Jumat, 21 Desember 2012

Sweet Memories With My Ibuk


Waktu masih SD
Ibuk selalu perhatian kepada anak-anaknya. Pernah suatu ketika, Ibuk pernah memarahi aku dan Rizal. Kami biasa bertengkar karena berebut mainan bahkan makanan. Bagai kucing dan tikus. Tetapi setelah Ibuk marah, kami ‘terpaksa’ akur. Dan aku sadar waktu itu, aku memang sangat keras kepala dan tak mau mengalah kepada adikku.

Waktu aku kelas 3 SD dan mengalami kecelakaan sehingga harus berhenti sekolah selama 3 bulan karena tangan kiri retak. Ibuk selalu sabar untuk menyuapiku, menyiapkan segala keperluanku, dan merasa bersalah karena mengajakku berbelanja berakibat petaka.

Saat krisis 1998 melanda Indonesia, bahkan harga beras pun naik dari Rp 500,- menjadi Rp 2.000,- sungguh memberatkan kami. Keluarga kami keluarga petani. Ibuk tak punya uang dan hanya bisa menanak nasi berlauk sambal kelapa buat kami sekeluarga dan beliau tak mengeluh. Ibuk bilang,”Sudahlah, semua masyarakat Indonesia pasti keadaannya juga susah seperti kita.”

“Padahal sekian persen masyarakat Indonesia kan kaya,”gumamku setelah aku beranjak memahami sedikit mengenai perekonomian Indonesia, semenjak di bangku SMA.

Kata-kata Ibuk pun berulang setiap ada krisis, setiap ada inflasi yang gak ketulungan, setiap keuangan keluarga lagi seret. Bahkan saat harga cabai menembus harga Rp 100.000/kg, kata-kata ajaib itu pun muncul dan aku tak bisa berargumen lagi, speechless!

Waktu SMP
Raut mukanya berseri-seri, Ibuk mengambil rapot-ku. Beliau memamerkan senyum bahagia karena aku hampir selalu rangking 1 di kelas dan meraih rangking parallel di sekolahku. Beliau tak pernah menuntut anaknya supaya juara satu. Beliau hanya ingin anaknya menikmati setiap proses pembelajaran dengan hati riang.

Setiap mau ujian, Ibuk akan selalu memasakkan nasi plus telor ceplok atau dadar untuk aku dan adikku dengan alasan supaya kami pintar (nutrisi otak terpenuhi). Kebiasaan ini berlanjut sampai aku SMA.

Waktu SMA
Ketika aku sakit&tertidur, Ibuk datang mencium keningku. Hal ini sangat jarang dilakukan (mungkin terakhir kali pas aku balita). Pasti beliau sangat khawatir. Waktu itu, aku sakit batuk pilek parah, badan panas, padahal sedang kelas 3, waktu padat-padatnya belajar… Tengah malam datang menghampiri, mengecek kalau terjadi apa-apa denganku, tak kenal lelah.

Waktu Kuliah
Ibuk selalu bilang kepadaku,”Nak, Ibuk tak punya apa-apa, Ibuk hanya bisa mendoakanmu sehabis sholat 5 waktu dan tahajud, semoga kuliahmu lancar. Ibuk sekarang sholat Dhuha dan baca Al Ma’tsurat, Nduk.”

Saat Ini
Ibuk selalu memiliki hati yg luas untuk memaafkan kesalahan anaknya, keinginannya sangat sederhana, supaya kami terbebas dari belitan finansial, tetapi terkadang pemikiranku terlalu rumit sehingga membuatnya terluka. Namun, akhir-akhir ini, beliau sering meminta maaf kepadaku, jika ada kata-kata yang salah kepadaku. Padahal, ketika umurku sudah hampir seperempat abad, aku belum mampu membahagiakannya… Semoga Ibuk selalu sehat dan selalu dalam penjagaan terbaik dariNya. Aamiin….

Happy Mother Day J

*ketika diri ini belum mampu berbuat lebih untuk Ibuk
Kemang, Jakarta Selatan, 21 Desember 2012


0 komentar:

Posting Komentar

 
;