Sabtu, 23 Juni 2012 0 komentar

Kau, Aku, dan Sepucuk Angpau Merah (Revisi)


Kau, Aku, dan Sepucuk Angpau Merah-Tere Liye

Kau, Aku, dan Sepucuk Angpau Merah adalah novel ke-5 yang saya baca setelah membaca beberapa novel Tere Liye mulai dari Hafalan Sholat Delisa, Bidadari-Bidadari Surga, Moga Bunda Disayang Allah, dan Pukat-Serial Anak-Anak Mamak. Tere Liye termasuk penulis yang produktif. Novel ini adalah salah satu dari ke-17 karyanya yang telah dipublikasikan.

Umurku dua belas, duduk di lorong rumah sakit menangis sendirian terisak. Di ruangan berjarak sepuluh meter dariku., Bapak memutuskan menunaikan kebaikan terakhir. Aku selalu tahu—sebagaimana seluruh penduduk tepian Kapuas tahu—Bapak adalah orang baik yang pernah kukenal. Aku tidak tahu apakah ubur-ubur yang membuatnya meninggal atau pisau bedah dokter. (Halaman 16)

Novel ini diawali dengan prolog asal muasal cerita ini bermula. Dari anak laki-laki berumur 12 tahun yang yatim hingga akhirnya menjadi bujang. Dia adalah Borno, bujang dengan hati paling lurus di sepanjang tepian Kapuas mewarisi sifat Bapaknya yang mendonorkan jantungnya untuk seseorang yang tak dikenalnya. Akhirnya, semenjak Bapak Borno meninggal, Borno menjadi bujang yang mandiri. Selepas SMA, dia bekerja serabutan, mulai dari kuli pabrik karet yang sangat bau, penjaga pintu masuk di dermaga pelampung, hingga operator SPBU.

“Kau tahu Borno. Tempat bekerja kau sebelumnya, meski bau, membuat orang lain menutup mulut saat kau lewat, hasilnya wangi. Halal dan baik. Dimakan berkah, tumbuh jadi daging kebaikan. Banyak orang yang ngantornya wangi, sepatu mengilat, baju licin disetrika, tapi boleh jadi busuk dalamnya. Dimakan hanya menyumpal perut, tumbuh jadi daging keburukan dan kebusukan,” Ibu memberi komentar…. (Halaman 42)

Dan disinilah sebenarnya inti cerita novel ini mulai berjalan. Setelah melalui konflik bathin, Borno memutuskan menjadi pengemudi sepit, walau melanggar wasiat Bapak. Bila menyebut sepit, apa yang terbayang di benak kalian?
                                                                                                                              
Sepit (dari kata speed) adalah perahu kayu, panjang lima meter, lebar satu meter, dengan tempat duduk melintang dan bermesin tempel. (Halaman 10)

Hari pertama mengemudi sepit, banyak penumpang yang kurang percaya terhadap kapasitas Borno. Namun anehnya, ketika semua penumpang turun dari sepitnya, masih ada penumpang yang tersisa, bertahan di sepitnya. Penumpang itu adalah gadis peranakan Cina—sendu menawan berbaju kurung warna kuning—yang tanpa sengaja meninggalkan amplop berwarna merah di dasar sepit Borno. Sebenarnya hal yang lazim jika penumpang sepit melemparkan uang di dasar sepit karena itu adalah upah untuk pengemudi sepit. Berhubung Borno berpikir bahwa barang yang tertinggal di sepit itu adalah surat penting maka Borno berusaha untuk mencari pemilik amplop merah itu. Pencarian dimulai!

Gayung bersambut. Petugas timer membawa kabar gembira untuk Borno mengenai gadis sendu menawan. Gadis itu membagi-bagikan amplop kepada pengemudi sepit dan pedagang di sekitar dermaga dengan dibantu anak-anak SD. Borno berusaha menemuinya. Borno sadar,  ternyata amplop merah itu hanyalah angpau. Bukan surat penting seperti yang dia pikirkan selama dua hari ini. Akhirnya Borno hanya menyimpannya dan terlampau malu untuk mengembalikan.

Probabilitas untuk berjumpa itu ternyata terbuka lebar. Seperti filosofi Law of Attraction, siapa yang berusaha, semesta pun akan mendukung untuk mewujudkannya. Gadis sendu menawan itu selalu datang ke dermaga sepit pukul tujuh lebih seperempat, tidak kurang dan tidak lebih. Hal ini dimanfaatkan oleh Borno. Borno selalu mengantri sepit di urutan tiga belas. Bahkan sering meminta kepada Bang Jauhari atau Pak Tua untuk bertukar posisi dengannya. Cara ini pun sukses, gadis itu selalu menumpang sepitnya. Borno semakin punya banyak kesempatan untuk mengenalnya. Setelah mencuri-curi dengar pembicaraan Ibu-Ibu penumpang sepit dan gadis itu. Borno jadi tahu bahwa gadis itu bekerja di yayasan, pengelola salah satu sekolah swasta ternama di kota Pontianak.

Tak disangka, gadis sendu menawan itu meminta tolong Borno untuk mengajarinya mengemudi sepit ketika mereka bertemu di Istana Kadariah. Pucuk dicinta ulam pun tiba. Alangkah senang hati Borno, dia pun menyanggupi. Akhirnya Borno mengajarinya mengemudi sepit. Perlu waktu lama bagi Borno untuk mengetahui nama gadis sendu menawan itu. Ternyata namanya Mei, seperti nama bulan saja.

Sampai akhirnya, perpisahan pertama itu tak terelakkan. Gadis itu kembali ke Surabaya karena masa magang mengajarnya telah selesai. Saat Borno benar-benar rindu pada Mei. Takdir itu pun datang menjumpai Borno. Pak Tua harus mengikuti terapi alternatif ke Surabaya. Pak Tua mengajak Borno turut serta. Di Surabaya, Borno ingin menjumpai Mei. Parahnya, Borno tak tahu alamatnya. Terbersit ide untuk menelepon ke semua nomor di buku telepon atas nama Papa Mei (Sulaiman) hingga ia harus berdiri berjam-jam dan menghabiskan banyak uang receh. Nihil.  Tak disangka, disaat hampir putus asa. Mei muncul di ruang tunggu klinik alternatif mengantar sang nenek.  

Pak Tua, Borno, dan Mei jalan-jalan di Surabaya mengunjungi banyak tempat. Pak Tua meminta Borno untuk mengantar Mei pulang ke rumahnya. Alih-alih bahagia, ternyata nestapa datang menghampiri. Ketika Borno sedang menunggu di ruang tamu di rumah Mei sedang mengambil kaus untuk Borno sehabis kehujanan. Muncul sosok peranakan Cina berwajah tegas dengan sorot mata tajam, Papa Mei “satpam rumah yang galak”.

”Kau seharusnya tidak mengantar Mei pulang. Kau hanya akan membawa pengaruh buruk bagi Mei.” (Halaman 224)

Lalu, apa maksud dari kata Papa Mei kepada Borno ini? Borno menyadari bahwa sesungguhnya mereka memang berbeda.

Kisah ini semakin mencapai klimaksnya ketika Borno bertemu dengan kenangan lama yang pernah dia temui di lorong rumah sakit saat Bapak Borno meninggal. Gadis bermata hitam bening yang riang, siapa dia? Bagaimana dengan Mei yang tidak menepati janji dan menghilang begitu saja? Gadis sendu menawan itu menghadiahkan buku terbaik tentang mesin untuk Borno. Padahal sebelumnya, pukul tujuh lewat seperempat selalu menjadi saat yang menyenangkan bagi Borno, 23 jam 45 menit menunggu semalaman ditukar dengan kebersamaan 15 menit di atas sepit di pagi hari. Maka kita lihat, apakah aliran perasaan itu akan semakin membesar hingga tiba di muara atau habis menguap di tengah perjalanan?

“…..Perasaan itu tidak sesederhana satu tambah satu sama dengan dua. Bahkan ketika perasaan itu sudah jelas bagai bintang di langit, gemerlap indah tak terkira, tetap saja dia bukan rumus matematika. Perasaan adalah perasaan.” (Halaman 354-355)

Walau Borno sering berasumsi dengan perasaannya, dia adalah bujang yang beruntung memiliki ‘keluarga’ yang selalu menyemangatinya. Pak Tua yang bijak, penuh wawasan, tidak mengggurui, petuahnya yang filosofis namun tetap sederhana, Pak Tua bagai peri bagi Borno. Andi adalah sahabat Borno yang usil tapi baik hati. Bang Togar adalah ketua PPSKT (Persatuan Pengemudi Sepit Kapuas Tercinta) yang keras, galak minta ampun tetapi lembut hatinya. Koh Acong dan Cik Tulani yang sangat setia kawan bagai keluarga sendiri. Bang Jauhari yang suka mengupil dan sering menyoraki jikalau Mei menumpang di sepit Borno.

Membaca kisah ini, sekilas mirip dengan kisah cinta Ikal kepada A ling di novel Laskar Pelangi-nya Andrea Hirata walaupun konteks ceritanya sangatlah berbeda. Tere Liye mengemasnya dengan apik dan sangat manusiawi. Seperti novel-novel Tere Liye sebelumnya, bahasa yang digunakan dalam novel ini sederhana, mudah dipahami namun sarat makna. Alur maju dengan irama yang rancak dipilih dalam novel ini membuat pembaca tak sabar untuk segera menyelesaikan tiap bagiannya. Latar yang disampaikan jelas dan mampu membawa pembaca benar-benar berada di tempatnya.

Adapun kekurangan yang masih saya temui ketika membaca novel ini adalah typo. Ada yang kurang tanda petik penutup kalimat langsung, salah ketik huruf dan beberapa kata yang tidak sempurna yang sedikit mengganggu namun tidak mengurangi makna dari setiap kalimatnya. Yang sedikit menggelitik adalah mengenai cover yakni mengapa gadis sendu menawannya tidak memakai baju kurung warna kuning seperti selalu diceritakan di novel ini, tetapi malah warna coklat yang dipilih? Serta cover yang dominan warna oranye, padahal Borno dan Mei sering berjumpa di dermaga sepit ketika pagi hari, saat setiap orang berangkat untuk beraktivitas.

Overall, novel ini sangat layak diapresiasi! Walau ceritanya sederhana, namun mempesona, kaya akan makna dan nilai yang terselip di setiap sudut-sudut bab dan dialog para tokohnya. Hingga kemudian, cerita ini tidak hanya melulu soal perasaan, tetapi juga mengenai bujang yang bekerja keras atas mimpi yang menjadi passion-nya selama ini. Bahkan tanpa modal besar pun, mimpi bisa tercapai dengan kegigihan dan kesabaran. Di sisi lain, indahnya persahabatan turut mewarnai jejak kesuksesan tokoh utamanya. Seperti biasa, Tere Liye juga pandai menyajikan kejutan-kejutan di setiap bab, yang kadang tidak terpikirkan oleh pembaca. Selamat membaca!

Judul : Kau, Aku, dan Sepucuk Angpau Merah
Pengarang : Tere Liye
Tahun Terbit : 2012
Penerbit : Gramedia Pustaka Utama
Jumlah Halaman : 507
Kategori : Fiksi, Novel
Harga : Rp 72.000


Selasa, 19 Juni 2012 2 komentar

Kau, Aku, dan Sepucuk Angpau Merah-Tere Liye


Kau, Aku, dan Sepucuk Angpau Merah adalah novel ke-5 yang saya baca setelah membaca beberapa novel Tere Liye mulai dari Hafalan Sholat Delisa, Bidadari-Bidadari Surga, Moga Bunda disayang Allah, dan Pukat. Tere Liye termasuk penulis yang produktif. Novel ini adalah salah satu dari ke-16 karyanya yang telah dipublikasikan. Sebelumnya novel ini merupakan cerita bersambung yang dipublikasikan secara gratis lewat notes facebook Darwis Tere Liye.

Novel bersampul oranye ini mengisahkan mengenai pengemudi sepit bernama Borno, dia adalah bujang yang paling lurus di sepanjang tepian Kapuas mewarisi sifat Bapaknya yang mendonorkan jantungnya untuk seseorang yang tak dikenalnya. Bila menyebut sepit, apa yang terbayang di benak kalian?

Sepit (dari kata speed) adalah perahu kayu, panjang lima meter, lebar satu meter, dengan tempat duduk melintang dan bermesin tempel. Hal. 10

Umurku dua belas, duduk di lorong rumah sakit menangis sendirian terisak. Di ruangan berjarak sepuluh meter dariku., Bapak memutuskan menunaikan kebaikan terakhir. Aku selalu tahu—sebagaimana seluruh penduduk tepian Kapuas tahu—Bapak adalah orang baik yang pernah kukenal. Aku tidak tahu apakah ubur-ubur yang membuatnya meninggal atau pisau bedah dokter. Hal 16

Semenjak Bapak Borno meninggal, Borno menjadi bujang yang mandiri. Selepas SMA dia bekerja serabutan di kota Pontianak, menjadi kuli di pabrik karet yang sangat bau, menjadi penjaga pintu masuk di dermaga pelampung, dan menjadi operator SPBU.

“Kau tahu Borno. Tempat bekerja kau sebelumnya, meski bau, membuat orang lain menutup mulut saat kau lewat, hasilnya wangi. Halal dan baik. Dimakan berkah, tumbuh jadi daging kebaikan. Banyak orang yang ngantornya wangi, sepatu mengilat, baju licin disetrika, tapi boleh jadi busuk dalamnya. Dimakan hanya menyumpal perut, tumbuh jadi daging keburukan dan kebusukan,” Ibu memberi komentar…. Hal 42.

“Itu setidaknya membuktikan satu hal, Borno,” Pak Tua menghiburku. “Sepanjang kau mau bekerja, kau tidak bisa disebut pengangguran. Ada banyak anak muda berpendidikan di negeri ini yang lebih senang menganggur dibandingkan bekerja seadanya. Gengsi, dipikirnya tidak pantas dengan ijazah yang dia punya. Itulah kenapa angka pengangguran kita tinggi sekali, padahal tanah dan air terbentang luas.” Hal 49.

Pagi ini, aku akhirnya memutuskan, aku akan memulai kehidupan sebagai: pengemudi sepit. Sungguh, meski melanggar wasiat Bapak, aku berjanji akan menjadi orang baik, setidaknya aku tidak akan mencuri, tidak akan berbohong, dan senantiasa bekerjakeras—meski akhirnya hanya jadi pengemudi sepit. Hal 53-54.

Akhirnya Borno menjadi pengemudi sepit yang mengantarkannya akan cinta pada pandangan pertama. Gadis China peranakan—berbaju kurung warna kuning dengan payung tradisional berwarna merah, rambut tergerai panjang—yang tak sengaja meninggalkan angpau merah di dasar lantai sepitnya telah membuatnya membangun cinta, menyemainya, dan membuatnya mekar.

Gadis sendu menawan itu telah menawan hatinya. Membuat Borno rela antri di urutan sepit nomor tiga belas setiap pukul tujuh lebih seperempat, supaya gadis sendu menawan itu menumpang sepitnya. Bahkan membuat Pak Sihol sering kehilangan sabun saat mandi di dekat rumah kayunya. Sabunnya selalu tenggelam terkena riak sungai Kapuas karena Borno setiap pagi mengemudikan sepit dengan semangatnya. Perlu waktu lama bagi Borno untuk mengetahui nama gadis sendu menawan itu. Ternyata namanya Mei, seperti nama bulan saja.

Apakah Borno akan bertemu dengan Mei kembali? Apakah cinta mereka akan bersatu? Lalu apa maksud dari kata Papa Mei kepada Borno sewaktu Borno main ke rumah Mei.

”Aku tidak suka kau dekat dengan Mei. Titik. Kau dan dia hanya akan saling menyakiti.” Hal. 388

Jika berjodoh, Tuhan sendiri yang akan memberikan jalan baiknya :) 
Cinta adalah komitmen tidak terbatas, untuk saling mendukung, untuk selalu ada, baik senang maupun duka.

Yang menjadi kisah ini semakin menarik adalah ketika Borno bertemu dengan kenangan lamanya, gadis bermata hitam bening yang riang, siapa dia? Bagaimana dengan gadis sendu menawan yang tidak menepati janji dan menghilang begitu saja? Yang menghadiahkan buku terbaik tentang mesin untuk Borno. Padahal sebelumnya, pukul tujuh lewat seperempat selalu menjadi saat yang menyenangkan bagi Borno, 23 jam 45 menit menunggu semalaman ditukar dengan kebersamaan 15 menit di atas sepit di pagi hari. Maka kita lihat, apakah aliran perasaan itu akan semakin membesar hingga tiba di muara atau habis menguap di tengah perjalanan?

Seperti novel-novel Tere Liye sebelumnya, bahasa yang digunakan dalam novel ini sederhana, mudah dipahami namun sarat makna, membuat saya merenung untuk menyelami maksud dari kalimat-kalimat tersebut. Bisa ditebak, Tere Liye menulisnya dengan segenap penuh perasaan sehingga novel ini spesial karena menyajikan kisah yang unik dari seorang pengemudi sepit. Alur maju dengan irama yang rancak dipilih dalam novel ini membuat pembaca tak sabar untuk segera menyelesaikan tiap bagiannya. Point of view penceritaan laki-laki, apalagi banyak tokoh di novel ini laki-laki, cerita cintanya tidak mendayu-dayu seperti novel pada umumnya. Latar yang disampaikan jelas dan mampu membawa pembaca benar-benar berada di tempatnya. Kemungkinan besar, Tere Liye pernah mengunjungi kota yang menjadi latar cerita dalam novel ini sehingga begitu detail menjelaskan seluk beluk dan kebiasaan masyarakat kota tersebut.

Bagi penggemar novel Tere Liye, tidak ada salahnya untuk membeli novel ini sebagai tambahan koleksi diantara 15 novel Tere Liye lainnya. Walaupun isinya sederhana, namun banyak nilai yang bisa kita ambil seperti tokoh Pak Tua yang bijak, penuh wawasan, tidak mengggurui, yang selalu baik hati, banyak petuahnya yang benar-benar bisa kita renungi dan kita aplikasikan dalam kehidupan sehari-hari. Pak Tua seperti peri bagi Borno. Tokoh satu ini begitu mendominasi novel ini.

“Kau tahu, Nak, perasaan itu tidak sesederhana satu tambah satu sama dengan dua. Bahkan ketika perasaan itu sudah jelas bagai bintang di langit, gemerlap indah tak terkira, tetap saja dia bukan rumus matematika. Perasaan adalah perasaan.” Hal 354-355


Borno beruntung memiliki ‘keluarga’ yang selalu menyemangatinya. Andi teman yang baik walau ember mulutnya. Bang Togar yang keras tetapi sejatinya lembut hatinya. Koh Acong dan Cik Tulani yang sangat setia kawan bagai keluarga sendiri. Bang Jauhari yang suka mengupil dan sering menyorakinya jikalau Mei menumpang di sepit Borno.

Hingga buku ini tamat, tidak dijelaskan nama Bapak Borno siapa dan mereka keturunan suku apa hingga membuat saya penasaran. Salah satu kekurangan yang masih saya temui ketika membaca novel ini adalah ada beberapa typo. Hal yang biasa sih menurutku. Ada yang kurang tanda petik penutup kalimat langsung, salah ketik huruf dan beberapa kata yang tidak sempurna namun tidak mengurangi makna dari setiap kalimatnya.

Yang sedikit menggelitik adalah mengenai cover yakni mengapa gadis sendu menawannya tidak memakai baju kurung warna kuning seperti selalu diceritakan di novel ini, tetapi malah warna coklat yang dipilih? Serta cover yang dominan warna oranye, padahal Borno dan Mei sering berjumpa di dermaga sepit ketika pagi hari, ketika setiap orang berangkat untuk beraktivitas.

Overall, novel ini keren, walau latar belakang cerita sederhana, namun kaya akan makna dan nilai yang terselip di setiap sudut-sudut bab dan dialog para tokohnya. Selamat membaca!

Judul : Kau, Aku, dan Sepucuk Angpau Merah
Pengarang : Tere Liye
Tahun Terbit : 2012
Penerbit : Gramedia Pustaka Utama
Jumlah Halaman : 507
Kategori : Fiksi, Novel
Harga : Rp 72.000


Jumat, 15 Juni 2012 0 komentar

Sajak-Sajak Cinta


Love is when you’re thinking of him
Love is when you’re confusing of this feeling
Love is when you’re smiling while thinking him
Love is when your heart is beating faster than usual
Love is..................................................


#1 This is My Love

Cintaku memang tak segarang ombak lautan yang bisa meluluhlantakkan daratan,
Cintaku mungkin selemah daun gugur yang tak sempat berterima kasih pada pohon yang telah memberinya kehidupan.
Namun inilah cintaku
Cinta yang terbentuk bukan karena suatu alasan tetapi karena aku memang mencintanya.

#2 Adalah Cinta

Adalah cinta yang membuat cerita ini begitu berwarna
Adalah cinta yang bisa membuat semuanya tertawa, terlena, terbuai, berduka, bersedih, berperih.
Adalah cinta yang membangkitkan jiwa jadi nyata dan ada.
Adalah cinta yang membuat semuanya hidup dan mati.
Adalah cinta yang begitu besar ada pada diriku untukmu.

#3 Bukan Tawa Tapi senyum Bahagia

Biarlah perih berlari mencari tempat terasing hingga tak satupun hati menemuinya lagi.
Bukan tawa yang bisa gantikan perih, pedihku.
Ialah senyum bahagia yang kuharap temanku dalam setiap bangunku.
Yang membuat ku tak lagi jenuh karena  kepayahan membakar energi hidupku.
Jikalau kasihmu bisa abadikan senyum bahagiaku, kaulah yang paling layak bersamaku.
Kuharap begitu
Allegria Mila, 2008


Rabu, 13 Juni 2012 0 komentar

Dan TanpaMu


Kau lepaskan aku di semenanjung kasihMu untuk menyerap cintaMu
Kau lepaskan aku di lautan kata-kata untuk memaknai sebentuk firmanMu
Kau ciptakan aku saat dunia semakin baru biar aku memaknai hidupku
Kau ciptakan aku dengan nurani biar aku menjaga langkahku
Dan tanpamu,
Aku hanyalah manusia yang terlepas dari fitrahMu
Senin, 11 Juni 2012 0 komentar

Dua Batang Sumpit dan Beasiswa S2 ke Luar Negeri


Tidak seperti biasanya. Saya biasa makan dengan lahap, tapi entahlah hari ini dua batang sumpit yang saya pegang mengantarkan saya ke dalam labirin pelamunan yang tak terkira. Dua batang sumpit ini mengajak saya berjibaku kembali pada deretan-deretan rapi mimpi saya yang selalu saya refresh untuk menyesuaikan dengan kondisi teraktual, disamping kwetiau yang mengepul harum.
Teganya dua batang sumpit menyentil hati saya yang terdalam. Mengingat sms pemberitahuan dari departemen Akuntansi dimana tempat saya mencari ilmu dulu. Sms pemberitahuan kalau akan ada Accounting International Conference di Hotel Westin, Bali, tanggal 28-29 Juni 2012 nanti. Bukan karena nanti saya akan berangkat ke sana sebagai pemakalah lalu tidak punya uang untuk akomodasi. Tetapi lebih parah! Bikin paper aja belum sama sekali, lha wong sms-nya aja baru nyampek. Mungkin akan beda keadaannya jika saya tahu lebih awal, mungkin saya interested dan segera melakukan riset sesuai dengan tema yang di-usung Governance,Competitive Advantages, and Accounting Issues in Emerging Countries’.
Lha itu kalo waktunya panjang, in fact dengan segala kekurangan yang saya miliki yakni kurang ahli bikin paper in english dan jarang melakukan riset akuntansi karena sekarang saya tidak lagi menjadi akademisi. Menjadi hal yang lumrah jika saya hanya bisa ngiler ketika teman saya (sekarang kerja di KAP big four) yang dulu kuliah di English Class papernya lolos (Earning Quality in The Fair Value Accounting Environment) lalu adik kelas saya yang selalu menjadi penggemar saya lolos juga (Does Dropbox Service Effectively Improve Tax Compliance? A Survey of Dropbox Service Effectiveness at Tax Office “BC” Surabaya).
Khusus adik kelas saya ini, kenapa saya sangat pede sekali dia adalah penggemar saya karena entahlah dia selalu melihat positif terhadap saya, selalu menanyakan masalah-masalah kuliah, meminta saran harus mengambil mata kuliah apa, dsb padahal kami jarang ngobrol di dunia nyata. Lebih sering bergaul di dunia maya dan intens curhat. Tetapi sekarang sudah tidak lagi, mungkin saya dianggap tidak relevan lagi untuk dijadikan narasumber L Kenapa saya bisa bilang begini karena saya juga pernah punya seorang kakak angkatan yang saya jadikan role model sampai sekarang.
Tetapi kenyataannya mereka belum tentu berangkat, lag-lagi masalah biaya. Kemungkinan besar malah dosen pembimbingnya yang berangkat secara dosen pasti punya tabungan lebih dibandingkan mahasiswa ataupun mantan mahasiswa yang baru bekerja setengah tahun belakangan ini. Hmm, kasian, saya berdoa semoga mereka mendapatkan sponsor, dengan begitu berkembanglah peneliti-peneliti muda untuk memperluas khasanah akuntansi.
Hehehe, sebenarnya jika saya mempunyai kapabilitas pun saya pasti akan mencari sponsor, gretongan kan lebih asyik bagi peneliti muda dengan kantong pas-pasan. Lalu apa hubungannya International Conference ini dengan Beasiswa ke Luar Negeri? Lebih kepada impian dan cita-cita saya tadi. Entahlah sejak booming-nya novel Laskar Pelangi dan Sang Pemimpi-nya Andrea Hirata saya ber-azzam untuk kuliah ke luar negeri. Bahkan saat pertengahan masa-masa kuliah, saya mengambil kursus Bahasa Inggris di Kampung Inggris Pare, Kediri, Jawa Timur. Namun riil-nya kapasitas dan kapabilitas speaking saya tidak bertambah karena setelah kursus jarang diasah. Apalagi orientasi hidup berubah drastis. Lucunya, Kurva hasrat kuliah ke luar negeri kembali naik setelah mengikuti seminar Negeri 5 Menara-nya Ahmad Fuadi. Seperti biasa kurvanya kembali melandai karena tingkat keseriusan tidak linear dengan cita-cita. Gelombang-gelombang impian hanya muncul sekali-kali. Dan hari ini saya dengan dua batang sumpit diajak menjelajah dan memikirkan kembali mimpi saya untuk kembali menjunjung tinggi kurva hasrat supaya linear dengan cita-cita.
Dulu, awal saya merantau di Jakarta, makan mie ayam memakai dua batang sumpit saja saya tak bisa. Tangan saya kaku karena belum terbiasa. Saya perlu bantuan garpu untuk menciduk dan menikmati mie ayam itu untuk melepas rasa lapar dari perut. Sekarang setelah setengah tahun berlalu, saya lihai menggunakan dua batang sumpit dan tak perlu malu-malu lagi menggunakannya karena sudah ahli :D Demikian halnya dengan kemampuan berbahasa Inggris entah itu speaking, writing, listening, and reading semuanya bisa diasah JIKA KITA INGIN DAN MAU BERUSAHA untuk mengakselerasi supaya kita bisa segera kuliah S2 di luar negeri. Bagi yang tak mau berusaha, minggir saja :D hihi. Saya mengatakan itu kepada diri saya sendiri dan selesailah saya menyantap kwetiau yang nikmat ini.

Jakarta Pusat, 10 Juni 2012
Sabtu, 09 Juni 2012 0 komentar

Selalu Ada


Ketika aku berjalan menapaki trotoar ini. Aku masih saja menemukan bayangan dirimu di seberang jalan di antara kerumunan orang.
Ketika aku sedang sibuk-sibuknya mencari ingatan penting di otakku. Bayangan dirimu selalu saja hadir di antara setumpuk memori yang berjejal.
Ketika aku menikmati pagi di balkon ini. Aku masih saja melihat bayangan dirimu di bawah dan dirimu tersenyum padaku.
Mungkin dirimu selalu ada meski cerita ini telah usang dan berdebu.

170307 dalam sebuah penantian
Jumat, 08 Juni 2012 0 komentar

Izinkan Aku Menangis Tuhan


Izinkan aku menangis Tuhan,
Ketika hati tak lagi terbuka
Padahal dunia semburatkan gembira lewat senyuman hangat matahari

Izinkan aku menangis Tuhan,
Ketika pikiran tak mampu mencerna peristiwa
Padahal gerbong-gerbongnya mengangkut informasi yang berharga

Izinkan aku menangis Tuhan,
Ketika raga tak lagi bergerak
Padahal jantung masih berdetak dengan irama yang rancak

Izinkan aku menangis Tuhan,
Izinkan aku untuk selalu mengingat kebesaranMu
Di setiap terpompanya aliran darahku yang membanjiri vena dan aortaku
0 komentar

Kado Buat Bapak


Tercermin sebuah keuletan dalam mengayuh hidup yang bergelimang corak peristiwa walau badai dan petir berusaha menghentikannya.
Tercermin sebuah pengorbanan yang tiada jemu dalam membingkai keterbatasan menjadi pemicu timbulnya kekuatan yang maha dasyat.
Tercermin sebuah keikhlasan yang tak kan pernah terhapus oleh kesuraman hidup yang selalu menyapa di setiap kesempatan.
Tercermin sebuah kekuatan setangguh petarung yang berlaga di arena kehidupan dari tangan yang tak kenal lelah mencari penghidupan.

Cermin itu adalah engkau.
Cermin yang selalu memantulkan sinar semangat yang datang dari berbagai pelosok denyut kehidupan.

Cermin itu adalah engkau.
Cermin yang menaburkan kasih di setiap hati istri dan anak-anaknya.

Cermin itu adalah engkau, Bapak.
Kasihmu tak kan pernah pudar oleh waktu.

Allegria Mila, 5 Juli 2008

Selasa, 05 Juni 2012 0 komentar

CALO: Antara Dibenci dan Dibutuhkan



Sebenarnya saya ingin mengangkat topik ini sejak lama, bagaimanapun setelah saya tinggal di rantau, saya makin sering mengalami keperluan akan namanya tiket, spesifiknya tiket Kereta Api. Mengingat rumah saya lebih mudah diakses dengan menggunakan Kereta Api daripada saya memilih pesawat yang bandaranya jauh dari rumah saya (kurang lebih 4,5 jam kalau macet).
Lalu apa hubungannya dengan calo? Setelah pertama kali diberlakukan bahwa tiket bisnis dan eksekutif bisa dipesan H-30 dan tiket ekonomi jarak jauh H-7, maka otomatis orang-orang berduit dan yang punya modal-lah yang akan lebih memiliki preferensi untuk mem-booking tiket jauh-jauh hari. Pernah suatu waktu, ketika saya sedang sering-seringnya bolak balik Nganjuk-Jakarta untuk mengikuti serangkaian tes sebagai jobseeker. Saya mendadak perlu ke Jakarta untuk interview user. Seperti biasa, Bapak mencarikan tiket kereta api untuk saya. Berhubung masih mencari kerja, lebih etis jika saya naik KA Brantas menuju Jakarta. Ternyata KA jenis ekonomi ini sudah habis dipesan entah oleh pengguna jasa angkutan kereta api atau pun oleh calo. Hal ini terbukti ketika Bapak saya duduk-duduk untuk meneguk secangkir kopi di warung kopi, beliau bertemu dengan dua orang calo.
“Waduh kobong siji wekku, tapi gakpopo jek tetep bathi (aduh, terbakar satu milikku, tetapi tak apa-apa, masih untung),”kata seseorang dan bisa ditebak dia adalah calo tiket.
“Piro regane tiket Brantas? Aku butuh siji (Berapa harga tiket Brantas? Saya butuh satu),”kata Bapak.
“Satus seket (seratus lima puluh),”jawab si calo.
“Woalah larang eram, wolong puluh lah (Oalah, mahal sangat, delapan puluh lah),”tawar Bapak.
“Raiso, Lak gelem satus (Gak bisa, kalau mau ya seratus).”
Akhirnya Bapak memutuskan membelikan saya tiket Bisnis Senja Kediri Rp 160.000 di loket resmi daripada uang seraus ribu saya hanya bisa menikmati kelas ekonomi, sekalian aja kelas bisnis sekalian.
Bapak saya tidak hanya sekali bertemu dengan calo. Ketika liburan sekolah beberapa waktu lalu. Bapak saya membelikan 5 tiket Brantas ya per biji seharga Rp 100.000 lewat calo karena di loket sudah habis. Padahal harga asli hanya Rp 45.000. Jadi calo untung DUA KALI LIPAT dari modal yang dia keluarkan. Memang pihak PT KERETA API sering mendengungkan akan menerapkan jasa angkutan sekompeten maskapai, namun kenyataannnya ya seperti ini. Makin parah saya pikir.
Apalagi setelah diterapkan pemesanan bisa H-90 hari untuk tiket bisnis dan eksekutif sedangkan ekonomi jarak jauh tetap H-7 sebelum keberangkatan. Bagaimanapun sistemnya, tetap saja, tiket cepat di-absorb oleh calo. Kemarin loket baru dibuka jam 7 pagi, Bapak saya lagi-lagi mencarikan tiket lebaran untuk saya. Ternyata tiket sudah habis. Sadisnya habisnya setelah tinggal 1 karcis dibeli oleh seseorang di depan Bapak saya. Kasian sekali Bapak saya harus menempuh perjalanan 40 menit untuk mencari tiket KA dan nihil, pulang tanpa hasil.
Saya pun pusing, harga tiket KA di loket pun melambung DUA KALI lipat, tetap terbeli oleh kantong saya (setelah sekarang mandiri secara finansial), namun bagaimana bisa tiket eksekutif gajayana harganya Rp 700.000 dengan perjalanan 12 jam dari Jakarta-Kertosono. Padahal dengan Rp 700.000 saya bisa beli tiket pesawat dengan waktu yang dibutuhkan relatif singkat dibandingkan dengan kereta api yakni 1,5 jam ditambah perjalanan darat 4,5 jam total 7 jam. SEPARUHNYA.
Mari kita bandingkan. Kalau kita naik pesawat, secara waktu relatif singkat dan nyaman. Kalau kereta api, waktu lebih lama dan nyaman untuk eksekutif. Kalau bisnis dan ekonomi ya tolong tidak bisa dibandingkan. Saya pengguna setia kereta Rapih Dhoho semenjak saya kuliah di Surabaya dulu. Sudah biasa dengan suasana proletar, berjejalan seperti kereta isi tebu, kecut keringat, bisingnya suara penjual asongan, berdiri dari Surabaya-Kertosono. Semua saya jalani karena memang tidak ada pilihan, saya juga orang proletar waktu itu, namun lebih beruntung karena bisa kuliah.
Kalau tiket komuter lain lagi ceritanya. Dulu, bagi saya mudah membeli tiket KRD Surabaya-Kertosono. Datang saja minimal 10 menit sebelum keberangkatan pasti dilayani, entah berapapun tiket yang terjual, entah penumpang dapat tempat duduk atau tidak, beli saja. Tapi kondisi itu berubah ketika menjelang pertengahan 2011 yang tiket bisa mulai dipesan jam 00.00 dini hari, dan bisa memesan untuk jam berapa saja. Pada awalnya kan jam dibatasi, misal saya mau berangkat jam 11.00 siang, saya baru bisa beli setelah kereta jam 8.00 berangkat. Setelah menganut system baru, setiap pengguna jasa harus antri pagi-pagi, kalau tak begitu ya gak dapet tiket. Saya pernah begitu akhirnya saya memutuskan untuk pulang keesokan harinya. Menyedihkan sekali. Dan kenyataannya kereta tetap penuh sesak, berisik, tidak ada perubahan yang berarti, paling yang berubah sekarang tiketnya ada yang dapat kursi ada yang tidak. Kalau sebelumnya siapa cepat dia yang dapat tempat duduk.
Balik ke topik. Mengapa calo dibenci? Karena sangat miris saja, hanya dalam waktu singkat tiket langsung ludes, hanya dalam bilangan 7 jam. Enak kalau rumahnya dekat dengan stasiun atau sekalian punya orang dalam, bagi yang tak punya akses ya harus manyun. Apalagi contact center-nya saya telpon berkali-kali tak bisa nyambung sampai pulsa saya habis. Hanya sebagai masukan bagi pihak KAI supaya lebih manageable system operasional prosedur untuk pemesanan tiket. Kalau memang ingin meniru system maskapai penerbangan silahkan, tolong dibenahi, jangan hanya menaikkan harga tetapi layanan kurang atau tidak ada perbaikan yang berarti.
Lalu mengapa calo dibutuhkan? Kalau sudah mentok ya paling seperti Bapak saya kemarin mau tak mau harus membelikan karcis untuk paman  sekeluarga karena harus segera balik ke Jakarta. Pernah Paman saya juga sedang butuh tiket untuk balik ke Nganjuk, di loket sudah habis. Lalu dia akhirnya mengobrol dengan office boy stasiun senen. Lalu Paman saya dapat tiket karena OB tersebut punya bekingan orang dalem, entah siapa.
Wallahua’lam. Saya kurang tahu mengenai SOP di KAI. Mungkin bagi yang mengerti bisa berbagi informasi.

 
;