Jumat, 14 September 2012

Beasiswa ITB Untuk Semua


Karya: Ahmad Syamsu Rizal, Bioengineering ITB 2010

Di tengah gelisah-gelisahnya aku mencari kampus, dari akun facebookku ada sebuah pesan dari kakakku. Sebenarnya sekarang belum waktunya untuk pusing-pusing, alasannya sederhana. Terlalu dini untuk mencari atau bahkan mendaftarkan diri ke kampus. Benar juga, bulan ini masih Desember. Masih ada beberapa bulan lagi sebelum benar-benar musimnya mencari kampus.

Mayoritas temanku masih belum memikirkan mau kuliah dimana.

“Ah gampang, ntar aja habis UAN baru nyari kampus,” kata kebanyakan teman-teman.

Ada juga yang berkata begini,“Lagi nikmatin masa-masa indah di SMA, ngapain mikir-mikir kampus yang masih lama. SNMPTN kan masih 6 bulan lagi.”

Aku buka pesan facebook-ku, pesan dari kakak kandung tercinta. Entah mengapa surat menyurat melalui pos sekarang mulai menurun. Kalau tidak terdesak mungkin pakai sms atau email. Sehari langsung terkirim.
Aku buka pesan yang dikirim kakak kandung tercinta. Tidak biasanya dia mengirim pesan, karena biasanya dia mengirim komentar di wall facebook-ku. Mungkin kalau bukan tugas, aku tidak akan buka facebook. Uang adanya cuma pas-pasan. Ngempet bangetlah untuk menjauhi banyak pegeluaran dari internetan.
Akhirnya aku buka pesan yang dikirim kakakku yang dari Surabaya, isinya bahwa ada pendaftaran beasiswa. Dia mendapatkan infonya dari sebuah SMA Negeri di kabupaten Nganjuk.

Beasiswa ITB Untuk Semua.

“Berat euy,” kataku dalam hati.

Aku belum kepikiran kampus mana yang benar-benar aku ingin mendaftar. Sebenarnya dari dulu sudah ingin masuk kampus UI atau ITB Bandung, tapi seakan aku pesimis. Aku takut membuang kesempatan maupun uang untuk sesuatu yang menurutku mendekati mustahil. Pesimis tingkat akut.

Kampus ITB Bandung, menurut tradisi Madrasahku hanya satu orang saja yang kuliah disana. Dia masuk ITB Bandung tahun lalu, sebelumnya nihil sepengetahuanku. Aku seperti memimpikan sesuatu yang aku sendiri tidak tahu mau ngapain disana. Kalau kampus UI lebih parah lagi, belum ada satupun alumni Madrasahku yang sudah masuk sana. Kedua hal itu seolah membuktikan bahwa aku kurang realistis dengan kemampuanku. Di kelas aja aku tidak pernah rangking 10 besar. Sebuah tanda tanya besar di kepalaku.
Tapi masih ada setitik dari lubuk hatiku untuk berani mencoba. Aku harus siap bertempur di medan laga. Kalau mencoba-coba apa salahnya, kalau tidak masuk ya tidak apa-apa. Hibur hatiku yang sukanya hanya mimpi, mimpi kuliah gratis. Aku sadar orang tuaku tergolong kelompok keluarga tidak mampu.

“Zal. Kalau memang ini takdirmu, penuhilah.” Kataku dalam hati.

Kalau aku memang ditakdirkan di sana pasti aku akan ‘tembus’. Kalau mencoba aja sudah takut, mana mungkin kita akan ‘tembus’. Hanya ada 2 kata yang sering membuatku bimbang untuk melakukan sesuatu yang sulit, “tidak mungkin”.

Aku baca pesan itu dari kakak perempuanku dengan seksama, tapi tetap saja aku bimbang. Tidak mungkin.

“Kapan sih kalau kamu bilang mungkin.” Cela hatiku.
“Padahal belum dicoba, sudah mengatakan tidak mungkin.” Aku sebel dengan hatiku yang selalu bertentangan dengan pikiranku. Akhirnya aku mengalah untuk mendengarkan hatiku. OPTIMIS.
OPTIMIS. Kalau memang katut, alhamdulillah. Kalau tidak, coba lagi.

Siang malam terbayang-bayang, sepertinya aku berada di jalur yang salah. Aku tidak pantas megejarnya. Sulit bagi pikiranku untuk menerima ini. Pikiranku selalu muncul pikiran pesimis. Mungkin inilah yang dirasakan oleh anak-anak seumurku. Tapi hal itu lumrah. Mungkin yang perlu diberikan kepada anak seperti aku adalah suntikan motivasi untuk mencoba. Mencoba dengan diawali usaha.
Seperti kata-kata Nelson Mandela.

Vision without action is only a dream.
Action without vision is only merely passing out of time.
But vision with action can definitely change the world.

Terkadang orang punya aksi tapi tidak punya mimpi atau visi yang jelas. Hal itu sangat disayangkan, karena mereka kerja keras tapi tidak mempunyai sebuah arah. Visi maupun mimpi itu sulit dibedakan, hanya beda sedikit. Visi atau mimpi itu adalah sebuah kompas yang mengarahkan kita hingga sampai ke tujuan kita. Jika orang tanpa visi ataupun mimpi, maka dapat dikatakan dia tidak akan sampai ke tujuannya karena mereka sendiri melakukan usaha tapi tidak tahu tujuan dari usaha itu kemana.

Visi ataupun mimpi itu bagaikan alamat tujuan surat. Jika kita tidak menulis alamat tujuan surat, mana mungkin surat itu akan sampai pada tujuannya. Malahan nanti hanya berhenti di kantor pos dan akhirnya di buang ke tempat sampah karena tidak ada alamat yang dituju. Ada juga orang yang punya visi atau mimpi tapi tidak mau aksi atau berusaha. Hal ini seperti pepatah, tong kosong nyaring bunyinya. Apa yang diimpi-impikan hanya sebatas mimpi saja. Dia tidak pernah berusaha untuk mewujudkannya.

Sedangkan jika seseorang mempunyai sebuah mimpi atau visi yang berfungsi penunjuk arah mana tujuan kita dan aksi atau usaha, maka orang ini bisa mewujudkan mimpi atau visinya menjadi kenyataan dan tidak hanya sebatas khayalan yang tidak berujung. Bahkan dia bisa merubah dunia ini dengan usaha dan visinya.

“Pengen daftar aja dibuat pikiran, nggak usah dipikirin kali. Sekarang kerja keras. Buat yang tadinya menurutmu tidak mungkin, jadi mungkin. Dulu aja kamu ingin sekali mengikuti olimpiade kimia, ternyata sekarang mimpimu telah menjadi kenyataan kan?”

Keesokan harinya saat aku ke Madrasah, ternyata sudah banyak anak yang sudah mulai mengirim surat pendaftaran Beasiswa ITB Untuk Semua. Aku cukup telat. Kelamaan berpikir. Tapi kelamaan berpikir adalah suatu usaha kita untuk memikirkan matang-matang apa yang akan kita lakukan, apalagi hal ini berbicara masa depan. Tidak boleh salah pilih. Salah sedikit bisa fatal untuk masa depan kita. Namun, berpikir matang harus ada batasnya. Tidak boleh kelamaan, jika kita hanya memikirkan itu terus bisa-bisa kita kelupaan untuk melakukannya.

Setiap hari berganti orang yang ngobrolin beasiswa ini. Karena beasiswa ini tergolong super cepat, padahal masih bulan November tetapi sudah mulai melakukan perekrutan untuk pendaftaran bagi murid SMA maupun MA untuk daftar. Ternyata aku termasuk yang paling lambat menerima informasi ini, ada yang sudang melengkapi berkas dan mengirimnya ke Bandung 10 hari yang lalu. Sedangkan aku baru mulai mencari berkas-berkas yang diberikan. Pastinya semakin lama semakin mepet dengan deadline. Aku benci deadline. Tapi bagaimana lagi, aku dapat infonya sudah termasuk telat.

Semua berkas yang harus aku kirimkan ke Direktorat Pendidikan kampus ITB mulai aku cari. Mulai surat keterangan tidak mampu dari desa maupun kecamatan. Ada juga disuruh membuat essay yang menurutku sebuah tantangan. Isinya tidak bisa ngasal. Salah sedikit bisa bermasalah karena ini berhubungan dengan kampus sebesar ITB Bandung. Bahasanya harus bagus, sopan, tanpa SARA. Karena hal ini akan mempengaruhi mood pembacanya.

Bapakku yang membantu kesana-kesini mencari berkas-berkas dari desa maupun kecamatan. Untunglah aku tidak disuruh untuk mencari sendiri, karena pada saat ini aku juga sedang masa sekolah bukan masa liburan. Aku merasakan kesulitan dalam membuat essay, ini pertama kalinya aku membuatnya. Apalagi harus ditulis tangan, susahnya minta ampun. Aku berkali-kali membuat coret-coretan tapi ide belum muncul juga. Setelah berkali-kali membuat dan menghabiskan banyak kertas, akhirnya jadilah essay yang menurutku spesial sekali. Essay-ku dalam melamar beasiswa pertamaku. Melamar.

Di essay yang aku tulis aku disuruh menjelaskan tentang keadaan lingkungan sekitarku, bagaimana tentang rumah, keluarga, pekerjaan orang tua. Penggunaan listrik perbulannya juga ditanyain, sampai sedetail itu bertanyanya. Kemungkinan itulah cara untuk menjaring mahasiswa yang memang benar tidak mampu.

Kakakku yang di surabaya adalah penasehat ulungku. Dia yang memantauku untuk terus mengecek email maupun info-info dari web resmi ITB Bandung. Selain itu dia juga mencarikan info tentang Universitas Indonesia.

Aku semakin hari semakin gencar mencari info Beasiswa ITB Untuk Semua maupun mengecek email Yahoo!ku. Aku juga mencari info beasiswa Bidik Misi di kampus tujuanku yang lain, Universitas Indonesia, Institut Teknologi Surabaya, Institut Pertanian Bogor ataupun iseng-iseng nyari tentang Sekolah Tinggi Akutansi Negara walapun seleksinya masih sekitar 8 bulan lagi.

Study while others are sleeping,
Work while others are loafing,
Prepare while others are playing,
And dream while others are wishing.

Itulah kata-kata William Arthur Ward yang menggambarkan kondisi pada saat itu. Ada sebagian teman-temanku yang masih menikmati masa-masa sebelum Ujian Nasional, tapi ada beberapa anak yang sudah mempersiapkan segalanya untuk masuk kampus yang ingin mereka tuju. Itu sebuah pilihan, tidak ada kata baik dan buruk terhadap kedua golongan tersebut. Hidup ini tidak bisa dipaksakan untuk harus ini ataupun harus itu.

Aku biasanya mencari info setelah ngaji kitab di pondok. Mengaji di pondok biasanya sampai jam 20.30. Kalau parah sekali bisa sampai pukul 21.00. Malam ini aku mengaji sampai pukul 21.00. Aku memutuskan untuk mencari info beasiswa bersama temanku Reno. Dia iseng-iseng aku ajak biar aku ada teman. Aku dan Reno hanya mempunyai waktu sekitar 50 menit, pukul 22.00 adalah waktu jam malam pondok. Kalau kelewat, siap-siap untuk tidur diluar saja karena pukul segitu pondok telah dikunci.

Malang bukan kepalang, aku telat sampai ke pondok. Akhirnya aku dan Reno terkunci di luar. Aku bingung sekali, begitu juga Reno. Aku berada dalam kebimbangan. Kalau memanggil santri-santri lain yang berada di lantai 2 pondok bisa kedengaran orang-orang ndalem. Kalau tidak begitu maka harus siap-siap tidur di luar pondok.

Kami tinggal berdua di luar pondok. Reno pun dengan tenang dia memutuskan untuk tidur di sebuah angkringan yang tidak jauh dari pondok. Berharap sebelum Shubuh aku dan dia terbangun dan tidak tertinggal salat subuh berjamaah. Ikut salat Shubuh berjamaah di pondokku adalah sebuah kewajiban bagi tiap-tiap santri, kalau tidak harus siap menerima takzir dari Abah Pondok. Malam yang dingin menusuk sela-sela kulitku, dinginnya malam minta ampun. Aku takut sekali kalau aku masuk angin. Semoga aja tidak.

Targetku minggu ini harus selesai melengkapi semua berkas-berkas yang diperlukan sebelum mengirim surat lamaran beasiswa. Hal ini dikarenakan seminggu lagi sudah memasuki deadline pengumpulan berkas-berkas yang menjadi syarat untuk mendaftar Beasiswa.

Berkali-kali aku salah menulis essay, sehingga aku 3 kali mengganti kertas dan menulisnya kembali. Tidak ada kata capek, apalagi untuk masa depan. Jangan mengatakan kata capek untuk masa depan. Alhamdulillah, lamaranku aku luncurkan tepat pada tanggal 19 Desember 2009. Bukan lamaran pernikahan lo! Lamaran pengajuan Beasiswa ITB Untuk Semua. Berkas-berkasnya yang mengirim adalah Bapak melalui jasa kantor pos.

*bersambung dengan kisah2 mendebarkan lainnya




0 komentar:

Posting Komentar

 
;