Jumat, 06 April 2012

BERSEDEKAHLAH SELAGI MAMPU DAN JANGAN PELIT (edisi SETELAH HUJAN, AKAN ADA PELANGI, percayalah!)




Ketika saya menulis tulisan ini, saya sedang berusaha sabar, ikhlas, dan tawakkal atas kondisi yang menimpa saya beberapa hari ini. Saya yakin, ALLAH akan menguji seorang hambaNya sesuai dengan kemampuan untuk menanggung ujian ini. Pelajaran akan kehidupan ini dimulai hari Selasa kemarin tanggal 3 April 2011, yang membuat hidup saya lebih berwarna.
                “Apakah manusia mengira mereka dibiarkan saja mengatakan: kami telah beriman. Sedang mereka belum diuji? Dan sesungguhnya Kami telah menguji orang-orang sebelum mereka, sesungguhnya ALLAH Maha Mengetahui orang-orang yang benar dan orang-orang yang berdusta.” (QS Al Ankabut (29): 2-3)

#1                                              
Saya duduk santai di depan Ibu Asisten Manajer Operasional (AMO) kantor saya, kami asyik mengobrol mengenai operasional di kantor ini, maklum saya seorang trainee, sehingga belajar dengan metode interview kayak gini sangatlah berguna bagi saya. Tiba-tiba Ibu AMO berteriak,”Cepat segera diurus, bisa2 kena DHN (Daftar Hitam Nasional),” kata beliau ke seorang petugas Dana dan Jasa (DJS).
                Berikutnya datang seorang teller membawa cek yang dicoret sadis dengan tinta merah seraya berkata,”Bu, ini yang nyoret siapa? Padahal belum dicairkan, ini kan rekening titipan.”
                Beberapa jenak kemudian, banyak orang berkumpul di meja Ibu AMO, mulai dari CS, teller, SPV DJS, petugas DJS dan tentu saja saya.
                Lalu dengan polos menjawab,”Saya Bu yang mencoretnya.” Saya reflek menjawab ini karena saya ingat kemarin Senin melihat cek yang salah tanggal, lalu saya dengan tanpa bertanya ke SPV Kas mencoret dengan tenang. Namun berakibat FATAL.
                “Bagaimana cek ini bisa sampai ke tangan mereka, ini kan cek yang belum divalidasi, jadi gak boleh dicoret, wah, yang punya cek bisa marah2 ini!” seru SPV DJS.
                Rasanya langit mau runtuh, saya lemas, dan berpikir kenapa ketika saya ragu; saya tidak bertanya ke SPV Kas mengenai keganjilan cek tersebut.
                Lalu mereka berganti berkumpul ke SPV Kas. Saya memberanikan diri mendekati mereka dan meminta maaf ke teller. Tellernya bilang,”Seharusnya kamu minta maaf kepada empunya cek, tetapi sudah diurus kok, biar yang punya datang dan memparaf cek tersebut.”
                Sebenarnya ini adalah kesalahan beruntun, pertama teller salah mengumpulkan cek yang belum divalidasi dengan yang sudah divalidasi, seharusnya dipisah. Kedua, murni kesalahan saya, kenapa ketika saya merasa ada keganjilan tidak bertanya ke SPV Kas, malah tetap melanjutkan verifikasi.
                Seperti kata pepatah, MALU BERTANYA SESAT DI JALAN. Benarlah pepatah ini menimpa saya. Namun saya tetap harus berani mengakuinya karena yang melakukan verifikasi adalah saya. Walaupun kenyataannya saya tidak ingat apakah benar saya yang mencoret cek tersebut, karena gaya coretannya bukan gaya saya, namun saya hanya ingat ada keganjilan mengenai tanggal cek. Tapi ya sudahlah, ini memang salah saya.

#2
                Berikut sore harinya, setelah hujan deras membasahi Ibukota Jakarta, dan banjir pun sukses menyapa di jalanan yang selalu macet ketika jam pulang kerja. Saya dengan teman saya menyusuri jalan yang banjir itu, lalu kami berpisah karena saya mau mencari indomaret untuk membeli tiket kereta api. Malam itu sungguh gelap, lampu penerangan jalan redup. Saya berharap ada bajaj lewat, nahas semuanya terisi penumpang. Mau naik taksi, hmmm, kaki saya sudah basah oleh air banjir. Lalu saya mengamati seorang Bapak bisa lewat jalan itu tanpa suatu kejadian nahas apapun. Saya masih ragu, saya mencermati aliran air, saya ingat di tempat itu ada got, tapi malam ini gelap, saya tidak bisa menebak letak got dengan aliran airnya. Saya berjalan, NAHAS, saya jatuh di got, air menggenangi tubuh saya sampai sepinggang. ASTAGHFIRULLOH, saya berseru lalu bangkit. Di benak saya, saya hanya berpikir saya harus pulang Mei bulan depan, saya harus mengunjungi Ibu saya di Nganjuk, Jawa Timur, birul walidain. Setelah bangkit, ternyata ujian belum selesai, saya terjatuh ke got lagi untuk kedua kalinya, dengan kondisi banjir seperti ini, saya tidak bisa membedakan mana jalan raya, dan yang mana gotnya. MASYAALLAH, tetapi saya tidak gentar. Saya bangkit dan menatap sedih rok hitam saya, basah dan bau najis air got, dan tak terelakkan sepatu kerja saya satu2nya, OMG padahal besok masih hari kerja.
                Saya pun berjalan menyusuri trotoar, sampai 1 kilometer, saya tidak menjumpai satu Indomaret pun. Saya menghela nafas, bertanya ke warga sekitar, sepertinya mereka kurang begitu paham dengan daerah ini. Baiklah, saya pun mencegat pengemudi bajaj, saya bilang,”Antarkan saya ke Indomaret dekat sini ya, Bang,” kataku lelah.
                Saya cemas, ini kok lama amat ya, mana Indomaretnya???? Macet dimana2 dan saya tidak sampai juga ke Indomaret dan ini daerah mana??? Malam yang muram dan redup. Abang bajaj yang sekiranya seumuran adik saya bilang, “Bentar lagi sampai di Indomaret Mangga Besar, Mbak.”
                Saya melihat plang Indomaret, saya berseru senang. Saya memesan tiket Gajayana untuk tujuan Kertosono-Gambir. Saya tidak memesan tiket Gambir-Kertosono karena jamnya tidak cocok, jadi baru 1 tiket ada di tangan. Besoknya saya berburu tiket pesawat.

#3
                Saya BBM teman saya kalau ada tiket murah tolong saya dikasi kabar. Siang hari bakda dhuhur dia membooking pesawat Batavia Air untuk dia dan saya, namun tidak bisa melakukan pembayaran karena kami tidak memiliki ke3 ATM yang bisa digunakan untuk melakukan transaksi e-banking dengan Batavia Air. Baiklah, sorenya saya membooking pesawat Batavia Air tujuan Surabaya untuk diri saya sendiri, lalu meminta tolong adik saya untuk membayarkan tiket saya tersebut (saya di Jakarta, adik saya di bandung). Pembayaran SUKSES. Saya berseru senang, saya mendapatkan harga tiket sesuai dengan budget saya, mengingat semenjak saya bisa menghidupi diri saya sendiri, saya sangat perhitungan, semua pengeluaran saya kalkulasi ke dalam ms excel setiap bulannya, jangan sampai boros, walau in fact saya belum bisa menabung karena ada kejadian force majeur dan faktor2 lain yang tidak bisa saya sebutkan di sini. Menurut ilmu Makro Ekonomi: makin banyak pendapatan, makin banyak pengeluaran, hadeh!
                Saya menelepon teman saya dan saya mengabarkan kalau saya sudah membooking pesawat untuk saya dan saya bilang tolong kamu booking sendiri, adik saya bisa membayarkan lewat kartu ATM yang dia punya, biar adikku yang nalangi dulu. Waktu itu, sinyal telepon putus2, dan waktu mendesak, karena adik saya telah menunggu lama di dekat atm untuk membayarkan transaksi teman saya. Teman saya membooking pesawat dan bilang mengenai kode pembayarannya, lalu saya smskan ke adik saya.
                Beberapa menit kemudian, adik mengirim sms dan bilang,”Mbak, struknya Mbak sudah benar 506.900 tapi kok struk teman Mbak 1.014.000 ya??? Katanya pesan masing2 untuk 1 tiket, uangku di ATM tinggal 3.000.”
                Saya terlonjak kaget, MASYAALLAH. Cobaan apa lagi ini???? Saya menelepon teman saya dan mengabarkan miskomunikasi ini. Teman saya sadar, sambungan telepon tadi memang putus2 karena sinyal jelek. Dia membooking kan pesawat untuk dia dan saya. Dia baru bisa menyadari,”Mengapa Mila bertanya mengenai tata cara membayar lewat ATM kalau dia belum membooking duluan buat dirinya sendiri?”. Akhirnya teman saya bilang, “Baiklah biar saya yang mengganti kekeliruan ini”. Tidak kalah sengitnya, saya juga beseru, “Ini kesalahan saya, kamu hanya perlu membayar 506.900, kesalahan itu biar saya tanggung.” Saya membuat keputusan biar saya yang menanggung, karena saya bingung, siapa yang layak dipersalahkan, saya atau dia. Saya hanya bisa mengambil posisi prudential muammalah, kehati-hatian dalam bermuamalah (istilah aneh yg saya ciptakan sendiri).
SAYA LINGLUNG DAN LESU. Astaghfirulloh, kesalahan beruntun karena miskomunikasi dan saya juga tidak bisa mejaga KOMITMEN sedari awal, saya memang panik karena harga tiket semakin melambung kalau kami tidak segera pesan. TERNYATA KETERGESAAN INI MEMBAWA SAYA KE DALAM KEJADIAN YANG NAHAS.

#4
Kemarin Kamis Malam, saya telah membooking tiket untuk ke Bandung untuk mengambil struk pembayaran tiket Batavia Air, saya pikir sebagai bukti untuk refund tiket saya yang DOUBLE BOOKING atas nama saya pada jam dan hari yang sama itu. Saya menyusuri jalan Gunung Sahari raya, padat merayap, 3 hari libur, long weekend, mungkin orang2 banyak yang bergegas untuk mudik. Saya menyeberang ke halte Jembatan Merah dan naik Transjakarta tujuan Halte Juanda. Seperti biasanya, bisnya penuh sesak, seperti penumpang pada umumnya, saya naik dan berjejalan dengan penumpang, saya bingung, saya harus transit ke Halte Senen tetapi saya tidak hafal Haltenya, saya menoleh melihat seorang Mas berbaju abu2, saya pikir dia adalah petugas Busway, saya bilang,”Mas, kalo sudah sampai Halte Senen, tolong saya dikasitau ya?” dia pun mengangguk. Posisi kami memang berlawanan arah. Baru ketika turun saya menyadari dia bukan petugas Transjakarta, dia penumpang, sekilas saya melihat, salah satu matanya cacat. ASTAGHFIRULLOHALADZIM. Alhamdulillah Mas tadi baik kepada saya, namun saya belum sempat berterima kasih padanya. Fabiayyiaalaairabbikumaatukadzibaan. NIKMAT TUHANMU YANG MANAKAH YANG KAMU DUSTAKAN?
Entahlah, kalo saya tidak dikasi tahu Mas tadi mungkin saya sudah tersesat karena posisi saya yang terjepit dan tidak bisa melihat keluar. Akhirnya sampai juga di Halte Juanda setelah perjuangan berdesak2an dan bergelantungan di Bus. Saya berjalan sekitar 1 KM dan menemukan Kantor Pusat Batavia Air, saya menghadap teller dan bilang saya ingin refund karena terjadi double booking. Saya tahu, biaya CF (Cancellation Fee) nya adalah 50% dari harga dasar, otomatically saya hanya mendapat refund sekitar 200ribuan. Tidak apa2. INSYAALLAH, SEMUA INI ADA HIKMAHNYA.
Tetapi yang membuat saya getir, teller nya bilang, “Mbak harus menyertakan  fotokopi buku tabungan dan fotokopi KTP rekening adik Mbak karena pembayarannya dilakukan oleh adik Mbak. Uang refund nya pun baru bisa diterima 1 bulan setelah pengaduan ini karena harus mengikuti prosedur yang sudah ada.”
Saya bilang,”Adik saya di Bandung, apakah bisa kalau adik saya memfoto buku tabungan dan KTPnya lalu mengirim ke email Mas?”
“Iya gak papa Mbak,” sahut teller.
Saya menelepon dan sms adik saya. Tidak diangkat dan tidak dibalas. Mungkin dia sudah tidur, padahal ini masih jam 8 malam. Saya pamit kepada Mas teller dan berjalan gontai meninggalkan kantor itu. Kembali berdesak2an di Bus menuju Halte Senen, lalu bisa duduk santai menuju Jembatan Merah sambil menikmati Jakarta di malam hari, sungguh redup namun menggeliat ramai.

HIKMAH:
1.       Jujurlah, walau itu PAHIT.
2.       Jaga komitmen sedari awal, kalau ingin merubah kesepakatan, nyatakan dengan jelas, jangan sampai terjadi miskom.
3.       Jangan sering merepotkan orang lain, memang sepertinya keliatan mudah meminta tolong, namun pada akhirnya menjadi rumit seperti ini.
4.       Jangan tergesa2, pikirkan dengan jernih segala sesuatu, membuat keputusan yang mantap dan berkualitas dengan waktu yang mendesak.
5.       BERSEDEKAHLAH SELAGI MAMPU DAN JANGAN PELIT. Kalau kau perhitungan dengan uangmu, boleh (mubah). Tapi jangan lupakan HAK orang2 yang kurang mampu. Walaupun zakat maal sudah dikeluarkan. Jangan lupakan untuk BERSEDEKAH karena ini akan diganti ALLAH dengan hal2 yang tidak kita duga, mulai dari rezeki yang mengalir dan menolak bala’ (musibah).

Dari sini saya belajar, mungkin selama ini saya terlalu perhitungan, zakat memang sudah saya keluarkan. Sedekah juga iya. Tetapi mungkin kurang maksimal SEDEKAH yang saya keluarkan sehingga terjadi kondisi seperti ini. UANG TIGA RATUS RIBU MELAYANG terkena cancellations fee beserta pajak dan biaya administrasi. Alangkah indah jika bisa diinfaqkan ke anak2 yatim ataupun para penghafal Al Qur’an.

                       “Perumpamaan orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan ALLAH (bersedekah) adalah serupa dengan sebutir benih yang menumbuhkan tujuh bulir, pada tiap2 bulir seratus biji. ALLAH melipatgandakan (ganjaran).” (QS Al Baqarah (2):261)
“Jika kamu bersyukur akan aku tambah nikmatKu kepadamu. Tapi jika kamu kufur (tidak bersyukur), maka sesungguhnya adzabKu sangat pedih.” (QS. Ibrahim (14): 17)
Saya yakin dengan pengalaman yang berwarna ini, membuat saya akan lebih memaknai hidup, lebih bersyukur, lebih banyak bersedekah, menunaikan hak dan kewajiban sebagai manusia seutuhnya. Mengutip kata2 Muhammad Assad, penulis Notes From Qatar,” There is no growth in comfort zone and there is no comfort in a growth zone. I must leave my comfort zone to grow.”
“Maka sesungguhnya bersama kesulitan itu ada kemudahan. Sesungguhnya bersama kesulitan itu ada kemudahan.” (QS Al Insyirah (94): 5-6)
Setelah hujan akan ada pelangi, yakinlah hari esok akan cerah, melangkahlah dengan pasti, ALLAH akan selalu bersama kita, wahai hati yang selalu tunduk padaNya.
La Takhaf Wa La Tahzan Innallaha Ma’ana. Jangan takut dan jangan bersedih, sesungguhnya ALLAH terus menerus mendampingi kita semua. Amin ya Rabbal ‘alamin.


Gunung Sahari, 6 April 2011
               

0 komentar:

Posting Komentar

 
;