Sabtu, 23 Juni 2012

Kau, Aku, dan Sepucuk Angpau Merah (Revisi)


Kau, Aku, dan Sepucuk Angpau Merah-Tere Liye

Kau, Aku, dan Sepucuk Angpau Merah adalah novel ke-5 yang saya baca setelah membaca beberapa novel Tere Liye mulai dari Hafalan Sholat Delisa, Bidadari-Bidadari Surga, Moga Bunda Disayang Allah, dan Pukat-Serial Anak-Anak Mamak. Tere Liye termasuk penulis yang produktif. Novel ini adalah salah satu dari ke-17 karyanya yang telah dipublikasikan.

Umurku dua belas, duduk di lorong rumah sakit menangis sendirian terisak. Di ruangan berjarak sepuluh meter dariku., Bapak memutuskan menunaikan kebaikan terakhir. Aku selalu tahu—sebagaimana seluruh penduduk tepian Kapuas tahu—Bapak adalah orang baik yang pernah kukenal. Aku tidak tahu apakah ubur-ubur yang membuatnya meninggal atau pisau bedah dokter. (Halaman 16)

Novel ini diawali dengan prolog asal muasal cerita ini bermula. Dari anak laki-laki berumur 12 tahun yang yatim hingga akhirnya menjadi bujang. Dia adalah Borno, bujang dengan hati paling lurus di sepanjang tepian Kapuas mewarisi sifat Bapaknya yang mendonorkan jantungnya untuk seseorang yang tak dikenalnya. Akhirnya, semenjak Bapak Borno meninggal, Borno menjadi bujang yang mandiri. Selepas SMA, dia bekerja serabutan, mulai dari kuli pabrik karet yang sangat bau, penjaga pintu masuk di dermaga pelampung, hingga operator SPBU.

“Kau tahu Borno. Tempat bekerja kau sebelumnya, meski bau, membuat orang lain menutup mulut saat kau lewat, hasilnya wangi. Halal dan baik. Dimakan berkah, tumbuh jadi daging kebaikan. Banyak orang yang ngantornya wangi, sepatu mengilat, baju licin disetrika, tapi boleh jadi busuk dalamnya. Dimakan hanya menyumpal perut, tumbuh jadi daging keburukan dan kebusukan,” Ibu memberi komentar…. (Halaman 42)

Dan disinilah sebenarnya inti cerita novel ini mulai berjalan. Setelah melalui konflik bathin, Borno memutuskan menjadi pengemudi sepit, walau melanggar wasiat Bapak. Bila menyebut sepit, apa yang terbayang di benak kalian?
                                                                                                                              
Sepit (dari kata speed) adalah perahu kayu, panjang lima meter, lebar satu meter, dengan tempat duduk melintang dan bermesin tempel. (Halaman 10)

Hari pertama mengemudi sepit, banyak penumpang yang kurang percaya terhadap kapasitas Borno. Namun anehnya, ketika semua penumpang turun dari sepitnya, masih ada penumpang yang tersisa, bertahan di sepitnya. Penumpang itu adalah gadis peranakan Cina—sendu menawan berbaju kurung warna kuning—yang tanpa sengaja meninggalkan amplop berwarna merah di dasar sepit Borno. Sebenarnya hal yang lazim jika penumpang sepit melemparkan uang di dasar sepit karena itu adalah upah untuk pengemudi sepit. Berhubung Borno berpikir bahwa barang yang tertinggal di sepit itu adalah surat penting maka Borno berusaha untuk mencari pemilik amplop merah itu. Pencarian dimulai!

Gayung bersambut. Petugas timer membawa kabar gembira untuk Borno mengenai gadis sendu menawan. Gadis itu membagi-bagikan amplop kepada pengemudi sepit dan pedagang di sekitar dermaga dengan dibantu anak-anak SD. Borno berusaha menemuinya. Borno sadar,  ternyata amplop merah itu hanyalah angpau. Bukan surat penting seperti yang dia pikirkan selama dua hari ini. Akhirnya Borno hanya menyimpannya dan terlampau malu untuk mengembalikan.

Probabilitas untuk berjumpa itu ternyata terbuka lebar. Seperti filosofi Law of Attraction, siapa yang berusaha, semesta pun akan mendukung untuk mewujudkannya. Gadis sendu menawan itu selalu datang ke dermaga sepit pukul tujuh lebih seperempat, tidak kurang dan tidak lebih. Hal ini dimanfaatkan oleh Borno. Borno selalu mengantri sepit di urutan tiga belas. Bahkan sering meminta kepada Bang Jauhari atau Pak Tua untuk bertukar posisi dengannya. Cara ini pun sukses, gadis itu selalu menumpang sepitnya. Borno semakin punya banyak kesempatan untuk mengenalnya. Setelah mencuri-curi dengar pembicaraan Ibu-Ibu penumpang sepit dan gadis itu. Borno jadi tahu bahwa gadis itu bekerja di yayasan, pengelola salah satu sekolah swasta ternama di kota Pontianak.

Tak disangka, gadis sendu menawan itu meminta tolong Borno untuk mengajarinya mengemudi sepit ketika mereka bertemu di Istana Kadariah. Pucuk dicinta ulam pun tiba. Alangkah senang hati Borno, dia pun menyanggupi. Akhirnya Borno mengajarinya mengemudi sepit. Perlu waktu lama bagi Borno untuk mengetahui nama gadis sendu menawan itu. Ternyata namanya Mei, seperti nama bulan saja.

Sampai akhirnya, perpisahan pertama itu tak terelakkan. Gadis itu kembali ke Surabaya karena masa magang mengajarnya telah selesai. Saat Borno benar-benar rindu pada Mei. Takdir itu pun datang menjumpai Borno. Pak Tua harus mengikuti terapi alternatif ke Surabaya. Pak Tua mengajak Borno turut serta. Di Surabaya, Borno ingin menjumpai Mei. Parahnya, Borno tak tahu alamatnya. Terbersit ide untuk menelepon ke semua nomor di buku telepon atas nama Papa Mei (Sulaiman) hingga ia harus berdiri berjam-jam dan menghabiskan banyak uang receh. Nihil.  Tak disangka, disaat hampir putus asa. Mei muncul di ruang tunggu klinik alternatif mengantar sang nenek.  

Pak Tua, Borno, dan Mei jalan-jalan di Surabaya mengunjungi banyak tempat. Pak Tua meminta Borno untuk mengantar Mei pulang ke rumahnya. Alih-alih bahagia, ternyata nestapa datang menghampiri. Ketika Borno sedang menunggu di ruang tamu di rumah Mei sedang mengambil kaus untuk Borno sehabis kehujanan. Muncul sosok peranakan Cina berwajah tegas dengan sorot mata tajam, Papa Mei “satpam rumah yang galak”.

”Kau seharusnya tidak mengantar Mei pulang. Kau hanya akan membawa pengaruh buruk bagi Mei.” (Halaman 224)

Lalu, apa maksud dari kata Papa Mei kepada Borno ini? Borno menyadari bahwa sesungguhnya mereka memang berbeda.

Kisah ini semakin mencapai klimaksnya ketika Borno bertemu dengan kenangan lama yang pernah dia temui di lorong rumah sakit saat Bapak Borno meninggal. Gadis bermata hitam bening yang riang, siapa dia? Bagaimana dengan Mei yang tidak menepati janji dan menghilang begitu saja? Gadis sendu menawan itu menghadiahkan buku terbaik tentang mesin untuk Borno. Padahal sebelumnya, pukul tujuh lewat seperempat selalu menjadi saat yang menyenangkan bagi Borno, 23 jam 45 menit menunggu semalaman ditukar dengan kebersamaan 15 menit di atas sepit di pagi hari. Maka kita lihat, apakah aliran perasaan itu akan semakin membesar hingga tiba di muara atau habis menguap di tengah perjalanan?

“…..Perasaan itu tidak sesederhana satu tambah satu sama dengan dua. Bahkan ketika perasaan itu sudah jelas bagai bintang di langit, gemerlap indah tak terkira, tetap saja dia bukan rumus matematika. Perasaan adalah perasaan.” (Halaman 354-355)

Walau Borno sering berasumsi dengan perasaannya, dia adalah bujang yang beruntung memiliki ‘keluarga’ yang selalu menyemangatinya. Pak Tua yang bijak, penuh wawasan, tidak mengggurui, petuahnya yang filosofis namun tetap sederhana, Pak Tua bagai peri bagi Borno. Andi adalah sahabat Borno yang usil tapi baik hati. Bang Togar adalah ketua PPSKT (Persatuan Pengemudi Sepit Kapuas Tercinta) yang keras, galak minta ampun tetapi lembut hatinya. Koh Acong dan Cik Tulani yang sangat setia kawan bagai keluarga sendiri. Bang Jauhari yang suka mengupil dan sering menyoraki jikalau Mei menumpang di sepit Borno.

Membaca kisah ini, sekilas mirip dengan kisah cinta Ikal kepada A ling di novel Laskar Pelangi-nya Andrea Hirata walaupun konteks ceritanya sangatlah berbeda. Tere Liye mengemasnya dengan apik dan sangat manusiawi. Seperti novel-novel Tere Liye sebelumnya, bahasa yang digunakan dalam novel ini sederhana, mudah dipahami namun sarat makna. Alur maju dengan irama yang rancak dipilih dalam novel ini membuat pembaca tak sabar untuk segera menyelesaikan tiap bagiannya. Latar yang disampaikan jelas dan mampu membawa pembaca benar-benar berada di tempatnya.

Adapun kekurangan yang masih saya temui ketika membaca novel ini adalah typo. Ada yang kurang tanda petik penutup kalimat langsung, salah ketik huruf dan beberapa kata yang tidak sempurna yang sedikit mengganggu namun tidak mengurangi makna dari setiap kalimatnya. Yang sedikit menggelitik adalah mengenai cover yakni mengapa gadis sendu menawannya tidak memakai baju kurung warna kuning seperti selalu diceritakan di novel ini, tetapi malah warna coklat yang dipilih? Serta cover yang dominan warna oranye, padahal Borno dan Mei sering berjumpa di dermaga sepit ketika pagi hari, saat setiap orang berangkat untuk beraktivitas.

Overall, novel ini sangat layak diapresiasi! Walau ceritanya sederhana, namun mempesona, kaya akan makna dan nilai yang terselip di setiap sudut-sudut bab dan dialog para tokohnya. Hingga kemudian, cerita ini tidak hanya melulu soal perasaan, tetapi juga mengenai bujang yang bekerja keras atas mimpi yang menjadi passion-nya selama ini. Bahkan tanpa modal besar pun, mimpi bisa tercapai dengan kegigihan dan kesabaran. Di sisi lain, indahnya persahabatan turut mewarnai jejak kesuksesan tokoh utamanya. Seperti biasa, Tere Liye juga pandai menyajikan kejutan-kejutan di setiap bab, yang kadang tidak terpikirkan oleh pembaca. Selamat membaca!

Judul : Kau, Aku, dan Sepucuk Angpau Merah
Pengarang : Tere Liye
Tahun Terbit : 2012
Penerbit : Gramedia Pustaka Utama
Jumlah Halaman : 507
Kategori : Fiksi, Novel
Harga : Rp 72.000


0 komentar:

Posting Komentar

 
;