Selasa, 05 Juni 2012

CALO: Antara Dibenci dan Dibutuhkan



Sebenarnya saya ingin mengangkat topik ini sejak lama, bagaimanapun setelah saya tinggal di rantau, saya makin sering mengalami keperluan akan namanya tiket, spesifiknya tiket Kereta Api. Mengingat rumah saya lebih mudah diakses dengan menggunakan Kereta Api daripada saya memilih pesawat yang bandaranya jauh dari rumah saya (kurang lebih 4,5 jam kalau macet).
Lalu apa hubungannya dengan calo? Setelah pertama kali diberlakukan bahwa tiket bisnis dan eksekutif bisa dipesan H-30 dan tiket ekonomi jarak jauh H-7, maka otomatis orang-orang berduit dan yang punya modal-lah yang akan lebih memiliki preferensi untuk mem-booking tiket jauh-jauh hari. Pernah suatu waktu, ketika saya sedang sering-seringnya bolak balik Nganjuk-Jakarta untuk mengikuti serangkaian tes sebagai jobseeker. Saya mendadak perlu ke Jakarta untuk interview user. Seperti biasa, Bapak mencarikan tiket kereta api untuk saya. Berhubung masih mencari kerja, lebih etis jika saya naik KA Brantas menuju Jakarta. Ternyata KA jenis ekonomi ini sudah habis dipesan entah oleh pengguna jasa angkutan kereta api atau pun oleh calo. Hal ini terbukti ketika Bapak saya duduk-duduk untuk meneguk secangkir kopi di warung kopi, beliau bertemu dengan dua orang calo.
“Waduh kobong siji wekku, tapi gakpopo jek tetep bathi (aduh, terbakar satu milikku, tetapi tak apa-apa, masih untung),”kata seseorang dan bisa ditebak dia adalah calo tiket.
“Piro regane tiket Brantas? Aku butuh siji (Berapa harga tiket Brantas? Saya butuh satu),”kata Bapak.
“Satus seket (seratus lima puluh),”jawab si calo.
“Woalah larang eram, wolong puluh lah (Oalah, mahal sangat, delapan puluh lah),”tawar Bapak.
“Raiso, Lak gelem satus (Gak bisa, kalau mau ya seratus).”
Akhirnya Bapak memutuskan membelikan saya tiket Bisnis Senja Kediri Rp 160.000 di loket resmi daripada uang seraus ribu saya hanya bisa menikmati kelas ekonomi, sekalian aja kelas bisnis sekalian.
Bapak saya tidak hanya sekali bertemu dengan calo. Ketika liburan sekolah beberapa waktu lalu. Bapak saya membelikan 5 tiket Brantas ya per biji seharga Rp 100.000 lewat calo karena di loket sudah habis. Padahal harga asli hanya Rp 45.000. Jadi calo untung DUA KALI LIPAT dari modal yang dia keluarkan. Memang pihak PT KERETA API sering mendengungkan akan menerapkan jasa angkutan sekompeten maskapai, namun kenyataannnya ya seperti ini. Makin parah saya pikir.
Apalagi setelah diterapkan pemesanan bisa H-90 hari untuk tiket bisnis dan eksekutif sedangkan ekonomi jarak jauh tetap H-7 sebelum keberangkatan. Bagaimanapun sistemnya, tetap saja, tiket cepat di-absorb oleh calo. Kemarin loket baru dibuka jam 7 pagi, Bapak saya lagi-lagi mencarikan tiket lebaran untuk saya. Ternyata tiket sudah habis. Sadisnya habisnya setelah tinggal 1 karcis dibeli oleh seseorang di depan Bapak saya. Kasian sekali Bapak saya harus menempuh perjalanan 40 menit untuk mencari tiket KA dan nihil, pulang tanpa hasil.
Saya pun pusing, harga tiket KA di loket pun melambung DUA KALI lipat, tetap terbeli oleh kantong saya (setelah sekarang mandiri secara finansial), namun bagaimana bisa tiket eksekutif gajayana harganya Rp 700.000 dengan perjalanan 12 jam dari Jakarta-Kertosono. Padahal dengan Rp 700.000 saya bisa beli tiket pesawat dengan waktu yang dibutuhkan relatif singkat dibandingkan dengan kereta api yakni 1,5 jam ditambah perjalanan darat 4,5 jam total 7 jam. SEPARUHNYA.
Mari kita bandingkan. Kalau kita naik pesawat, secara waktu relatif singkat dan nyaman. Kalau kereta api, waktu lebih lama dan nyaman untuk eksekutif. Kalau bisnis dan ekonomi ya tolong tidak bisa dibandingkan. Saya pengguna setia kereta Rapih Dhoho semenjak saya kuliah di Surabaya dulu. Sudah biasa dengan suasana proletar, berjejalan seperti kereta isi tebu, kecut keringat, bisingnya suara penjual asongan, berdiri dari Surabaya-Kertosono. Semua saya jalani karena memang tidak ada pilihan, saya juga orang proletar waktu itu, namun lebih beruntung karena bisa kuliah.
Kalau tiket komuter lain lagi ceritanya. Dulu, bagi saya mudah membeli tiket KRD Surabaya-Kertosono. Datang saja minimal 10 menit sebelum keberangkatan pasti dilayani, entah berapapun tiket yang terjual, entah penumpang dapat tempat duduk atau tidak, beli saja. Tapi kondisi itu berubah ketika menjelang pertengahan 2011 yang tiket bisa mulai dipesan jam 00.00 dini hari, dan bisa memesan untuk jam berapa saja. Pada awalnya kan jam dibatasi, misal saya mau berangkat jam 11.00 siang, saya baru bisa beli setelah kereta jam 8.00 berangkat. Setelah menganut system baru, setiap pengguna jasa harus antri pagi-pagi, kalau tak begitu ya gak dapet tiket. Saya pernah begitu akhirnya saya memutuskan untuk pulang keesokan harinya. Menyedihkan sekali. Dan kenyataannya kereta tetap penuh sesak, berisik, tidak ada perubahan yang berarti, paling yang berubah sekarang tiketnya ada yang dapat kursi ada yang tidak. Kalau sebelumnya siapa cepat dia yang dapat tempat duduk.
Balik ke topik. Mengapa calo dibenci? Karena sangat miris saja, hanya dalam waktu singkat tiket langsung ludes, hanya dalam bilangan 7 jam. Enak kalau rumahnya dekat dengan stasiun atau sekalian punya orang dalam, bagi yang tak punya akses ya harus manyun. Apalagi contact center-nya saya telpon berkali-kali tak bisa nyambung sampai pulsa saya habis. Hanya sebagai masukan bagi pihak KAI supaya lebih manageable system operasional prosedur untuk pemesanan tiket. Kalau memang ingin meniru system maskapai penerbangan silahkan, tolong dibenahi, jangan hanya menaikkan harga tetapi layanan kurang atau tidak ada perbaikan yang berarti.
Lalu mengapa calo dibutuhkan? Kalau sudah mentok ya paling seperti Bapak saya kemarin mau tak mau harus membelikan karcis untuk paman  sekeluarga karena harus segera balik ke Jakarta. Pernah Paman saya juga sedang butuh tiket untuk balik ke Nganjuk, di loket sudah habis. Lalu dia akhirnya mengobrol dengan office boy stasiun senen. Lalu Paman saya dapat tiket karena OB tersebut punya bekingan orang dalem, entah siapa.
Wallahua’lam. Saya kurang tahu mengenai SOP di KAI. Mungkin bagi yang mengerti bisa berbagi informasi.

0 komentar:

Posting Komentar

 
;