Senin, 28 Mei 2012 0 komentar

Hening


Pagi menghembuskan nafas lambat.  Cerah berlari ke sesudut reruang dan waktu yang fana. Aku di sini masih sibuk menata diri dalam aroma sepi yang menjangkau ke seluruh sendi-sendi hidupku. Aku semakin asyik dalam dunia hasil keterpurukanku saat ini. Aku pun tetap berusaha menyembunyikan kosa kata menyesal di antara tumpukan ingatanku yang penuh sesak di rongga otakku. Dan aku masih bisa bersyukur bisa hidup dalam keheningan yang beku.

270207 dalam sebuah penantian
Kamis, 24 Mei 2012 0 komentar

Berandai-andai di Sepanjang Jalan Cinta Surabaya #1


# Andai detik bersedia tunduk di bawah mandatku,
Ku akan memerintahkannya agar detik menghentikan cintaku di perhentian lampu merah itu.
Hingga langkah-langkah kakiku bisa menjumpai cintaku yang terhampar manis sejauh lima meter itu

# Andai mobil motor masih menikmati jalan raya itu untuk satu menit saja,
Ragaku mungkin bisa menjumpai cintaku
Hingga rindu yang pasang ini bisa menemukan daratan

# Andai semuanya tidak terjadi,
Aku tak kan pernah memperhatikanmu selekat ini
Hingga padam semua inginku atasmu  
Selasa, 22 Mei 2012 0 komentar

Would You Like to Tell to Me?


Ketika kaki-kaki kataku tidak mampu lagi mencapai puncak kurva hasrat pelarian dan pelampiasan emosi yang koyak. Aku merasa senyap ketika bingar memeluk seluruh dinding ruang hidupku. Aku merasa kalut ketika tawa hanya menghampiri pintu hati yang terbuka sementara aku tetap sunyi, sepi, sendiri. Aku merasa pilu ketika waktu seolah tidak berpihak padaku. Salahkah aku? Would you like to tell to me?


0 komentar

Kelak Tersenyum


Jika kau berikan secarik ulasan berbingkai cacian hati. Kan kutemukan jalan-jalan memucat yang kekurangan suntikan darah nafsu. Jika saja nafsu ini telah terlepas dari dekapan semangat yang terluka. Lukanya jadi borok, jadi nanah. Menjijikkan!

Boleh saja kau menceracau, memuntahkan sumpah serapah tapi kau tak boleh pernah lupa bahwa hatimu tak diijinkan untuk payah, lemah, susah bahkan mati. Biarkan kaki-kaki hatimu menjejak langit hidupmu, membenahi ruang jiwamu dan menyembuhkan luka semangatmu.

Biar semuanya menjadi mimpi indah yang kau teguk saat tidur dan bahkan menjadi kenyataan yang kau tulis ketika pucuk pena ini telah mencium bibir kertas yang telah penuh dengan goresan isak, tawa, lesu, sendu, suka, ria yang membalut hidupku dengan corak warna yang kuyakini membuat diriku menjadi lebih tegar dalam menjemput langkah-langkah kakiku dengan tersenyum pasti.

14 Oktober 2008, pernah dimuat di mading LPPM SEKTOR FEB UNAIR
Selasa, 15 Mei 2012 0 komentar

KITA


Kita bersembunyi di kantong-kantong pemukiman penuh sesak berjejal, berhimpit
Kita menggelung mimpi-mimpi di bawah kaki langit
Kita menjejak bumi yang makin layu

Saatnya untuk berlari, tak lagi bersembunyi di sebalik kehidupan padat merayap
Mengejar keagungan sejatinya sebuah kehidupan
Itu impianku untuk segera berlari
Lalu bagaimana dengan kau?
Menunggu?
Atau bagaimana?
Aku ingin melihatmu menyamakan langkah denganku, merenda mimpi2 bersama,
Melepaskan diri dari gelung harta yang melenakan,
Tersenyum bersama, bergandeng tangan, menapak esok yang cerah
Apakah ini terlalu berlebihan?

Aku ingin mendalami labirin pikiranmu, jika kau mengijinkan
Demikian juga kau, kuijinkan untuk memasuki lorong2 pikiranku,
Agar kita bisa saling berpadu padan, menyamakan gerak langkah

Apakah kau sepakat?
Jumat, 11 Mei 2012 0 komentar

Di seberang Lautan



Alunan memori ini saling bersinggungan saling menyikut membentuk benang kusut
Berdehem tapi tak kan pernah tersampaikan, terlalu nyaring untuk didengar  diantara pekikan huru hara kemelut nestapa lakon gempita

Deru kemilau berlinangan selentik cahaya berputar memilin merajut benang ke seberang lautan
Menyauh perahu namun entah kapan sampai
Kecipak-kecipak ombak yang damai nan tak bersahabat ini enggan mengantar ke seberang
Desisnya,”tidak ada makan siang gratis.”

Memagut sendu, berasa ingin terbang
Melonjak ke seberang
Memeluk permata yang raib
Terkesiap hanya ilusi yang terlalu pagi

Mengapa kau di seberang?
Tak maukah kau berdamai dengan jarak dan waktu
Menjemput dermaga niscaya tak terhitung rimbanya

Allegria Mila
Kamis, 10 Mei 2012 0 komentar

Tarian Rasa

Rasa ini sedikit demi sedikit menjadi kusam, tak lagi dipenuhi sepercik cahaya
Rasa ini semakin melesu, meleleh, meranggas, menggugurkan sebuket rindu yang mekar
Rasa ini menghapus derai tawa dan geletar klimaks nafas
Rasa ini meredam ombak laju pikir
Rasa ini membuntu pandang
Rasa ini mati terlalu dini
Rasa ini menghantarkan gelombang satu-satu, terkoyak
Rasa ini tinggal puing-puing
Mau kah kau mengambilnya?

Allegria Mila, Gunung Sahari, 8 Mei 2012


Minggu, 06 Mei 2012 0 komentar

Bangun dari Beku



menangkap sepi di kubangan langit fajar.

terkesiap oleh sebersit cerah sinar pagi hari, tak selalu beku.
kutangkap selusin kedunguan oleh penatnya otak,
bekerja terlalu keras tapi tak terlalu tua untuk memahami bahwa
kini tlah pagi dan
kabut tlah menyingkir ke sudut-sudut ruang,
tanggap untuk menyuruh bermilyar-milyar sel tubuh untuk
berpadu menyambut pergerakan atas perubahan.

bukan sebuah pergerakan yang ekstrem,
selain perubahan dari kemalasan menuju kegirangan mengolah hidup.
0 komentar

Bertumpu Pada Seuntai Kata



menepi di pesisir labuhan jiwa yang beriak-riak
terlecut tarian masa lalu.

kubasuh seuntai kata serta kujejalkan kembali ke kotak memori
berusaha menerima tanpa mampu mengucap,
“Jangan kau paksa aku, aku tlah letih menampung ingatan-ingatan itu.”

tapi aku masih bertumpu pada seuntai kata 
selalu kusemai di hati,
setia menemani langkah-langkahku,
menemani diamku.

seuntai kata itu akan abadi dan mendapat kedudukan istimewa,
tak kan lekang dari alam pikirku.

seuntai kata bermakna, berharga, terbaik, terindah,
mampu terbitkan geletar semangat,
tertuju jiwa-jiwa yang hampir layu dan meranggas
biar bersemi kembali.

Seuntai kata itu…..

“Berbahagialah pernah bertukar pandang dengan segerombolan kegagalan niscaya engkau akan lebih mampu memaknai sepucuk kesuksesan.”
Rabu, 02 Mei 2012 2 komentar

Resensi Novel My Avilla


Cinta dan keikhlasan harusnya duduk berdampingan dan bukannya saling meniadakan. Keikhlasan adalah sejenis cinta yang membebaskan.


Novel ini menceritahkan kisah cinta segitiga. Sepertinya klise!! Tapi tunggu dulu sobat, perlu baca sampai selesai. Kisah ini berbeda. Yang paling kental adalah kisah pencarian Tuhan dengan tentu saja dibumbui kisah segitiga antara Trudy, Margriet, Fajar. Yang membuat kisah ini semakin complicated, sesak, dan kadang sungguh membuat hati ini gerimis dan berdecak mengalun mengikuti alur cerita yang mengalir dan membuat kita kaget karena telah membacanya habis.

Novel ini adalah karya Ifa Avianty, penulis kawakan yang sering menulis genre kisah islami. Saya sering membaca karyanya sejak kelas 2 SMA di perpustakaan Takmir Masjid SMAN 2 KEDIRI. Kisahnya selalu mengena di hati pembacanya. Simple and interesting.

Saya mendapatkan novel ini gratis langsung dari Penerbit INDIVA MEDIA KREASI setelah twit saya “alasan mengenai buku apa yang wajib dibeli” terpilih oleh admin. Ini adalah salah satu dari ketiga buku yang saya dapatkan gratis, Alhamdulillah.

Oke, balik ke topik. Dari segi pemilihan tema, Ifa Avianty memilih kisah pencarian Tuhan sebagai ruh dari novel ini. Yang menjadi unik adalah kadang kita memahami agama yang kita anut berdasarkan dogma-dogma dan bukan kita pikirkan secara logis. Bukan berarti bahwa kita harus selalu menggunakan akal untuk memahami keberadaan Tuhan. Tetapi semua yang ada di dogma, bisa kok kita buktikan secara logis, dan pada akhirnya akan semakin menambah cakrawala berpikir kita.

Fajar Lintang Bagaskara Sudiyanto adalah anak kelas 1 SMA di Jakarta, pandai, religius, penderita low vision (minus 10) yang dilahirkan dari keluarga campuran. Ayahnya Islam dan Ibunya Katolik. Ia masih rajin sholat namun hatinya juga luruh ketika mendengarkan lagu-lagu gerejani yang semakin membuat hatinya semakin bimbang dan haus untuk melayani Tuhan.

Trudy Carissa Hasan sekelas dengan Fajar. Diam-diam Trudy menaruh perhatian kepada Fajar. Bagi Trudy, hidup adalah kompetisi. Dan ia ingin Fajar menjadi pacarnya setelah banyak hal ia dapatkan seperti popularitas sebagai seorang model yang cantik (melebihi kakaknya) dan mudah bersosialisasi.

Margriet Avilla Hasan adalah kakak Trudy. Margriet sangat pandai, organisatoris, suka seni, pintar memasak, cantik, ramah, berhati laksana berlian. Seorang wanita idaman. Margriet kuliah di sastra UI semester 4 dan aktif di rohis jurusan dan masih aktif membina ekskul di SMAnya dulu (SMA Fajar dan Trudy).

Kisah ini semakin berpilin ketika Fajar sungguh mengagumi Margriet. Fajar  mengenal Margriet karena Margriet pernah mengisi seminar di SMAnya di acara temu alumni. Kesempatan untuk mengenal Margriet lebih dekat tersambut ketika Fajar datang ke rumah Trudy untuk mengerjakan tugas Bahasa Inggris bareng, namun malah ketemu dengan kakaknya, Margriet. Karena Margriet sangat suka es tung tung yang lewat depan rumahnya, dia beli dan berniat mentraktir Fajar dan pak satpam (Pak Ismail). Ternyata malah Fajar yang mentraktir mereka bertiga.

Di sisi lain, Trudy sungguh ingin mendapatkan Fajar. Makanya dia semakin intens dengan fajar dan mereka sering terlibat dalam diskusi di rumah Trudy. Namun ternyata, Fajar malah semakin tertarik dan kagum dengan Margriet yang terpaut EMPAT tahun dengannya. Fajar kagum dengan kepandaian dan kerelegiusan Margriet.

Fajar mengirim surat kepada Margriet (dititipkan ke Trudy) yang isinya mengenai kebimbangannya mengenai Tuhan. Margriet pun membalasnya by email. Trudy yang cemburu pun ingin tahu mengenai sebenarnya Margriet suka siapa, dan Trudy malah tanya-tanya mengenai Kak Anies seorang ketua rohis jurusan. Margriet hanya mengelak walau sebenarnya dia memang kagum kepada ketua rohisnya. Trudy pun lega ternyata Margriet menyukai kak Anies.

Usaha Fajar untuk mendekati Margriet semakin menggebu. Ia bahkan mengirim beberapa lagu lewat radio yang diasuhnya. Lagu-lagu yang romantic Little Music Box Dancer, Trough the Barricades, True Love, Why Do I Love You So?, Nighty Nite. Margriet hanya berpikir bagaimana memahamkan Fajar dan Trudy yang sedang mabuk kepayang supaya tidak pacaran. Selain itu Fajar pun sudah berani menyatakan perasaannya dan sering berkunjung ke rumah Margriet, Fajar menyebutnya My Avilla. Fajar said,”Saya tak punya perasaan apa-apa sama Trudy, Mbak. Saya pertama bertemu di sekolah… saya…. Telah jatuh hati pada seorang gadis berjilbab, yang cerdas, bermata bintang, berhati bidadari…. Margriet Avilla…...”

Margriet pun rusuh, bagaimana mungkin untuk pertama kalinya ia ditembak seorang cowok dan itupun terpaut 4 tahun dengannya, parahnya Trudy juga naksir Fajar. Margriet pun meninggalkan Fajar dan berlari ke kamarnya. Hatinya gerimis.

Suatu ketika, Fajar datang ke kantin kampus Margriet dan masih saja bersikeras akan perasaannya bahkan memberikan cincin untuk Margriet. Singkat cerita, Margriet menolak namun Fajar tetap bilang akan menunggu. Akhirnya, Trudy pun tahu kalau Fajar menyukai Margriet, ia pun “mengemis” supaya Fajar menyukainya, namun Fajar menolak.

Akhirnya mereka bertiga berjauhan. Tiba di masa ketika Fajar lulus SMA, dia memutuskan untuk kuliah di Roma, di Polintificial Gregorian University, sebuah Universitas orde Jesuit tertua dengan alasan ingin menjauh dari Margriet dan semakin ingin melayani Tuhan.

Margriet menjadi dosen di Universitas Indonesia International (UINI). Malah di sana ada bule gila bernama Phil Andrew Fraser, seorang atheis yang tergila-gila kepada Margriet dan ingin menikah dengan Margriet. Akhirnya Phil pun serius masuk Islam. Phil sering terlihat tergesa-gesa ke masjid untuk menunggu adzan, hatinya semakin bergetar ketika mendengar suara adzan, mulai menghafal bacaan sholat dan surat-surat Al Qur’an, dan ikut kelompok pengajian yang diasuh Pak Khairuddin, salah satu dosen agama di UINI.

Trudy hatinya makin kelam dan semakin benci kepada Fajar dan Margriet. Ia semakin menenggelamkan kehidupannya di dunia modeling dan dia menjadi bintang film dengan beberapa kontrak eksklusif untuk berbagai produk dan rumah produksi. Namun hatinya sepi, di usia 28 dia belum menemukan belahan jiwanya.

Ternyata yang namanya takdir, akhirnya Margriet bertemu dengan Fajar di milis the god seeker. Tetapi mereka hanya saling menebak dan tak saling menahu mengenai profil asli masing-masing. Mereka masih intens diskusi by email mengenai pencarian Tuhan, sekali lagi Fajar masih bimbang untuk memilih Islam atau Katolik, Fajar meyakini bahwa Tuhan semua agama sama. Dan ia tertarik dengan konsep selibat di Katolik, baginya romantic bisa melayani Tuhan lebih dekat, kalau ini dipilih, ia harus siap meninggalkan Margriet.

 Singkat cerita Margriet pun menikah dengan Phil. Margriet tak henti menangis ketika akad nikah, sebenarnya hatinya bimbang, ia masih ingat Fajar, sejatinya ia juga menyukai Fajar. Namun, Fajar entah kemana. Semakin lama, Margriet berdamai dengan hatinya, ia semakin mencintai Phil karena Phil sangat mencintainya dan selalu menjaganya.

Trudy berpikir jika Margriet tidak bisa mendapatkan Fajar, maka Trudy lah yang harus bisa mendapatkannya. Akhirnya perjodohan antara Fajar-Trudy terlaksana setelah keluarga Fajar meminta Fajar untuk menikah dengan Trudy dengan alasan Mama Fajar sudah semakin tua dan ketiga saudaranya telah menikah. Ketika acara perjodohan itu, Margriet ternyata tidak bisa membohongi perasaanya, sepertinya hatinya hilang sebagian.

Fajar pun masih menyadari bahwa Avilla-nya masih mencintainya, bisa dilihat dari gesture dan sorot mata. Namun ia harus menerima kenyataan bahwa Avilla sudah menjadi istri Fraser. Otaknya berpikir semakin keras dan ia terkena stroke yang menyebabkan ia cacat. Trudy tidak bisa menerima itu, ia putus asa karena calon suaminya cacat. Ia berpikir lebih baik bunuh diri, ia mengendarai mobilnya dengan kencang dan menabrakkannya ke pohon mahoni besar.

Malam itu, Margriet dan Phil minum es krim di pinggir jalan. Mereka terkejut ketika melihat mobil yang dikendarai Trudy melaju dengan kencang. Phil pun segera mengejar menggunakan mobil dan meninggalkan Margriet sambil berkata,”Papanya gak selalu bisa ada di sisi Mamanya, Cantik. Papanya akan pergi jauh-jauh untuk mencari kehidupan yang lebih baik bagi keluarga kecil tercintanya.”Nahas. Ternyata mobil yang menabrak pohon mahoni adalah mobil Phil karena dia yang menghalangi mobil Trudy supaya tidak menabrak dan menghentikan laju mobilnya. Nahas, mobil Phil ringsek dan Phil meninggal dunia, meninggalkan Margriet yang sedang hamil muda.

Akhirnya Margriet melahirkan seorang putra bernama Andy. Trudy memutuskan pergi ke Oslo dan menjadi dosen di sana karena dia merasa bersalah kepada semua orang yang dicintainya. Fajar masih menderita low vision namun sudah kembali normal walau masih sering pusing. Fajar memberanikan diri untuk mengajukan proposal nikah kepada Margriet. Kemudian mereka menikah. Kadang mereka bertengkar, akar masalahnya adalah Fajar yang sering mengeluh dan bimbang mengenai Tuhan. Akhirnya Fajar pun sadar lalu tidak mengeluh lagi dan yakin dengan keislamannya dan ingin menjadi imam yang baik bagi keluarga kecilnya. Margriet dikarunia tiga anak: 1 dari Phil dan 2 dari Fajar.

Trudy akhirnya kembali ke Indonesia setelah Oma meninggal dan dia minta maaf kepada Papa, Mama, Margriet. Ia akhirnya menyadari bahwa kebahagiaan itu sesungguhnya sederhana. Dia ada dalam hati yang bersyukur, dan ketulusan mencintai serta memaafkan.
Novel ini secara diksi dipenuhi dengan kalimat yang mengalir deras dan bertabur bahasa inggris namun mudah dimengerti, plot dibagi menjadi beberapa sudut pikiran pelaku novel silih berganti. Namun yang terasa kurang di novel ini adalah mengenai latar tempat. Kurang detail mengenai penggambaran kota Jakarta, Roma dan Oslo. Saya rasa akan makin indah dan berwarna jika ketiga kota ini di-explore lebih lanjut. Happy reading!







oya, mampir ke sini sob: ada novel menarik dari toko buku afra semisal da conspiracao novel berlatar sejarah Islam di Sumbawa, diskonnya pun juga bikin ketagihan. 

http://www.tokobukuafra.com/da-conspiracao-afifah-afra?tracking=513ebafb39e93

 
;