Selasa, 17 Juli 2012

BERPENGHASILAN SELAGI KULIAH, WHY NOT?!


Sampai detik ini, saya masih saja mendapat sms dari mahasiswa FEB Unair untuk memberi asistensi selama perkuliahan berlangsung. Padahal saya sudah lama lulus—sekitar 396 hari—dari Unair. What a happy day! I think….

Aku dan Allegria Tutorial Club

Sebenarnya sejak saya kuliah (semester 2), saya sudah sering menjadi guru les. Entah itu menjadi guru les untuk anak SMA (persiapan SNMPTN); guru les Bahasa Inggris untuk anak kelas 3 dan 6 SD atau menjadi guru les untuk anak kelas 4 SD (semua matpel). Datanglah sebuah kesempatan ketika saya semester 3, saya diminta untuk menjadi guru les privat anak kuliahan—anak UWM dan Unair. Waktu itu saya sungguh tidak PD, why?! Karena saya merasa walau IP saya waktu itu mendekati sempurna (3,9), saya kurang PD karena transfer ilmu itu tidak gampang, harus komunikatif! Akhirnya, kesempatan itu saya ambil J Ini adalah challenge!

Lama kelamaan, saya terkenal menjadi guru les, di samping aktivitas padat di berbagai organisasi kampus, entah itu kerohanian, yayasan sosial, lembaga pers fakultas, ataupun freelance di BEM. Saya tetap enjoy dengan aktivitas yang seabrek walau tidak bisa dipungkiri nilai saya sempat terjun bebas dan pernah 2 kali IP di bawah 3. Tapi hal ini tidak menyurutkan langkah saya untuk tetap kuliah, berorganisai, dan mencari penghasilan sendiri. Tekad saya waktu itu ingin mengurangi beban ortu.

Tibalah waktunya, ketika saya mempunyai ide untuk membuat LBB (Lembaga Bimbingan Belajar) PERTAMA bagi mahasiswa Unair. Karena saya melihat peluang. Ya, sebuah PROBABILITAS! Saya melihat beberapa mahasiswa sering mengikuti asistensi tambahan di luar jam kuliah ke kakak angkatan dengan memberikan fee yang pantas. Dan saya sudah 2 kali mengajar mahasiswa dan salah satunya ada yang dapat nilai 100 pada matkul Matematika ekonomi I. Anaknya senang sekali dan berkali-kali berterima kasih kepada saya. Memang saya juga mendapat nilai A di matkul tsb tetapi tidak dapat nilai bulat seperti dia. Jadi saya sangat senang waktu itu.

Ditambah saya mengikuti seminar kewirausahaan yang diadakan di kampus, semangat saya untuk mandiri kembali terlecut. Akhirnya saya membuat kongsi, saya dan dua teman saya. Tetapi rencana ini tidak berhasil karena teman saya yang bertugas menjadi contact center dan publikasi kurang fokus. Lebih tepatnya publikasi kurang menarik. Waktu itu, saya memang hanya ingin berkontribusi sebagai tenaga pengajar saja dengan alasan membagi waktu untuk memperbaiki IP. Parahnya, hanya ada 1 mahasiswa yang les di LLB ini, sampai LBB ini mati.

Gagal sekali. Saya tidak menyerah. Saya membuat Allegria Tutorial Club dengan semangat yang tinggi karena terinspirasi oleh kesuksesan LBB NATC—Naila Azhar Tutorial Club—ITB untuk mahasiswa TPB (semester 1 dan 2). LBB ini sampai mempunyai gedung untuk pengguna jasanya. LBB ini sukses karena pangsa pasarnya luas yakni seluruh mahasiswa ITB semester 1 dan 2.

Sementara pangsa pasar di FEB Unair ya mahasiswa Fakultas Ekonomi dan Bisnis baik S1 maupun D3. Saya menyebar pamflet yang menarik dan sms blast ke semua contact yang saya punya. Saya membuat paket Brozen, Silver, Gold, dan Platinum. Yang cukup menguntungkan jika mereka les dengan banyak orang. Simbiosis mutualisme lah. Cara ini efektif karena saya menempelkan pamflet di mading-mading strategis FEB Unair serta word of mouth.

Saya kembali mengajak kongsi saya yang terdahulu yakni dua teman saya—Richa (EP) dan Nikita (EP). Tetapi struktur organisasinya berbeda. Saya bertindak sebagai manajer—one woman show. Langkah ini saya ambil karena kekurang seriusnya kongsi saya waktu itu. Selain mereka ada juga jajaran tentor sbb: Yulia (Ak), Yulia (M), Dinar (M), Pipit (Ak), Sari (EP), Aning (Ak), Reva (Ak), Fitri (Ak), Imaroh (Ak), Dita (D3 Ak).  

Saya bertugas sebagai pembuat dan penyebar publikasi, penyebar sms blast, contact center, pengatur jadwal mengajar, penyedia bahan-bahan/bank soal untuk UTS dan UAS, sekaligus pengatur cash flow. Saya waktu itu memotong komisi 20% untuk setiap fee yang didapat tentor mengingat tugas-tugas saya yang seabrek. Selain itu, saya menjadi spesialis pengajar matkul PA1&2 dan AKBI. Berita bahagianya, IP saya membaik (kembali cumlaude) seiring tren positif cash flow usaha yang saya rintis semenjak saya kuliah di semester 5 ini. Di sisi lain, saya mendapat ejekan dari sahabat saya, beda kampus. Katanya masa’ mahasiswa masih perlu les. Yang jelas, saya bukan tentor pertama bagi mahasiswa di sini. Karena saya tahu, banyak mahasiswa yang menjadi tentor tak resmi karena mereka tidak membuat LBB. Anjing menggonggong, kafilah tetap berlalu.

Adapun, omzet per bulan untuk LBB ATC ini sekitar 6 juta mengingat masih ada keterbatasan publikasi. Dengan pendapatan netto saya waktu itu berkisar 2,5juta. Saya sangat senang ketika mahasiswa yang bergabung di LBB ini tembus 100 mahasiswa J. Akhirnya teman yang pernah menjadi kongsi saya (Richa) membuat LBB sendiri. Tetapi hal ini tidak mengurangi omzet yang saya dapatkan. Bagi saya, ALLAH adalah pengatur rezeki. So, It doesn’t matter for me.

Pada akhirnya estafet harus berganti—karena saya harus bekerja di Jakarta—dan saya serahkan tongkat estafet ini kepada Imaroh dan Fitri.

Pernah Berjualan Bed Cover dan Lulur

Mama teman saya berjualan bed cover, akhirnya teman saya juga berjualan. Saya berminat jadi downline-nya. Saya sms dan menawarkan ke teman-teman terdekat karena saya masih malu untuk untuk melakukan marketing. Ajaib, mbak kos saya mau beli. Barang sudah ada, namun dia mengurungkan niatnya untuk membeli dengan alasan barang tidak sesuai dengan gambar yang ada di brosur. Saya patah arang dan tidak berjualan bed cover lagi. Berikutya mbak kos saya ini berjualan lulur, saya jadi downline-nya. Ternyata perputaran persediaannya kurang bagus mengingat lulur kurang terserap pasar. Lulur saya sisa banyak dan akhirnya saya merugi.

Demikian sekelumit kisah sederhana dari saya, indahnya berbagi J


0 komentar:

Posting Komentar

 
;