini.
4.       Jangan tergesa2, pikirkan dengan jernih segala sesuatu, membuat keputusan yang mantap dan berkualitas dengan waktu yang mendesak.
5.       BERSEDEKAHLAH SELAGI MAMPU DAN JANGAN PELIT. Kalau kau perhitungan dengan uangmu, boleh (mubah). Tapi jangan lupakan HAK orang2 yang kurang mampu. Walaupun zakat maal sudah dikeluarkan. Jangan lupakan untuk BERSEDEKAH karena ini akan diganti ALLAH dengan hal2 yang tidak kita duga, mulai dari rezeki yang mengalir dan menolak bala’ (musibah).

Dari sini saya belajar, mungkin selama ini saya terlalu perhitungan, zakat memang sudah saya keluarkan. Sedekah juga iya. Tetapi mungkin kurang maksimal SEDEKAH yang saya keluarkan sehingga terjadi kondisi seperti ini. UANG TIGA RATUS RIBU MELAYANG terkena cancellations fee beserta pajak dan biaya administrasi. Alangkah indah jika bisa diinfaqkan ke anak2 yatim ataupun para penghafal Al Qur’an.

                       “Perumpamaan orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan ALLAH (bersedekah) adalah serupa dengan sebutir benih yang menumbuhkan tujuh bulir, pada tiap2 bulir seratus biji. ALLAH melipatgandakan (ganjaran).” (QS Al Baqarah (2):261)
“Jika kamu bersyukur akan aku tambah nikmatKu kepadamu. Tapi jika kamu kufur (tidak bersyukur), maka sesungguhnya adzabKu sangat pedih.” (QS. Ibrahim (14): 17)
Saya yakin dengan pengalaman yang berwarna ini, membuat saya akan lebih memaknai hidup, lebih bersyukur, lebih banyak bersedekah, menunaikan hak dan kewajiban sebagai manusia seutuhnya. Mengutip kata2 Muhammad Assad, penulis Notes From Qatar,” There is no growth in comfort zone and there is no comfort in a growth zone. I must leave my comfort zone to grow.”
“Maka sesungguhnya bersama kesulitan itu ada kemudahan. Sesungguhnya bersama kesulitan itu ada kemudahan.” (QS Al Insyirah (94): 5-6)
Setelah hujan akan ada pelangi, yakinlah hari esok akan cerah, melangkahlah dengan pasti, ALLAH akan selalu bersama kita, wahai hati yang selalu tunduk padaNya.
La Takhaf Wa La Tahzan Innallaha Ma’ana. Jangan takut dan jangan bersedih, sesungguhnya ALLAH terus menerus mendampingi kita semua. Amin ya Rabbal ‘alamin.


Gunung Sahari, 6 April 2011
               

Senin, 02 April 2012 1 komentar

TULISANKU YANG PERNAH DIMUAT DI HARIAN NASIONAL KOMPAS


Dengan kondisi tanah air kita yang rawan bencana alam seperti gunung meletus, banjir, longsor, gempa bumi dan tsunami membuat rakyat Indonesia harus tanggap bencana. Biasanya ketika bencana datang, banyak bermunculan sukarelawan dari berbagai elemen masyarakat baik dari masyarakat sekitar lokasi bencana maupun masyarakat yang lokasinya jauh dari lokasi bencana. Sikap berbagai elemen masyarakat ini merupakan bentuk kepedulian dan tanggung jawab sosial.
Tidak dapat dipungkiri bahwa terdapat mahasiswa relawan bencana. Mahasiswa ini datang ke lokasi bencana untuk membantu korban bencana. Keputusan ini sungguh mulia disamping tugas utama mereka adalah menuntut ilmu. Namun, yang perlu digarisbawahi adalah bahwa mahasiswa ini harus memiliki skill atau ketrampilan yang memadai sehingga bisa bermanfaat untuk korban bencana. Jika mereka datang tanpa ketrampilan yang memadai dikhawatirkan malah akan membebani pihak-pihak yang berada di lokasi bencana. Mengingat, menjadi hal lazim ketika masyarakat korban bencana menjadi stress karena kehilangan sanak saudara, tempat tinggal dan harta benda mereka. Maka peran mahasiswa di sini menjadi sangat penting. Mahasiswa psikologi bisa membantu penanganan masyarakat yang stress. Mahasiswa kedokteran dan keperawatan bisa membantu menangani korban luka-luka akibat bencana. Mahasiswa yang lainnya bisa membantu di dapur umum atau membersihkan lokasi bencana sehingga bisa mengurangi beban penderitaan korban bencana.

Tulisan ini versi asli, yang belum di-edit oleh editor KOMPAS rubrik Kompas Kampus. Dimuat di awal tahun 2011 dan waktu itu saya berharap mendapat fee menulis pertama saya, namun ternyata saya hanya mendapat kaos abu2 dan jaket putih bertuliskan KOMPAS KAMPUS. Nevermind, memang hanya tulisan pendek (sebuah argumen), tak apalah. 


 
;