Rabu, 02 Mei 2012

Resensi Novel My Avilla


Cinta dan keikhlasan harusnya duduk berdampingan dan bukannya saling meniadakan. Keikhlasan adalah sejenis cinta yang membebaskan.


Novel ini menceritahkan kisah cinta segitiga. Sepertinya klise!! Tapi tunggu dulu sobat, perlu baca sampai selesai. Kisah ini berbeda. Yang paling kental adalah kisah pencarian Tuhan dengan tentu saja dibumbui kisah segitiga antara Trudy, Margriet, Fajar. Yang membuat kisah ini semakin complicated, sesak, dan kadang sungguh membuat hati ini gerimis dan berdecak mengalun mengikuti alur cerita yang mengalir dan membuat kita kaget karena telah membacanya habis.

Novel ini adalah karya Ifa Avianty, penulis kawakan yang sering menulis genre kisah islami. Saya sering membaca karyanya sejak kelas 2 SMA di perpustakaan Takmir Masjid SMAN 2 KEDIRI. Kisahnya selalu mengena di hati pembacanya. Simple and interesting.

Saya mendapatkan novel ini gratis langsung dari Penerbit INDIVA MEDIA KREASI setelah twit saya “alasan mengenai buku apa yang wajib dibeli” terpilih oleh admin. Ini adalah salah satu dari ketiga buku yang saya dapatkan gratis, Alhamdulillah.

Oke, balik ke topik. Dari segi pemilihan tema, Ifa Avianty memilih kisah pencarian Tuhan sebagai ruh dari novel ini. Yang menjadi unik adalah kadang kita memahami agama yang kita anut berdasarkan dogma-dogma dan bukan kita pikirkan secara logis. Bukan berarti bahwa kita harus selalu menggunakan akal untuk memahami keberadaan Tuhan. Tetapi semua yang ada di dogma, bisa kok kita buktikan secara logis, dan pada akhirnya akan semakin menambah cakrawala berpikir kita.

Fajar Lintang Bagaskara Sudiyanto adalah anak kelas 1 SMA di Jakarta, pandai, religius, penderita low vision (minus 10) yang dilahirkan dari keluarga campuran. Ayahnya Islam dan Ibunya Katolik. Ia masih rajin sholat namun hatinya juga luruh ketika mendengarkan lagu-lagu gerejani yang semakin membuat hatinya semakin bimbang dan haus untuk melayani Tuhan.

Trudy Carissa Hasan sekelas dengan Fajar. Diam-diam Trudy menaruh perhatian kepada Fajar. Bagi Trudy, hidup adalah kompetisi. Dan ia ingin Fajar menjadi pacarnya setelah banyak hal ia dapatkan seperti popularitas sebagai seorang model yang cantik (melebihi kakaknya) dan mudah bersosialisasi.

Margriet Avilla Hasan adalah kakak Trudy. Margriet sangat pandai, organisatoris, suka seni, pintar memasak, cantik, ramah, berhati laksana berlian. Seorang wanita idaman. Margriet kuliah di sastra UI semester 4 dan aktif di rohis jurusan dan masih aktif membina ekskul di SMAnya dulu (SMA Fajar dan Trudy).

Kisah ini semakin berpilin ketika Fajar sungguh mengagumi Margriet. Fajar  mengenal Margriet karena Margriet pernah mengisi seminar di SMAnya di acara temu alumni. Kesempatan untuk mengenal Margriet lebih dekat tersambut ketika Fajar datang ke rumah Trudy untuk mengerjakan tugas Bahasa Inggris bareng, namun malah ketemu dengan kakaknya, Margriet. Karena Margriet sangat suka es tung tung yang lewat depan rumahnya, dia beli dan berniat mentraktir Fajar dan pak satpam (Pak Ismail). Ternyata malah Fajar yang mentraktir mereka bertiga.

Di sisi lain, Trudy sungguh ingin mendapatkan Fajar. Makanya dia semakin intens dengan fajar dan mereka sering terlibat dalam diskusi di rumah Trudy. Namun ternyata, Fajar malah semakin tertarik dan kagum dengan Margriet yang terpaut EMPAT tahun dengannya. Fajar kagum dengan kepandaian dan kerelegiusan Margriet.

Fajar mengirim surat kepada Margriet (dititipkan ke Trudy) yang isinya mengenai kebimbangannya mengenai Tuhan. Margriet pun membalasnya by email. Trudy yang cemburu pun ingin tahu mengenai sebenarnya Margriet suka siapa, dan Trudy malah tanya-tanya mengenai Kak Anies seorang ketua rohis jurusan. Margriet hanya mengelak walau sebenarnya dia memang kagum kepada ketua rohisnya. Trudy pun lega ternyata Margriet menyukai kak Anies.

Usaha Fajar untuk mendekati Margriet semakin menggebu. Ia bahkan mengirim beberapa lagu lewat radio yang diasuhnya. Lagu-lagu yang romantic Little Music Box Dancer, Trough the Barricades, True Love, Why Do I Love You So?, Nighty Nite. Margriet hanya berpikir bagaimana memahamkan Fajar dan Trudy yang sedang mabuk kepayang supaya tidak pacaran. Selain itu Fajar pun sudah berani menyatakan perasaannya dan sering berkunjung ke rumah Margriet, Fajar menyebutnya My Avilla. Fajar said,”Saya tak punya perasaan apa-apa sama Trudy, Mbak. Saya pertama bertemu di sekolah… saya…. Telah jatuh hati pada seorang gadis berjilbab, yang cerdas, bermata bintang, berhati bidadari…. Margriet Avilla…...”

Margriet pun rusuh, bagaimana mungkin untuk pertama kalinya ia ditembak seorang cowok dan itupun terpaut 4 tahun dengannya, parahnya Trudy juga naksir Fajar. Margriet pun meninggalkan Fajar dan berlari ke kamarnya. Hatinya gerimis.

Suatu ketika, Fajar datang ke kantin kampus Margriet dan masih saja bersikeras akan perasaannya bahkan memberikan cincin untuk Margriet. Singkat cerita, Margriet menolak namun Fajar tetap bilang akan menunggu. Akhirnya, Trudy pun tahu kalau Fajar menyukai Margriet, ia pun “mengemis” supaya Fajar menyukainya, namun Fajar menolak.

Akhirnya mereka bertiga berjauhan. Tiba di masa ketika Fajar lulus SMA, dia memutuskan untuk kuliah di Roma, di Polintificial Gregorian University, sebuah Universitas orde Jesuit tertua dengan alasan ingin menjauh dari Margriet dan semakin ingin melayani Tuhan.

Margriet menjadi dosen di Universitas Indonesia International (UINI). Malah di sana ada bule gila bernama Phil Andrew Fraser, seorang atheis yang tergila-gila kepada Margriet dan ingin menikah dengan Margriet. Akhirnya Phil pun serius masuk Islam. Phil sering terlihat tergesa-gesa ke masjid untuk menunggu adzan, hatinya semakin bergetar ketika mendengar suara adzan, mulai menghafal bacaan sholat dan surat-surat Al Qur’an, dan ikut kelompok pengajian yang diasuh Pak Khairuddin, salah satu dosen agama di UINI.

Trudy hatinya makin kelam dan semakin benci kepada Fajar dan Margriet. Ia semakin menenggelamkan kehidupannya di dunia modeling dan dia menjadi bintang film dengan beberapa kontrak eksklusif untuk berbagai produk dan rumah produksi. Namun hatinya sepi, di usia 28 dia belum menemukan belahan jiwanya.

Ternyata yang namanya takdir, akhirnya Margriet bertemu dengan Fajar di milis the god seeker. Tetapi mereka hanya saling menebak dan tak saling menahu mengenai profil asli masing-masing. Mereka masih intens diskusi by email mengenai pencarian Tuhan, sekali lagi Fajar masih bimbang untuk memilih Islam atau Katolik, Fajar meyakini bahwa Tuhan semua agama sama. Dan ia tertarik dengan konsep selibat di Katolik, baginya romantic bisa melayani Tuhan lebih dekat, kalau ini dipilih, ia harus siap meninggalkan Margriet.

 Singkat cerita Margriet pun menikah dengan Phil. Margriet tak henti menangis ketika akad nikah, sebenarnya hatinya bimbang, ia masih ingat Fajar, sejatinya ia juga menyukai Fajar. Namun, Fajar entah kemana. Semakin lama, Margriet berdamai dengan hatinya, ia semakin mencintai Phil karena Phil sangat mencintainya dan selalu menjaganya.

Trudy berpikir jika Margriet tidak bisa mendapatkan Fajar, maka Trudy lah yang harus bisa mendapatkannya. Akhirnya perjodohan antara Fajar-Trudy terlaksana setelah keluarga Fajar meminta Fajar untuk menikah dengan Trudy dengan alasan Mama Fajar sudah semakin tua dan ketiga saudaranya telah menikah. Ketika acara perjodohan itu, Margriet ternyata tidak bisa membohongi perasaanya, sepertinya hatinya hilang sebagian.

Fajar pun masih menyadari bahwa Avilla-nya masih mencintainya, bisa dilihat dari gesture dan sorot mata. Namun ia harus menerima kenyataan bahwa Avilla sudah menjadi istri Fraser. Otaknya berpikir semakin keras dan ia terkena stroke yang menyebabkan ia cacat. Trudy tidak bisa menerima itu, ia putus asa karena calon suaminya cacat. Ia berpikir lebih baik bunuh diri, ia mengendarai mobilnya dengan kencang dan menabrakkannya ke pohon mahoni besar.

Malam itu, Margriet dan Phil minum es krim di pinggir jalan. Mereka terkejut ketika melihat mobil yang dikendarai Trudy melaju dengan kencang. Phil pun segera mengejar menggunakan mobil dan meninggalkan Margriet sambil berkata,”Papanya gak selalu bisa ada di sisi Mamanya, Cantik. Papanya akan pergi jauh-jauh untuk mencari kehidupan yang lebih baik bagi keluarga kecil tercintanya.”Nahas. Ternyata mobil yang menabrak pohon mahoni adalah mobil Phil karena dia yang menghalangi mobil Trudy supaya tidak menabrak dan menghentikan laju mobilnya. Nahas, mobil Phil ringsek dan Phil meninggal dunia, meninggalkan Margriet yang sedang hamil muda.

Akhirnya Margriet melahirkan seorang putra bernama Andy. Trudy memutuskan pergi ke Oslo dan menjadi dosen di sana karena dia merasa bersalah kepada semua orang yang dicintainya. Fajar masih menderita low vision namun sudah kembali normal walau masih sering pusing. Fajar memberanikan diri untuk mengajukan proposal nikah kepada Margriet. Kemudian mereka menikah. Kadang mereka bertengkar, akar masalahnya adalah Fajar yang sering mengeluh dan bimbang mengenai Tuhan. Akhirnya Fajar pun sadar lalu tidak mengeluh lagi dan yakin dengan keislamannya dan ingin menjadi imam yang baik bagi keluarga kecilnya. Margriet dikarunia tiga anak: 1 dari Phil dan 2 dari Fajar.

Trudy akhirnya kembali ke Indonesia setelah Oma meninggal dan dia minta maaf kepada Papa, Mama, Margriet. Ia akhirnya menyadari bahwa kebahagiaan itu sesungguhnya sederhana. Dia ada dalam hati yang bersyukur, dan ketulusan mencintai serta memaafkan.
Novel ini secara diksi dipenuhi dengan kalimat yang mengalir deras dan bertabur bahasa inggris namun mudah dimengerti, plot dibagi menjadi beberapa sudut pikiran pelaku novel silih berganti. Namun yang terasa kurang di novel ini adalah mengenai latar tempat. Kurang detail mengenai penggambaran kota Jakarta, Roma dan Oslo. Saya rasa akan makin indah dan berwarna jika ketiga kota ini di-explore lebih lanjut. Happy reading!







oya, mampir ke sini sob: ada novel menarik dari toko buku afra semisal da conspiracao novel berlatar sejarah Islam di Sumbawa, diskonnya pun juga bikin ketagihan. 

http://www.tokobukuafra.com/da-conspiracao-afifah-afra?tracking=513ebafb39e93

2 komentar:

Ahmad Syamsu Rizal mengatakan...

lumayan lah, itu. aku hanya melihat cara menyampaikan bahasanya bagaimana, soalnya aku g begitu baca resensi aslinya. Sukses dah...

mila mawaddah mengatakan...

iya, masih perlu belajar me-resensi lagi, this is my first

Posting Komentar

 
;