Sabtu, 06 Oktober 2012

BERSYUKUR ITU……



Hal-Hal yang Membuat Kita Harus Bersyukur

Bersyukur kepada Allah SWT adalah suatu keharusan bagi orang Islam yang beriman karena setiap menit, bahkan setiap detik umat manusia di dunia ini selalu menikmati fasilitas yang dianugerahkan Allah SWT. Tanpa disadari nikmat itu telah melekat sejak manusia terlahir ke alam dunia hingga saat ini. Jantung berdetak, darah mengalir, mata melihat, telinga mendengar. Itu semua adalah sebagaian kecil dari nikmat yang di anugerahkan Allah SWT kepada manusia. Betapa besarnya anugerah nikmat Allah SWT dari mulai yang kecil sampai yang besar, dari yang terlihat mata sampai yang tak terlihat.
Rasulullah SAW bersabda dalam hadistnya, “Manfaatkanlah lima perkara, sebelum (datang) lima perkara lainnya, yaitu : Masa mudamu sebelum datang masa tuamu. Masa sehatmu sebelum datang sakitmu. Masa kayamu sebelum datang fakirmu. Masa hidupmu sebelum matimu. Dan masa senggangmu sebelum datang kesibukanmu.” (HR. Imam Hakim & Baihaqi)
Allah SWT berfirman, “……..Lain syakartum laazidannakum, wa lainkafartum inna ‘adzabii lasyadiid.” “Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya adzab-Ku sangat pedih.” (QS. Ibrahim:7)
Dalam setiap shalat yang kita lakukan bahkan kita selalu melafalkannya melalui do’a Iftitah, “Inna sholati wa nusuki wa mahyaya wa mamati lillaahi rabbil ‘aalaamiin”. “Sesungguhnya shalatku, ibadahku, hidupku dan matiku semua hanya untuk Allah, Penguasa alam semesta.”  Inilah konsep bersyukur sebenarnya.
Dengan bersyukur hati menjadi lapang, tidak ada iri dan dengki. Manusia yang tidak bersyukur jadinya kufur. Syukur dan sabar ibarat dua mata uang yang tidak terpisahkan satu dengan lainnya, oleh karena syukur dan sabar pula sehingga jika seandainya kita melihat orang naik gaji atau naik jabatan kita tak lantas jadi naik tensinya. Allah SWT yang Maha Mengetahui kondisi yang terbaik bagi kita, mungkin kitanya yang memang belum pantas di mata Allah untuk mendapatkan sesuatu yang lebih besar, sehingga Allah SWT menginginkan kita belajar lebih banyak lagi hingga pada saatnya nanti segala sesuatu akan datang tepat pada waktunya. Sebagaimana ungkapan yang sering kita dengar, every good thing happens for those who wait.

Bersyukur Itu….

Bersyukur berarti menggunakan nikmat yang di anugerahkan Allah SWT pada misi pengabdian dan keta’atan kepada-Nya. Imam Nawawi memberikan penjelasan tentang esensi bersyukur : “Hakekat syukur adalah pengakuan atas kenikmatan yang diberikan Allah SWT disertai sikap mengagungkan-Nya”.
Dengan demikian menjadi sebuah keharusan bagi umat manusia untuk senantiasa menumbuhkan rasa syukur didalam dirinya. Sebab dengan bersyukur, maka akan selalu ingat kapada yang telah memberi nikmat (Allah SWT). Pun bisa lebih bijak  menggunakan kenikmatan sesuai dengan fungsi yang sebenarnya.
Untuk dapat bersyukur dengan baik, maka  perlu mengetahui bahwa karunia Allah SWT tidak hanya bersifat materi saja, namun mencakup banyak hal, misalnya kesehatan, kekayaan, keahlian, kesempatan, kemampuan intelektual dan lain sebagainya. Bahkan nikmat terbesar yang telah diberikan Allah SWT adalah hidup dalam keadaan islam dan beriman.
Tapi tahukah Anda bahwa, bersyukur tidak hanya sesuatu yang wajib dilakukan oleh kita yang memiliki iman, tetapi bersyukur adalah juga alat pembuka rejeki dan nikmat yang lebih banyak lagi?
“Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah nikmatKu kepadamu (QS Ibrahim:7)”
Syukur yang membuka pintu rejeki, berkah, anugerah yang lebih besar lagi, membuat Anda bisa merasakan dan menerima kesuksesan yang telah sekian lama Anda cari saat ini juga, adalah perasaan penghargaan dan terima kasih kepada Tuhan, akan apapun yang diberikanNya, dalam semua situasi dan kondisi.

Ungkapan yang Menunjukkan Tidak Bersyukur

Untuk mengetahui bagaimana cara bersyukur yang tepat, sekarang mari kita lihat tanda-tanda yang menunjukkan kebalikan dari orang yang bersyukur:
1. Mengeluh
Setiap jenis keluhan entah itu yang diutarakan dengan bercanda, apalagi yang serius, adalah ciri tipisnya atau bahkan tidak adanya rasa syukur. Dan ini tidak hanya meliputi keluhan terhadap kondisi personal, diri dan badan kita sendiri, tetapi juga keluhan terhadap kondisi lingkungan, masyarakat dan negara.
2. Mengecil-ngecilkan nikmat yang telah diberikan Tuhan
Misalnya, kalimat-kalimat macam ini: Ah, gajiku sih kecil... Ah, biasa saja... Rumahku kan gubug ini, lain dengan rumahmu... Ayo kita makan seadanya saja ya... dsb.

3. Kikir

Ya, kikir adalah juga satu tanda tidak bersyukurnya seseorang. Dia merasa bahwa yang dia miliki masih kecil jumlahnya, sehingga tidak mau berbagi atau sulit berpisah dengannya. Atau dia khawatir, cemas, dan takut tidak akan mendapat lagi, sehingga merasa harus menyimpan-nyimpan untuk diri sendiri.

4. Menginginkan apa yang menjadi milik orang lain

Ada orang yang kerjanya lapar mata terus. Tidak pernah puas. Apapun yang dimiliki orang lain, ingin dia miliki juga, bahkan dengan penuh rasa persaingan. Dia tidak bisa melihat orang lain maju tanpa sekilas perasaan iri atau dengki menyelimuti.
Adapun tempat yang yang layak bagi orang kufur (kafir) adalah neraka Jahanam bersama orang-orang munafik, seperti yang tercantum dalam surah an-Nisa [4] ayat 140. Hal ini sejalan dengan kandungan surah al-A’raf [7] ayat 179, yang artinya: “Dan sesungguhnya kami jadikan untuk isi neraka Jahanam kebanyakan dari jin dan manusia, mereka mempunyai hati, tetapi tidak menggunakannya untuk memahami (ayat-ayat Allah) dan mereka mempunyai mata, (tetapi) tidak digunakan untuk melihat (tanda-tanda kekuasaan Allah), dan mereka mempunyai telinga, (tetapi) tidak dipergunakannya untuk mendengar (ayat-ayat Allah). Mereka itu laksana binatang ternak, bahkan lebih sesat lagi. Mereka itulah orang-orang yang lalai.”

Cara simpel untuk Bersyukur

Terdapat beragam cara maupun bentuk perwujudan rasa syukur kita kepada Allah SWT, diantaranya adalah :

  1. Mengucapkan “Alhamdulillah”
  2. Melalui amal perbuatan yakni dengan melakukan amal shalih, memakai hijab, membahagiakan keluarga, bekerja, ibadah, dan  lain-lain.
  3. Berterimakasih, jika perantaranya adalah manusia
  4. Melihat kepada yang lebih kurang dari kita
  5. Berbagi kepada sesama
Didalam QS. Ar-Rahman, berkali-kali disebutkan, “Fabiayyi ‘alaa i-rabbikumaa tukadz-dzibaan. Maka nikmat Tuhan-Mu yang manakah yang kamu dustakan?”
Allah Swt memperhatikan hamba-hamba-Nya yang bersyukur, sebagaimana janji Allah SWT dalam firman-Nya, “Ingatlah kepada-Ku, Aku juga akan ingat kepada kalian. Dan bersyukurlah kepada-Ku, janganlah kalian kufur.” (Qs. Al-Baqarah : 152)
Andai ada seseorang mencoba untuk menghitung nikmat Allah SWT, tentu akan kehabisan angka dan kemampuan karena nikmat Allah SWT tak terhingga banyaknya.
Dalam surat lain Allah SWT pun berfirman, “Dan jika kamu menghitung-hitung nikmat Allah, niscaya kamu tak dapat menentukan jumlahnya. Sesungguhnya Allah benar-benar Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.”(QS. An-Nahl : 1)
Sungguh kebenaran ayat tersebut sama sekali tidak dapat disangkal. Betapa banyaknya nikmat Allah SWT yang di anugerahkan kepada umat manusia. Sementara mereka hanya mampu memuji, mensucikan dan mengagungkan atas kemaha besaran-Nya. Ungkapan itu membuktikan bahwa umat manusia di alam dunia ini adalah makhluk yang dha’if, sekaligus merupakan pengakuan dan kesadaran sebagai manusia yang harus mengabdi (beribadah) hanya kepada Allah SWT semata.
Diantara pembuktian dalam merealisasikan rasa syukur kapada Allah SWT adalah dengan jalan menggunakan umur, harta benda, kesehatan dan lain sebagainya untuk kemaslahatan diri sendiri, keluarga, masyarakat, bangsa dan Negara atas dasar mengharap ridlo Allah SWT. Dengan pembuktian syukur yang benar, maka Allah SWT memberi jaminan akan menambah kenikmatan yang lebih banyak lagi serta terhindar dari Adzab-Nya yang pedih.
Kapan harus bersyukur, mungkin kita pun terkadang gamang menjawabnya. Setiap tahunkah, setiap bulankah, setiap minggukah, setiap jam, menit atau detik?. “Dalam setiap nafas dari seluruh nafas ada syukur yang wajib atasmu”, begitu jawaban Imam Ja’far Ash-Shadiq dalam kitabnya Mashaabihu Asy-Syarii’ah”.
Imam Al-Ghazali menjelaskan bahwa cara bersyukur kepada ALLAH SWT terdiri dari empat komponen.
1. Syukur dengan Hati
Syukur dengan hati dilakukan dengan menyadari sepenuhnya bahwa nikmat yang kita peroleh, baik besar, kecil, banyak maupun sedikit semata-mata karena anugerah dan kemurahan ALLAH.
ALLAH SWT berfirman, “Segala nikmat yang ada pada kamu (berasal) dari ALLAH”. (QS. An-Nahl: 53)
Syukur dengan hati dapat mengantar seseorang untuk menerima anugerah dengan penuh kerelaan tanpa menggerutu dan keberatan, betapa pun kecilnya nikmat tersebut. Syukur ini akan melahirkan betapa besarnya kemurahan da kasih sayang ALLAH sehingga terucap kalimat tsana’ (pujian) kepada-NYA.
2. Syukur dengan Lisan
Ketika hati seseorang sangat yakin bahwa segala nikmat yang ia peroleh bersumber dari ALLAH, spontan ia akan mengucapkan “Alhamdulillah” (segala puji bagi ALLAH). Karenanya, apabila ia memperoleh nikmat dari seseorang, lisannya tetap memuji ALLAH. Sebab ia yakin dan sadar bahwa orang tersebut hanyalah perantara yang ALLAH kehendaki untuk “menyampaikan” nikmat itu kepadanya.
Al pada kalimat Alhamdulillah berfungsi sebagi istighraq, yang mengandung arti keseluruhan. Sehingga kata alhamdulillah mengandung arti bahwa yang paling berhak menerima pujian adalah ALLAH SWT, bahkan seluruh pujian harus tertuju dan bermuara kepada-NYA.
Oleh karena itu, kita harus mengembalikan segala pujian kepada ALLAH. Pada saat kita memuji seseorang karena kebaikannya, hakikat pujian tersebut harus ditujukan kepada ALLAH SWT. Sebab, ALLAH adalah Pemilik Segala Kebaikan.
3. Syukur dengan Perbuatan
Syukur dengan perbuatan mengandung arti bahwa segala nikmat dan kebaikan yang kita terima harus dipergunakan di jalan yang diridhoi-NYA. Misalnya untuk beribadah kepada ALLAH, membantu orang lain dari kesulitan, dan perbuatan baik lainnya. Nikmat ALLAH harus kita pergunakan secara proporsional dan tidak berlebihan untuk berbuat kebaikan.
Rasulullah SAW menjelaskan bahwa ALLAH sangat senang melihat nikmat yang diberikan kepada hamba-NYA itu dipergunakan dengan sebaik-baiknya. Rasulullah SAW bersabda, “Sesungguhnya ALLAH senang melihat atsar (bekas/wujud) nikmat-NYA pada hamba-NYA. (HR. Tirmidzi dari Abdullah bin Amr)
Maksud dari hadits di atas adalah bahwa ALLAH menyukai hamba yang menampakkan dan mengakui segala nikmat yang dianugerahkan kepadanya. Misalnya, orang yang kaya hendaknya menampakkan hartanya untuk zakat, sedekah dan sejenisnya. Orang yang berilmu menampakkan ilmunya dengan mengajarkannya kepada sesama manusia, memberi nasihat dsb. Maksud menampakkan di sini bukanlah pamer, namun sebagai wujud syukur yang didasaari karena-NYA. ALLAH SWT berfirman, “Dan terhadap nikmat Tuhanmu, hendaklah engkau nyatakan (dengan bersyukur)”. (QS. Adh-Dhuha: 11)
4. Menjaga Nikmat dari Kerusakan
Ketika nikmat dan karunia didapatkan, cobalah untuk dipergunakan dengan sebaik-baiknya. Setelah itu, usahakan untuk menjaga nikmat itu dari kerusakan. Misalnya, ketika kita dianugerahi nikmat kesehatan, kewajiban kita adalah menjaga tubuh untuk tetap sehat dan bugar agar terhindar dari sakit.
Demikian pula dengan halnya dengan nikmat iman dan Islam. Kita wajib menjaganya dari “kepunahan” yang disebabkan pengingkaran, pemurtadan dan lemahnya iman. Untuk itu, kita harus senantiasa memupuk iman dan Islam kita dengan sholat, membaca Al-Qur’an, menghadiri majelis-majelis taklim, berdzikir dan berdoa. Kita pun harus membentengi diri dari perbuatan yang merusak iman seperti munafik, ingkar dan kemungkaran. Intinya setiap nikmat yang ALLAH berikan harus dijaga dengan sebaik-baiknya.
Seperti kata Harun Yahya: Hidup dan nasib, bisa tampak berantakan, misterius, fantastis, dan sporadis, namun setiap elemennya adalah subsistem keteraturan dari sebuah desain holistik yang sempurna. Menerima kehidupan berarti menerima kenyataan bahwa tak ada hal sekecil apapun terjadi karena kebetulan. Ini fakta penciptaan tak terbantahkan.
Semoga kita senantiasa menjadi hamba-hamba yang senantiasa bersyukur atas nikmat Allah yang bertebaran di setiap detik, menit, jam, hari, tahun, dan hidup kita. Aamiin….

Disadur dari berbagai sumber

0 komentar:

Poskan Komentar

 
;