Sabtu, 22 September 2012 0 komentar

Gerimis yang Mengundang

Di sela rinai gerimis yang renyai
Masih bisa kusibak bayangan
Engkau masih saja seperti hantu di senja menjelang
Engkau masih saja asyik berlarian
Membuat bermekaran tanyaku atasmu
Bodohnya, aku di sini masih saja memikirkanmu



Jumat, 14 September 2012 0 komentar

Beasiswa ITB Untuk Semua


Karya: Ahmad Syamsu Rizal, Bioengineering ITB 2010

Di tengah gelisah-gelisahnya aku mencari kampus, dari akun facebookku ada sebuah pesan dari kakakku. Sebenarnya sekarang belum waktunya untuk pusing-pusing, alasannya sederhana. Terlalu dini untuk mencari atau bahkan mendaftarkan diri ke kampus. Benar juga, bulan ini masih Desember. Masih ada beberapa bulan lagi sebelum benar-benar musimnya mencari kampus.

Mayoritas temanku masih belum memikirkan mau kuliah dimana.

“Ah gampang, ntar aja habis UAN baru nyari kampus,” kata kebanyakan teman-teman.

Ada juga yang berkata begini,“Lagi nikmatin masa-masa indah di SMA, ngapain mikir-mikir kampus yang masih lama. SNMPTN kan masih 6 bulan lagi.”

Aku buka pesan facebook-ku, pesan dari kakak kandung tercinta. Entah mengapa surat menyurat melalui pos sekarang mulai menurun. Kalau tidak terdesak mungkin pakai sms atau email. Sehari langsung terkirim.
Aku buka pesan yang dikirim kakak kandung tercinta. Tidak biasanya dia mengirim pesan, karena biasanya dia mengirim komentar di wall facebook-ku. Mungkin kalau bukan tugas, aku tidak akan buka facebook. Uang adanya cuma pas-pasan. Ngempet bangetlah untuk menjauhi banyak pegeluaran dari internetan.
Akhirnya aku buka pesan yang dikirim kakakku yang dari Surabaya, isinya bahwa ada pendaftaran beasiswa. Dia mendapatkan infonya dari sebuah SMA Negeri di kabupaten Nganjuk.

Beasiswa ITB Untuk Semua.

“Berat euy,” kataku dalam hati.

Aku belum kepikiran kampus mana yang benar-benar aku ingin mendaftar. Sebenarnya dari dulu sudah ingin masuk kampus UI atau ITB Bandung, tapi seakan aku pesimis. Aku takut membuang kesempatan maupun uang untuk sesuatu yang menurutku mendekati mustahil. Pesimis tingkat akut.

Kampus ITB Bandung, menurut tradisi Madrasahku hanya satu orang saja yang kuliah disana. Dia masuk ITB Bandung tahun lalu, sebelumnya nihil sepengetahuanku. Aku seperti memimpikan sesuatu yang aku sendiri tidak tahu mau ngapain disana. Kalau kampus UI lebih parah lagi, belum ada satupun alumni Madrasahku yang sudah masuk sana. Kedua hal itu seolah membuktikan bahwa aku kurang realistis dengan kemampuanku. Di kelas aja aku tidak pernah rangking 10 besar. Sebuah tanda tanya besar di kepalaku.
Tapi masih ada setitik dari lubuk hatiku untuk berani mencoba. Aku harus siap bertempur di medan laga. Kalau mencoba-coba apa salahnya, kalau tidak masuk ya tidak apa-apa. Hibur hatiku yang sukanya hanya mimpi, mimpi kuliah gratis. Aku sadar orang tuaku tergolong kelompok keluarga tidak mampu.

“Zal. Kalau memang ini takdirmu, penuhilah.” Kataku dalam hati.

Kalau aku memang ditakdirkan di sana pasti aku akan ‘tembus’. Kalau mencoba aja sudah takut, mana mungkin kita akan ‘tembus’. Hanya ada 2 kata yang sering membuatku bimbang untuk melakukan sesuatu yang sulit, “tidak mungkin”.

Aku baca pesan itu dari kakak perempuanku dengan seksama, tapi tetap saja aku bimbang. Tidak mungkin.

“Kapan sih kalau kamu bilang mungkin.” Cela hatiku.
“Padahal belum dicoba, sudah mengatakan tidak mungkin.” Aku sebel dengan hatiku yang selalu bertentangan dengan pikiranku. Akhirnya aku mengalah untuk mendengarkan hatiku. OPTIMIS.
OPTIMIS. Kalau memang katut, alhamdulillah. Kalau tidak, coba lagi.

Siang malam terbayang-bayang, sepertinya aku berada di jalur yang salah. Aku tidak pantas megejarnya. Sulit bagi pikiranku untuk menerima ini. Pikiranku selalu muncul pikiran pesimis. Mungkin inilah yang dirasakan oleh anak-anak seumurku. Tapi hal itu lumrah. Mungkin yang perlu diberikan kepada anak seperti aku adalah suntikan motivasi untuk mencoba. Mencoba dengan diawali usaha.
Seperti kata-kata Nelson Mandela.

Vision without action is only a dream.
Action without vision is only merely passing out of time.
But vision with action can definitely change the world.

Terkadang orang punya aksi tapi tidak punya mimpi atau visi yang jelas. Hal itu sangat disayangkan, karena mereka kerja keras tapi tidak mempunyai sebuah arah. Visi maupun mimpi itu sulit dibedakan, hanya beda sedikit. Visi atau mimpi itu adalah sebuah kompas yang mengarahkan kita hingga sampai ke tujuan kita. Jika orang tanpa visi ataupun mimpi, maka dapat dikatakan dia tidak akan sampai ke tujuannya karena mereka sendiri melakukan usaha tapi tidak tahu tujuan dari usaha itu kemana.

Visi ataupun mimpi itu bagaikan alamat tujuan surat. Jika kita tidak menulis alamat tujuan surat, mana mungkin surat itu akan sampai pada tujuannya. Malahan nanti hanya berhenti di kantor pos dan akhirnya di buang ke tempat sampah karena tidak ada alamat yang dituju. Ada juga orang yang punya visi atau mimpi tapi tidak mau aksi atau berusaha. Hal ini seperti pepatah, tong kosong nyaring bunyinya. Apa yang diimpi-impikan hanya sebatas mimpi saja. Dia tidak pernah berusaha untuk mewujudkannya.

Sedangkan jika seseorang mempunyai sebuah mimpi atau visi yang berfungsi penunjuk arah mana tujuan kita dan aksi atau usaha, maka orang ini bisa mewujudkan mimpi atau visinya menjadi kenyataan dan tidak hanya sebatas khayalan yang tidak berujung. Bahkan dia bisa merubah dunia ini dengan usaha dan visinya.

“Pengen daftar aja dibuat pikiran, nggak usah dipikirin kali. Sekarang kerja keras. Buat yang tadinya menurutmu tidak mungkin, jadi mungkin. Dulu aja kamu ingin sekali mengikuti olimpiade kimia, ternyata sekarang mimpimu telah menjadi kenyataan kan?”

Keesokan harinya saat aku ke Madrasah, ternyata sudah banyak anak yang sudah mulai mengirim surat pendaftaran Beasiswa ITB Untuk Semua. Aku cukup telat. Kelamaan berpikir. Tapi kelamaan berpikir adalah suatu usaha kita untuk memikirkan matang-matang apa yang akan kita lakukan, apalagi hal ini berbicara masa depan. Tidak boleh salah pilih. Salah sedikit bisa fatal untuk masa depan kita. Namun, berpikir matang harus ada batasnya. Tidak boleh kelamaan, jika kita hanya memikirkan itu terus bisa-bisa kita kelupaan untuk melakukannya.

Setiap hari berganti orang yang ngobrolin beasiswa ini. Karena beasiswa ini tergolong super cepat, padahal masih bulan November tetapi sudah mulai melakukan perekrutan untuk pendaftaran bagi murid SMA maupun MA untuk daftar. Ternyata aku termasuk yang paling lambat menerima informasi ini, ada yang sudang melengkapi berkas dan mengirimnya ke Bandung 10 hari yang lalu. Sedangkan aku baru mulai mencari berkas-berkas yang diberikan. Pastinya semakin lama semakin mepet dengan deadline. Aku benci deadline. Tapi bagaimana lagi, aku dapat infonya sudah termasuk telat.

Semua berkas yang harus aku kirimkan ke Direktorat Pendidikan kampus ITB mulai aku cari. Mulai surat keterangan tidak mampu dari desa maupun kecamatan. Ada juga disuruh membuat essay yang menurutku sebuah tantangan. Isinya tidak bisa ngasal. Salah sedikit bisa bermasalah karena ini berhubungan dengan kampus sebesar ITB Bandung. Bahasanya harus bagus, sopan, tanpa SARA. Karena hal ini akan mempengaruhi mood pembacanya.

Bapakku yang membantu kesana-kesini mencari berkas-berkas dari desa maupun kecamatan. Untunglah aku tidak disuruh untuk mencari sendiri, karena pada saat ini aku juga sedang masa sekolah bukan masa liburan. Aku merasakan kesulitan dalam membuat essay, ini pertama kalinya aku membuatnya. Apalagi harus ditulis tangan, susahnya minta ampun. Aku berkali-kali membuat coret-coretan tapi ide belum muncul juga. Setelah berkali-kali membuat dan menghabiskan banyak kertas, akhirnya jadilah essay yang menurutku spesial sekali. Essay-ku dalam melamar beasiswa pertamaku. Melamar.

Di essay yang aku tulis aku disuruh menjelaskan tentang keadaan lingkungan sekitarku, bagaimana tentang rumah, keluarga, pekerjaan orang tua. Penggunaan listrik perbulannya juga ditanyain, sampai sedetail itu bertanyanya. Kemungkinan itulah cara untuk menjaring mahasiswa yang memang benar tidak mampu.

Kakakku yang di surabaya adalah penasehat ulungku. Dia yang memantauku untuk terus mengecek email maupun info-info dari web resmi ITB Bandung. Selain itu dia juga mencarikan info tentang Universitas Indonesia.

Aku semakin hari semakin gencar mencari info Beasiswa ITB Untuk Semua maupun mengecek email Yahoo!ku. Aku juga mencari info beasiswa Bidik Misi di kampus tujuanku yang lain, Universitas Indonesia, Institut Teknologi Surabaya, Institut Pertanian Bogor ataupun iseng-iseng nyari tentang Sekolah Tinggi Akutansi Negara walapun seleksinya masih sekitar 8 bulan lagi.

Study while others are sleeping,
Work while others are loafing,
Prepare while others are playing,
And dream while others are wishing.

Itulah kata-kata William Arthur Ward yang menggambarkan kondisi pada saat itu. Ada sebagian teman-temanku yang masih menikmati masa-masa sebelum Ujian Nasional, tapi ada beberapa anak yang sudah mempersiapkan segalanya untuk masuk kampus yang ingin mereka tuju. Itu sebuah pilihan, tidak ada kata baik dan buruk terhadap kedua golongan tersebut. Hidup ini tidak bisa dipaksakan untuk harus ini ataupun harus itu.

Aku biasanya mencari info setelah ngaji kitab di pondok. Mengaji di pondok biasanya sampai jam 20.30. Kalau parah sekali bisa sampai pukul 21.00. Malam ini aku mengaji sampai pukul 21.00. Aku memutuskan untuk mencari info beasiswa bersama temanku Reno. Dia iseng-iseng aku ajak biar aku ada teman. Aku dan Reno hanya mempunyai waktu sekitar 50 menit, pukul 22.00 adalah waktu jam malam pondok. Kalau kelewat, siap-siap untuk tidur diluar saja karena pukul segitu pondok telah dikunci.

Malang bukan kepalang, aku telat sampai ke pondok. Akhirnya aku dan Reno terkunci di luar. Aku bingung sekali, begitu juga Reno. Aku berada dalam kebimbangan. Kalau memanggil santri-santri lain yang berada di lantai 2 pondok bisa kedengaran orang-orang ndalem. Kalau tidak begitu maka harus siap-siap tidur di luar pondok.

Kami tinggal berdua di luar pondok. Reno pun dengan tenang dia memutuskan untuk tidur di sebuah angkringan yang tidak jauh dari pondok. Berharap sebelum Shubuh aku dan dia terbangun dan tidak tertinggal salat subuh berjamaah. Ikut salat Shubuh berjamaah di pondokku adalah sebuah kewajiban bagi tiap-tiap santri, kalau tidak harus siap menerima takzir dari Abah Pondok. Malam yang dingin menusuk sela-sela kulitku, dinginnya malam minta ampun. Aku takut sekali kalau aku masuk angin. Semoga aja tidak.

Targetku minggu ini harus selesai melengkapi semua berkas-berkas yang diperlukan sebelum mengirim surat lamaran beasiswa. Hal ini dikarenakan seminggu lagi sudah memasuki deadline pengumpulan berkas-berkas yang menjadi syarat untuk mendaftar Beasiswa.

Berkali-kali aku salah menulis essay, sehingga aku 3 kali mengganti kertas dan menulisnya kembali. Tidak ada kata capek, apalagi untuk masa depan. Jangan mengatakan kata capek untuk masa depan. Alhamdulillah, lamaranku aku luncurkan tepat pada tanggal 19 Desember 2009. Bukan lamaran pernikahan lo! Lamaran pengajuan Beasiswa ITB Untuk Semua. Berkas-berkasnya yang mengirim adalah Bapak melalui jasa kantor pos.

*bersambung dengan kisah2 mendebarkan lainnya




Kamis, 13 September 2012 0 komentar

Filosofi Ketupat Yang Biasa Meramaikan Hari Raya Idul Fitri


Apa sih yang paling spesial saat di Hari Raya Idul Fitri? Yup, ketupat sayur :p



Yuk, kita kulik gimana sih sejarahnya ketupat yang biasa meramaikan hari raya idul fitri kita :)

Berikut menurut Wikipedia:
Ketupat atau kupat adalah hidangan khas Asia Tenggara maritim berbahan dasar beras yang dibungkus dengan pembungkus terbuat dari anyaman daun kelapa (janur) yang masih muda. Ketupat paling banyak ditemui pada saat perayaan Lebaran, ketika umat Islam merayakan berakhirnya bulan puasa.

Makanan khas yang menggunakan ketupat, antara lain kupat tahu (Sunda), Grabag (kabupaten Magelang), kupat glabet (Kota Tegal), coto makassar (dari Makassar, ketupat dinamakan Katupa), lotek, serta gado-gado yang dapat dihidangkan dengan ketupat atau lontong. Ketupat juga dapat dihidangkan untuk menyertai satai, meskipun lontong lebih umum.

Selain di Indonesia, ketupat juga dijumpai di Malaysia, Brunei, dan Singapura. Di Filipina juga dijumpai bugnoy yang mirip ketupat namun dengan pola anyaman berbeda. Ada dua bentuk utama ketupat yaitu kepal bersudut 7 (lebih umum) dan jajaran genjang bersudut 6. Masing-masing bentuk memiliki alur anyaman yang berbeda. Untuk membuat ketupat perlu dipilih janur yang berkualitas yaitu yang panjang, tidak terlalu muda dan tidak terlalu tua.



Tradisi ketupat (kupat) lebaran menurut cerita adalah simbolisasi ungkapan dari bahasa Jawa ku = ngaku (mengakui) dan pat = lepat(kesalahan) yang digunakan oleh Sunan Kalijaga dalam mensyiarkan ajaran Islam di Pulau Jawa yang pada waktu itu masih banyak yang meyakini kesakralan kupat. Asilmilasi budaya dan keyakinan ini akhirnya mampu menggeser kesakralan ketupat menjadi tradisi Islami ketika ketupat menjadi makanan yang selalu ada di saat umat Islam merayakan lebaran sebagai momen yang tepat untuk saling meminta maaf dan mengakui kesalahan.

Kalo menurut Ust. Salim A. Fillah lewat twitter:
Kupat; ngaku lepat, mengakui kesalahan. Segala taubat tersusul perbaikan diri, sebagaimana Adam, termula dari hal ini

Oya, ada nama2 unik loh mengenai variasi nama ketupat dari berbagai daerah:
§  bahasa Bali: tipat
§  bahasa Banjar: katupat
§  bahasa Betawi: tupat
§  bahasa Cebu: puso
§  bahasa Filipino: bugnoy
§  bahasa Jawa: kupat
§  bahasa Kapampangan: patupat
§  bahasa Makassar: katupa
§  bahasa Melayu/Indonesia: ketupat
§  bahasa Sunda: kupat
§  bahasa Tausug: ta’mu
§  bahasa Tolitoli: kasipat
§  bahasa Minangkabau: katupek
§  bahasa sasak: topat

Selain ketupat, lewat twitter, Ust. Salim juga membahas mengenai makna lepet dan apem, yuk kita simak…

Lepet: eleke disilep sing rapet, segala cela saudara & sesama hendaklah kita rahasiakan, maka Allahpun menjaga aib kita.





Apem: Akhire Bakal Dipendhem; sejatinya hidup adl u/ beramal; mempersiapkan bekal & pelita bagi sepi & gelapnya kubur.

Berikut variasi apem yang berwarna-warni sekaligus yummy, slllrrrp….







Oke, sampai jumpa dalam berbagi selanjutnya… 
Selasa, 11 September 2012 0 komentar

BATAS TIPIS REALITA DAN UTOPIA


Baiklah, kali ini saya berbagi tentang sebuah realita. Realita mengenai  sebuah dilema memegang idealisme ato mengenyahkannya hingga lantak.

Well, akhir2 ini saya mendapati kenyataan bahwa dunia kampus dan dunia kerja, diantara keduanya ada batas. Batas yang merupakan suatu fase abu-abu. Kenapa? Karena di sanalah kita mulai memutuskan sebenarnya seperti apakah nanti yang kita inginkan. Dalam fase ini, masukan-masukan baik secara internal maupun eksternal sungguh mujarab. Tengok kanan, tengok kiri. Fase infiltrasi secara halus pun menggelinjang masuk ke syaraf-syaraf bawah sadar.

Pada fase abu-abu. Bisa didapati sebuah kumpulan atau bahkan himpunan kepala-kepala yang dipenuhi dengan ekspektasi dan preliminary judgement. Ekspektasi setelah mendapat gelar sarjana akan melanjutkan studi S2/bekerja di sebuah perusahaan yang bonafid/berkarya mandiri/memilih menjadi madrasah pertama bagi anak-anaknya (*yang terakhir dikhususkan untuk wanita). Preliminary judgement adalah apakah saya bisa meraihnya? Kalo tidak, bagaimana? Ato, lebih baik saya menyerah saja?

Pada fase-fase ini, embrio-embrio keputusan mulai kuncup. Dan saat memasuki fase dunia kerja bermekaran. Di sinilah pertarungan antara idealism dan need bertarung hebat.

Idealism yang dikandung semenjak awal  kuliah ato lebih awal dari ini, may be sejak SMP ato bahkan SMA. Lalu need yang dibutuhkan dalam waktu dekat adalah mandiri secara finansial. Yeah, akhirnya memang akan ada batas di antara keduanya: realita dan utopia.

Realita ketika idealism-yang kamu pegang erat-tetap kamu pegang, bahkan makin kenceng.

Utopia ketika idealism yang kamu tanam, semai, siram, pupuk menguap, mengering, gersang, mati ditelan need yang semu itu! Oh, alangkah sedihnya T_T

Dan, kalian bisa memilih menjadikan semua ekspektasi di fase abu-abu itu sebagai realita atau utopia. Kepuasaan gak akan pernah bohong. It works beib :)

Di malam yang sunyi, kudapati berbaris rapi pengejar utopia,
Aku baru saja tahu akan kabar itu,
Dan membuat hatiku sesak,
Aku ada di antara mereka,
Dan beberapa orang yang kukenal baik latar pemahamannya,
Ikut berderet rapi,
SADIS!


Senin, 10 September 2012 0 komentar

Simfoni Hitam: Bait-Bait Lagu, Ku Mengeja Masa


Malam sunyi ku impikanmu
Ku lukiskan kita bersama
Namun selalu aku bertanya
Adakah aku di mimpimu
*courtesy of LirikLaguIndonesia.Net
Di hatiku terukir namamu
Cinta rindu beradu satu
Namun selalu aku bertanya
Adakah aku di hatimu
Reff:
Tlah ku nyanyikan alunan-alunan senduku
Tlah ku bisikkan cerita-cerita gelapku
Tlah ku abaikan mimpi-mimpi dan ambisiku
Tapi mengapa ku takkan bisa sentuh hatimu
Bila saja kau di sisiku
‘kan ku beri kau segalanya
Namun tak henti aku bertanya
Adakah aku di rindumu
Repeat reff
Tak bisakah kau sedikit saja dengar aku
Dengar simfoniku, simfoni hanya untukmu
Repeat reff
Tlah ku abaikan mimpi-mimpi dan ambisiku
Tapi mengapa ku takkan bisa sentuh hatimu



Bait-bait lagu yang dinyanyikan dan dituliskan oleh Sherina Munaf itu memenuhi rongga dadaku, menemaniku di sepanjang perjalanan dinasku dari Jakarta ke Bandung, telak sempurna membuatku gentar dan membuatku terpaksa mengingat seikat harapan yang kuncup di hatiku. Bukannya aku “daun yang jatuh tak pernah membenci angin”-nya Tere Liye yang bertepuk sebelah tangan! Bahkan aku tak tahu, kemana semua ini akan bermuara?

Baiklah, akan kulukiskan perasaan yang menderu,
Perasaan yang membisu,
Perasaan yang tertahan,
Perasaan yang merindu,
Perasaan yang menyanyikan melodi sunyi,
Perasaan yang menunggu

Entah kapan ini akan berujung,
Bersua denganmu adalah impianku,
Biarlah perasaan ini buncah,
Di saat yang tepat
Sampai kita kan bersama sampai ujung waktu

(puisiku_AllegriaMila)

Yang bisa kukatakan pada diriku sendiri. Hidup adalah misteri. Terutama masa depan. Dan masa lalu adalah kenangan. Demikian pula aku. Jangan kau tanya apa dan bagaimana bisa? Kepingan-kepingan itu masih kusimpan dengan rapi di almari memoriku. Tak pudar. Demikian juga momen-momen berharga itu yang kau cungkil begitu saja seperti membangunkan putri yang telah lama tertidur pada suatu masa. Jika hatiku tiada kelu, sirna sudah semua tanyaku atasmu di lorong-lorong pikiranku.

Dan aku, tak kan pernah berhenti untuk memahami siapa diriku dan dirimu. Aku pun paham siapa dirimu. Bahkan tiada ingin ku melihatmu lebih dekat. Siapa pula aku? Dan kau datang. Ada aksi, ada pula reaksi. Hukum alam. Aku mendikte otakku bahwa itu hanyalah bumbu penyedap sebuah persahabatan yang sudah usang dan kau ingin menyemai lembar baru, merekatkannya kembali. Itu pun jika aku tidak salah tebak!

Meminjam istilah Ridwansyah Yusuf Ahmad (@udayusuf):

Anda bisa mencintai seseorang tanpa memimpinnya, akan tetapi Anda tidak akan bisa memimpin seseorang tanpa mencintainya.

Dan aku melengkapi dengan tweet dari salah satu ikhwah kampus kita:

Dan kau tak mungkin membangun semuanya atas dasar emosi. Sekalipun ini diperlukan untuk membuka jalan ceritanya. Maka setelahnya harus ada mahabbah dan mas’uliyah

Aku pun menggenapkannya dengan puisi Salim A. Fillah:

Ada dua pilihan ketika bertemu cinta
Jatuh cinta atau bangun cinta
Padamu, aku memilih yang kedua
Agar cinta kita menjadi istana, tinggi menggapai surga

Jika apa yang kita pikirkan bisa tembus pandang, niscaya malu lah setiap insan ini. Dan aku pun tahu, aku hanya perlu mengeja bait-bait penantian dalam masa yang sudah ditentukan untuk menjemputmu, memantaskan diriku.

Dan terbersit sebuah kemungkinan: jika memang ada hal yang sangat istimewa saat pertama kali kita bertemu. Penantian yang sabit akan berganti purnama. Dan purnama itu bukanlah terminal pemberhentian. Dan pertanyaan ini pun hadir:

Pada engkau yang belum menikah, katakan padaku saat kau rasa nikmatnya pandangan pertama, apa yang terbit di ufuk hatimu? Sudahkah engkau bersegera menunjuk dada dan bertanya,”Akankah ada barakah dalam pernikahan kita?”

Dan saat ini aku belajar dari Salim A. Fillah mengenai mengubah sudut pandangku “Bagaimana mendapatkan dia?” menjadi “Bagaimana saya mempersiapkan pernikahan dengan sukses sehingga mendapatkan yang lebih baik daripada dia dari sisi Allah?”

KepadaNya lah kita memanjatkan harapan :)

*malam yang sunyi yang sedikit  membuatku terusik


Sabtu, 08 September 2012 0 komentar

Resensi Novel “Negeri Para Bedebah” karya Tere Liye: Sebuah Novel Berlatar Krisis Ekonomi 2008




Satu lagi novel karya Tere Liye beredar di toko-toko buku. Novel bersampul merah dengan gambar lelaki berjas berhidung pinokio dan seekor musang berbulu domba sukses menarik perhatian. Apalagi judulnya Negeri Para Bedebah. Dalam hati saya berpikir apakah tidak ada judul yang lebih sopan dan tidak sesarkas ini. Demi menghilangkan rasa penasaran, akhirnya saya membeli novel cetakan pertama Juli 2012 ini.

Kesan pertama yang melekat di benak saya ketika membaca novel Negeri Para Bedebah seperti belajar teori ekonomi, dunia perbankan dan fananya uang... Well, prolog yang menghentak, membuat saya ingin membacanya sampai tuntas... :) Jangan khawatir bagi pembaca yang tidak berlatar fakultas ekonomi. Penjelasan-penjelasan mengenai beberapa hal yang berkaitan dengan teori ekonomi dijelaskan dengan analogi yang mudah dan tidak membosankan. Apalagi Tere Liye adalah dosen FE UI.

Novel ini berlatar krisis ekonomi global tahun 2008 sebagai akibat subprime mortgage yang membuat bank-bank, lembaga keuangan, dan bursa terbesar di dunia tumbang satu per satu dan tinggal menunggu waktu untuk ditutup atau di-bail out oleh pemerintah setempat. Katakanlah: Citigroup; Lehman Brothers; Merril Lynch; Fannie Mae & Freddie Mac; AIG; General Motors; Ford; Chrysler; Bursa New York, London, Frankfurt, Amsterdam, Paris. Hal ini membuat heboh 0,2% penduduk bumi (prinsip pareto).

Novel ini dimulai dengan sebuah wawancara dari wartawan majalah mingguan terbesar di Asia Tenggara (Julia) kepada Thomas (Tommi) yakni tokoh utama di novel ini yang berprofesi sebagai konsultan keuangan terkemuka bahkan menjadi pembicara di sebuah konferensi internasional di London.

“…ketika satu kota dipenuhi orang miskin, kejahatan yang terjadi hanya level rendah, perampokan, mabuk-mabukan, atau tawuran. Kaum proletar seperti ini mudah diatasi, tidak sistematis dan jelas tidak memiliki visi-misi, tinggal digertak, beres. Bayangkan ketika kota dipenuhi orang yang terlalu kaya, dan terus rakus menelan sumber daya di sekitarnya. Mereka sistematis, bisa membayar siapa saja untuk menjadi kepanjangan tangan, tidak takut dengan apapun. Sungguh tidak ada yang bisa menghentikan mereka selain sistem itu sendiri yang merusak mereka.” (Halaman 18)

Tidak bisa dipungkiri bahwa krisis ekonomi global telah membuat perekonomian Indonesia fluktuaktif terutama berpengaruh terhadap bank, lembaga keuangan, dan bursa. Namun, karena fundamental ekonomi Indonesia yang berbeda dengan perekonomian dunia membuat Indonesia bisa bertahan dari krisis walau ada salah satu bank yang terkena dampak krisis ekonomi global yakni Bank Semesta yang dipimpin oleh Om Liem.

Bank Semesta kalah kliring LIMA MILYAR! Padahal hanya lima Milyar namun hal ini sudah membuat rush dan dampak sistemis bagi perbankan di Indonesia. Di sisi lain, tak banyak pihak yang bisa menolong bahkan partner bisnis Om Liem selama ini yakni Tuan Shinpei pun tidak bisa membantu. Bahkan para penguasa dan orang-orang yang berkepentingan atas kekuasaan serta uang sibuk mengais keuntungan di tengah situasi kacau balau dengan melakukan rekayasa-rekayasa.

Novel ini juga dipenuhi dengan flashback yang mengisahkan asal muasal bisnis keluarga Om Liem. Cikal bakal bisnis Om Liem dimulai dari toko tepung terigu Opa. Lalu Om Liem yang cerdik mempunyai ide membuat arisan berantai untuk memperbesar modalnya dengan berhutang kepada pihak-pihak yang ingin berinvestasi. Om Liem menjanjikan pengembalian uang tersebut dengan ditambah bunga. Bisnis Om Liem dan Papa Edward (ayah Thomas) berkembang dengan pesat. Mereka bisa membeli kapal-kapal dan mengimpor barang-barang dagang untuk dijual. Om Liem dan Papa Edward berpartner dengan Tuan Shinpei dalam bisnisnya.

Bisnis yang pesat itu pun hancur dalam sekejap. Terlalu banyak sabotase. Hal tsb membuat limbung bisnis Om Liem dan Papa Edward. Investor meminta uangnya dikembalikan. Mereka berdemo di depan rumah Opa sekaligus rumah Om Liem dan Papa Edward. Lalu datanglah Wusdi (polisi) dan Tunga (jaksa) yang dibayar untuk mengamankan situasi. Wusdi dan Tunga berjanji akan mengurus semua dokumen-dokumen penting dan akan menjual aset untuk membayar hutang kepada investor. Saksikanlah, mereka berkhianat! Dengan tawa licik mereka puas telah menguasai dokumen-dokumen penting tsb dan tentu saja tidak akan memenuhi janjinya kepada Opa dan Papa Edward. Wusdi dan Tunga menyuruh para preman yang telah ikut berbaur berdemo dengan para investor arisan berantai untuk segera melakukan provokasi. Tinggal menunggu waktu, mereka membakar apa saja. Tak terkecuali rumah itu. NAHAS! Papa Edward beserta istrinya tidak bisa melarikan diri dan terbakar. Sementara itu, Opa dan Tante Liem bisa melarikan diri dan selamat. Lalu, dimana Om Liem dalam situasi genting seperti ini? Lalu dimana Thomas?

Mulailah Thomas hidup di asrama, belajar apa saja. Petugas asrama menghapus nama keluarganya demi keamanan. Beberapa bulan kemudian Opa dan Tante Liem datang berkunjung untuk membujuk supaya Thomas pulang. Namun Thomas bersikukuh tak mau kembali. Thomas membenci Om Liem. Tanpa sikap serakah dan keras kepala Om Liem, mungkin tak akan pernah ada kejadian memilukan ini. Di samping itu, Om Liem tak kenal kata menyerah. Akhirnya Om Liem mengakuisisi Bank Semesta 6 tahun lalu. Om Liem juga memiliki tangan kanan yang sangat bisa dipercaya sekaligus Direktur Bank Semesta yakni Ram.

Bank Semesta tak kuasa menghadapi krisis ekonomi global, limbung dan tinggal menunggu waktu untuk ditutup. Sebenarnya sudah sejak lama seharusnya bank ini harus ditutup karena bank ini banyak melanggar prinsip kehati-hatian dan kepatuhan perbankan. Dalam situasi genting, Ram menghubungi Thomas dan mengabarkan kalau rumah Om Liem—perumahan elit di Jakarta—dikepung oleh polisi. Namun belum ditangkap karena kesehatan Tante Liem memburuk. Sebenarnya Thomas sangat membenci Om Liem dan tak pernah bertemu dengan Om Liem semenjak kejadian memilukan itu.

Akhirnya Thomas pun datang dan merencanakan sebuah strategi untuk melarikan Om Liem dengan menempatkan seolah-olah yang ada di ranjang darurat adalah Tante Liem dan segera buru-buru menaikkannya ke ambulans. Lalu bagaimana kelanjutan kisahnya? Gak asik dong kalo dikasitahu semua. Jadi baca novelnya ya….

Selanjutnya, cerita berpilin dari satu pesawat ke pesawat yang lain dan novel ini bergerak hanya dalam waktu DUA HARI! Jadi bisa dibayangkan alurnya benar-benar membuat pembaca menjadi tak sabar untuk segera menuntaskannya.

Apakah Bank Semesta bisa diselamatkan? Lalu, siapa sejatinya pengkhianat Om Liem sekaligus otak dibalik semua sabotase dan kejadian memilukan? Penasaran? Buruan beli novelnya di toko buku terdekat, hehehe….

Overall, Novel Negeri Para Bedebah karya Tere Liye ini recomended banget, keren isinya, penuh kejutan di setiap babnya, klimaks. Kisahnya dipenuhi dengan para mafia dan kayak film action. Keren jika difilmkan! Happy reading :)

Judul: Negeri Para Bedebah
Pengarang: Tere Liye
Tahun Terbit: 2012
Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama
Jumlah Halaman: 433
Kategori: Fiksi
Harga: Rp 60.000,-






oya, mampir ke sini sob: ada novel menarik dari toko buku afra semisal da conspiracao novel berlatar sejarah Islam di Sumbawa, diskonnya pun juga bikin ketagihan. 

http://www.tokobukuafra.com/da-conspiracao-afifah-afra?tracking=513ebafb39e93

Senin, 03 September 2012 2 komentar

One Step Closer: Taman Wisata Alam (TWA) Angke Kapuk (Part 2)


Kali ini, saya akan mengajak sobat untuk mengenal lebih dekat, Taman Wisata Alam (TWA) Angke Kapuk, one step closer.

Taman Wisata Alam (TWA) Angke Kapuk terletak di Kapuk Muara, Pantai Indah Kapuk, Jakarta Utara. TWA Angke Kapuk merupakan wisata alam mangrove. Menurut brosur yang kami terima di loket pintu masuk, deskripsinya sbb:

Taman Wisata Alam (TWA) Angke Kapuk adalah kawasan pelestarian alam yang dimanfaatkan untuk kegiatan wisata alam dan berpusat pada pengembangan ECOTOURISM. Luas Area TWA Angke Kapuk seluas 99,82 Ha. Merupakan type lahan basah yang didominasi vegetasi utama mangrove. Kawasan tersebut telah berubah menjadi tambak dan telah direhabilitasi tanaman mangrove 40% tindakan, pelestarian, dan penanaman kembali hutan mangrove. Di Jakarta sangat dibutuhkan karena fungsi dan manfaatnya yang sangat strategis bagi pesisir pantai ibukota Indonesia, mencegah instruisi air laut ke daratan dan juga berperan dalam meredam bencana banjir karena satu gram lumpur mampu menyerap tiga gram air.

Di TWA ini, kami menemukan vegetasi yang dulu hanya kami hafal ketika masih di bangku SMA seperti api-api (Avicenia sp.), Bidara (Sonnetaria caseolaris), dan bakau (rizhopora mucronata dan rizhopora stylosa). Kami hanya menemukan beberapa spesies fauna seperti ikan dan burung. Selebihnya kami hanya mendengar kecipak-kecipak air yang tersibak. Saya menduga ular air. Well, tak perlu khawatir, jarak air dan jalan yang terbuat dari kayu ini lumayan jauh.



Oh ya, mayoritas pengunjung datang ke wisata ini dengan menggunakan sepeda motor dan mobil. Kami? Cukuplah berjalan kaki dan naik angkot, hoho, modal nekad, pantaslah kami disebut backpacker sejati :p Makin legam, makin eksotis, hehe…

Pengunjung juga bisa menikmati wisata air. Sebagai ilustrasi. Biaya untuk naik perahu dengan kapasitas 6 orang berbiaya Rp 150.000-Rp 200.000. sedangkan Kano Rp 50.000/45 menit. Rencananya kami mau mencoba mendayung dengan kano berdua. Alamak, matahari sangat terik! Dan kami belum makan siang. Walhasil kami urung mencobanya.



Alternative lain pun bisa dicoba misalnya:
1.       Berkemah
Ada tenda permanennya loh buat berkemahmu makin ciamik. Apalagi di dalamnya sudah ada kasur. Berkemah berasa di kamar sendiri. Apalagi toiletnya juga lumayan bersih. Namun biayanya lumayan lah minimal Rp 300.000/camping/malam, dengan spesifikasi untuk 2 orang plus sarapan pagi.

tenda tampak dalam

2.       Pemotretan, pendidikan, dan penelitian
Perlu sobat tahu, jika sobat datang ke TWA ini dengan menggunakan kamera saku atau semacam DSLR dikenakan biaya Rp 500.000 entah pemotretan itu untuk keperluan prewed, pribadi, model professional. Untuk amannya pake aja kamera HP dengan berbagai merek, tidak dipungut biaya alias GRATIS.
3.       Penginapan, pondok alam dan rekreasi keluarga
Bila sobat beserta keluarga ingin menginap, setidaknya minimal menyiapkan uang sebesar Rp 1.300.000/malam/rumah dengan spesifikasi 2 kamar tidur, 1 kamar mandi shower, ruangan AC, makan pagi untuk 4 orang (Pondok Alam Rhizopora 1,2,3)

villa di atas air
4.       Penanaman mangrove
Dengan biaya Rp 150.000 per orang dengan fasilitas buget satu kaos, makan siang, dan 2 pohon bibit mangrove
5.       Penanaman nostalgia
Dengan biaya Rp 500.000/orang dengan fasilitas 1 kaos, 1 pohon bibit mangrove, dan papan nama. Kalo ada papan namanya mah namanya narsis!

Adapun cara mencapai lokasi:
a)      Dari arah tol bandara Soekarno-Hatta, keluar tol arah Kapuk Muara, Pantai Indah Kapuk arah Waterboom, Golf dan Garden House- TWA
b)      Dari Pluit keluar Muara Karang masuk Pantai Indah Kapuk terus ke RS PIK, Waterboom, Golf dan Garden House- TWA
c)       Dari Tol JORR Lingkar Barat keluar Kamal terus ke Jalan kamal Raya, masuk kompleks Elang Laut, PIK arah Waterboom, Golf dan Garden House- TWA

Selamat berlibur, salurkan informasi yang berharga ini untuk sobatmu tercinta. Salam hangat J

pembuat jejak
Minggu, 02 September 2012 0 komentar

Berburu di Belantara Taman Wisata Alam Angke (part 1)


Bagi kami, traveler sejati :D Berburu destinasi wisata yang langka bin ajaib adalah keharusan. Maksudnya langka adalah bukan destinasi wisata yang umum dikunjungi oleh sebagian besar traveler, tetapi juga bukan destinasi wisata yang tidak menarik. Well, hari minggu yang cerah ini, Alhamdulillah kami (saya dan teman saya—Myva) berkesempatan mengunjungi Taman Wisata Alam Angke.

Dengar kata Angke, kesannya kok angker?

Mari kita kulik sejarahnya… asal muasal nama Muara Angke!
1.       Adalah sungai tempat pasukan Tubagus Angke bermarkas kemudian dikenal sebagai Kali Angke dan daerah yang terletak di ujung sungai disebut Muara Angke.
2.       Berasal dari bahasa Hokkian, “ang” yang berarti merah dan “ke” yang berarti sungai/kali. Tahun 1740, Belanda membantai 10.000 orang Tionghoa di Glodok, yang membuat warna air di Kali Angke merah bercampur darah.
3.       Berasal dari kata Sansekerta, “anke”, yang berarti kali yang dalam.

Wow, poin yang ke-2 asal muasal dari Muara Angke ini membuat kami bergidik. MasyaAllah, ini namanya penjajahan emang kejam (genosida). Ok, cukup tahu sobat. Kita bahas traveling aja yuk J

Saya janjian dengan sahabat saya di Stasiun Angke lalu mengisi bahan bakar sebentar dengan buryam :p Lalu kami naik angkot merah BO2 ke arah Jembatan Dua (Rp 2000), oper naik angkot merah lagi BO1 (Rp 3000) ke arah Pizza Hut/Jl. Muara Karang Barat/Kompleks Mediterania—kawasan elit itu loh sob, oper lagi naik U11 angkot warna merah (Rp 3000) ke Taman Wisata Alam Angke.

Rencananya sih kami mau ke Suaka Margasatwa Angke tetapi berhubung kami tak punya ijin masuk dan bukan mahasiswa yang sedang penelitian di situ. Cukup ngelihat-ngelihat aja dan terbelalak ketika tahu sejarah Muara Angke yang terpampang di Papan Informasi. Tak bisa masuk, kami pun tak patah arang dan berniat menuju Taman Wisata Alam Angke yang memang dikomersikan. Gengsi kami tinggi. Jalan kaki rencananya ke Taman Wisata Alam Angke, soalnya katanya 100 meter (menurut mahasiswa yang sedang penelitian mengenai primata di Suaka Margasatwa). Sudah berjalan lama, gak nemu2 tempat yang dimaksud. Saya pun menyangsikan apa kata mahasiswa tersebut, may be dia sudah lupa kali ya jarak 100 meter itu seberapa. Walhasil kami naik angkot dan kami menyimpulkan bahwa jaraknya 2 KM lebih! Bisa gempor nih kaki kalo jalan di siang hari pula…

Kami pun akhirnya bisa berburu di belantara Taman Wisata Alam Angke. Banyak kami temui rombongan-rombongan ataupun pasangan yang mengunjungi tempat ini. Hanya dengan Rp 10.000 saja, Sobat bisa masuk loh….

Nih, aku kasih bocoran kondisi di dalam Taman Wisata Alam Angke

 mangrove_wisata hutan bakau

villa bernuansa alam

buat outbond ringan nih

ayo nyalakan api unggunnya

tenda permanen, siapa yg mau kemah di sini?

menikmati semilir angin di hutan bakau

masjid Al Hikmah yang keseluruhan terbuat dari kayu, subhanallah :)

Sampai jumpa di postingan berikutnya J
Semoga bermanfaat :D

*sebaik-baik manusia adalah yang bermanfaat buat orang lain

 
;