Selasa, 19 Juni 2012

Kau, Aku, dan Sepucuk Angpau Merah-Tere Liye


Kau, Aku, dan Sepucuk Angpau Merah adalah novel ke-5 yang saya baca setelah membaca beberapa novel Tere Liye mulai dari Hafalan Sholat Delisa, Bidadari-Bidadari Surga, Moga Bunda disayang Allah, dan Pukat. Tere Liye termasuk penulis yang produktif. Novel ini adalah salah satu dari ke-16 karyanya yang telah dipublikasikan. Sebelumnya novel ini merupakan cerita bersambung yang dipublikasikan secara gratis lewat notes facebook Darwis Tere Liye.

Novel bersampul oranye ini mengisahkan mengenai pengemudi sepit bernama Borno, dia adalah bujang yang paling lurus di sepanjang tepian Kapuas mewarisi sifat Bapaknya yang mendonorkan jantungnya untuk seseorang yang tak dikenalnya. Bila menyebut sepit, apa yang terbayang di benak kalian?

Sepit (dari kata speed) adalah perahu kayu, panjang lima meter, lebar satu meter, dengan tempat duduk melintang dan bermesin tempel. Hal. 10

Umurku dua belas, duduk di lorong rumah sakit menangis sendirian terisak. Di ruangan berjarak sepuluh meter dariku., Bapak memutuskan menunaikan kebaikan terakhir. Aku selalu tahu—sebagaimana seluruh penduduk tepian Kapuas tahu—Bapak adalah orang baik yang pernah kukenal. Aku tidak tahu apakah ubur-ubur yang membuatnya meninggal atau pisau bedah dokter. Hal 16

Semenjak Bapak Borno meninggal, Borno menjadi bujang yang mandiri. Selepas SMA dia bekerja serabutan di kota Pontianak, menjadi kuli di pabrik karet yang sangat bau, menjadi penjaga pintu masuk di dermaga pelampung, dan menjadi operator SPBU.

“Kau tahu Borno. Tempat bekerja kau sebelumnya, meski bau, membuat orang lain menutup mulut saat kau lewat, hasilnya wangi. Halal dan baik. Dimakan berkah, tumbuh jadi daging kebaikan. Banyak orang yang ngantornya wangi, sepatu mengilat, baju licin disetrika, tapi boleh jadi busuk dalamnya. Dimakan hanya menyumpal perut, tumbuh jadi daging keburukan dan kebusukan,” Ibu memberi komentar…. Hal 42.

“Itu setidaknya membuktikan satu hal, Borno,” Pak Tua menghiburku. “Sepanjang kau mau bekerja, kau tidak bisa disebut pengangguran. Ada banyak anak muda berpendidikan di negeri ini yang lebih senang menganggur dibandingkan bekerja seadanya. Gengsi, dipikirnya tidak pantas dengan ijazah yang dia punya. Itulah kenapa angka pengangguran kita tinggi sekali, padahal tanah dan air terbentang luas.” Hal 49.

Pagi ini, aku akhirnya memutuskan, aku akan memulai kehidupan sebagai: pengemudi sepit. Sungguh, meski melanggar wasiat Bapak, aku berjanji akan menjadi orang baik, setidaknya aku tidak akan mencuri, tidak akan berbohong, dan senantiasa bekerjakeras—meski akhirnya hanya jadi pengemudi sepit. Hal 53-54.

Akhirnya Borno menjadi pengemudi sepit yang mengantarkannya akan cinta pada pandangan pertama. Gadis China peranakan—berbaju kurung warna kuning dengan payung tradisional berwarna merah, rambut tergerai panjang—yang tak sengaja meninggalkan angpau merah di dasar lantai sepitnya telah membuatnya membangun cinta, menyemainya, dan membuatnya mekar.

Gadis sendu menawan itu telah menawan hatinya. Membuat Borno rela antri di urutan sepit nomor tiga belas setiap pukul tujuh lebih seperempat, supaya gadis sendu menawan itu menumpang sepitnya. Bahkan membuat Pak Sihol sering kehilangan sabun saat mandi di dekat rumah kayunya. Sabunnya selalu tenggelam terkena riak sungai Kapuas karena Borno setiap pagi mengemudikan sepit dengan semangatnya. Perlu waktu lama bagi Borno untuk mengetahui nama gadis sendu menawan itu. Ternyata namanya Mei, seperti nama bulan saja.

Apakah Borno akan bertemu dengan Mei kembali? Apakah cinta mereka akan bersatu? Lalu apa maksud dari kata Papa Mei kepada Borno sewaktu Borno main ke rumah Mei.

”Aku tidak suka kau dekat dengan Mei. Titik. Kau dan dia hanya akan saling menyakiti.” Hal. 388

Jika berjodoh, Tuhan sendiri yang akan memberikan jalan baiknya :) 
Cinta adalah komitmen tidak terbatas, untuk saling mendukung, untuk selalu ada, baik senang maupun duka.

Yang menjadi kisah ini semakin menarik adalah ketika Borno bertemu dengan kenangan lamanya, gadis bermata hitam bening yang riang, siapa dia? Bagaimana dengan gadis sendu menawan yang tidak menepati janji dan menghilang begitu saja? Yang menghadiahkan buku terbaik tentang mesin untuk Borno. Padahal sebelumnya, pukul tujuh lewat seperempat selalu menjadi saat yang menyenangkan bagi Borno, 23 jam 45 menit menunggu semalaman ditukar dengan kebersamaan 15 menit di atas sepit di pagi hari. Maka kita lihat, apakah aliran perasaan itu akan semakin membesar hingga tiba di muara atau habis menguap di tengah perjalanan?

Seperti novel-novel Tere Liye sebelumnya, bahasa yang digunakan dalam novel ini sederhana, mudah dipahami namun sarat makna, membuat saya merenung untuk menyelami maksud dari kalimat-kalimat tersebut. Bisa ditebak, Tere Liye menulisnya dengan segenap penuh perasaan sehingga novel ini spesial karena menyajikan kisah yang unik dari seorang pengemudi sepit. Alur maju dengan irama yang rancak dipilih dalam novel ini membuat pembaca tak sabar untuk segera menyelesaikan tiap bagiannya. Point of view penceritaan laki-laki, apalagi banyak tokoh di novel ini laki-laki, cerita cintanya tidak mendayu-dayu seperti novel pada umumnya. Latar yang disampaikan jelas dan mampu membawa pembaca benar-benar berada di tempatnya. Kemungkinan besar, Tere Liye pernah mengunjungi kota yang menjadi latar cerita dalam novel ini sehingga begitu detail menjelaskan seluk beluk dan kebiasaan masyarakat kota tersebut.

Bagi penggemar novel Tere Liye, tidak ada salahnya untuk membeli novel ini sebagai tambahan koleksi diantara 15 novel Tere Liye lainnya. Walaupun isinya sederhana, namun banyak nilai yang bisa kita ambil seperti tokoh Pak Tua yang bijak, penuh wawasan, tidak mengggurui, yang selalu baik hati, banyak petuahnya yang benar-benar bisa kita renungi dan kita aplikasikan dalam kehidupan sehari-hari. Pak Tua seperti peri bagi Borno. Tokoh satu ini begitu mendominasi novel ini.

“Kau tahu, Nak, perasaan itu tidak sesederhana satu tambah satu sama dengan dua. Bahkan ketika perasaan itu sudah jelas bagai bintang di langit, gemerlap indah tak terkira, tetap saja dia bukan rumus matematika. Perasaan adalah perasaan.” Hal 354-355


Borno beruntung memiliki ‘keluarga’ yang selalu menyemangatinya. Andi teman yang baik walau ember mulutnya. Bang Togar yang keras tetapi sejatinya lembut hatinya. Koh Acong dan Cik Tulani yang sangat setia kawan bagai keluarga sendiri. Bang Jauhari yang suka mengupil dan sering menyorakinya jikalau Mei menumpang di sepit Borno.

Hingga buku ini tamat, tidak dijelaskan nama Bapak Borno siapa dan mereka keturunan suku apa hingga membuat saya penasaran. Salah satu kekurangan yang masih saya temui ketika membaca novel ini adalah ada beberapa typo. Hal yang biasa sih menurutku. Ada yang kurang tanda petik penutup kalimat langsung, salah ketik huruf dan beberapa kata yang tidak sempurna namun tidak mengurangi makna dari setiap kalimatnya.

Yang sedikit menggelitik adalah mengenai cover yakni mengapa gadis sendu menawannya tidak memakai baju kurung warna kuning seperti selalu diceritakan di novel ini, tetapi malah warna coklat yang dipilih? Serta cover yang dominan warna oranye, padahal Borno dan Mei sering berjumpa di dermaga sepit ketika pagi hari, ketika setiap orang berangkat untuk beraktivitas.

Overall, novel ini keren, walau latar belakang cerita sederhana, namun kaya akan makna dan nilai yang terselip di setiap sudut-sudut bab dan dialog para tokohnya. Selamat membaca!

Judul : Kau, Aku, dan Sepucuk Angpau Merah
Pengarang : Tere Liye
Tahun Terbit : 2012
Penerbit : Gramedia Pustaka Utama
Jumlah Halaman : 507
Kategori : Fiksi, Novel
Harga : Rp 72.000


2 komentar:

Aneez Chubby mengatakan...

Resesni nya bagus,,,
ini scr pribadi ya mbk,,aku suka yg bagian awal2nya soalnya dr situ di jelaskn betapa isi buku itu menarik & aku smkn penansarn buat baca tuch isi buku,,
be2rapa paragrap terakhr agak membosanka,,soalnya terlalu panjang,,, :D

mila mawaddah mengatakan...

aduh anis kok manggilnya mbak sih :( gak enak jadinya nih

oke makasih saran dan kritiknya ya

Posting Komentar

 
;