Senin, 10 September 2012

Simfoni Hitam: Bait-Bait Lagu, Ku Mengeja Masa


Malam sunyi ku impikanmu
Ku lukiskan kita bersama
Namun selalu aku bertanya
Adakah aku di mimpimu
*courtesy of LirikLaguIndonesia.Net
Di hatiku terukir namamu
Cinta rindu beradu satu
Namun selalu aku bertanya
Adakah aku di hatimu
Reff:
Tlah ku nyanyikan alunan-alunan senduku
Tlah ku bisikkan cerita-cerita gelapku
Tlah ku abaikan mimpi-mimpi dan ambisiku
Tapi mengapa ku takkan bisa sentuh hatimu
Bila saja kau di sisiku
‘kan ku beri kau segalanya
Namun tak henti aku bertanya
Adakah aku di rindumu
Repeat reff
Tak bisakah kau sedikit saja dengar aku
Dengar simfoniku, simfoni hanya untukmu
Repeat reff
Tlah ku abaikan mimpi-mimpi dan ambisiku
Tapi mengapa ku takkan bisa sentuh hatimu



Bait-bait lagu yang dinyanyikan dan dituliskan oleh Sherina Munaf itu memenuhi rongga dadaku, menemaniku di sepanjang perjalanan dinasku dari Jakarta ke Bandung, telak sempurna membuatku gentar dan membuatku terpaksa mengingat seikat harapan yang kuncup di hatiku. Bukannya aku “daun yang jatuh tak pernah membenci angin”-nya Tere Liye yang bertepuk sebelah tangan! Bahkan aku tak tahu, kemana semua ini akan bermuara?

Baiklah, akan kulukiskan perasaan yang menderu,
Perasaan yang membisu,
Perasaan yang tertahan,
Perasaan yang merindu,
Perasaan yang menyanyikan melodi sunyi,
Perasaan yang menunggu

Entah kapan ini akan berujung,
Bersua denganmu adalah impianku,
Biarlah perasaan ini buncah,
Di saat yang tepat
Sampai kita kan bersama sampai ujung waktu

(puisiku_AllegriaMila)

Yang bisa kukatakan pada diriku sendiri. Hidup adalah misteri. Terutama masa depan. Dan masa lalu adalah kenangan. Demikian pula aku. Jangan kau tanya apa dan bagaimana bisa? Kepingan-kepingan itu masih kusimpan dengan rapi di almari memoriku. Tak pudar. Demikian juga momen-momen berharga itu yang kau cungkil begitu saja seperti membangunkan putri yang telah lama tertidur pada suatu masa. Jika hatiku tiada kelu, sirna sudah semua tanyaku atasmu di lorong-lorong pikiranku.

Dan aku, tak kan pernah berhenti untuk memahami siapa diriku dan dirimu. Aku pun paham siapa dirimu. Bahkan tiada ingin ku melihatmu lebih dekat. Siapa pula aku? Dan kau datang. Ada aksi, ada pula reaksi. Hukum alam. Aku mendikte otakku bahwa itu hanyalah bumbu penyedap sebuah persahabatan yang sudah usang dan kau ingin menyemai lembar baru, merekatkannya kembali. Itu pun jika aku tidak salah tebak!

Meminjam istilah Ridwansyah Yusuf Ahmad (@udayusuf):

Anda bisa mencintai seseorang tanpa memimpinnya, akan tetapi Anda tidak akan bisa memimpin seseorang tanpa mencintainya.

Dan aku melengkapi dengan tweet dari salah satu ikhwah kampus kita:

Dan kau tak mungkin membangun semuanya atas dasar emosi. Sekalipun ini diperlukan untuk membuka jalan ceritanya. Maka setelahnya harus ada mahabbah dan mas’uliyah

Aku pun menggenapkannya dengan puisi Salim A. Fillah:

Ada dua pilihan ketika bertemu cinta
Jatuh cinta atau bangun cinta
Padamu, aku memilih yang kedua
Agar cinta kita menjadi istana, tinggi menggapai surga

Jika apa yang kita pikirkan bisa tembus pandang, niscaya malu lah setiap insan ini. Dan aku pun tahu, aku hanya perlu mengeja bait-bait penantian dalam masa yang sudah ditentukan untuk menjemputmu, memantaskan diriku.

Dan terbersit sebuah kemungkinan: jika memang ada hal yang sangat istimewa saat pertama kali kita bertemu. Penantian yang sabit akan berganti purnama. Dan purnama itu bukanlah terminal pemberhentian. Dan pertanyaan ini pun hadir:

Pada engkau yang belum menikah, katakan padaku saat kau rasa nikmatnya pandangan pertama, apa yang terbit di ufuk hatimu? Sudahkah engkau bersegera menunjuk dada dan bertanya,”Akankah ada barakah dalam pernikahan kita?”

Dan saat ini aku belajar dari Salim A. Fillah mengenai mengubah sudut pandangku “Bagaimana mendapatkan dia?” menjadi “Bagaimana saya mempersiapkan pernikahan dengan sukses sehingga mendapatkan yang lebih baik daripada dia dari sisi Allah?”

KepadaNya lah kita memanjatkan harapan :)

*malam yang sunyi yang sedikit  membuatku terusik


0 komentar:

Posting Komentar

 
;