Jumat, 10 Agustus 2012

Sebuah Cerita Mengenai Es Krim dan Vanilla


BAB 2
ILMU PADI

            Pagi itu, kelas kami--kelas tiga SD--sumringah, kedatangan satu orang murid pindahan dari Ibu Kota. Kulitnya sawo matang, dengan rambut tersisir rapi, dari gelagatnya dia anak pendiam yang pintar serta tegas kalau diamati dari tatapan matanya. Namanya Ayyub, seperti nama Nabi saja ya.
            Dia duduk di depan, memang kebetulan bangku itu kosong. Dia duduk di samping ketua kelas, si Adit. Walaupun sawo matang, kulitnya bersih terawat, gadis-gadis belia di kelas kami tak henti-hentinya mengamatinya, dia memang tampan, itu konklusi yang terlalu dini.
            Lonceng berdentang tiga kali, menunjukkan jam istiharat. Jam menunjukkan pukul 9.30. Hari masih pagi, angin pun tanpa letih menyapa kami, suasana kota kecil di lereng bukit ini selalu sejuk. Penghasil oksigen ada dimana-mana, jadi kami tak perlu terlalu risau.
            Kami main di halaman sekolah. Ada yang main lompat tali, engklek, keneker, obak sodor, pathel lele, benthengan, dan delik-delikan1. Pelbagai jenis permainan ini lazim dimainkan dalam waktu yang bersamaan mulai dari anak kelas 1 sampai dengan kelas 6 SD karena lapangan sekolah kami yang sangat luas. Sering di sore hari, lapangan sekolah kami beralih fungsi menjadi lapangan sepak bola. Pemuda tanggung desa kami sering bermain bola, membuat senja hari di desa kami guyub rukun dan semarak.
            “La, ayo main obak sodor,”ajak Adit.
            “Ayo,”sahutku dengan semangat 45. Ini permainan favoritku. Kami selalu tandem dengan anak laki-laki, jadi kekuatan berimbang. Kali ini ada 4 anak perempuan dan 4 anak laki-laki yang bermain. Delapan anak ini dibagi menjadi dua regu. Masing-masing regu terdiri dari 2 anak perempuan dan 2 anak laki-laki. Kebetulan sekali, kami menang suit, jadi kami bermain sebagai penyerang, sementara yang kalah harus bertahan menjaga wilayahnya supaya jangan sampai ada penyerang yang menyusup ke wilayah kekuasaannya.
            Aku menoleh dan mengamati sejenak anak baru itu, dia duduk diam disamping Yasmin. Sepertinya mengamati permainan kami. “Baiklah,” pikirku.
            Permainan berlangsung sengit. Aku sekelompok dengan Adit. Kelompok kami sangat lihai dalam mengatur strategi. Sudah tiga kali kami membobol pertahanan lawan dan tidak ada satu pun dari kami yang tertangkap tangan pihak bertahan. Kami berlari gesit menghindar dari sentuhan lawan yang berusaha menahan kami. Kami tak tertahankan. Kami menang. Heru dari kubu lawan hanya bisa bersungut-sungut karena kalah. Lonceng masuk berdentang membuat kami harus menyudahi permainan ini.

***

            Entahlah, La masih saja mengamatinya. Bukan hanya La, gadis-gadis belia lain pun juga mengamatinya. Kagum dan terpesona menjadi ramuan manjur untuk membuat kami bertahan tak jemu mengamati setiap gerak-geriknya. Gaya duduknya, gayanya dalam menyampaikan pendapat, gayanya bertanya, dan gaya-gaya lainnya.
            “Bu, kenapa matahari terbit dari timur? Tidak dari barat? Kenapa ada siang dan malam?” Tanya Ayyub ingin tahu.
            “Matahari terbit dari timur dan tenggelam di barat itu adalah kuasa Allah, Nak. Allah telah menggariskannya demikian. Pergantian siang dan malam hari itu karena ada rotasi bumi yakni bumi berputar pada porosnya,” jawab Bu Dewi dengan sabar sambil memperagakan rotasi bumi dengan alat peraga berupa bola dunia.
            Ayyub pun mengangguk dengan takzim.
            “Ada yang bisa menjawab. Mengapa dalam 1 tahun ada 365 hari? Nanti yang bisa menjawab akan Ibu kasi coklat,” kata Bu Dewi.
            Masih sama, yang paling gesit mengacungkan tangan Ayyub lagi. Tidak ada tandingannya, La kalah sepersekian detik darinya.
            “Iya, Ayyub. Apa jawabannya, Nak?” ujar Bu Dewi dengan senyum merekah karena suasana kelas menjadi hidup.
            “Bumi melakukan revolusi sekali dalam setahun dan membutuhkan waktu 365 hari untuk mengelilingi matahari sebagai pusat tata surya,” jawab Ayyub mantap.
            La hanya bersungut-sungut kesal. Bagaimana bisa anak baru dari Ibu kota itu menjadi pusat perhatian. Biasanya La yang menjadi pusat perhatian. Kenapa harus dia??? Sebal.
            Bu Dewi memberikan coklat itu kepada Ayyub, senyum Ayyub pun merekah. Gadis-gadis belia di kelas berkasak-kusuk, berharap coklat itu dibagi oleh Ayyub kepada mereka. La hanya menunduk memikirkan sesuatu.
            Lonceng dipukul enam kali oleh Pak Kebon—penjaga sekolah sekaligus petugas kebersihan sekolah kami, SDN Waung 1—menunjukkan jam pulang telah tiba. Kami senang dan segera berhamburan keluar kelas setelah doa pulang usai ditunaikan.
            “La, ini untukmu,”sepotong coklat itu sudah ada di depan La.
            La menoleh. Kaget. “Mengapa dia memberikannya untukku??”Tanya La dalam hati.
            “Sepertinya kau mengincar coklat ini dari tadi, ini untukmu,”kata Ayyub sambil menaruhnya di genggaman dan melenggang pergi meninggalkan La.
            La masih shock dan tidak sempat mengucapkan terima kasih. Sosok anak baru itu menghilang di balik pohon-pohon besar yang berjajar rapi di samping kiri sekolah. Menyisakan pertanyaan yang menyublim dengan heningnya sekolah yang mulai sepi ditinggalkan oleh para murid yang berlari pulang dengan girang. Matahari terik, tetapi masih kalah dengan ramahnya sang angin yang tak jemu berhembus, apalagi ditingkahi dengan giatnya sang produsen oksigen untuk melepas O2 ke lereng bukit hijau permai ini.

***

            Gadis-gadis belia kelas kami menjadi rajin berkasak kusuk sepanjang waktu. Bahkan si ketua kelas, Adit, bilang kalau Ayyub dekat dengan Yasmin. Konon katanya orang tua mereka sama-sama berasal dari Ibu Kota sehingga mereka dekat. Tetapi dari sumber lain yang tak kalah valid, ada yang bilang mereka pacaran. Hah, masa anak kecil seperti kami pacaran? Yang benar saja.    
            La membuat sebuah strategi untuk memata-matai mereka, Ayyub dan Yasmin. La dan teman sebangkunya, Sakura, berjanji bertemu di sawah samping sekolah. Mau membicarakan mengenai hal yang penting ini. 
            “Hei, La. Sudah lama menunggu?” suara Sakura mengagetkan, rambut Sakura yang dikepang dua melambai-lambai diterpa angin semilir di areal sawah padi yang menghijau dan baru berumur satu bulan.
            “Baru lima menit kok,”sahut La yang masih asyik mengintai Ayyub dan Yasmin yang duduk berduaan di depan kelas tiga.
            “Kenapa ya Ayyub akrab sama Yasmin? Apa orang tua mereka telah menjodohkan mereka berdua?” tebak Sakura sok tahu.
            “Hush, gak ah. Kamu kebanyakan nonton sinetron sama emakmu,”sergah La.
            “Halah, kemungkinan itu pasti ada, tapi kalau kita mengintai dari sini apa iya kita bisa mendengar pembicaraan mereka?”
            “Benar juga, tapi kalo dekat, kita tidak bisa leluasa mengamati,”sahut La kencang seakan-akan tidak mau kalah dengan desau angin yang tak henti-henti menampar lembut wajah mereka berdua.
            “La, kamu suka Ayyub?”pertanyaan ini mengawang, mengangkasa seringan kapas, lalu buyar terhempas.
            “Apa sih Sakura! Aku cuma ingin tahu seperti apa mereka berdua. Ayyub memberikan coklat kemarin padaku tetapi kenapa kami tidak bisa berteman? Itu saja,” kilahku. Entahlah rasa semburat sebesar dzarrah2 menghampiriku, aku tak bisa mengartikannya sekarang.
            Dari kejauhan terlihat Ayyub sedang berbincang-bincang dengan Yasmin.
            “Ayyub, kapan balik lagi ke Jakarta? Papa dan Mamamu ada di sana kan?”
            “Iya Yas, Papa dan Mama ada disana. Entahlah, walau baru beberapa hari aku tinggal di sini, aku sudah rindu kepada mereka. Tetapi kasihan Nenekku yang sendirian di sini. Nenek perlu seorang cucu yang mendampinginya. Ibuku anak tunggal dari Nenekku.”
            “Setelah Papaku dipindah dinas di sini sejak dua tahun lalu, kami tidak tahu lagi akan dipindah dinas kemana lagi. Yang jelas, kami harus ikut Papa. Terakhir aku ke Jakarta lebaran kemarin. Senangnya bisa bertemu keluarga besar di sana,”kata Yasmin.
            “Aku juga kangen dengan adikku si Haikal. Aku kangen dengan gelak tawa dan tangis merajuknya khas anak umur lima tahun,”kenang Ayyub.
            Di sebuah pematang sawah yang terpisahkan oleh parit selebar satu meter dengan areal sekolah, ada dua gadis yang asyik masyuk mengintai dari balik pagar sekolah yang membuat mereka aman dari penglihatan objek yang diintai.
“Yuk, kita menyeberang,”ujar Sakura sambil melompat dari pematang sawah ke lahan sekolah. Sakura melambaikan tangan mengajak La untuk bergegas karena beberapa menit lagi jam istirahat usai.
            Kali ini, La ragu untuk melintas parit yang lebarnya hanya 1 meter ini. La dan Sakura masih kelas tiga SD. Kaki-kaki mereka masih pendek, tetapi Sakura telah membuktikan bisa menyeberang dengan selamat. La menyesal, mengapa mempunyai ide pengintaian ini. Ide yang nyata-nyata konyol dan tidak membuahkan hasil apapun. La bisa sampai di tempat ini setelah melewati jembatan di ujung timur. Kalau lewat jembatan untuk kembali ke areal sekolah, butuh waktu dan bisa terlambat ke kelas. Melompat adalah pilihan pintas. Baiklah, huff, byurrrr. La sukses tercebur ke parit yang tak begitu dalam. Tubuhnya basah kuyup. Sakura menolongnya. La duduk terpekur melihat parit sawah yang jernih, ada banyak ikan cekol3 dan berta yang berenang santai di sana.
            “La, ayo berdiri. Sebentar lagi masuk kelas. Kamu tidak mungkin pulang ke rumah untuk mengganti rokmu. Lain kali hati-hati ya,”hibur Sakura.
            La mengangguk dan melangkah menuju kelas kami dengan wajah tertunduk. Semua murid di kelas memperhatikannya. Mereka ramai dan tertawa terbahak-bahak, bahkan ada yang sampai memegangi perutnya karena tertawa terlalu kencang.
            “Kamu tidak apa-apa kan, La? Kamu bisa demam kalau tidak ganti baju,” tanya Adit khawatir dan menghampiri mejanya yang ada di deretan tengah paling belakang.
            “Ah gak apa-apa kok, Dit. Tinggal dua jam lagi pelajaran usai.”
            Dari depan, sepasang mata memperhatikan gadis yang habis tercebur ke parit sawah itu. Hanya bisa menarik nafas kasihan, tetapi dia tak berani menunjukkan rasa simpati.

***

0 komentar:

Posting Komentar

 
;