Sabtu, 11 Agustus 2012

Es Krim dan Vanilla (Part2)


lanjutan BAB 2 ILMU PADI

Hari ini pelajaran Kerajinan Tangan dan Kesenian, Bu Dewi meminta kami untuk saling berpasangan dan nanti maju ke depan untuk menyanyikan lagu nasional. Lagunya terserah kami, kami boleh memilih sesuka hati kami. Yang jelas, praktek menyanyi ini dinilai dan menjadi salah satu unsur penilaian raport CAWU4 kami.
            “Ayo, siapa yang ingin maju duluan untuk menunjukkan bakat menyanyinya,”kata Bu Dewi lantang.
            Adit mengangkat tangan lalu mengajak Ayyub untuk ikut maju ke depan. Adit berbisik kepada Ayyub, sepertinya mereka berunding untuk menyanyikan lagu nasional apa yang akan dipersembahkan di depan kelas. Ayyub pun ikut berbisik, entah lagu apa yang mereka pilih.
            Garuda Pancasila
Aku lah pendukungmu
Patriot Proklamasi
Sedia berkorban untukmu
Pancasila dasar Negara
Rakyat adil, makmur, sentausa
Pribadi bangsaku
Ayo maju, maju.
Ayo maju, maju.
Ayo, maju…. Maju….
            Mereka membawakan lagu Garuda Pancasila dengan penuh semangat 45. Lantang, dan energik bagai serdadu perang melawan penjajah Belanda. Anak-anak pun bertepuk tangan tiada henti-hentinya. Perpaduan yang sempurna yakni sang ketua kelas dan si anak baru yang penuh percaya diri.
            “Bagus sekali, Anakku. Baiklah berikutnya, ada yang ingin maju ke depan?” kata Bu Dewi sambil membubuhkan nilai pada kertas penilaian.
            Yasmin dan Hana maju ke depan menyanyikan lagu Maju Tak Gentar karya C. Simanjuntak. Lagi-lagi anak-anak bertepuk riuh, bahkan ada yang bersiul. Entah siapa itu. Yasmin memang cantik, rambutnya panjang hitam legam sepinggang tergerai, apalagi Yasmin anak yang ramah dan mudah bergaul.
            Anak-anak kelas tiga datang silih berganti maju ke depan kelas. Tinggal La dan Sakura yang belum maju ke depan kelas.
            “Ayo La. Ayo Sakura. Tinggal kalian saja yang belum maju ke depan,”ajak Bu Dewi.
            La dan Sakura maju ke depan dengan malu-malu. La apalagi. Tangannya bergetar hebat, keluar keringat dingin, bingung menyapanya. Sakura apalagi, melihat sahabatnya terlihat pucat pasi karena kurang percaya diri. Sakura pun jadi sepeti kerupuk yang melempem. Beberapa menit kemudian, La dan Sakura terlihat berdiskusi mau menyanyikan lagu apa. Tetapi tidak segera menyanyi, malah diam. Dua kepala melankolis bertemu, tak tahu mau menyanyikan lagu apa, malah membeku di depan kelas, terpekur.
            “Ayo La dan Sakura, tak usah malu, Nak. Teman-teman akan mendengarkan. Pilih saja lagu nasional yang kalian suka,”bujuk Bu Dewi dari mejanya.
            Ibu kita Kartini, pendekar bangsa…. Harum namanya….
            Tersendat. Beberapa jenak kemudian La menangis, Sakura juga ikut menangis karena bingung. Bu Dewi berusaha menghibur, tetapi malah tangis mereka berdua makin pecah dan membuat suasana kelas tiga menjadi sedih. Inilah yang dimaksud phobia sejenis nervous karena dilihat dan diperhatikan oleh audiens.
            Setelah puas menangis, La dan Sakura meneruskan menyanyi dengan diringi sesenggukan yang timbul tenggelam, menghasilkan melodi yang syahdu namun ganjil, yang membuat pendengar semakin larut dalam kesedihan yang buram.

***
           
            Kali ini anak-anak kelas tiga datang ke sekolah pagi-pagi, sampai-sampai Pak Kebon belum selesai menyapu seluruh halaman sekolah. Mayoritas anak-anak kelas tiga membawa tumbuhan hijau di tangan masing-masing. Lalu meletakkannya di depan kelas tiga. Bu Dewi meminta mereka membawa tanaman toga untuk tugas praktek mata pelajaran Ilmu Pengetahuan Alam supaya mereka mengenal spesies dan khasiat dari masing-masing tanaman tersebut.
            “Wah, bagus amat tumbuhannya, ini namanya apa? Sepertinya tak ada tumbuhan ini di desa kita,”kata Yasmin terkagum-kagum.
            “Namanya patah tulang. Nama ilmiahnya Eupharbia tirucalli L. Patah tulang bermanfaat untuk mengobati sakit gigi, lambung, rematik, tulang patah dan rantingnya yang sudah dikeringkan bisa digunakan sebagai pengusir nyamuk,”kata Ayyub sambil tersenyum senang karena tumbuhannya dipuji apalagi mayoritas teman-temannya hanya membawa lengkuas, jahe, kunir, kapulaga dan sereh yang memang mudah ditemukan di desa. Malah tumbuh liar tanpa perlu ditanam.
            “Lucu ya namanya. Patah tulang,”kata Yasmin manggut-manggut.
            Adit berdehem lalu mengangkat tumbuhan yang dibawanya tinggi-tinggi, tak mau kalah.
            “Hai kawan, jangan salah. Ini tumbuhanku juga keren. Kapulaga namanya. Gak ada yang bawa kapulaga kan? Mahal loh hargaya. Kapulaga dikenal sebagai rempah untuk masakan dan juga lebih banyak digunakan untuk campuran jamu,”seru Adit bak penjual obat keliling.
            “Oalah Adit, di pekarangan rumahku juga ada Kapulaga. Banyak malah,”sahut Yasmin sambil cemberut karena tumbuhan jagoannya dihina.
            “Daripada itu patah tulang. Habis kecelakaan apa? Patah tulang. Mana gak ada daunnya juga, Cuma batang kali ya?”ejek Adit.
            Empunya tanaman, si Ayyub hanya diam merengut, mukanya merah padam seperti habis lari berapa kilometer dan kehabisan nafas. Tanaman yang dibawanya direndahkan oleh ketua kelas, ini tidak bisa dibiarkan kawan.     
“Sudah. Sudah. Apa-apaan sih kalian. Setiap tumbuhan itu diciptakan oleh Alloh dengan segala manfaatnya. Kita sebagai manusia seharusnya bersyukur bisa memanfaatkan tumbuhan ini untuk menyembuhkan berbagai penyakit. Bukan malah berdebat mana yang paling baik, atau mana yang paling buruk. Di hadapan Allah, semua makhluk hidup adalah sama, yang membedakan adalah derajat ketakwaannya,”cerocos La.
“Tumbuhan juga bisa bertakwa ya?”cibir Yasmin.
“Ups, hehe salah. Maksudku, kalian gak usah bertengkarlah. Capek jadinya. Mending kita tanam tumbuhan ini di taman sekolah kita seperti instruksi Bu Dewi,”kata La sambil meringis karena salah bicara. Dia hanya ingat penggalan ayat itu dari Abah Furqan, guru ngajinya di TPA Darussalam.
            “Benar kata La, ayo kita tanam,”kata Sakura sambil mengambil sekop dan menggali tanah lalu memasukkan tumbuhan jahe yang dibawanya.
            “Ini nih, Sakura patut ditiru,”sahut Ayyub sedikit lega setelah pertengkaran yang hampir meletup telah terhindarkan. Dia pun segera mengambil sekop dan menanam tumbuhan patah tulang di samping tumbuhan yang dibawa oleh Sakura.
            “Assalamu’alaikum. Selamat pagi anak-anak. Wah, kalian pandai sekali anakku. Sudah ditanam tumbuhan toganya. Wah, ini patah tulang ya? Siapa yang membawa?”kata Bu Dewi antusias.
            “Saya Bu. Saya dapat tumbuhan ini dari Om Tanjung yang kemarin mampir menjenguk saya lalu mengajak saya main ke luar kota dan akhirnya kami membeli tanaman ini,”jawan Ayyub
            “Om Tanjung? Bukannya Mamamu anak tunggal dari nenekmu, Nak?”
            “Om Tanjung itu kakak Papa saya, Bu. Mampir ke sini untuk mengantarkan uang saku saya karena kebetulan dinas ke Surabaya. Jadi bisa mampir ke sini.”
            “Oh begitu Nak, ya sudah. Ayo berbaris dahulu dan berdoa sebelum masuk kelas.”
            Setelah selesai berbaris rapi dan berdoa, murid-murid masuk kelas dengan tertib. Hal ini dilaksanakan oleh murid-murid dengan patuh karena telah diajarkan oleh Bu Dewi mengenai kedisiplinan. Disiplin itu sangat penting dalam kehidupan karena akan membentuk karakter yang tangguh dan bisa meraih cita-cita yang dipancangkan sejak dini. Bu Dewi memang guru yang disiplin dan tegas, namun tetap penyayang.
            “Anak-anak, kali ini kita belajar Bahasa Indonesia. Ayo siapkan alat tulis kalian. Kali ini kita belajar menulis puisi. Masih ingat kan rima puisi yang aaaa dan ada yang abab. Kalian juga bisa menulis puisi bersajak bebas, tidak perlu dengan rima aaaa atau pun abab. Burung elang terbang ke angkasa, menukik elok di lautan. Marilah menulis puisi ceria, jangan bermalas-malasan.”
            Kali ini anak-anak sepertinya sangat serius sekali menulis puisi. Semuanya diam merenung. Kalau boleh, berlomba menangkap ide yang sedang bergelembung di udara, menangkapnya satu dan menumpahkannya di kertas, biarlah pena menari di atas kertas mengikuti gelembung ide tadi.
            Ada yang menunduk, diam. Ada yang mendongak. Ada yang menggaruk-garuk kepala yang tidak gatal. Ada yang menjentik-jentikkan bolpen. Ada yang malah menggambar di atas kertas. Ilustrasi dulu lah, puisinya menyusul boleh lah.
            Ayyub diam lalu tersenyum, kemudian melanjutkan menulis. Entah apa yang dipikirkannya. Iya hanya ingat tokoh yang menginspirasinya, Jalaludin Rumi, dia pernah membaca artikel mengenai Rumi di majalah kesukaan Mamanya.
            La tak kalah sibuk, ia semangat sekali menulis. Ia bahkan hampir menangis ketika menuliskannya, Ibunya yang telah menginspirasinya. Hampir banjir kertasnya oleh air matanya yang tak terbendung, menetes.  
            “Ada apa kau La? Kok menangis,”bisik Sakura tak ingin memecah konsentrasi kawan-kawannya dalam menuangkan puisi terbaik mahakarya.
            “Tak apa,”kata La sambil menyeka matanya yang basah.
            “Baik anak-anak. Waktunya habis. Ayo dikumpulkan ke depan. Tolong Adit, kumpulkan karya teman-teman kalian,”perintah Bu Dewi.
            Suara kertas dirobek pun sahut-menyahut, kelas gaduh. Ada yang mengeluh belum selesai, membuat puisi itu susah. Bahkan ada kertas yang masih melompong tidak ada tulisannya, malah ada juga kertas yang hanya ada gambar pemandangan perbukitan desa ini.
            Adit mengumpulkan kertas itu satu per satu. Ada yang tersenyum saat mengumpulkan. Ada yang sedih. Ada yang meringis. Malah ada yang berusaha menahan supaya kertasnya jangan diambil, nahas, tetap harus dikumpulkan juga walau baru ada beberapa kata yang baru menghiasi kertas putihnya.
            “Baiklah anak-anak, Ibu akan memilih beberapa puisi yang bagus dan unik,”kata Bu dewi sambil tersenyum, sambil memilah-milah tumpukan kertas yang ada di tangannya.

            Langit yang elok berhiaskan pelangi
            Angin yang berhembus meniup awan berarak
            Api yang redam oleh angin yang menari
Tanah merekah tersenyum menyambut
            Air berubah wujud menjadi kristal yang mempesona
           
            Demikian juga aku,
            Tersenyum, tertawa, termenung, terdiam
            Terlena oleh indahnya ciptaanNya
            Tersipu malu
            Tak bisa tertahankan, tak terbendung
            Biarlah ini tercipta, untukku
            Kan ku jaga sampai nanti
            Sampai mati

            “Ini karya siapa? Puisi bersajak bebas, tidak berima. Bermajas personifikasi, seakan-akan benda mati bisa berlaku seperti manusia,”kata Bu Dewi.
            “Saya Bu,”sahut Ayyub kaget karena puisinya yang pertama kali dibacakan di depan kelas.
            “Apa maksud dari puisi ini Ayyub?”Tanya Bu Dewi heran karena anak sekecil itu bisa menulis puisi cinta yang tersirat, yang tak kan pernah dipikirkan oleh anak seusianya.
            Anak-anak yang lain hanya bingung, lalu ribut sendiri. Tetapi tetap saja mereka tak mengerti, membuat wajah mengkerut menggambarkan tanda tanya besar yang belum sempurna terjawab.
“Saya khagum padha ciptaan Tuhan, Bu,”jawab Ayyub terbata-bata karena malu bercampur kaget.
            Bu Dewi hanya mengangguk dan tersenyum penuh arti. Lalu kembali fokus pada kertas berikutnya.

            Ibu,
            Bagi Ananda,
            Engkau laksana bulan yang bersinar elok ketika surya telah kembali ke peraduannya
            Engkau laksana yakut dan marjan yang mempesona

            Engkau merawatku ketika aku sehat maupun sakit,
            Tetap tersenyum ketika aku marah,
            Tetap ceria walau letih,
            Tetap kuat walau sakit

            Ibu, Ibu, Ibu
            Kalau sampai waktuku,
Biarkan aku berbakti padamu
Walau baktiku tak sepanjang cintamu, Ibu
La mencintai Ibu karena Allah

“Karya kamu, La. Bagus. Puisi bersajak bebas, tidak berima. Bermajas metafora, pengandaian. Pengorbanan ibu memang tak kan pernah terkira, tak kan pernah terbalaskan oleh anaknya. Walaupun begitu, kita sebagai anak harus memberikan yang terbaik untuk Ibunda kita, menjadi anak yang sholeh dan sholehah. Berbakti, tidak rewel, tidak manja, tidak malas mengerjakan PR, dan membantu Ibunda di rumah. Kita juga perlu belajar ilmu padi yakni ketika seseorang semakin pandai, semakin rendah hati. Orang yang tinggi hati walaupun dia pandai, pasti banyak yang tidak suka kepadanya. Anak-anakku, jadilah kalian seseorang yang mewarisi ilmu padi, semakin berisi, semakin menunduk,”kata Bu Dewi.

0 komentar:

Posting Komentar

 
;