Minggu, 05 Agustus 2012

JEMBATAN YANG KUBANGUN ANTARA SURABAYA-JAKARTA



BALADA HARU: Sebuah Catatan Kecil Bahwa Waktu Takkan Bisa Berulang
Entahlah sejak beberapa hari ini saya tidak merasa nyaman, tidak seperti biasanya. Tertawa pun rasanya hambar, bahkan mendengar Ibu saya tertawa di sambungan telepon pagi ini. Hati saya masih membatu. Mungkin telah mengeras dan akhirnya mati. Kemarin malam, saya teringat janji saya bahwa ramadhan tahun ini akan main ke Surabaya, ternyata takdir berkata lain J (efek masih banyak teman yang masih respek dengan saya walau jalan yang saya tempuh benar-benar telah membuat mereka kecewa dan sebagian mengacuhkan saya, walau tak sedikit yang ternyata masih kangen sama saya :p). Note: Allah jelas lebih kecewa (murka) daripada teman2 saya ini.
Back to topic, mengapa harus main ke Surabaya? Saya hanya ingin menapak kembali ghiroh yang pernah saya genggam di tangan, ghiroh itu bagai bara api. Jika kau genggam sungguh kadang tak enak, karena di kala taat itu, godaan banyak datang. Namun ketika kau lepaskan, kau seperti kehilangan separuh jiwa. Futur selemah-lemahnya iman. Trust me, it works!

Surabaya: Never Ending Memories
Saya memang bukan seorang yang “baik” seperti yang dipikirkan banyak orang saat mengenal saya sewaktu kuliah. Walau amanah di genggaman tiada putus-putusnya. Keblinger juga pernah. Membangkang juga pernah. Inilah watak keras kepala dipadu dengan labil. Perpaduan yang sempurna. Dan ketika amanah masih saya pegang. Allah masih menjaga saya beserta dengan aib-aib saya, walau hanya orang-orang terdekat saya yang tahu. (Dan bersyukurlah kalian, yang masih berada dalam lingkaran-lingkaran kebaikan. Janganlah engkau sombong dan merasa lebih keren daripada yang lain, sesungguhnya Allah masih berbaik hati memberi amanah untuk menjaga aib-aib kalian).
Di Surabaya, dengan aktivitas yang sedemikian padatnya, bukan tak mungkin saya lelah dan bosan dengan semua itu. Pernah, muncul, hilang, muncul lagi. Itulah jalan kebaikan pasti banyak godaan. Namun, bahagia insyaALLAh dalam dekapan, dalam dekapan kemuliaan, dalam kemudahan yang datang dari arah-arah yang tak disangka2, dalam dekapan sahabat (ikhwahfillah) yang hatinya lembut dan sangat baik, dalam dekapan janji-janji ALLAH yang pasti.
Walau dengan penghasilan 2juta-2,5 juta per bulan, bisa membuat saya PUAS DAN TERSENYUM. Harta HALAL emang selalu membawa berkah kawan J
Dan di Surabaya lah titik tolak awal mula mengenal jalan kebaikan dan mengucap janji berpisah untuk sementara T_T

Jakarta: New City with Little Happiness
Why I say like that? Ya, bermula di sinilah saya jelas-jelas mengubur sebagian impian dan menutup jalan kebaikan untuk sementara. Masih berada di lingkaran-lingkaran kebaikan, namun hati tak langsung bisa tersenyum. Senyumnya masih kredit, belum lunas. Hati kembali layu, belum bisa mekar.
Bersyukur, inginnya begitu. Tapi saya seperti menggenggam bara api neraka di setiap langkah. Membayangi di setiap tikungan yang ramai dengan mobil-mobil, di setiap kelas-kelas yang saya ikuti, di kantor yang penuh sesak dengan manusia-manusia pencari nafkah, di toko-toko buku, di tempat pengajian, di mall-mall, di warteg, di restoran cepat saji, di halte busway, di stasiun, di kos, di antara kerumuman orang-orang yang mengejar fana. Saya pun tertular semakin memeluk fana dengan erat. Saya hanya ingin berteriak, namun hanya air mata yang mengalir.
Bukannya saya tak berusaha untuk segera melepaskan bara api ini. Sudah saya coba, namun gagal. Mungkin tekad saya masih sabit dan belum purnama. Sehingga Allah belum memuluskannya. Dan saya tak siap dengan kegagalan ini. Berusaha berdamai dengan waktu dan keadaan. Tapi hati saya berontak. Jengah dan kelu rasanya. Saat ini, aku hanya ingin berusaha menempuh lagi, memperjuangkan tekad yang telah lama menghunjam dalam hati. Tak kan pernah padam dan saya berharap saya tak semakin silau dengan semua yang fana ini. Jalan kebaikan itu masih ada dan terbuka lebar, insyaALLAH.

Jembatan yang Kubangun antara Surabaya-Jakarta
Bukan hanya sekali saya gagal, bagi saya ini kegagalan paling fatal yang pernah saya lakukan walau sebagian orang menganggap bahwa ini adalah jalan menuju kesyukuran. Tapi bagi saya tidak!
Sebuah catatan yang mengingatkan bahwa ketika memiliki prinsip, peganglah dengan erat, jadikan baju di setiap langkah, jadikan genggaman api kebaikan, jadikan jalan dan bukan tujuan. Janganlah tergiur dengan pencapaian yang semu.
Dari langkah-langkah kecil ini mari kita berbenah J Be OPTIMIST!

Teruntuk saudara seiman di manapun kalian berada (yg pernah mngenal saya):
Dan saya bahagia memiliki kalian kawan J

0 komentar:

Posting Komentar

 
;