Kamis, 23 Agustus 2012

Bunga di Ujung Jendela


Oleh: Allegria Mila


Bunga di ujung jendela, masih kuncup satu-satu
Manis, warna magenta yang merekah
Inginnya setiap tangan memetik
Siapa sangka?
Dia masih kuncup, usahlah sabar menanti

Berganti musim, kau datang kembali
Menanyakan apakah engkau boleh memetiknya?
Kata si empu rumah,”Bunga di ujung jendela sudah mekar, semerbak mewangi, indah tiada tara, magentanya semakin memikat mata yang melihat. Tanyakan pada bunga, sebelum dia layu dimakan waktu.”

Kau tersenyum,”Aku masih sabar menikmati keindahannya dari ujung jendela ini. Dan aku menunggu waktu yang tepat untuk memetiknya. Tak kan sampai layu. Aku akan setia menunggu.”

Katamu waktu itu masih disimpan oleh si empu rumah.
Menunggu musim. Musim berganti. Musim rambutan. Musim mangga. Musim duku. Bahkan musim kelengkeng.

Kau tak jua datang.
Si empu rumah semakin gusar bagai ada orang yang usil memasukkan bulu ayam di hidungnya.
Bunga berwarna magenta kembali kuncup, lalu mekar. Seiring musim berganti.

Namun tak ada satu pun kabar bahwa kau akan datang dan meninggalkan jejak untuk menepati janji memetik bunga di ujung jendela.

Bunga di ujung jendela masih tegar, atau mungkin dia punya pilihan lain?

*sepenggal puisi ini membawa saya menapaki kembali perenungan….

Sepanjang perjalanan gambir-kertosono ketika mudik lebaran kemarin, saya membaca buku Saksikan Bahwa Aku seorang Muslim-nya Ust. Salim A. Fillah—penulis satu ini terkenal dengan tulisannya yang halus menyelusup sampai ke perenungan-perenungan pembacanya—yang membuat saya merenung. Dan ada beberapa yang membuat tergelitik. Apalagi kalau bukan masalah jodoh!  

Saya hanya ingin berbagi quote-quote yang menarik yang pernah saya diskusikan dengan sahabat saya (syukur-syukur sahabat saya ini membaca tulisan saya)
1.       Saya sedang mencoba mengajak mereka beralih dari “Bagaimana mendapatkan dia?” menjadi “Bagaimana saya mempersiapkan pernikahan dengan sukses sehingga mendapatkan yang lebih baik daripada dia dari sisi Allah”? hal 208 SBASM
Komentar:
Terus terang ketika membaca kalimat ini, kening saya berkerut. Alangkah naifnya kita, saya maksudnya J Kadang ketika kita sudah menyukai seseorang, apalagi cinta yang sudah dipendam selama bertahun-tahun harus sirna hanya dalam sekejap! Ya, itu sungguh akan menyedihkan, menyakitkan. Perlu waktu untuk bangkit dan melupakan mozaik-mozaik yang tersusun rapi. Dan melangkah tegap untuk menyonsong yang “lebih baik”. Dan quote dari Ust. Salim ini sungguh mengena. Jangan-jangan niat yang selama ini kita pancangkan hanyalah ambisi, hanyalah cinta yang diperbudak nafsu? Bukan cinta karena Allah ta’ala. MasyaAllah… Dari sinilah kita belajar akan sebuah proses, memperbaiki niat serta mindset bahwa kita perlu memantaskan diri untuk mempersiapkan pernikahan dengan sukses J lahir dan bathin.
2.       Menikah bukanlah terminal perhentian hal 211 SBASM
Komentar:
Bagi sebagian orang, termasuk saya mungkin. Menikah itu menunggu ketika kita sudah SUKSES, sudah mapan secara finansial dan mental. Yang perlu digarisbawahi di sini adalah masalah finansial. Padahal dengan menikah (menurut Ust. Salim dan saya sependapat), menikah itu dapat mengurangi maksiat karena sebelumnya yang haram menjadi halal.
Dan bagi sebagian orang. Menikah dengan seorang akhwat yang shalihah adalah buah dari dakwah. Pernikahan dipersepsikan sebagai salah satu terminal perhentian, tempat memetik manfaat. Pernikahan tidak diangggap sebagai bagian dari dakwah. Pernikahan tidak dianggap sebagai episode tempat dua orang saling menguatkan untuk lebih berkontribusi dan ‘berprestasi’ dalam dakwah. Seakan pernikahan adalah episode baru yang kasarnya menjadi tujuan dari dakwahnya selama ini. Sekali berarti sesudah itu mati, kata Chairil Anwar. (hal 212 SBASM).
Yang jelas paragraf di atas membuat saya malu.
3.       Pada engkau yang belum menikah, katakan padaku saat kau rasa nikmatnya pandangan pertama, apa yang terbit di ufuk hatimu? Sudahkah engkau bersegera menunjuk dada dan bertanya,”Akankah ada barakah dalam pernikahan kita?” Hal 219 SBASM
Komentar:
Kalo masalah ini, kembali kepada kesiapan masing-masing J
4.       Cinta—Ia datang karena iman. Iman datang karena hidayah. Hidayah datang karena jihad menjemput karuniaNya. Dan sebelum itu ada ikhtiar. Jika cinta pada yang maha Agung adalah buah ikhtiyar. Mengapa kita tak mengupayakan cinta pada dia yang dihalalkan untuk kita dan justru terbelenggu oleh cinta pada yang tidak dihalalkanNya? Hal 237 SBASM
Komentar:
Semoga kita tidak termasuk orang yang diperbudak cinta, yang mendudukkan cinta sebagai penguasa yang membuat kita bertekuk lutut tanpa upaya apapun untuk mengendalikannya. Amin…
5.        Ada dua pilihan ketika bertemu cinta
Jatuh cintaatau bangun cinta
Padamu, aku memilih yang kedua
Agar cinta kita menjadi istana, tinggi menggapai surge
Komentar:
Nah, kalo bait puisinya Ust. Salim ini sering banget nangkring jadi pemanis undangan dari ikhwahfillah. Memang puitis dan realistis J

Tangkai kerap bergetar ketika tangan hendak memetik bunganya, dan tampak seperti hendak bersembunyi sekaligus menampakkan diri. Tubuh manusia memiliki kegelisahan seperti ini saat jemari maut yang gaib hendak merenggut jiwa di dalamnya (Victor Hugo)

Berikutnya mari kita belajar dan menghargai proses. Hidup memang tak seindah pelangi yang elok dan tak pernah cacat. Namun hadirkanlah sendiri pelangimu dihatimu. Yakinkan bahwa dunia tak sepahit yang kau pikirkan! #NtMs




0 komentar:

Posting Komentar

 
;