Sabtu, 06 Oktober 2012

Anak-Anak Payung


Hujan mendesis diantara decit rem mobil di perempatan lampu merah,
diantara laju hiruk pikuk kota yang denyutnya masih stabil walau maghrib sudah lama tenggelam dan isya’ menjelang.
Payung-payung berkembang merekah senyum menyambut hujan,
Payung-payung yang rindu hujan sejak kemarau masih asyik menghadang hujan,
Delapan payung elok berbaris dengan empunya di halte busway yang temaram dari kejauhan.
Pohon dan bunga di tepi jalan mulau kuyup bersenandung menyambut hujan semakin deras.
Usahlah lengang jalanan, payung-payung merindukan keramaian hiruk pikuk manusia yang alpa dan seribu dua ribu bisa masuk kantong-kantong anak-anak payung .
Seribu dua ribu yang bisa mengganjal perut yang kemeriuk riang berceloteh menantang desis hujan yang tanpa ampun menghembuskan hawa dingin dan membuat manusia berkemul dengan baju hangat.
Sayangnya, anak-anak payung hanya berbalut kaus oblong dan celana pendek yang kusam.
Anak-anak payung acuh dengan cubitan dinginnya hujan yang tiada mau berhenti di malam yang temaram.
Anak-anak payung masih rapi jali berjejer di sepanjang halte menuju zebra cross dan mereka yakin malam ini takkan buram dan bisa membawa pulang uang untuk makan.


0 komentar:

Posting Komentar

 
;