Senin, 11 Juni 2012

Dua Batang Sumpit dan Beasiswa S2 ke Luar Negeri


Tidak seperti biasanya. Saya biasa makan dengan lahap, tapi entahlah hari ini dua batang sumpit yang saya pegang mengantarkan saya ke dalam labirin pelamunan yang tak terkira. Dua batang sumpit ini mengajak saya berjibaku kembali pada deretan-deretan rapi mimpi saya yang selalu saya refresh untuk menyesuaikan dengan kondisi teraktual, disamping kwetiau yang mengepul harum.
Teganya dua batang sumpit menyentil hati saya yang terdalam. Mengingat sms pemberitahuan dari departemen Akuntansi dimana tempat saya mencari ilmu dulu. Sms pemberitahuan kalau akan ada Accounting International Conference di Hotel Westin, Bali, tanggal 28-29 Juni 2012 nanti. Bukan karena nanti saya akan berangkat ke sana sebagai pemakalah lalu tidak punya uang untuk akomodasi. Tetapi lebih parah! Bikin paper aja belum sama sekali, lha wong sms-nya aja baru nyampek. Mungkin akan beda keadaannya jika saya tahu lebih awal, mungkin saya interested dan segera melakukan riset sesuai dengan tema yang di-usung Governance,Competitive Advantages, and Accounting Issues in Emerging Countries’.
Lha itu kalo waktunya panjang, in fact dengan segala kekurangan yang saya miliki yakni kurang ahli bikin paper in english dan jarang melakukan riset akuntansi karena sekarang saya tidak lagi menjadi akademisi. Menjadi hal yang lumrah jika saya hanya bisa ngiler ketika teman saya (sekarang kerja di KAP big four) yang dulu kuliah di English Class papernya lolos (Earning Quality in The Fair Value Accounting Environment) lalu adik kelas saya yang selalu menjadi penggemar saya lolos juga (Does Dropbox Service Effectively Improve Tax Compliance? A Survey of Dropbox Service Effectiveness at Tax Office “BC” Surabaya).
Khusus adik kelas saya ini, kenapa saya sangat pede sekali dia adalah penggemar saya karena entahlah dia selalu melihat positif terhadap saya, selalu menanyakan masalah-masalah kuliah, meminta saran harus mengambil mata kuliah apa, dsb padahal kami jarang ngobrol di dunia nyata. Lebih sering bergaul di dunia maya dan intens curhat. Tetapi sekarang sudah tidak lagi, mungkin saya dianggap tidak relevan lagi untuk dijadikan narasumber L Kenapa saya bisa bilang begini karena saya juga pernah punya seorang kakak angkatan yang saya jadikan role model sampai sekarang.
Tetapi kenyataannya mereka belum tentu berangkat, lag-lagi masalah biaya. Kemungkinan besar malah dosen pembimbingnya yang berangkat secara dosen pasti punya tabungan lebih dibandingkan mahasiswa ataupun mantan mahasiswa yang baru bekerja setengah tahun belakangan ini. Hmm, kasian, saya berdoa semoga mereka mendapatkan sponsor, dengan begitu berkembanglah peneliti-peneliti muda untuk memperluas khasanah akuntansi.
Hehehe, sebenarnya jika saya mempunyai kapabilitas pun saya pasti akan mencari sponsor, gretongan kan lebih asyik bagi peneliti muda dengan kantong pas-pasan. Lalu apa hubungannya International Conference ini dengan Beasiswa ke Luar Negeri? Lebih kepada impian dan cita-cita saya tadi. Entahlah sejak booming-nya novel Laskar Pelangi dan Sang Pemimpi-nya Andrea Hirata saya ber-azzam untuk kuliah ke luar negeri. Bahkan saat pertengahan masa-masa kuliah, saya mengambil kursus Bahasa Inggris di Kampung Inggris Pare, Kediri, Jawa Timur. Namun riil-nya kapasitas dan kapabilitas speaking saya tidak bertambah karena setelah kursus jarang diasah. Apalagi orientasi hidup berubah drastis. Lucunya, Kurva hasrat kuliah ke luar negeri kembali naik setelah mengikuti seminar Negeri 5 Menara-nya Ahmad Fuadi. Seperti biasa kurvanya kembali melandai karena tingkat keseriusan tidak linear dengan cita-cita. Gelombang-gelombang impian hanya muncul sekali-kali. Dan hari ini saya dengan dua batang sumpit diajak menjelajah dan memikirkan kembali mimpi saya untuk kembali menjunjung tinggi kurva hasrat supaya linear dengan cita-cita.
Dulu, awal saya merantau di Jakarta, makan mie ayam memakai dua batang sumpit saja saya tak bisa. Tangan saya kaku karena belum terbiasa. Saya perlu bantuan garpu untuk menciduk dan menikmati mie ayam itu untuk melepas rasa lapar dari perut. Sekarang setelah setengah tahun berlalu, saya lihai menggunakan dua batang sumpit dan tak perlu malu-malu lagi menggunakannya karena sudah ahli :D Demikian halnya dengan kemampuan berbahasa Inggris entah itu speaking, writing, listening, and reading semuanya bisa diasah JIKA KITA INGIN DAN MAU BERUSAHA untuk mengakselerasi supaya kita bisa segera kuliah S2 di luar negeri. Bagi yang tak mau berusaha, minggir saja :D hihi. Saya mengatakan itu kepada diri saya sendiri dan selesailah saya menyantap kwetiau yang nikmat ini.

Jakarta Pusat, 10 Juni 2012

0 komentar:

Posting Komentar

 
;