Rabu, 08 Agustus 2012

Sejatinya, Aku pun Juga Terluka


Kau berkata padaku, “Hatiku perih.”
Aku tersenyum dan berkata,”Allah punya skenario yang indah, bersabarlah.”
Kau berkata padaku,”Aku letih, aku sudah tak punya semangat dan ambisi lagi.”
Kujawab,”Bersabarlah, akan datang suatu masa dan Allah akan mendatangkannya kembali.”
Kau mengeluh lagi,”Ketika mataku terbuka di pagi hari, aku tak tahu apa yang harus kulakukan.”
Kuberkata,”Be Optimist, sist. Kau pasti bisa. Allah bersama kita.”
Kau lagi-lagi mengeluh,”Aku menyesal telah membohongi diriku sendiri.”
Ku menjawab,”Janganlah berbohong pada diri sendiri. insyaALLAH akan tercapai apa yang kau usahakan.”
Kau Berkata,”Terimakasih say.”
                                Aku tersenyum dalam hati. Perasaanku lebih pedih dari yang kau rasakan karena kita berbeda alasan. Aku menghiburmu, namun sejatinya, akulah yang menghibur diriku yang belum bisa berdamai dan bersyukur atas segala nikmat yang menjadi ujian dariNya.

*detik-detik menatap umur yang masih terbentang, masih bermanfaatkah kita untuk dunia?

0 komentar:

Posting Komentar

 
;