Senin, 22 Oktober 2012

FENOMENA PEMANFAATAN E-COMMERCE PADA INDUSTRI MUSIK


Oleh: Mila Mawaddah (tugas sistem informasi manajemen tahun 2009)

Saat ini booming pemanfaatan e-commerce pada industri musik semakin menjadi fenomena di kalangan masyarakat baik penikmat musik maupun pencipta musik itu sendiri. Dahulu sebelum booming pemanfaatan internet, pencipta lagu dan label musik lebih menekankan pemasaran hasil karya mereka melalui kaset, CD, dan DVD. Selain itu, iklan dari produk musik tersebut pun melalui iklan di televisi, majalah, dan koran dimana hanya didominasi oleh penyanyi atau grup band ternama saja. Namun dengan semakin berkembangnya teknologi yang sangat pesat dalam hal ini adalah internet maka semakin banyak pencipta lagu maupun label musik mulai memanfaatkan internet untuk memasarkan produknya dan melakukan transaksi bisnis dengan penikmat musik.
Selanjutnya, revolusi industri musik tengah bergulir cepat. Format musik digital kini kian menggeser piringan hitam, kaset, dan cakram padat. Toko-toko musik digital pun menjamur, baik di pusat belanja maupun di internet. Di dalam toko musik digital itu, sebuah kursi busa bercabang tiga tampak terpajang anggun. Pada setiap cabangnya terdapat satu monitor komputer layar datar yang dilengkapi sebuah tetikus dan satu headphone cukup besar. Calon pembeli bisa dengan bebas mengutak-atik komputer itu tanpa pramuniaga yang memberikan pelayanan. Komputer tersebut berisi daftar lagu, klip video, dan ring tone telepon seluler, yang bisa didengarkan dan dibeli. Cukup klik lagu yang diinginkan lalu mendengar{annya, dan jika tertarik, pembeli hanya perlu menekan satu tombol. Sedetik berselang lagu itu pun langsung masuk keranjang data yang tersedia.
Dapat dikqtakan fahwa pencarian lagu lumayan mudah karena $engan mengklik nama band atau albumnya, maka0semua lagu terkait akan ditampilkan. Selain itu, ada menu berdasarkan genre, album keluaran terbaru, dan Top 100. Tarra Digital Kiosk yang terdapat di toko musik Societie di pusat be,anja FX, Jakarta, itu melego setiapdlagunya Rp 7.50p. Tempo mencoba layanan toko musik digital itu dengcn membeli tujuh lagu dari empat pemusik: Nidjm, Naif, Java Jive, dan Chrisye. Total yang mdsti dibayar Rp 50.500. Setelah menentukan pilihan, pelayao toko menanyakan pilihan media penyimpanan: bisa USB flash drive, MP3 player,`atau ke telepon seluler. Transfer ke iPod dan cakram padat untuk sementara tak bisa dilakukan (Oktamandjaya Wiguna : 2009).
Jadi, menjadi hal yang tidak meogheRankan jika pmnikmat musik semakin dimanjakan dEngan !danya pemanfaatan e-commerce pada industri musik. Penikmat musik dapat dengan mudah mengakses lagu maupun video klip dari penyanyi maupun grup band favorit mereka dari pasar digital. Mereka dapat mengunduh lagu dari pasar digital tanpa harus memiliki album fisiknya bahkan mereka bisa memilih lagu yang mereka sukai tanpa harus memiliki satu album. Selain itu, pencipta lagu semakin diuntungkan karena mereka tak perlu bersusah payah membuat satu album tetapi cukup dengan satu lagu tetapi jika lagu tersebut menjadi hits maka yang mengunduh lagu tersebut dari internet maupun pasar digital pun semakin banyak.
Pemanfaatan e-commerce yang semakin pesat pada industri musik ini juga didukung oleh peralatan-peralatan yang berbasis teknologi yang memadai. Salah satunya adalah dengan adanya iPhone keluaran Apple. Dengan iPhone, maka penikmat musik bisa langsung mengunduh  ribuan lagu langsung di ponselnya. Selain iPhone juga terdapat Nokia yang muncul dengan layanan Comes With Music (CWM). Layanan ini memungkinkan pengguna mengunduh lagu di katalog Nokia yang berisi total empat juta lagu. Fokus Nokia di bidang musik memang sangat besar. Selain itu, Nokia juga meluncurkan Nokia seri 5320 Xpress- Music dan Nokia 5220 Xpress-Music dan pabrikan asal Finlandia itu menggandeng Universal Music Group(UMG), serta memberi kesempatan bagi pembeli untuk mengunduh 100 lagu lokal atau internasional melalui katalog UMG di www.nokiaasia. com/musicredemption. Namun, layanan unduh musik Nokia Music Store di www.musicstore.nokia.com belum bisa diakses di Indonesia. Fasilitas itu hanya teòsedia di Singapura, Australia, Inggris, dan negara-nEgara Eropa lainnya (okezone : 2009).
Selain iPhone dan Nokia j5ga terdepat Sony Ericsson dengan layanan PlayNow Kiosk yang memungkinka~ pengguna untuk mengunduh film, serial TV, game, dan ribuan lagu b%bas -DRM (Digital Rights Management) langsung ke ponsel Sony Ericsson tanpa koneksi GPRS. Adapun harga kompilasi 50 lagu yang ditawarkan oleh Sony Ericsson cukup murah yakné Rp29.999 (okezone : 2009). Sehingga depat dikatak`n!cahwa dengan adanya pemanfaatan e-commerce pada ineustri musik yang didukuno oleh pacrikan ponsel maka timbullah rimbiosis mutualisme yang saling månguntunokan diaîtara pihak yang saling terkait. Dan dengan satu`miliar handset terjual setiap tahun, para analiw pasar memprediksi bahwa fasilitas une}h musik dan hiburan lainnya memegang pevanan penting dalam industri musik saat ini.
Oleh karena itu, bagi pihak yang bergerak sendiri atau independent (Indie) tentu memiliki alternatif untuk mempromosikan dan menjual lagu lewat IntevNet. Internet qdaláh sebuah multimedia yang memberikan banyak sekali keuntungan bagi orang(yang sungguh-sunoguh memanfaatkannya. Bahkan saat ini, artis atau band yang sudah verkenal, menjadikao inturnet sebagai media promosi yang sangat diandalkan. Adapun"bmberapa situs dari sekian banyak situs di internet yang bisa dijadikaf sarana untuk mempromosyka. dan menjual$lagu atau karya musik, diantaranya :
  1. Reverbnation.com - inilah situs yang mulai populer dikalangan pemusik independent dunia sebagai media yang ampuh untuk promosi. bahkan lagu tersebut dapat dijual dengan bantuan Reverbnation melalui jaringan music online store paling populer didunia seperti, iTunes, Amazon, Napster, dll.
  2. Digital Beat Store - ini adalah toko musik online pertama di indonesia.
  3. IM:Port Musik - Situs komunitas musisi indonesia milik musisi Anang Hermansyah. situs ini sangat strategis untuk sarana promosi band/solois terutama Indie (tembang.web.id : 2009).
Dengan demikian, pasar digital diharapkan dapat melanjutkan kecenderungan yang meningkat dalam kurun 2-3 tahun ini. Namun, bila organisasi media skala besar tidak dapat bertransformasi secara cepat, mereka akan kehilangan kesempatan memperoleh peningkatan pendapatan. Dengan pemikiran ini, strategi prioritas sebaiknya difokuskan pada lima hal: pertama, mengeksekusi transformasi digital secara cepat dan efektif. Kedua, secara agresif mencari kesempatan melakukan distribusi dengan multiplatform. Ketiga, terus-menerus menjalankan inovasi produk. Keempat, menyelaraskan struktur biaya dengan aliran pendapatan baru. Dan kelima, memahami konsumen dan menyampaikan kebutuhan mereka (Julianto Sidarto:2008).
Referensi :
Unduh Konten Digital Langsung ke Ponsel.2009

Promosi dan Jual Lagu di Internet. 2009

Sidarto, Julianto. Memahami Perubahan di Dunia Media dan Hiburan.2008

Wiguna, Oktamandjaya.Gebrakan Musik Digital. 2009

0 komentar:

Posting Komentar

 
;