Jumat, 13 Juli 2012

Jantungku


Melepas nafas satu-satu,
Menerjang horizon yang terpaku elok di kejauhan,
Semburat itu kembali hadir,
Meneduhkan jantung yang bergejolak makar.

Ah, masih sama!
Menghalau rindu adalah hobiku.
Membunuh sekuntum benih yang mekar di jantungku adalah sebuah pilihan.
Daripada akarnya menghunjam erat di dasar jantung, lebih baik pagi ini tiada.
Biar sesak luruh bersama sepoi angin yang melipur jantung yang gundah.
Dan tiada lagi menderu sesal karena tak pernah berani mengungkap lebih awal, tiada pada tempat dan waktu yang tepat, karena terlalu dini.

Ah, masih sama!
Kau begitu pandai menggodaku untuk bersimpuh, luruh.
Kau begitu pandai berbisik padaku untuk mengalah.
Dan aku tak mau, akan kutinggikan bentengku.
Aku tak mau mengibarkan bendera putih untuknya, walau hanya sedetik.
Cukup sudah!
Kalau sampai waktuku, dengan indahnya ia akan menjemputku dan menjadikanku suri di surganya.
Kuharap kau mau mengerti….

*ketika aku masih saja menggambar wajahnya di hatiku J


0 komentar:

Posting Komentar

 
;