Rabu, 29 Agustus 2012 0 komentar

THE REAL GAJAYANA, ISN’T IT?!


Sore itu tgl 16 Agustus 2012, aku berangkat lebih awal. Dengan ditemani abang ojek. Kami membelah jalanan kota Jakarta dengan 1 tas backpack, 1 tas jinjing gedhe, 1 kardus, 1 kresek buah dari Pak Dayat. Hwaaaa gimana bawanya? Seneng banget jalanan Jakarta sore itu sepi sehingga saya dapat dengan leluasa menikmati indahnya kota Jakarta J (kalo lagi sepi). Saya akan pulang kampung ke Jawa Timur dengan menggunakan moda transportasi kereta api tepatnya kereta Gajayana lebaran yakni satu rangkaian kereta tambahan.

Perlu diketahui biasanya Gajayana beroperasi sehari sekali yakni berangkat jam 17.30. Namun berhubung sekarang lebaran, PT KAI Persero membuat kebijakan baru dengan menambah 1 rangkaian kereta Gajayana yang diberangkatkan pukul 19.00. Saya dapat kursi di gerbong eksekutif 1 no 6C. Kereta datang. Ekspektasi saya langsung hancur lebur. Bagaimana tidak?! Saya sudah pernah beberapa kali naik kereta api Gajayana yang asli dan fisik, lay out, service Gajayana lebaran sungguh jauh berbeda. Bukan masalah saya berharap lebih. Mengutip kata teman saya mengenai kereta Gajayana Lebaran,”Rego gak gowo rupo.” HARGA TAK MEMBAWA RUPA. Tentu saja kami shock!




Sampe saya nge-twit seperti berikut:
Kereta eksekutif citarasa ekonomi | disetelin lagu dangdut | gerbongnya gak sebagus biasanya | namanya kereta tambahan | harus ikhlas :)

Alhamdulillah pukul 19.30 lagunya diganti lagu pop n barat. Sometimes dangdut is annoying me….

Mari kita bahas satu per satu:
-          Fisik
Kelihatan sekali kalo gerbongnya masih baru saja di cat, namun kentara sekali gerbongnya tak sebagus Gajayana yang asli (baca: bukan tambahan)
-          Lay Out
TV nya kecil tak selebar di Gajayana yang asli dan pilihan warna cat gerbong kurang menarik dan cenderung kusam.
-          Service
Sangat lambat! Pernah makanan sudah datang lebih awal namun makanannya tidak fresh. Minumannya datang 1 jam kemudian. Gimana gak seret?

Lalu kita bandingkan dengan foto-foto berikut: Gajayana yang asli



Dari kedua jenis kereta ini memiliki ciri khas yang sama: TERLAMBAT alias tidak tepat waktu. Padahal biasanya lumayan mendekati tepat waktu.
Rata2 melenceng dari jadwal di tiket sekitar 1-2 jam. Walhasil saya telat datang ke kantor pas tanggal 23 Agustus 2012.

Semoga ke depan pihak PT KAI Persero memperbaiki layanan sehingga tidak mengecewakan pelanggan. Sekian. 
Kamis, 23 Agustus 2012 0 komentar

Bunga di Ujung Jendela


Oleh: Allegria Mila


Bunga di ujung jendela, masih kuncup satu-satu
Manis, warna magenta yang merekah
Inginnya setiap tangan memetik
Siapa sangka?
Dia masih kuncup, usahlah sabar menanti

Berganti musim, kau datang kembali
Menanyakan apakah engkau boleh memetiknya?
Kata si empu rumah,”Bunga di ujung jendela sudah mekar, semerbak mewangi, indah tiada tara, magentanya semakin memikat mata yang melihat. Tanyakan pada bunga, sebelum dia layu dimakan waktu.”

Kau tersenyum,”Aku masih sabar menikmati keindahannya dari ujung jendela ini. Dan aku menunggu waktu yang tepat untuk memetiknya. Tak kan sampai layu. Aku akan setia menunggu.”

Katamu waktu itu masih disimpan oleh si empu rumah.
Menunggu musim. Musim berganti. Musim rambutan. Musim mangga. Musim duku. Bahkan musim kelengkeng.

Kau tak jua datang.
Si empu rumah semakin gusar bagai ada orang yang usil memasukkan bulu ayam di hidungnya.
Bunga berwarna magenta kembali kuncup, lalu mekar. Seiring musim berganti.

Namun tak ada satu pun kabar bahwa kau akan datang dan meninggalkan jejak untuk menepati janji memetik bunga di ujung jendela.

Bunga di ujung jendela masih tegar, atau mungkin dia punya pilihan lain?

*sepenggal puisi ini membawa saya menapaki kembali perenungan….

Sepanjang perjalanan gambir-kertosono ketika mudik lebaran kemarin, saya membaca buku Saksikan Bahwa Aku seorang Muslim-nya Ust. Salim A. Fillah—penulis satu ini terkenal dengan tulisannya yang halus menyelusup sampai ke perenungan-perenungan pembacanya—yang membuat saya merenung. Dan ada beberapa yang membuat tergelitik. Apalagi kalau bukan masalah jodoh!  

Saya hanya ingin berbagi quote-quote yang menarik yang pernah saya diskusikan dengan sahabat saya (syukur-syukur sahabat saya ini membaca tulisan saya)
1.       Saya sedang mencoba mengajak mereka beralih dari “Bagaimana mendapatkan dia?” menjadi “Bagaimana saya mempersiapkan pernikahan dengan sukses sehingga mendapatkan yang lebih baik daripada dia dari sisi Allah”? hal 208 SBASM
Komentar:
Terus terang ketika membaca kalimat ini, kening saya berkerut. Alangkah naifnya kita, saya maksudnya J Kadang ketika kita sudah menyukai seseorang, apalagi cinta yang sudah dipendam selama bertahun-tahun harus sirna hanya dalam sekejap! Ya, itu sungguh akan menyedihkan, menyakitkan. Perlu waktu untuk bangkit dan melupakan mozaik-mozaik yang tersusun rapi. Dan melangkah tegap untuk menyonsong yang “lebih baik”. Dan quote dari Ust. Salim ini sungguh mengena. Jangan-jangan niat yang selama ini kita pancangkan hanyalah ambisi, hanyalah cinta yang diperbudak nafsu? Bukan cinta karena Allah ta’ala. MasyaAllah… Dari sinilah kita belajar akan sebuah proses, memperbaiki niat serta mindset bahwa kita perlu memantaskan diri untuk mempersiapkan pernikahan dengan sukses J lahir dan bathin.
2.       Menikah bukanlah terminal perhentian hal 211 SBASM
Komentar:
Bagi sebagian orang, termasuk saya mungkin. Menikah itu menunggu ketika kita sudah SUKSES, sudah mapan secara finansial dan mental. Yang perlu digarisbawahi di sini adalah masalah finansial. Padahal dengan menikah (menurut Ust. Salim dan saya sependapat), menikah itu dapat mengurangi maksiat karena sebelumnya yang haram menjadi halal.
Dan bagi sebagian orang. Menikah dengan seorang akhwat yang shalihah adalah buah dari dakwah. Pernikahan dipersepsikan sebagai salah satu terminal perhentian, tempat memetik manfaat. Pernikahan tidak diangggap sebagai bagian dari dakwah. Pernikahan tidak dianggap sebagai episode tempat dua orang saling menguatkan untuk lebih berkontribusi dan ‘berprestasi’ dalam dakwah. Seakan pernikahan adalah episode baru yang kasarnya menjadi tujuan dari dakwahnya selama ini. Sekali berarti sesudah itu mati, kata Chairil Anwar. (hal 212 SBASM).
Yang jelas paragraf di atas membuat saya malu.
3.       Pada engkau yang belum menikah, katakan padaku saat kau rasa nikmatnya pandangan pertama, apa yang terbit di ufuk hatimu? Sudahkah engkau bersegera menunjuk dada dan bertanya,”Akankah ada barakah dalam pernikahan kita?” Hal 219 SBASM
Komentar:
Kalo masalah ini, kembali kepada kesiapan masing-masing J
4.       Cinta—Ia datang karena iman. Iman datang karena hidayah. Hidayah datang karena jihad menjemput karuniaNya. Dan sebelum itu ada ikhtiar. Jika cinta pada yang maha Agung adalah buah ikhtiyar. Mengapa kita tak mengupayakan cinta pada dia yang dihalalkan untuk kita dan justru terbelenggu oleh cinta pada yang tidak dihalalkanNya? Hal 237 SBASM
Komentar:
Semoga kita tidak termasuk orang yang diperbudak cinta, yang mendudukkan cinta sebagai penguasa yang membuat kita bertekuk lutut tanpa upaya apapun untuk mengendalikannya. Amin…
5.        Ada dua pilihan ketika bertemu cinta
Jatuh cintaatau bangun cinta
Padamu, aku memilih yang kedua
Agar cinta kita menjadi istana, tinggi menggapai surge
Komentar:
Nah, kalo bait puisinya Ust. Salim ini sering banget nangkring jadi pemanis undangan dari ikhwahfillah. Memang puitis dan realistis J

Tangkai kerap bergetar ketika tangan hendak memetik bunganya, dan tampak seperti hendak bersembunyi sekaligus menampakkan diri. Tubuh manusia memiliki kegelisahan seperti ini saat jemari maut yang gaib hendak merenggut jiwa di dalamnya (Victor Hugo)

Berikutnya mari kita belajar dan menghargai proses. Hidup memang tak seindah pelangi yang elok dan tak pernah cacat. Namun hadirkanlah sendiri pelangimu dihatimu. Yakinkan bahwa dunia tak sepahit yang kau pikirkan! #NtMs




Rabu, 15 Agustus 2012 0 komentar

Tanyaku Atasmu


Entahlah, suara hati ini menderu, mendengungkan nyanyian sunyi
Merapat ke keheningan
Masih di sini, berjibaku dalam diam

Jika bisa aku titipkan tanya untukmu
Biar raib semua tanyaku atasmu
Aku terlalu naïf untuk tahu apa yang sebenarnya kau ingin
Dan kau pun tak segera beranjak untuk menyatakan yang sesungguhnya kau ingin

Dan ini membuat kita terpisah dalam ruang kata tak terdefinisi

Entah sampai kapan kita bertahan dalam diam yang tak berkesudahan


Selasa, 14 Agustus 2012 0 komentar

My Name is Alien


Pagi ini sungguh terasa menggebu-gebu. Semangat memelukku erat. Lunas sudah. Apa yang kuharapkan tersambut. Pagi ini pula aku mulai mengenalmu.

“Oh ya, siapa namamu?” seruku.
Kau menoleh. “Perkenalkan namaku Alien.”

Sontak aku mengeryitkan dahi. Aku hanya tersenyum. Jiwa melankolisku masih menari-nari, menyembunyikan rasa ingin tahuku yang terlanjur buncah.

“Aku Dara,”kataku sambil tersenyum simpul.
“Oya, anggota baru ya? Sudah berkenalan dengan pejuang sosial yang lain?”sahutmu renyah.
“Aku sudah berkenalan dengan Raiya, Tiwi, dan Awan,”sahutku tak kalah antusias.
“Selamat bergabung dengan rubel1 ini. Oya, si Raiya dan Tiwi naik mobil, mungkin kamu bisa nebeng mereka. Aku dan Awan naik motor,”kata Alien.
“Oh, makasih. Aku ntar naik angkot aja,”sahutku dan masih tersenyum.
“Kami juga masih mau menjenguk saudara di kecamatan sebelah,”sahut Tiwi sopan.

Dan tak kalah terkejut juga, ternyata mereka—si Raiya dan Tiwi—membawa mobil. Oh, walau mereka berasal dari kaum borjuis, mereka masih menyingsingkan lengan baju untuk rubel ini. Rubel yang berdiri atas sokongan pundi-pundi uang dari mahasiswa dari seluruh fakultas di kampus kami di timur Jawa Dwipa, yang masih peduli dengan fakta sosial di sekitar kampus yang tak terelakkan.

--0O0—

Sudah hampir setahun aku berharap bisa bergabung. Sewaktu aku melihat brosur itu, aku sungguh ingin bergabung. Tapi waktu itu, aku hanyalah mahasiswa kupu-kupu2. Aku terlalu khawatir jika target IP semesterku tidak tercapai. Makanya aku hanya membatasi bergabung di salah satu UKF3. Dan hasratku terbentur oleh target ambisiusku. Kala itu, bergabung mengabdikan sebagian waktu untuk aktivitas sosial adalah sebuah impian dan tak tahu kapan terengkuh.

Probabilitas itu datang setahun kemudian. Aku melihat sebuah pamflet tertempel di sepanjang koridor fakultas. Aku berniat bergabung. Aku mengikuti wawancara. Alhamdulillah terpilih sebagai kakak asuh. Setidaknya aku sudah sedikit bosan menjadi koordinator, lebih baik menjadi staff yang terjun langsung ke lapangan.

Aku berangkat pagi-pagi. Langit pagi itu cerah seakan menyambut hatiku yang sedang merekah. Aku sudah membayangkan adik-adik yang lucu-lucu. Setidaknya aku ingin mengabdikan sebagian waktuku untuk berbagi. Memang waktu itu aku hanya bisa berbagi tenaga, belum sanggup untuk berbagi materi. Aku masih harus ditopang beasiswa dan berusaha mandiri dengan menjadi guru les. Dari sinilah, aku tahu, bagaimana rasanya hidup menjadi kaum proletar. Dan aku ingin berbagi. Itu saja!
Namun, takdir berkata lain. Aku mengenal seseorang yang bagiku aneh. Kenapa aneh? Bagaimana bisa orang tuanya memberikan nama Alien? Alien kan makhluk asing dari luar angkasa. Entahlah, waktu itu apa yang dipikirkan oleh orang tuanya sehingga memberikan nama unik itu padanya.

--0O0—

Di hari minggu yang cerah. Kau membuka aktivitas di rubel ini dengan ceria. Mengajak adik-adik untuk berdoa sebelum memulai aktivitas pagi ini—belajar menjelang Ujian Nasional. Kau mengajak mereka untuk fokus pada ujian. Dan kami pun berpencar membentuk kelompok-kelompok kecil sesuai dengan instruksimu. Kali ini kita belajar bersama dengan adik-adik. Mencukur habis semua soal. Membahasnya sampai kelar. Berjibaku dengan tingkah polah mereka.  Ada yang serius, ada yang penakut—sedikit-sedikit menghapus jawaban padahal benar—ada yang jahil, ada yang malas dan harus dimotivasi untuk mengerjakan.

Ah, nahas. Ingatanku…. Aku lupa beberapa rumus matematika kelas 6 SD. Terpaksa aku melihat kunci jawaban. Malu. Tapi ini kenyataannya. Selama hampir empat semester aku bergelut dengan angka-angka—sejenak bergelut dengan matkul matematika ekonomi dan statistika. Tapi tak jua membantu ingatanku yang karatan. Mungkin sudah tertindih dengan ilmu akuntansi yang katanya the language of business.

Aktivitas pagi ini kita tutup dengan doa. Lalu mengajak adik-adik sedikit meregangkan otot sejenak. Mengajak adik-adik berjibaku dengan angin dan kawan-kawan mereka sesama anggota rubel. Yak, kita bermain engklek. Permainan yang mungkin sudah dilupakan oleh sebagian orang. Setelah matahari semakin riang dan mencubit kulit. Kita istirahat dan membagikan air mineral dan snack. Lalu pulang dengan riang.

Dan aku pun, tahu namamu…

--0O0—

“Saya ingat pertama kenal kamu di rubel di timur Jawa Dwipa ya?”

Katamu malam ini lewat bbm. Dan hatiku pun lumer.

Kenapa kau datang di duniaku, Alien?



Note:
1.       Rubel = rumah belajar
2.       Mahasiswa kupu-kupu= kuliah pulang kuliah pulang
3.       UKF = Unit Kegiatan Fakultas


Sabtu, 11 Agustus 2012 0 komentar

Sebuah Puisi Tentang Ibu


Ibu,
Bagi Ananda,
Engkau laksana bulan yang bersinar elok ketika surya telah kembali ke peraduannya
Engkau laksana yakut dan marjan yang mempesona
Engkau merawatku ketika aku sehat maupun sakit,
Tetap tersenyum ketika aku marah,
Tetap ceria walau letih,
Tetap kuat walau sakit
Ibu, Ibu, Ibu
Kalau sampai waktuku,
Biarkan aku berbakti padamu
Walau baktiku tak sepanjang cintamu, Ibu
La mencintai Ibu karena Allah



0 komentar

Cinta yang Tak Lekang


Langit yang elok berhiaskan pelangi
Angin yang berhembus meniup awan berarak
Api yang redam oleh angin yang menari
Tanah merekah tersenyum menyambut
Air berubah wujud menjadi kristal yang mempesona
Demikian juga aku,
Tersenyum, tertawa, termenung, terdiam
Terlena oleh indahnya ciptaanNya
Tersipu malu
Tak bisa tertahankan, tak terbendung
Biarlah ini tercipta, untukku
Kan ku jaga sampai nanti
Sampai mati


0 komentar

Es Krim dan Vanilla (Part2)


lanjutan BAB 2 ILMU PADI

Hari ini pelajaran Kerajinan Tangan dan Kesenian, Bu Dewi meminta kami untuk saling berpasangan dan nanti maju ke depan untuk menyanyikan lagu nasional. Lagunya terserah kami, kami boleh memilih sesuka hati kami. Yang jelas, praktek menyanyi ini dinilai dan menjadi salah satu unsur penilaian raport CAWU4 kami.
            “Ayo, siapa yang ingin maju duluan untuk menunjukkan bakat menyanyinya,”kata Bu Dewi lantang.
            Adit mengangkat tangan lalu mengajak Ayyub untuk ikut maju ke depan. Adit berbisik kepada Ayyub, sepertinya mereka berunding untuk menyanyikan lagu nasional apa yang akan dipersembahkan di depan kelas. Ayyub pun ikut berbisik, entah lagu apa yang mereka pilih.
            Garuda Pancasila
Aku lah pendukungmu
Patriot Proklamasi
Sedia berkorban untukmu
Pancasila dasar Negara
Rakyat adil, makmur, sentausa
Pribadi bangsaku
Ayo maju, maju.
Ayo maju, maju.
Ayo, maju…. Maju….
            Mereka membawakan lagu Garuda Pancasila dengan penuh semangat 45. Lantang, dan energik bagai serdadu perang melawan penjajah Belanda. Anak-anak pun bertepuk tangan tiada henti-hentinya. Perpaduan yang sempurna yakni sang ketua kelas dan si anak baru yang penuh percaya diri.
            “Bagus sekali, Anakku. Baiklah berikutnya, ada yang ingin maju ke depan?” kata Bu Dewi sambil membubuhkan nilai pada kertas penilaian.
            Yasmin dan Hana maju ke depan menyanyikan lagu Maju Tak Gentar karya C. Simanjuntak. Lagi-lagi anak-anak bertepuk riuh, bahkan ada yang bersiul. Entah siapa itu. Yasmin memang cantik, rambutnya panjang hitam legam sepinggang tergerai, apalagi Yasmin anak yang ramah dan mudah bergaul.
            Anak-anak kelas tiga datang silih berganti maju ke depan kelas. Tinggal La dan Sakura yang belum maju ke depan kelas.
            “Ayo La. Ayo Sakura. Tinggal kalian saja yang belum maju ke depan,”ajak Bu Dewi.
            La dan Sakura maju ke depan dengan malu-malu. La apalagi. Tangannya bergetar hebat, keluar keringat dingin, bingung menyapanya. Sakura apalagi, melihat sahabatnya terlihat pucat pasi karena kurang percaya diri. Sakura pun jadi sepeti kerupuk yang melempem. Beberapa menit kemudian, La dan Sakura terlihat berdiskusi mau menyanyikan lagu apa. Tetapi tidak segera menyanyi, malah diam. Dua kepala melankolis bertemu, tak tahu mau menyanyikan lagu apa, malah membeku di depan kelas, terpekur.
            “Ayo La dan Sakura, tak usah malu, Nak. Teman-teman akan mendengarkan. Pilih saja lagu nasional yang kalian suka,”bujuk Bu Dewi dari mejanya.
            Ibu kita Kartini, pendekar bangsa…. Harum namanya….
            Tersendat. Beberapa jenak kemudian La menangis, Sakura juga ikut menangis karena bingung. Bu Dewi berusaha menghibur, tetapi malah tangis mereka berdua makin pecah dan membuat suasana kelas tiga menjadi sedih. Inilah yang dimaksud phobia sejenis nervous karena dilihat dan diperhatikan oleh audiens.
            Setelah puas menangis, La dan Sakura meneruskan menyanyi dengan diringi sesenggukan yang timbul tenggelam, menghasilkan melodi yang syahdu namun ganjil, yang membuat pendengar semakin larut dalam kesedihan yang buram.

***
           
            Kali ini anak-anak kelas tiga datang ke sekolah pagi-pagi, sampai-sampai Pak Kebon belum selesai menyapu seluruh halaman sekolah. Mayoritas anak-anak kelas tiga membawa tumbuhan hijau di tangan masing-masing. Lalu meletakkannya di depan kelas tiga. Bu Dewi meminta mereka membawa tanaman toga untuk tugas praktek mata pelajaran Ilmu Pengetahuan Alam supaya mereka mengenal spesies dan khasiat dari masing-masing tanaman tersebut.
            “Wah, bagus amat tumbuhannya, ini namanya apa? Sepertinya tak ada tumbuhan ini di desa kita,”kata Yasmin terkagum-kagum.
            “Namanya patah tulang. Nama ilmiahnya Eupharbia tirucalli L. Patah tulang bermanfaat untuk mengobati sakit gigi, lambung, rematik, tulang patah dan rantingnya yang sudah dikeringkan bisa digunakan sebagai pengusir nyamuk,”kata Ayyub sambil tersenyum senang karena tumbuhannya dipuji apalagi mayoritas teman-temannya hanya membawa lengkuas, jahe, kunir, kapulaga dan sereh yang memang mudah ditemukan di desa. Malah tumbuh liar tanpa perlu ditanam.
            “Lucu ya namanya. Patah tulang,”kata Yasmin manggut-manggut.
            Adit berdehem lalu mengangkat tumbuhan yang dibawanya tinggi-tinggi, tak mau kalah.
            “Hai kawan, jangan salah. Ini tumbuhanku juga keren. Kapulaga namanya. Gak ada yang bawa kapulaga kan? Mahal loh hargaya. Kapulaga dikenal sebagai rempah untuk masakan dan juga lebih banyak digunakan untuk campuran jamu,”seru Adit bak penjual obat keliling.
            “Oalah Adit, di pekarangan rumahku juga ada Kapulaga. Banyak malah,”sahut Yasmin sambil cemberut karena tumbuhan jagoannya dihina.
            “Daripada itu patah tulang. Habis kecelakaan apa? Patah tulang. Mana gak ada daunnya juga, Cuma batang kali ya?”ejek Adit.
            Empunya tanaman, si Ayyub hanya diam merengut, mukanya merah padam seperti habis lari berapa kilometer dan kehabisan nafas. Tanaman yang dibawanya direndahkan oleh ketua kelas, ini tidak bisa dibiarkan kawan.     
“Sudah. Sudah. Apa-apaan sih kalian. Setiap tumbuhan itu diciptakan oleh Alloh dengan segala manfaatnya. Kita sebagai manusia seharusnya bersyukur bisa memanfaatkan tumbuhan ini untuk menyembuhkan berbagai penyakit. Bukan malah berdebat mana yang paling baik, atau mana yang paling buruk. Di hadapan Allah, semua makhluk hidup adalah sama, yang membedakan adalah derajat ketakwaannya,”cerocos La.
“Tumbuhan juga bisa bertakwa ya?”cibir Yasmin.
“Ups, hehe salah. Maksudku, kalian gak usah bertengkarlah. Capek jadinya. Mending kita tanam tumbuhan ini di taman sekolah kita seperti instruksi Bu Dewi,”kata La sambil meringis karena salah bicara. Dia hanya ingat penggalan ayat itu dari Abah Furqan, guru ngajinya di TPA Darussalam.
            “Benar kata La, ayo kita tanam,”kata Sakura sambil mengambil sekop dan menggali tanah lalu memasukkan tumbuhan jahe yang dibawanya.
            “Ini nih, Sakura patut ditiru,”sahut Ayyub sedikit lega setelah pertengkaran yang hampir meletup telah terhindarkan. Dia pun segera mengambil sekop dan menanam tumbuhan patah tulang di samping tumbuhan yang dibawa oleh Sakura.
            “Assalamu’alaikum. Selamat pagi anak-anak. Wah, kalian pandai sekali anakku. Sudah ditanam tumbuhan toganya. Wah, ini patah tulang ya? Siapa yang membawa?”kata Bu Dewi antusias.
            “Saya Bu. Saya dapat tumbuhan ini dari Om Tanjung yang kemarin mampir menjenguk saya lalu mengajak saya main ke luar kota dan akhirnya kami membeli tanaman ini,”jawan Ayyub
            “Om Tanjung? Bukannya Mamamu anak tunggal dari nenekmu, Nak?”
            “Om Tanjung itu kakak Papa saya, Bu. Mampir ke sini untuk mengantarkan uang saku saya karena kebetulan dinas ke Surabaya. Jadi bisa mampir ke sini.”
            “Oh begitu Nak, ya sudah. Ayo berbaris dahulu dan berdoa sebelum masuk kelas.”
            Setelah selesai berbaris rapi dan berdoa, murid-murid masuk kelas dengan tertib. Hal ini dilaksanakan oleh murid-murid dengan patuh karena telah diajarkan oleh Bu Dewi mengenai kedisiplinan. Disiplin itu sangat penting dalam kehidupan karena akan membentuk karakter yang tangguh dan bisa meraih cita-cita yang dipancangkan sejak dini. Bu Dewi memang guru yang disiplin dan tegas, namun tetap penyayang.
            “Anak-anak, kali ini kita belajar Bahasa Indonesia. Ayo siapkan alat tulis kalian. Kali ini kita belajar menulis puisi. Masih ingat kan rima puisi yang aaaa dan ada yang abab. Kalian juga bisa menulis puisi bersajak bebas, tidak perlu dengan rima aaaa atau pun abab. Burung elang terbang ke angkasa, menukik elok di lautan. Marilah menulis puisi ceria, jangan bermalas-malasan.”
            Kali ini anak-anak sepertinya sangat serius sekali menulis puisi. Semuanya diam merenung. Kalau boleh, berlomba menangkap ide yang sedang bergelembung di udara, menangkapnya satu dan menumpahkannya di kertas, biarlah pena menari di atas kertas mengikuti gelembung ide tadi.
            Ada yang menunduk, diam. Ada yang mendongak. Ada yang menggaruk-garuk kepala yang tidak gatal. Ada yang menjentik-jentikkan bolpen. Ada yang malah menggambar di atas kertas. Ilustrasi dulu lah, puisinya menyusul boleh lah.
            Ayyub diam lalu tersenyum, kemudian melanjutkan menulis. Entah apa yang dipikirkannya. Iya hanya ingat tokoh yang menginspirasinya, Jalaludin Rumi, dia pernah membaca artikel mengenai Rumi di majalah kesukaan Mamanya.
            La tak kalah sibuk, ia semangat sekali menulis. Ia bahkan hampir menangis ketika menuliskannya, Ibunya yang telah menginspirasinya. Hampir banjir kertasnya oleh air matanya yang tak terbendung, menetes.  
            “Ada apa kau La? Kok menangis,”bisik Sakura tak ingin memecah konsentrasi kawan-kawannya dalam menuangkan puisi terbaik mahakarya.
            “Tak apa,”kata La sambil menyeka matanya yang basah.
            “Baik anak-anak. Waktunya habis. Ayo dikumpulkan ke depan. Tolong Adit, kumpulkan karya teman-teman kalian,”perintah Bu Dewi.
            Suara kertas dirobek pun sahut-menyahut, kelas gaduh. Ada yang mengeluh belum selesai, membuat puisi itu susah. Bahkan ada kertas yang masih melompong tidak ada tulisannya, malah ada juga kertas yang hanya ada gambar pemandangan perbukitan desa ini.
            Adit mengumpulkan kertas itu satu per satu. Ada yang tersenyum saat mengumpulkan. Ada yang sedih. Ada yang meringis. Malah ada yang berusaha menahan supaya kertasnya jangan diambil, nahas, tetap harus dikumpulkan juga walau baru ada beberapa kata yang baru menghiasi kertas putihnya.
            “Baiklah anak-anak, Ibu akan memilih beberapa puisi yang bagus dan unik,”kata Bu dewi sambil tersenyum, sambil memilah-milah tumpukan kertas yang ada di tangannya.

            Langit yang elok berhiaskan pelangi
            Angin yang berhembus meniup awan berarak
            Api yang redam oleh angin yang menari
Tanah merekah tersenyum menyambut
            Air berubah wujud menjadi kristal yang mempesona
           
            Demikian juga aku,
            Tersenyum, tertawa, termenung, terdiam
            Terlena oleh indahnya ciptaanNya
            Tersipu malu
            Tak bisa tertahankan, tak terbendung
            Biarlah ini tercipta, untukku
            Kan ku jaga sampai nanti
            Sampai mati

            “Ini karya siapa? Puisi bersajak bebas, tidak berima. Bermajas personifikasi, seakan-akan benda mati bisa berlaku seperti manusia,”kata Bu Dewi.
            “Saya Bu,”sahut Ayyub kaget karena puisinya yang pertama kali dibacakan di depan kelas.
            “Apa maksud dari puisi ini Ayyub?”Tanya Bu Dewi heran karena anak sekecil itu bisa menulis puisi cinta yang tersirat, yang tak kan pernah dipikirkan oleh anak seusianya.
            Anak-anak yang lain hanya bingung, lalu ribut sendiri. Tetapi tetap saja mereka tak mengerti, membuat wajah mengkerut menggambarkan tanda tanya besar yang belum sempurna terjawab.
“Saya khagum padha ciptaan Tuhan, Bu,”jawab Ayyub terbata-bata karena malu bercampur kaget.
            Bu Dewi hanya mengangguk dan tersenyum penuh arti. Lalu kembali fokus pada kertas berikutnya.

            Ibu,
            Bagi Ananda,
            Engkau laksana bulan yang bersinar elok ketika surya telah kembali ke peraduannya
            Engkau laksana yakut dan marjan yang mempesona

            Engkau merawatku ketika aku sehat maupun sakit,
            Tetap tersenyum ketika aku marah,
            Tetap ceria walau letih,
            Tetap kuat walau sakit

            Ibu, Ibu, Ibu
            Kalau sampai waktuku,
Biarkan aku berbakti padamu
Walau baktiku tak sepanjang cintamu, Ibu
La mencintai Ibu karena Allah

“Karya kamu, La. Bagus. Puisi bersajak bebas, tidak berima. Bermajas metafora, pengandaian. Pengorbanan ibu memang tak kan pernah terkira, tak kan pernah terbalaskan oleh anaknya. Walaupun begitu, kita sebagai anak harus memberikan yang terbaik untuk Ibunda kita, menjadi anak yang sholeh dan sholehah. Berbakti, tidak rewel, tidak manja, tidak malas mengerjakan PR, dan membantu Ibunda di rumah. Kita juga perlu belajar ilmu padi yakni ketika seseorang semakin pandai, semakin rendah hati. Orang yang tinggi hati walaupun dia pandai, pasti banyak yang tidak suka kepadanya. Anak-anakku, jadilah kalian seseorang yang mewarisi ilmu padi, semakin berisi, semakin menunduk,”kata Bu Dewi.

Jumat, 10 Agustus 2012 0 komentar

Sebuah Cerita Mengenai Es Krim dan Vanilla


BAB 2
ILMU PADI

            Pagi itu, kelas kami--kelas tiga SD--sumringah, kedatangan satu orang murid pindahan dari Ibu Kota. Kulitnya sawo matang, dengan rambut tersisir rapi, dari gelagatnya dia anak pendiam yang pintar serta tegas kalau diamati dari tatapan matanya. Namanya Ayyub, seperti nama Nabi saja ya.
            Dia duduk di depan, memang kebetulan bangku itu kosong. Dia duduk di samping ketua kelas, si Adit. Walaupun sawo matang, kulitnya bersih terawat, gadis-gadis belia di kelas kami tak henti-hentinya mengamatinya, dia memang tampan, itu konklusi yang terlalu dini.
            Lonceng berdentang tiga kali, menunjukkan jam istiharat. Jam menunjukkan pukul 9.30. Hari masih pagi, angin pun tanpa letih menyapa kami, suasana kota kecil di lereng bukit ini selalu sejuk. Penghasil oksigen ada dimana-mana, jadi kami tak perlu terlalu risau.
            Kami main di halaman sekolah. Ada yang main lompat tali, engklek, keneker, obak sodor, pathel lele, benthengan, dan delik-delikan1. Pelbagai jenis permainan ini lazim dimainkan dalam waktu yang bersamaan mulai dari anak kelas 1 sampai dengan kelas 6 SD karena lapangan sekolah kami yang sangat luas. Sering di sore hari, lapangan sekolah kami beralih fungsi menjadi lapangan sepak bola. Pemuda tanggung desa kami sering bermain bola, membuat senja hari di desa kami guyub rukun dan semarak.
            “La, ayo main obak sodor,”ajak Adit.
            “Ayo,”sahutku dengan semangat 45. Ini permainan favoritku. Kami selalu tandem dengan anak laki-laki, jadi kekuatan berimbang. Kali ini ada 4 anak perempuan dan 4 anak laki-laki yang bermain. Delapan anak ini dibagi menjadi dua regu. Masing-masing regu terdiri dari 2 anak perempuan dan 2 anak laki-laki. Kebetulan sekali, kami menang suit, jadi kami bermain sebagai penyerang, sementara yang kalah harus bertahan menjaga wilayahnya supaya jangan sampai ada penyerang yang menyusup ke wilayah kekuasaannya.
            Aku menoleh dan mengamati sejenak anak baru itu, dia duduk diam disamping Yasmin. Sepertinya mengamati permainan kami. “Baiklah,” pikirku.
            Permainan berlangsung sengit. Aku sekelompok dengan Adit. Kelompok kami sangat lihai dalam mengatur strategi. Sudah tiga kali kami membobol pertahanan lawan dan tidak ada satu pun dari kami yang tertangkap tangan pihak bertahan. Kami berlari gesit menghindar dari sentuhan lawan yang berusaha menahan kami. Kami tak tertahankan. Kami menang. Heru dari kubu lawan hanya bisa bersungut-sungut karena kalah. Lonceng masuk berdentang membuat kami harus menyudahi permainan ini.

***

            Entahlah, La masih saja mengamatinya. Bukan hanya La, gadis-gadis belia lain pun juga mengamatinya. Kagum dan terpesona menjadi ramuan manjur untuk membuat kami bertahan tak jemu mengamati setiap gerak-geriknya. Gaya duduknya, gayanya dalam menyampaikan pendapat, gayanya bertanya, dan gaya-gaya lainnya.
            “Bu, kenapa matahari terbit dari timur? Tidak dari barat? Kenapa ada siang dan malam?” Tanya Ayyub ingin tahu.
            “Matahari terbit dari timur dan tenggelam di barat itu adalah kuasa Allah, Nak. Allah telah menggariskannya demikian. Pergantian siang dan malam hari itu karena ada rotasi bumi yakni bumi berputar pada porosnya,” jawab Bu Dewi dengan sabar sambil memperagakan rotasi bumi dengan alat peraga berupa bola dunia.
            Ayyub pun mengangguk dengan takzim.
            “Ada yang bisa menjawab. Mengapa dalam 1 tahun ada 365 hari? Nanti yang bisa menjawab akan Ibu kasi coklat,” kata Bu Dewi.
            Masih sama, yang paling gesit mengacungkan tangan Ayyub lagi. Tidak ada tandingannya, La kalah sepersekian detik darinya.
            “Iya, Ayyub. Apa jawabannya, Nak?” ujar Bu Dewi dengan senyum merekah karena suasana kelas menjadi hidup.
            “Bumi melakukan revolusi sekali dalam setahun dan membutuhkan waktu 365 hari untuk mengelilingi matahari sebagai pusat tata surya,” jawab Ayyub mantap.
            La hanya bersungut-sungut kesal. Bagaimana bisa anak baru dari Ibu kota itu menjadi pusat perhatian. Biasanya La yang menjadi pusat perhatian. Kenapa harus dia??? Sebal.
            Bu Dewi memberikan coklat itu kepada Ayyub, senyum Ayyub pun merekah. Gadis-gadis belia di kelas berkasak-kusuk, berharap coklat itu dibagi oleh Ayyub kepada mereka. La hanya menunduk memikirkan sesuatu.
            Lonceng dipukul enam kali oleh Pak Kebon—penjaga sekolah sekaligus petugas kebersihan sekolah kami, SDN Waung 1—menunjukkan jam pulang telah tiba. Kami senang dan segera berhamburan keluar kelas setelah doa pulang usai ditunaikan.
            “La, ini untukmu,”sepotong coklat itu sudah ada di depan La.
            La menoleh. Kaget. “Mengapa dia memberikannya untukku??”Tanya La dalam hati.
            “Sepertinya kau mengincar coklat ini dari tadi, ini untukmu,”kata Ayyub sambil menaruhnya di genggaman dan melenggang pergi meninggalkan La.
            La masih shock dan tidak sempat mengucapkan terima kasih. Sosok anak baru itu menghilang di balik pohon-pohon besar yang berjajar rapi di samping kiri sekolah. Menyisakan pertanyaan yang menyublim dengan heningnya sekolah yang mulai sepi ditinggalkan oleh para murid yang berlari pulang dengan girang. Matahari terik, tetapi masih kalah dengan ramahnya sang angin yang tak jemu berhembus, apalagi ditingkahi dengan giatnya sang produsen oksigen untuk melepas O2 ke lereng bukit hijau permai ini.

***

            Gadis-gadis belia kelas kami menjadi rajin berkasak kusuk sepanjang waktu. Bahkan si ketua kelas, Adit, bilang kalau Ayyub dekat dengan Yasmin. Konon katanya orang tua mereka sama-sama berasal dari Ibu Kota sehingga mereka dekat. Tetapi dari sumber lain yang tak kalah valid, ada yang bilang mereka pacaran. Hah, masa anak kecil seperti kami pacaran? Yang benar saja.    
            La membuat sebuah strategi untuk memata-matai mereka, Ayyub dan Yasmin. La dan teman sebangkunya, Sakura, berjanji bertemu di sawah samping sekolah. Mau membicarakan mengenai hal yang penting ini. 
            “Hei, La. Sudah lama menunggu?” suara Sakura mengagetkan, rambut Sakura yang dikepang dua melambai-lambai diterpa angin semilir di areal sawah padi yang menghijau dan baru berumur satu bulan.
            “Baru lima menit kok,”sahut La yang masih asyik mengintai Ayyub dan Yasmin yang duduk berduaan di depan kelas tiga.
            “Kenapa ya Ayyub akrab sama Yasmin? Apa orang tua mereka telah menjodohkan mereka berdua?” tebak Sakura sok tahu.
            “Hush, gak ah. Kamu kebanyakan nonton sinetron sama emakmu,”sergah La.
            “Halah, kemungkinan itu pasti ada, tapi kalau kita mengintai dari sini apa iya kita bisa mendengar pembicaraan mereka?”
            “Benar juga, tapi kalo dekat, kita tidak bisa leluasa mengamati,”sahut La kencang seakan-akan tidak mau kalah dengan desau angin yang tak henti-henti menampar lembut wajah mereka berdua.
            “La, kamu suka Ayyub?”pertanyaan ini mengawang, mengangkasa seringan kapas, lalu buyar terhempas.
            “Apa sih Sakura! Aku cuma ingin tahu seperti apa mereka berdua. Ayyub memberikan coklat kemarin padaku tetapi kenapa kami tidak bisa berteman? Itu saja,” kilahku. Entahlah rasa semburat sebesar dzarrah2 menghampiriku, aku tak bisa mengartikannya sekarang.
            Dari kejauhan terlihat Ayyub sedang berbincang-bincang dengan Yasmin.
            “Ayyub, kapan balik lagi ke Jakarta? Papa dan Mamamu ada di sana kan?”
            “Iya Yas, Papa dan Mama ada disana. Entahlah, walau baru beberapa hari aku tinggal di sini, aku sudah rindu kepada mereka. Tetapi kasihan Nenekku yang sendirian di sini. Nenek perlu seorang cucu yang mendampinginya. Ibuku anak tunggal dari Nenekku.”
            “Setelah Papaku dipindah dinas di sini sejak dua tahun lalu, kami tidak tahu lagi akan dipindah dinas kemana lagi. Yang jelas, kami harus ikut Papa. Terakhir aku ke Jakarta lebaran kemarin. Senangnya bisa bertemu keluarga besar di sana,”kata Yasmin.
            “Aku juga kangen dengan adikku si Haikal. Aku kangen dengan gelak tawa dan tangis merajuknya khas anak umur lima tahun,”kenang Ayyub.
            Di sebuah pematang sawah yang terpisahkan oleh parit selebar satu meter dengan areal sekolah, ada dua gadis yang asyik masyuk mengintai dari balik pagar sekolah yang membuat mereka aman dari penglihatan objek yang diintai.
“Yuk, kita menyeberang,”ujar Sakura sambil melompat dari pematang sawah ke lahan sekolah. Sakura melambaikan tangan mengajak La untuk bergegas karena beberapa menit lagi jam istirahat usai.
            Kali ini, La ragu untuk melintas parit yang lebarnya hanya 1 meter ini. La dan Sakura masih kelas tiga SD. Kaki-kaki mereka masih pendek, tetapi Sakura telah membuktikan bisa menyeberang dengan selamat. La menyesal, mengapa mempunyai ide pengintaian ini. Ide yang nyata-nyata konyol dan tidak membuahkan hasil apapun. La bisa sampai di tempat ini setelah melewati jembatan di ujung timur. Kalau lewat jembatan untuk kembali ke areal sekolah, butuh waktu dan bisa terlambat ke kelas. Melompat adalah pilihan pintas. Baiklah, huff, byurrrr. La sukses tercebur ke parit yang tak begitu dalam. Tubuhnya basah kuyup. Sakura menolongnya. La duduk terpekur melihat parit sawah yang jernih, ada banyak ikan cekol3 dan berta yang berenang santai di sana.
            “La, ayo berdiri. Sebentar lagi masuk kelas. Kamu tidak mungkin pulang ke rumah untuk mengganti rokmu. Lain kali hati-hati ya,”hibur Sakura.
            La mengangguk dan melangkah menuju kelas kami dengan wajah tertunduk. Semua murid di kelas memperhatikannya. Mereka ramai dan tertawa terbahak-bahak, bahkan ada yang sampai memegangi perutnya karena tertawa terlalu kencang.
            “Kamu tidak apa-apa kan, La? Kamu bisa demam kalau tidak ganti baju,” tanya Adit khawatir dan menghampiri mejanya yang ada di deretan tengah paling belakang.
            “Ah gak apa-apa kok, Dit. Tinggal dua jam lagi pelajaran usai.”
            Dari depan, sepasang mata memperhatikan gadis yang habis tercebur ke parit sawah itu. Hanya bisa menarik nafas kasihan, tetapi dia tak berani menunjukkan rasa simpati.

***

 
;