Selasa, 25 Desember 2012 0 komentar

Resolusi Untuk Negeri 2013


Resolusi Untuk Negeri 2013, dari nama acaranya udah horror dulu ya? Untuk Negeri pula… Hmmm, setelah melepas baju sebagai mahasiswa, saya belum pernah lagi terjun ke masyarakat. Lah ini acara judulnya resolusi untuk negeri?


Tanggal 16 desember 2012, sekitar 1 pekan yang lalu saya dan teman saya Richa mengikuti Resolusi  Untuk Negeri 2013 yang diadakan oleh Komunitas Sukses Mulia. Sebenarnya yang mengajak saya buat ikut ya si Richa ini :D Kami sama2 menjadi follower kakek jamil Azzaini. Jadi, saya langsung mau pas diajak. Acaranya dilaksanakan di Aula Garda Oto Jl. TB Simatupang Jaksel. Yang datang banyak banget sampai banyak yang gak dapat tempat duduk. Total peserta di atas 150 dari berbagai usia, mulai anak-anak SD (diajak emak n bapaknya kali ya), anak SMA, anak kuliah, karyawan, entrepreneur, dokter, pengusaha(Mas mono, pemilik Kebab Baba Ravi).

Sempat kaget juga karena tiba2 ada penganugerahan Indonesia Social Challenge. Yakni sebuah lomba membuat proposal program yang bermanfaat buat masyarakat, berikut pemenangnya:
Juara 1: Halal Android System karya Syahri Utama, Hadiah: Paket 55 Juta (Franchise Baba Ravi)
Sebuah system yang memberikan informasi mengenai restoran terdekat
Juara 2: Sustainable Baby Plan karya Aan Supriyatna
Setiap lahir 1 bayi, ortunya akan menanamkan 1 pohon untuknya yang akan sama2 tumbuh berkembang
Juara 3: Tong Sampah Motivasi karya Musfito


Trus juga ada sosialisasi SOS (satu Orang Satu) yakni sebuah program CSR dari suatu usaha. Misal, setiap terjual 1 busana muslim lengkap, maka akan disedekahkan 1 kerudung, subhanallah banget kan? Ini nih, niru matematika sedekah. Makin banyak sedekah, makin banyak pula rezekinya J Saya jadi pengen segera buka usaha nih…

Setelah penganugerahan kepada para pemenang, lalu ada sedikit prolog dari Pak Jamil yang selalu energik dan atraktif… Beliau bilang, yang bisa menyebabkan kita bebas finansial adalah melalui pendidikan dan bisnis.

Lalu disambung membahas tentang proposal (resolusi) hidup supaya kita terus bergerak, terus berkarya, dam tidak malas… yang ke depannya, apa yang kita pikirkan akan mempengaruhi hormon-hormon kita J
Selanjutnya membacakan resolusi dari masing-masing peserta ke depan kelompok masing-masing. Ada yang hampir nangis pas bacanya….

Saya pun membuat resolusi untuk diri saya, keluarga, dan masyarakat.
Tahun 2013 adalah tahun membuka usaha HALAL dan SUKSES MULIA menuju kebebasan finansial dan terlepas dari status cukup menjadi “buruh”. Bismillah, pasti bisa!


0 komentar

Kaleidoskop 2012: Cinta


Mengingatmu, bagai membuat gunung-gunung kemungkinan,
Kemungkinan yang mungkin itu sebuah fatamorgana,
Atau mungkin juga kemungkinan akan menjadi bersama…

Masa lalu, mungkin memang kita pernah dipertemukan.
Membentuk romantisme-romantisme.
Musim telah berganti,
Tak terasa aku merasa semakin jauh,
Waktu dan jarak telah memisahkan,
Mungkin kau pernah memupuk harapan atasku waktu itu,
Harapanmu membuatku rindu, rindu atas romantisme
Romantisme yang bisa aku hitung dengan jari-jari tanganku,
Walau aku sadar, tiada genap 10 biji, tapi ternyata itu membekas dan meninggalkan jejak yang aku baru sadari 7 musim kemudian, yang ternyata kau menyimpannya dengan rapi, yang kemudian membuatku sadar, ternyata itu berharga buatmu, dan sekarang juga buatku
Tetapi apalah pula penting semua itu

Semua telah berbeda,
Penyesalan tiada lagi berguna

Jikalau semua ini akan begini adanya
Mungkin ikhlaslah yang akan menjadi pelipur
Bukan berarti putus asa
Tetapi menerima untuk waktu ini,
Menerima kenyataan yang memisahkan karena keadaan dan pilihan

Jikalau, semua telah ditakdirkan
Kunci-kunci rahasia kehidupan telah terbuka satu-satu
Kita akan tersenyum
Masa lalu akan menjadi kenangan
Kenangan yang indah untuk dikenang


Jumat, 21 Desember 2012 0 komentar

Sweet Memories With My Ibuk


Waktu masih SD
Ibuk selalu perhatian kepada anak-anaknya. Pernah suatu ketika, Ibuk pernah memarahi aku dan Rizal. Kami biasa bertengkar karena berebut mainan bahkan makanan. Bagai kucing dan tikus. Tetapi setelah Ibuk marah, kami ‘terpaksa’ akur. Dan aku sadar waktu itu, aku memang sangat keras kepala dan tak mau mengalah kepada adikku.

Waktu aku kelas 3 SD dan mengalami kecelakaan sehingga harus berhenti sekolah selama 3 bulan karena tangan kiri retak. Ibuk selalu sabar untuk menyuapiku, menyiapkan segala keperluanku, dan merasa bersalah karena mengajakku berbelanja berakibat petaka.

Saat krisis 1998 melanda Indonesia, bahkan harga beras pun naik dari Rp 500,- menjadi Rp 2.000,- sungguh memberatkan kami. Keluarga kami keluarga petani. Ibuk tak punya uang dan hanya bisa menanak nasi berlauk sambal kelapa buat kami sekeluarga dan beliau tak mengeluh. Ibuk bilang,”Sudahlah, semua masyarakat Indonesia pasti keadaannya juga susah seperti kita.”

“Padahal sekian persen masyarakat Indonesia kan kaya,”gumamku setelah aku beranjak memahami sedikit mengenai perekonomian Indonesia, semenjak di bangku SMA.

Kata-kata Ibuk pun berulang setiap ada krisis, setiap ada inflasi yang gak ketulungan, setiap keuangan keluarga lagi seret. Bahkan saat harga cabai menembus harga Rp 100.000/kg, kata-kata ajaib itu pun muncul dan aku tak bisa berargumen lagi, speechless!

Waktu SMP
Raut mukanya berseri-seri, Ibuk mengambil rapot-ku. Beliau memamerkan senyum bahagia karena aku hampir selalu rangking 1 di kelas dan meraih rangking parallel di sekolahku. Beliau tak pernah menuntut anaknya supaya juara satu. Beliau hanya ingin anaknya menikmati setiap proses pembelajaran dengan hati riang.

Setiap mau ujian, Ibuk akan selalu memasakkan nasi plus telor ceplok atau dadar untuk aku dan adikku dengan alasan supaya kami pintar (nutrisi otak terpenuhi). Kebiasaan ini berlanjut sampai aku SMA.

Waktu SMA
Ketika aku sakit&tertidur, Ibuk datang mencium keningku. Hal ini sangat jarang dilakukan (mungkin terakhir kali pas aku balita). Pasti beliau sangat khawatir. Waktu itu, aku sakit batuk pilek parah, badan panas, padahal sedang kelas 3, waktu padat-padatnya belajar… Tengah malam datang menghampiri, mengecek kalau terjadi apa-apa denganku, tak kenal lelah.

Waktu Kuliah
Ibuk selalu bilang kepadaku,”Nak, Ibuk tak punya apa-apa, Ibuk hanya bisa mendoakanmu sehabis sholat 5 waktu dan tahajud, semoga kuliahmu lancar. Ibuk sekarang sholat Dhuha dan baca Al Ma’tsurat, Nduk.”

Saat Ini
Ibuk selalu memiliki hati yg luas untuk memaafkan kesalahan anaknya, keinginannya sangat sederhana, supaya kami terbebas dari belitan finansial, tetapi terkadang pemikiranku terlalu rumit sehingga membuatnya terluka. Namun, akhir-akhir ini, beliau sering meminta maaf kepadaku, jika ada kata-kata yang salah kepadaku. Padahal, ketika umurku sudah hampir seperempat abad, aku belum mampu membahagiakannya… Semoga Ibuk selalu sehat dan selalu dalam penjagaan terbaik dariNya. Aamiin….

Happy Mother Day J

*ketika diri ini belum mampu berbuat lebih untuk Ibuk
Kemang, Jakarta Selatan, 21 Desember 2012


Sabtu, 15 Desember 2012 0 komentar

BIOGRAFI ASMA' BINTI ABU BAKAR



Mulia, cerdas dan pantang menyerah. Begitulah sejarah peradaban Islam mencatat sosok wanita pejuang bernama Asma binti Abu Bakar ash-Shiddiq.  

Muslimah yang lahir 27 tahun sebelum hijrah itu adalah putri Khalifah Abu Bakar RA. Mujahidah yang usianya lebih tua 10 tahun dibandingkan Aisyah RA itu dikenal sebagai seorang yang dermawan.

Asma adalah saudari istri Rasulullah, Aisyah RA, namun berbeda ibu. Ia adalah saudara kandung Abdullah bin Abu Bakar. 

Putri Abu Bakar itu termasuk salah satu wanita di Kota Makkah yang pertama masuk Islam. Setelah 17 sahabat mengucap dua kalimah syahadat, Asma pun kemudian membaiat Rasulullah SAW.

Pengabdian dan pengorbanan Asma membela agama Allah SWT begitu besar. Tak heran jika ia digelari ''Dzatun Nithaqaini” (wanita yang memiliki dua selendang).  

Alkisah, ketika Rasulullah SAW dan Abu Bakar bersiap-siap untuk hijrah di malam hari, dengan penuh kecintaan terhadap Islam dan Rasul-nya, ia menyobek selendangnya menjadi dua helai. Helai pertama digunakannya untuk menutupi tempat makan atau bekal Rasulullah SAW dan sisanya untuk menutupi kepalanya. 

Ketika terjadi peperangan antara kaum Muslimin dan penduduk Syam, mereka mengolok-olok putra Asma yang bernama Abdulah Ibnu Zubair dengan julukan "Dzatun Nithaqain".

Seusai pertempuran, Abdullah menanyakan julukan itu kepada sang bunda. Asma pun membenarkan julukan yang diberikan kepadanya itu, ''Demi Allah, itu adalah benar." 

Begitulah pengorbanan dan kecintaan Asma untuk agama dan Rasul yang mengajarkan pada jalan kebaikan.

Asma memang dikenal sebagai pribadi yang sangat Islami. Ia bahkan merelakan ayahnya menyumbangkan seluruh hartanya demi tegaknya agama Allah SWT.  

Pada saat hijrah, Abu Bakar membawa seluruh hartanya yang berjumlah sekitar 5.000 hingga 6.000 dinar. 

Lalu kakeknya yang buta, Abu Quhafah datang kepada Asma. Abu Quhafah berkata, “Demi Allah, sungguh aku mendengar bahwa Abu Bakar telah meninggalkanmu pergi dengan membawa seluruh hartanya?''

Mendengar pertanyaan itu, Asma berkata, '''Sekali-kali tidak, wahai, Kakek!  Sesungguhnya, beliau telah menyisakan buat kami harta yang banyak.'' 

Kemudian Asma mengambil batu-batu dan meletakkannya di lubang angin, tempat ayahnya pernah meletakkan uang itu. Kemudian dia menutupinya dengan selembar baju.

Setelah itu Asma memegang tangan kakeknya dan berkata, "Letakkan tangan Kakek di atas uang ini." 

Sang kakek pun merasa lega. "Kalau memang dia telah meninggalkan harta untukmu,  maka dia telah berbuat baik. Ini sudah cukup bagi kalian." 

Kemuliaan akhlak Asma itu telah menenangkan rasa gundah di hati sang kakek. Padahal, yang sebenarnya, Abu Bakar tidak meninggalkan sekeping dinar pun bagi keluarganya. Namun, Asma mengikhlaskannya. Ia tak menuntut harta dari sang ayah. 

Bahkan, ketika Zubair bin Awwam meminangnya, Asma tak menuntut apa-apa. Ia menerima Zubair yang tak memiliki apa pun, kecuali seekor kuda. 

Dengan penuh keikhlasan, Asma memberi makan kudanya dan mencukupi kebutuhan serta melatihnya. Ia menumbuk biji kurma untuk makanan kuda, memberinya air minum dan membuat adonan roti.

Suatu ketika Zubair bersikap keras terhadapnya, lalu Asma datang kepada ayahnya dan mengadu. 

Abu Bakar pun berkata, “Wahai anakku, sabarlah! Sesungguhnya apabila seorang istri bersuami seorang yang saleh, kemudian suaminya meninggal dunia, sedang istrinya tidak menikah lagi, maka keduanya akan berkumpul di surga."

Asma pun sempat datang kepada Nabi SAW, lalu bertanya, "Wahai, Rasulullah, tak ada sesuatu yang berharga di rumah saya kecuali kuda yang dibawa Zubair. Bolehkah saya memberikan sebagian pendapatan saya kepadanya?''

Nabi SAW menjawab, "Berikanlah sesuai kemampuanmu dan janganlah bakhil, sehingga orang lain akan bakhil terhadapmu."  

Asma adalah Muslimah yang sangat dermawan. Para sahabat mengakuinya. Abdullah bin Zubair berkata, "Tidaklah kulihat dua orang wanita yang lebih dermawan daripada Aisyah dan Asma."

Kedermawanan mereka berbeda. Aisyah suka mengumpulkan sesuatu dan setelah banyak lalu dibagikannya. Sedangkan Asma tidak menyimpan sesuatu untuk besoknya. Asma adalah seorang wanita yang dermawan dan pemurah. Saat menderita sakit, Asma lalu membebaskan semua hamba sahayanya.

Asma juga merupakan Muslimah pejuang yang tangguh. Ia sempat ikut dalam Perang Yarmuk bersama suaminya, Zubair, dan menunjukkan keberaniannya. Umar bin Khattab RA sangat menghormati Asma. Ketika menjadi khalifah, ia memberi tunjangan untuk Asma sebanyak 1.000 dirham.

Asma pun meriwayatkan 58 hadis dari Nabi SAW. Selain itu, ia juga dikenal sebagai wanita penyair dan pemberani yang mempunyai logika dan bayan. Ia tetap melakukan syiar Islam di usianya yang sudah lanjut.  

Suatu saat putranya, Abdullah, datang menemui ibunya, Asma yang buta dan sudah berusia 100 tahun. Abdullah berkata kepada ibunya, "Wahai Ibu, bagaimana pendapatmu  mengenai orang yang telah meninggalkan aku, begitu juga keluargaku." 

Asma berkata, "Jangan biarkan anak-anak kecil Bani Umayyah mempermainkanmu. Hiduplah secara mulia dan matilah secara mulia. Demi Allah, sungguh aku berharap kamu mengakhiri kehidupan ini dengan baik." 

Sungguh Asma adalah teladan bagi para Muslimah.  

Catatan:
-       Pertempuran Yarmuk (Arab: معركة اليرموك) adalah perang antara Muslim Arabdan Kekaisaran Romawi Timur pada tahun 636. Pertempuran ini, oleh beberapa sejarawan, dipertimbangkan sebagai salah satu pertempuran penting dalam sejarah dunia, karena dia menandakan gelombang besar pertama penaklukan Muslim di luar Arab, dan cepat masuknya Islam ke Palestina,Suriah, dan Mesopotamia yang rakyatnya menganut agama Kristen. Pertempuran ini merupakan salah satu kemenangan Khalid bin Walid yang paling gemilang, dan memperkuat reputasinya sebagai salah satu komandanmiliter dan kavaleri paling brilian di zaman Pertengahan. Pertempuran ini terjadi pada masa pemerintahan Umar bin Khattab, khalifah Rasyidin kedua.
-       Dalam perang Yarmu' semua prajurit tertidur karena kelelahan yang teramat sangat. Sang komandan Abu Ubaidah bin Jirah tidak mau membebani prajuritnya yang sudah sangat lelah agar berjaga-jaga. Sehingga meski seorang komandan, beliau sendiri yang melakukan tugas penjagaan. Ternyata beliau melihat Asma binti Abu Bakar dan sekelompok putri muslimah tengah berjaga-jaga di sekitar perkemahan. Mereka semua menghunus pedang. Sungguh suatu pemandangan yang sangat indah, seorang panglima besar dan putri khalifah bersama-sama melakukan tugas jaga.


SUMBER:
-       REPUBLIKA
-       WIKIPEDIA
-       HIDAYATULLAH



mampir ke sini sob: ada novel menarik dari toko buku afra semisal da conspiracao novel berlatar sejarah Islam di Sumbawa, diskonnya pun juga bikin ketagihan. 

http://www.tokobukuafra.com/da-conspiracao-afifah-afra?tracking=513ebafb39e93

Rabu, 05 Desember 2012 0 komentar

Selaksa Warna, Selaksa Cinta


Warna putih dan hitam membatas garis yang tegas,
Tetapi mengapa warna abu yang berpendar dan membuat silau,
Apa yang sebenarnya terjadi?
Warna abu semakin pekat memenuhi ruang kedamaianku, menyesakkan.
Inginnya aku hapus saja abu jadi putih.
Tapi siapa di sini yang punya kuasa?
Aku hanya bisa berusaha dan berdoa.
Akan ku hapus sebisaku, sampai  ruh dan jasad terlepas, kataku lirih.
Dengan cintaku padaNYA yang tergenggam di jantungku.


0 komentar

Senandung Rintik Hujan


Rintik hujan ini,
Membawa lari pandangan mataku yang tiba-tiba buram,
Membawa lari hatiku yang karam,
Seburam kaca yang tempias oleh cipratan hujan malu-malu,
Menghela nafas tertahan,
Melodi masa lalu berputar menari  menyudutkan hati,
Tiada sangka akan seperti ini.

Aku termangu, berharap kesalahan ini bisa terhapus oleh hujan yang semakin rata.
Waktu pun tiada berhenti menahan laju semua proses hidup ini.

Aku berkesah dalam hati, menyeringai, namun apa yang bisa aku upayakan?
Tanganku terlalu kecil untuk menahan semua ini.

Aku sadar…
Sudah ada yang menggariskan.
Dia, Sang Maha Besar.

Kuhela nafas satu-satu, berdiri, menghadapi tantangan dengan tegap.


 
;