Jumat, 09 November 2012

BAB I SKRIPSI PENGARUH INTELLECTUAL CAPITAL TERHADAP KINERJA KEUANGAN PERUSAHAAN DALAM INDEKS LQ45 DI BEI PERIODE 2005-2009


BAB 1
PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang Permasalahan

Selama zaman industrialisasi, organisasi dihitung melalui aset fisik dan sumber daya alam sebagai sumber kekayaan. Tanah, gedung, dan properti menjadi sangat penting. Tetapi, dengan adanya knowledge-based economy, atau juga disebut the new economy, memaksa globalisasi telah berkembang dengan sangat pesat sehingga pengetahuan dan komunikasi telah menjadi sumber daya kritis suatu organisasi. Revolusi atau transformasi ke dalam globalisasi, komputerisasi dan teknologi informasi telah menjadi penting untuk pengakuan intellectual capital atau aset tak berwujud dalam laporan keuangan organisasi (Gan dan Saleh, 2008).

Sementara itu, globalisasi, inovasi teknologi dan persaingan yang ketat pada abad ini memaksa perusahaan-perusahaan mengubah cara mereka menjalankan bisnisnya. Agar dapat terus bertahan dengan cepat perusahaan-perusahaan mengubah dari bisnis yang didasarkan pada tenaga kerja (labor-based business) menuju knowledge based business (bisnis berdasarkan pengetahuan), dengan karakteristik utama ilmu pengetahuan (Sawarjuwono, 2003). Ketika ekonomi berkembang menuju knowledge-based economy, arus informasi dari banyak sumber dan channel menjadi tanpa batas. Kemampuan dari organisasi untuk manajemen pengetahuan secara efektif menjadi syarat sukses dan inovasi (Widen-Wulff & Suomi, 2007 dalam Ngah & Abdul, 2009).

Sejak tahun 1990-an, perhatian terhadap praktik pengelolaan aset tidak berwujud (intangible assest) telah meningkat secara dramatis (Harrison dan Sullivan, 2000 dalam Ulum, 2008). Salah satu pendekatan yang digunakan dalam penilaian dan pengukuran intangible assest tersebut adalah intellectual capital (IC) yang telah menjadi fokus perhatian dalam berbagai bidang, baik manajemen, teknologi informasi, sosiologi, maupun akuntansi (Petty dan Guthrie, 2000; Sullivan dan Sullivan, 2000 dalam Ulum, 2008).

Tidak dapat dipungkiri bahwa intellectual capital telah menjadi faktor krusial dalam membantu perusahaan untuk memperoleh keunggulan kompetitif (Gan dan Saleh, 2008). Di sisi lain, menurut para peneliti (Edvinsson dan Malone, 1997; Stewart, 1997; Pulic, 1998; Pulic, 1999 dan Sveiby, 2000 dalam Gan & Saleh, 2008) menyatakan bahwa ukuran tradisional dari kinerja perusahaan yang didasarkan pada prinsip akuntansi konvensional tidak cocok untuk knowledge-based economy yang dipicu oleh intellectual capital. Mereka selanjutnya menyatakan bahwa kegunaan ukuran tradisional menyebabkan investor membuat keputusan ekonomi yang kurang tepat.

Implementasi modal intelektual merupakan sesuatu yang masih baru, bukan saja di Indonesia tetapi juga di lingkungan bisnis global, hanya beberapa negara maju saja yang telah mulai untuk menerapkan konsep ini, contohnya Australia, Amerika dan negara-negara Skandinavia. Pada umumnya kalangan bisnis masih belum menemukan jawaban yang tepat mengenai nilai lebih apa yang dimiliki oleh perusahaan. Nilai lebih ini sendiri dapat berasal dari kemampuan berproduksi suatu perusahaan sampai pada loyalitas pelanggan terhadap perusahaan. Nilai lebih ini dihasilkan oleh modal intelektual yang dapat diperoleh dari budaya pengembangan perusahaan maupun kemampuan perusahaan dalam memotivasi karyawannya sehingga produktivitas perusahaan dapat dipertahankan atau bahkan dapat meningkat (Sawarjuwono dan Kadir, 2003).

Walaupun sudah terjadi peningkatan perhatian terhadap praktik pengelolaan intellectual capital, namun menurut Abidin (2000) dalam Kuryanto (2008), intellectual capital masih belum dikenal secara luas di Indonesia. Sampai dengan saat ini, perusahaan-perusahaan di Indonesia cenderung menggunakan conventional based dalam membangun bisnisnya sehingga produk yang dihasilkannnya masih miskin kandungan teknologi. Disamping itu, perusahaan-perusahaan tersebut belum memberikan perhatian lebih terhadap human capital, structural capital, dan customer capital. Padahal, semua ini merupakan elemen pembangun intellectual capital perusahaan. Simpulan ini dapat diambil karena minimnya informasi tentang intellectual capital di Indonesia. Selanjutnya, Abidin (2000) dalam Kuryanto (2008) menyatakan bahwa perusahaan-perusahaan di Indonesia akan dapat bersaing apabila menggunakan keunggulan kompetitif yang diperoleh melalui inovasi-inovasi kreatif yang dihasilkan oleh intellectual capital perusahaan. Hal ini akan mendorong terciptanya produk-produk yang semakin favourable di mata konsumen.

Menurut Gunasekaran et al., (1996) dalam Ngah & Abdul (2009), intellectual capital merupakan pengetahuan organisasi yang perlu diatur supaya meyakinkan bahwa pengetahuan itu sungguh berharga. Intellectual capital menyediakan struktur, sistem, strategi dan budaya (Afuah, 2003 dalam Ngah & Abdul, 2009) sebagai awalan dari inovasi.

Abeysekera (2006) dalam Mardliyah (2009) menyebutkan bahwa modal intelektual dapat mengalihkan fokus manajemen dari pengelolaan aset yang berwujud kepada aset yang tidak berwujud (intangible assets). Hal ini disebabkan aset tidak berwujud tercermin dalam modal intelektual atau modal pengetahuan (knowledge capital) yang melekat dalam ketrampilan, pengetahuan, dan pengalaman, serta dalam sistem dan prosedur organisasional, dapat meningkatkan proses penciptaan nilai (value creation process). Proses penciptaan nilai inilah yang menghasilkan sebuah keunggulan kompetitif yang berkelanjutan (sustainable competitive advantage) dan memberikan gambaran informasi mengenai prospek pertumbuhan perusahaan di masa yang akan datang (Memorandum of The Danish Trade and Industry Development Council, 1997 dalam Mardliyah, 2009).

Perkembangan ekonomi baru dikendalikan oleh informasi dan pengetahuan, hal ini membawa sebuah peningkatan perhatian pada modal intelektual atau intellectual capital (IC) (Stewart, 1997; Hong, 2007 dalam Kuryanto, 2008). Area yang menjadi perhatian sejumlah akademisi dan praktisi adalah manfaat dari IC sebagai alat untuk menentukan nilai perusahaan (Hong, 2007; Guthrei, 2001 dalam Kuryanto, 2008). Penelitian IC menjadi sebuah tantangan yang patut dikembangkan.

Bontis et al. (2000) dalam Ulum (2008) menyatakan bahwa secara umum, para peneliti mengidentifikasi tiga konstruk utama dari IC, yaitu: human capital (HC), structural capital (SC), dan customer capital (CC). Menurut Bontis et al. (2000) dalam Ulum (2008), secara sederhana HC merepresentasikan individual knowledge stock suatu organisasi yang direpresentasikan oleh karyawannya. HC merupakan kombinasi dari genetic inheritance; education; experience, and attitude tentang kehidupan dan bisnis.

Lebih lanjut Bontis et al. (2000) dalam Ulum (2008) menyebutkan bahwa SC meliputi seluruh non-human storehouses of knowledge dalam organisasi. Termasuk dalam hal ini adalah database, organisational charts, process manuals, strategies, routines dan segala hal yang membuat nilai perusahaan lebih besar daripada nilai materialnya. Sedangkan tema utama dari CC adalah pengetahuan yang melekat dalam marketing channels dan customer relationship dimana suatu organisasi mengembangkannya melalui jalannya bisnis (Bontis et al., 2000 dalam Ulum, 2008).

Menurut Pulic (1998) dalam Solikhah (2010), tujuan utama dalam ekonomi yang berbasis pengetahuan adalah untuk menciptakan value added. Sedangkan untuk dapat menciptakan value added dibutuhkan ukuran yang tepat tentang physical capital (yaitu dana-dana keuangan) dan intellectual potential (direpresentasikan oleh karyawan dengan segala potensi dan kemampuan yang melekat pada mereka). Lebih lanjut Pulic (1998) dalam Solikhah (2010) menyatakan bahwa intellectual ability (yang kemudian disebut dengan VAIC™) menunjukkan bagaimana kedua sumber daya tersebut (physical capital dan intellectual potential) telah secara efisiensi dimanfaatkan oleh perusahaan.


Bertolakbelakang dengan meningkatnya pengakuan IC dalam mendorong nilai dan keunggulan kompetitif perusahaan, pengukuran yang tepat terhadap IC perusahaan belum dapat ditetapkan. Misalnya, Pulic (1998; 1999; 2000) dalam Ulum (2008) tidak mengukur secara langsung IC perusahaan, tetapi mengajukan suatu ukuran untuk menilai efisiensi dari nilai tambah sebagai hasil dari kemampuan intelektual perusahaan (Value Added Intellectual Coefficient – VAIC™). Komponen utama dari VAIC™ dapat dilihat dari sumber daya perusahaan, yaitu physical capital (VACA – value added capital employed), human capital (VAHU – value added human capital), dan structural capital (STVA – structural capital value added).

Penelitian ini berusaha mengukur pengaruh intellectual capital (dalam hal ini diproksikan dengan VAIC™) terhadap kinerja keuangan perusahaan dalam indeks LQ45 yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia periode 2005-2009. Pemilihan model VAIC™ sebagai proksi atas IC mengacu pada penelitian Firer dan William (2003); Chen et al. (2005); dan Tan et al. (2007) dalam Ulum (2008). Kinerja keuangan yang digunakan adalah profitabilitas ROA, rasio pendapatan terhadap total aset (ATO), dan pertumbuhan pendapatan (GR). Pemilihan indikator kinerja tersebut mengacu pada penelitian Ulum (2008) dan sedangkan teknis analisis mengacu kepada penelitian Gan & Saleh (2008).

1.2. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang masalah yang telah dijabarkan di atas maka dapat ditarik suatu rumusan masalah dalam penelitian ini adalah : “Bagaimana pengaruh Intellectual Capital terhadap kinerja keuangan perusahaan dalam indeks LQ45 yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia periode 2005-2009?”


Note:
Teruntuk dua orang yang sangat spesial dalam hidupku yaitu Ibu Siti Fatmawati dan Bapak Abdul Wahab, B.A. yang selalu memberi doa, dukungan, dan motivasi yang sangat berharga kepada penulis dalam
menyelesaikan masa studinya.
Teruntuk adikku pejuang tangguh: Ahmad Syamsu Rizal (SITH ITB 2010) dan Ahmad Amru Nasrulloh, tetap semangat meniti ilmu, semoga ilmunya barokah dan kelak bisa menjadi salah satu pemuda pembangun bangsa ini. Amin...

http://isba.ictwatch.com

for more info: mila_mwd@yahoo.com

0 komentar:

Posting Komentar

 
;