Rabu, 27 November 2013 0 komentar

Mertua-Mertua Takut Istri: Versi Auditor

sumber: picsart.com

Ungkapan suami-suami takut istri sudah lazim di kalangan masyarakat saat ini. Betapa tidak? Mungkin ada yang sampai rela kartu ATM yang menampung rekening gaji pun dipegang oleh si istri. Hayo ngaku yang pernah ngerasain? Hehe…
Tapi ada kasus lain nih ketika mertua takut sama menantu. Kok bisa? Bukannya biasanya mertua itu terkadang lebih kejam daripada ibu tiri bahkan ibu kota?
Bisa nih… Tatkala yang jadi mertua itu adalah perusahaan yang diaudit dan menantunya adalah auditor intern :D
Baru ngeh ya?
Bagaimana perusahaan yang diaudit itu bisa disebut mertua? Karena doi telah menikahkan si auditor intern yang notabene menjadi menantu ini dengan kontrak sehingga ada perjanjian yang mengikat seperti sakralnya ikatan pernikahan :p ceile…
Lalu bagaimana si perusahaan yang diaudit ini menjadi ketakutan? Probabilitas mana pun bisa terjadi mule dari karena menyembunyikan sesuatu atau bahkan karena paranoid dengan yang namanya temuan (findings).
Tetapi si mertua ini pun bisa lebih kejam daripada ibu tiri bahkan ibu kota. Senyum aja gak mau. Disenyumin dibalas dengan air tuba (muka datar, sengak, bahkan berusaha ngece bahasa Indonesianya apa ya?)
Ini nih dukanya menjadi auditor…
Sukanya, udah banyak yang aku ceritain lewat blog ini…
Btw, tetap semangat dan jangan menyerah J

Salam Auditor!
[]

#suatu sore menjelang maghrib di ruang auditor 3x3 yang terasa luas (5:44)
Sabtu, 16 November 2013 0 komentar

Kuliner Khas Gombong: Gethuk Singkong Dalam Kuah Soto


Mau bersantap dan bingung menentukan pilihan? Ini nih ada pilihan instan… Ada soto yang unik nan yummy menurut saya. Selama saya keliling kota dari Jakarta, Bandung, Semarang, Yogya, Kudus, Blora, Pati, dan terakhir ini di Gombong untuk dinas maupun jalan-jalan sambil icip-icip kulinernya. Baru kali ini saya menemukan Soto yang menurut saya aneh. Secara tekstur rasanya hampir sama dengan soto pada umumnya. Soto berkuah santan dengan dilengkapi suwiran daging ayam, suwiran kubis, bihun, dan kecambah dari kacang ijo, krupuk dari singkong yang udah dihancurkan plus gethuk singkong. Sambalnya dari sambal kacang. Maknyusss kan? Kalau pengen lebih lengkap bisa dengan nasi atau lontong tinggal pilih.

Kenapa aneh? Yak kok bisa gethuk singkong bisa nyemplung di kuah soto ini. Ketika saya bertanya dengan salah satu rekan kerja di Gombong. Dia bilang itu ada supaya kita kenyang. Hah, jawaban ngasal saya kira tuh. Ini kenapa juga soto disandingin dengan sambal kacang. Biasanya kan sambal kecap. Yup,  ini memang khas Soto sini deh.

Kalau mau nambah sama lauknya ada daging ayam yang utuh nih. Lihat ada kepalanya. Trus ada ‘brutu’-nya. Yang katanya orang rasanya ‘kenyil-kenyil’ enak tapi saya gak pernah mau nyoba, hehehe…
Cukup Rp 8.000 perak bro… (Plus lontong waktu itu)

Berminat? Datang aja ke warung Pak Min Soto di depan RS Palang Biru Gombong di Jalan Kartini, Kec. Gombong, Kab. Kebumen kalo sedang bisa mampir. Btw, ini bukan iklan loh ya… Cuma saya suka nyoba-nyoba makanan dan berbagi kepada para penikmat kuliner J Buka setiap sore sampai dini hari. Salam kuliner!


Minggu, 03 November 2013 0 komentar

Semangkuk Stroberi dan Dua Cangkir Es Krim


Permintaanmu tak muluk-muluk. Hanya ingin stroberi. Ya, stroberi J dan kau satu-satunya orang yang bisa menghabiskan semangkuk stroberi saat orang lain memakan satu biji saja sudah puas karena asam. Tapi kau tidak! Kau menghabiskannya sampai tidak tersisa.

Kau juga suka membuat gambar wayang, entah dari mana bakat ini berasal. Aku merasa ajaib jika melihat gambar-gambarmu J

Pernah suatu siang yang terik, kau merengek meminta dibelikan makan siang plus ayam goreng crispy di restoran cepat saji di Kediri. Aku menuruti karena jarang sekali kau membuat permintaan yang aneh… aku senang, kau begitu lahap. Dan aku yakin, kamu sudah besar, Dik!

Ada setangkup rindu yang menggelayut di air mata kakak. Semoga kakak bisa sering pulang J **hugs**

Best regards,

Your old sister
0 komentar

Ibuk: Sebuah Novel Iwan Setyawan

Novel Ibuk ini seperti diary, diksi yg dipilih biasa saja, gak njlimet.. Sederhana bahkan sangat sederhana, tetapi mebwtku ingat ortu
0 komentar

Daun yang Jatuh Tak Pernah Membenci Angin dan Lelaki Hipokrit

Sebenarnya sudah sejak lama saya mengidam-idamkan novel Tere Liye ini dan baru kesampaian membeli cetakan kesembilan, padahal awal kali terbit Juni 2010. What a pity I am :D


Dari judul, novel ini sungguh unik dan isinya pun lebih unik tepatnya complicated! Jarang-jarang Tere Liye menulis novel bergenre seperti ini—sudut pandang wanita—dan lagi-lagi sungguh melankolis. Saya menebak Tere Liye menulisnya saat masa-masa “galau” :D


0 komentar

9 SUMMERS 10 AUTUMNS

Novel 9 summers 10 autumns ini membawaku ke ruang2 melankoli, sederhana & membuatku mengingat masa2 penuh perjuanganku dulu semasa kuliah

Menghentak syaraf2 sentimentil, mengingat keluarga di rumah dan adik2ku. Perjuangan msh panjang & selalu ada buliran doa yg mengangkasa :)


9 summers 10 autumns bikin melow... Jadi mengingat masa2 kecil dan pengorbanan ibuk & bapak buat kami anak2nya, mendadak kangen :)
0 komentar

Kaki-Kaki yang Membawaku ke Semarang


Tak pernah menyangka bahwa setahun atau dua tahun ke depan saya masih bisa menginjak Pulau Jawa. Yup, dari keputusasaan dan disorientasi-lah semua kisah ini bermula. Masa-masa grey area itu adalah fase setelah lulus kuliah dan what to do setelah lulus kuliah. MIMPI? Tentu saja saya punya, saya punya list-nya yang tertempel rapi dan selalu saya revisi agar hidup saya semakin bergairah dan tentu saja bisa bermanfaat untuk umat.

Semua kembali ke pilihan. Satu setengah tahun yang lalu, saya tak pernah membayangkan saya akan menjadi internal auditor dari salah satu bank BUMN (konvensional). Semua berawal dari coba-coba dan saya lolos dari semua tahap seleksi dengan sedemikian mudahnya. Padahal di sisi lain, saya harus berjuang mati-matian untuk bisa lolos sampai tahap interview user di salah satu perusahaan multinasional di negeri ini.

Lagi-lagi soal pilihan. Saya berasal dari keluarga proletar dan semester 7 (saat masih kuliah-setelah lulus) lumayan sukses mendirikan Allegria Tutorial Club yakni sebuah lembaga bimbingan belajar untuk mahasiswa Fakultas Ekonomi dan Bisnis PTN di Surabaya dengan lebih dari 100 mahasiswa menjadi customer. Tetapi, saya tak bisa selamanya bertahan menjadi tutor karena walau LBB ini adalah yang pertama di kampus saya, tapi LBB ini mudah ditiru, walhasil omzet semakin menipis dan kolega (teman kuliah saya) juga sudah banyak yang lulus sehingga tidak bisa ikut mengembangkan bisnis ini.

Banting setir itulah keputusan labil yang pernah saya buat. Akhirnya saya harus menjalani pendidikan selama 15 bulan untuk menjadi bankir dan terikat kontrak 5 tahun setelah diangkat. Pada mulanya saya sangat serius dan cenderung berambisi untuk menjadi the best di angkatan saya. Beberapa bulan kemudian, semangat itu menguap. Saya semakin aktif ingin tahu tentang Ekonomi Syariah. Lagi-lagi saya hanya bisa menangis tergugu setelah mebaca artikel-artikel ataupun buku yang saya baca. Jalan terakhir adalah saya mengadu padaNya karena keinginan untuk didepak itu semakin mengakar.

Pendidikan di Jakarta menjadi semakin tidak menyenangkan. Belajar hanya sebagai formalitas. Puncaknya ketika saya On the Job Training, saya malah tidak belajar. Tiap hari menulis blog dan blogwalking. Ikut lomba ini itu. Makin bersemangat mencari ilmu agama dan senang bertemu dengan ibu-ibu pengajian yang gaul dan up to date walau usia mereka tidak muda lagi (sekitar 30-40 tahun).

Semua itu bernama pelarian! Puncaknya, ketika akan ujian penentuan ‘tetap bertahan’ atau ‘harus rela dieliminasi’, saya malah main ke Taman Wisata Angke Kapuk bersama sahabat saya. Berwisata sejenak meninggalkan hutan beton dan pergi ke pinggiran Jakarta dengan bantuan KRL, angkot, dan kaki :D

Saya ingat buku Notes From Qatar-nya Kak Muhammad Assad. Saya ingin mencobanya! Kali ini saya benar-benar ingin pamrih padaNya. Saya kuras semua uang tabungan dari gaji saya yang sudah saya kumpulkan selama berbulan-bulan dan jumlah itu sangat lumayan. Transfer sana, transfer sini. Saya hobi mencari alamat lembaga amil ZIS ataupun lembaga sejenis sehingga sedekah saya bisa menyebar ke mana-mana dan tidak terpusat di satu lembaga. Ini saya lakukan karena saya sadar, banyak amalan-amalan yang mungkin setengah hati dan banyak dosa sehingga ada batas antara saya sama Allah. Maka dari itu, saya butuh akselerator. Sedekah kuncinya! Tentu penyempurnanya adalah doa Ibu dan Bapak.

Bim salabim… Saya masih dinyatakan lulus dan bisa sampai tahap selanjutnya. Entahlah, saya masih bandel, mencoba lagi dan lagi. Pada akhirnya, per 1 Maret 2013, saya dinyatakan LULUS dari pendidikan dan diangkat sebagai pekerja tetap di bank BUMN ini.

Saya gigit jari. Ya ALLAH. Beginikah nasib hamba? Doa dan minta doa ortu makin kenceng karena saya tak punya apa-apa untuk membayar penalti jika saya keluar dari perusahaan ini. Saya pun berusaha ikhlas. Saya yakin, ALLAH sedang menunda kebahagiaan saya. Bukankah apa yang menurut kita baik, tetapi belum tentu baik menurutNya?

Waktu itu, ketika akan pengumuman penempatan, saya sangat deg-deg an. Saya tahu. Saya tidak serius menjalani pendidikan selama 15 bulan. Jadi dalam hati, entahlah di pikiran saya, Pulau Sumatera selalu menjadi bayang-bayang pikiran saya mengingat nilai yang berada di klasemen bawah. Takut karena setiap daerah punya budaya masing-masing apalagi saya ingin lebih sering birul walidain.

Surat Keputusan itu saya buka. Alhamdulillah saya ditempatkan di Semarang. Kota ini sangat indah di siang atau malam hari. Lebih indah lagi saat di malam hari. Lanskapnya dipenuhi dengan bukit-bukit dan rumah bertengger di atasnya lalu kerlap-kerlip lampu dari masing-masing rumah itu membuat romantis suasana. Ibukota provinsi dengan segala fasilitas namun tidak seramai Jakarta ataupun Surabaya. Yang paling penting adalah Semarang ke Nganjuk (kota kelahiran dan rumah ortu) bisa ditempuh dengan kereta api dalam waktu 4,5 jam. Subhanallah. Ditambah, teman-teman sekantor yang sangat welcome walaupun saya seorang newbie.

Mungkin ‘kaki-kaki’ yang membawaku ke sini salah satunya adalah tabungan yang aku sedekahkan itu…
Fabiayyi aala irabbikuma tukadzziban….

30 Mei 2013

Jatingaleh, Semarang
0 komentar

La Tahzan For Hijabers: Kisah Inspiratif bagi Yang Akan dan Yang Sudah Berjilbab


Buku karya Asma Nadia ini lagi-lagi di tulis keroyokan bersama dengan sesama penulis yang sudah saya kenal semenjak masih di bangku SMA serta beberapa nama baru yang merupakan jebolan Asma Nadia Writing Workshop.

Buku ini diawali dengan quote dari Asma Nadia yang menggugah:
Ketakutan tak membuat perubahan apapun. Tapi keberanian sering melahirkan kejutan yang membuat dunia jadi berbeda dari sebelumnya.

Berikut pengantar dari Asma Nadia untuk buku  “La Tahzan For Hijabers” yang memuat tentang kenapa bukunya judulnya La Tahzan lalu apa hubungannya dengan hijabers?

Di sini Asma Nadia menceritakan mengenai kisah pertamanya berjilbab waktu SMA, di masa itu berjilbab bukanlah pilihan yang mudah karena anak ABG yang berjilbab itu masih bisa di hitung jari. Apalagi dengan kondisi Mamanya yang mualaf. Sampailah Asma Nadia menemukan ayat berikut (QS Ali Imran: 139):
Wala tahinu wala tahzanu wa antumul a’lawn in kuntum mu’minin (Janganlah kamu merasa rendah dan bersedih karena kamu adalah orang-orang yang paling tinggi derajatnya jika kamu beriman)

Intinya jangan bersedih jika diri harus melalui ujian dahsyat untuk keputusan menutup aurat demi meraih cinta-Nya karena jilbab adalah tanda cinta dan bentuk taat seorang muslimah kepada Allah.

Definisi Hijab, Khimar, dll
>> Hijab adalah sesuatu yang menutupi atau menghalangi diri
>> Jilbab adalah selendang atau busana lebar yang dikenakan wanita untuk menutupi auratnya; kepala, lalu leher mengulur hingga ke bawah, menampakkan hanya wajah dan telapak tangan. Jilbab bukan merupakan pakaian yag sempit dan melekat ngepas di tubuh. Memenuhi kriteria seperti tidak transparan, tidak ketat, menutupi seluruh tubuh perempuan dari ujung rambut hingga kaki.
>> Khimar atau Kerudung adalah kerudung penutup kepala hingga ke dada tanpa menutupi muka.
>> Burdah adalah pakaian luar atau tirai berjahit mirip dengan abaya.
>> Cadar adalah kain yang menutupi sebagian wajah wanita, hingga hanya sepasang mata yang tampak.
Oke, mari kita kupas artikel di buku ini satu per satu ya….

Artikel pertama di buka dengan karya Mecca Medina “Jatuh Bangun Jilbabku” yang menceritakan kisah jilbab pertamanya waktu SMA yang ditentang oleh Mamanya dengan alasan takut seperti nenek-nenek dan jelek hanya kelihatan moncongnya. Astaghfirulloh…. Lalu Mecca melepas jilbabnya seusai kuliah dengan alasan mencari kerja di bank yang harus memakai rok pendek. Namun Mecca merasa hidup di kedua sisi, bisa di bilang abu-abu, dan merasa munafik. Pada akhirnya ada isu selentingan apabila tidak berjilbab di daerah tsb maka perempuan-perempuan yang belum menutupi kepala akan beresiko digunting rambutnya oleh kelompok di daerah tsb. Situasi ini tidak disia-siakan dan akhirnya Mecca berjilbab dengan persetujuan atasannya dan Alhamdulillah semua pegawai perempuan berjilbab semua.

Ada artikel ketiga yang cukup menarik perhatian saya yang ditulis oleh Nadhira Khalid “Boleh Pinjam Jempolnya?” Nadhira Khalid merupakan keturunan suku sasak Lombok dan masih keturunan Arab namun di keluarganya tsb tumbuh pemahaman bahwa berjilbab itu hanya untuk perempuan yang sudah menikah. Nadhira tinggal di Bali tepatnya di Karanglangko yaitu sebuah desa yang mayoritas penghuninya adalah muslim. Namun ketika dia bersekolah, tetaplah Nadhira menjadi minoritas. Dan jilbab pertama Nadhira diawali saat menjelang kelulusan SMA. Lalu apa hubungannya dengan judul artikelnya. Ternyata ada guru yang suka mengkritik siswa namun ketika menghadapi Nadhira waktu cap jempol hanya mengucapkan “Boleh pinjam jempolnya?” saat cap jempol ijazah.

Berikut artikel ke-10 yang menurut saya cukup kocak yang ditulis oleh Mimin Ha Way “Perjuangan Menuju Jalan Nyaman”. Saat kuliah Mimin akhirnya berjilbab dan ada satu kejadian yang tak terlupakan saat naik sepeda motor dengan memakai rok yang tak terlalu longgar dan membonceng teman yang ukurannya lebih besar dari Mimin. Akhirnya mereka terjatuh di tanjakan. Berikutnya ada lagi kejadian konyol Mimin membonceng temannya dan melorot jatuh ke selokan beserta tasnya lalu diketawain semua orang di aula :D Kok bisa gitu ya?

Ada lagi artikel ke-12 yang cukup menggugah hati dari seorang mualaf Mariska Christianti “Jilbab Dulu dan Sekarang”. Waktu itu dia sedang menjaga tas teman-temannya di Mushola dan disapa oleh mahasiswi berjilbab “Assalamu’alaikum, mahasiswa baru ya? Jurusan apa Dik?” Lalu setelah menceritakan ketertarikan mengenai Islam, senior tsb memberikan buku Tauhid. Di sisi lain Mariska masih mengikuti kebaktian yang diisi oleh Ibu pendeta. Beliau mengatakan bahwa di dalam Perjanjian Lama, ada hewan-hewan yang diharamkan untuk dimakan, salah satunya adalah babi. Namun, di Perjanjian Baru, semua hewan dihalalkan untuk dimakan. Lalu Mariska bertanya kepadanya:
-     1. Mengapa Tuhan tidak konsisten dalam membuat peraturan, berbeda antara Perjajian lama dan Perjanjian Baru.
-        2.   Tolong tunjukkan ayat di mana Nabi Isa Al Masih menyatakan bahwa,”Akulah Tuhan, sembahlah aku.”



 *bersambung
Minggu, 06 Oktober 2013 0 komentar

Bandung in My Frame

Travelling kali ini di awali dengan hal gila. Bagaimana coba, ketika semua orang tertidur lelap, aku bangun pagi jam 3 karena travelku berangkat jam 4 pagi dari Sarinah (Jakarta). How Pitty I am! Tak apa... pagi-pagi (06.30) aku sudah bisa menghirup udara segar Bandung dan mampir mandi di Mushola Rektorat ITB. Bener2 'backpakeran' nih...

Hangatnya hot chocolate dan donut mengawali pagi di Bandung yang cerah.... Sambil menunggu seseorang di Dunkin Baltos...

Ayok sarapan dulu dengan kupat tahu (letaknya di angkringan sebelah Baltos ya)

Ini guide kita kali ini... Mahasiswa Bioengineering ITB yang lagi mau TA, doakan tahun 2014 lulus dengan IPK terbaik ya....

Setelah perut terisi, akhirnya kami jalan kaki menuju Dago cuy dari Rektorat ITB. Narsis dulu (lagi) ya...

DAGO in action :)

Berikutnya naik angkot ke Taman Siliwangi, katanya si Walikota Bandung aka Pak Ridwan Kamil yang dosen Arsitektur ITB itu sangat care ama pertamanan, nih menghijau kan? Tapi... di sini banyak anak bolos sekolah dan pada ngerokok loh... Hmmm, perlu ada penertiban tuh...


Kemudian, ganti naik angkot lagi main ke CIWALK, tapi mall nya belum buka jadi ya muter2 aja pengen lihat aja rupanya mall Bandung yang cozy itu. 

Hehehe, aku motret si dedek yang suka malu2...

Naik angkot lagi ke Pasar baru nyari batik dan batik. Aku dapet tapi si brotha enggak :( gpp lah ya...
Lalu, makan siang dengan Soto Bandung yang yummy, kelaperan euy...
Capcus, jalan kaki lagi ke Masjid Raya Bandung buat sholat.

Menara Masjid Raya Bandung plus sinar matahari, cakep!

Oke, jalan kaki lagi (Jl. Asia Afrika)

Ini nih foto favorite aku, berasa kayak foto yang mejeng di koran itu:)

Ini nih Museum Asia Afrika

Si Rizal lagi mejeng di deket bola dunia yang ada di Museum Asia Afrika, ayok senyum lebar lagi :)

Adik yang baik bawain tas kakaknya :p

Banyak bangunan kuno di Jalan Asia Afrika, salah satunya dimanfaatkan untuk salah satu bank Swasta ini

Tra la la, this is me! Finally, aku bisa menapakkan kakiku di Braga yang katanya bangunannya art deco semua :D

Nih Mie Reman yang terkenal bisa bikin mbledos perut, tapi kami gak nyoba. Aku dan my lovely brother gak kuat pedes :p

Sekian dulu edisi traveling kali ini... Sampai jumpa di edisi traveling selanjutnya ya.... 
Salam [Mila]

photo by Lenovo A3000
Selasa, 10 September 2013 0 komentar

Another Resolution

Hai guys, sepertinya dah lama banget gak nulis di sini... Bukan apa-apa, ide banyak bermunculan tetapi malah gak jadi posting :D

Ok, Bulan September 2013 terinspirasi dari kebiasaan salah satu artis Marshanda yang suka menulis diary kesyukuran setiap malamnya. Sepertinya ide bagus nih....

Nikmat dari Allah. Yup! Tak akan pernah bisa kita hitung satu per satu....

Muhasabah, flasback :)

Hidup ini indah, kesyukuran akan membawa pada ketentraman hati...


Ragunan, Jakarta
Minggu, 14 Juli 2013 0 komentar

Dari Pisa Kafe, Semarang Terlihat Elok Bercahaya

Ramadhan kali ini lebih terasa special bagi saya karena mobilitas cukup tinggi namun kebersamaan tetap terjaga. Hidup selalu berproses. Datang dan pergi adalah sebuah keniscayaan. Di Semarang baru 4,5 bulan harus sudah pindah kota lagi. Akhirnya, saya mencari-cari destinasi wisata kuliner ciamik buat farewell party  di Semarang dan saya nemu ini. Pisa Kafé!

Lompatan gaya hidup mungkin menjadi tren kelas menengah. Mencoba mencicipi hal baru, termasuk saya mencoba membuat farewell party kecil-kecilan di sini. Demi mewujudkan impian saya yakni  memotret lembah dan ngarai bercahaya di Semarang. Di hari Sabtu malam Minggu pun terwujud.
Ini nih hasil jepretan temen saya pake kamera BB biasa. Bagus kan view-nya, apalagi kalo malem, sayang belom punya DSLR :D



Oya, sambil mengingat prinsip 5P Philip Kotler. Baik, kita mule bahas dari Product dan Price nya ya?

Di sini, saya mencoba menu Lasagna Al Forno (52.000 IDR) dan memesan Jus Melon dan air mineral. Hmmm, membuat saya kenyang :D Sebenarnya bukan mencoba sih, soalnya udah beberapa kali makan Lasagna. Tapi gak papa lah, so far so delicious. Kalo masalah harga ya rata-rata harga kafe di Semarang lah. Apalagi dengan view ngarai bercahaya dari lampu-lampu rumah penduduk yang berkerlap-kerlip jika dilihat dari Pisa Kafe ini… Ini nilai plusnya :D


Selain itu, menu yang disajikan ada Pisa Americana yakni pizza bisa buat berdelapan (price: 115.000 IDR). Pizza yang ada zaitunnya, saya gak sempat nyoba soalnya udah gak kebagian dan udah kekenyangan :D
Trus ada Zuppa Cremosa (25.500): sup dalam roti. Ini nih pesanan senior saya, saya gak icip-icip :D
Juga ada spaghetti macam Bianconerri (31.500 IDR) dan Bolognese (40.000 IDR). Yups sesuai dengan nama kafenya yakni Pisa Kafe maka menu yang ditawarkan berbau Italiano versi Indonesia lah ya….
Tapi jangan khawatir bagi yang gak suka menu Italia, ada menu Indonesia: Sup Iga (75.000 IDR) bisa jadi alternatif kan...


Dari semua minuman yang paling menarik adalah Herbal in Honey (18.500 IDR): mixed antara jahe, madu, lemon, dan sere. Seger kan?

Emang sih agak nyesek kalo buat mentraktir tapi jangan khwatir ada diskon 30% yang ditawarkan oleh 3 Kartu Kredit dari Bank BUMN maupun swasta dan saya pun menggunakannya. Biar dapat diskon :D

Oya, Pisa Kafe ini terletak (Place) di Jalan Diponegoro 22A, kawasan Siranda, Semarang. Untuk akses kesana mudah kok. Saya aja yang belum tahu bisa nemu tempat itu setelah nanya2 ke masyarakat padahal di BB ada GPS :D Taxi di Semarang juga banyak tinggal pilih.


Kalo masalah Promotion sepertinya worth of mouth cukup mujarab. Buktinya tetap rame walau gak penuh sih, mungkin masih kalah dengan promo All you can eat Shabu Auce yang full book. Namun Pisa Kafe tetep terdepan sih kalo dibandingkan dengan pesaing sejenis yang menawarkan keunikan Kafe yang bisa melihat Semarang dari atas.


Terakhir mengenai People, karyawan Kafe cukup responsif walau kurang ramah dan kurang senyum. Semoga manajemen Pisa Kafe lebih baik lagi dalam men-training karyawan mereka supaya mengedepankan kepuasan pelanggan.

Yups, demikian reportase saya mengenai Pisa Kafe ini, semoga bisa menjadi referensi alternatif tempat berbuka puasa. Selamat menunaikan ibadah puasa…

Semarang, 13 Juli 2013


Selasa, 09 Juli 2013 0 komentar

Just Say Hello Man—Sebuah Intermezo

Aku berlari-lari menuju gerbong 3. Semenjak kuliah sampai sekarang, kereta adalah moda transportasi favoritku. Entah sampai kapan…
Aku segera menghempaskan tubuhku ke kursi yang menjadi hak ku. Dalam hati melenguh. “Benar-benar kelas Ekonomi AC, duduk berhadapan tanpa privasi,”gerutuku.
Seorang Ibu di sampingku mengajakku bicara. Beliau berkisah mengenai anaknya (anak gaul Jakarta) yang masih SMP dan mau mengambil kursus bahasa Inggris di Kampung Inggris, Pare (Kediri). Sampai lah tahapan  membahas beasiswa. Dan aku selalu bangga kepada adikku yang telah berhasil menggenggam salah satu impiannya untuk kuliah di Institut terbaik di negeri ini tanpa membayar biaya kuliah sepeserpun. Bagian perjuangannya adalah kisah yang selalu kuceritakan kepada setiap orang, bagiku akan sangat bermanfaat jika yang mendengar termotivasi.
Lama-lama setelah habis bahan percakapan dan kereta belum juga sampai di Semarang, saya pun berusaha tidur ayam. Gak bisa tidur beneran karena takut kelewatan.
Satu jam sebelum sampai di Semarang, saya sudah siap-siap. Membuka mata dengan malas. Melihat sekilas lelaki di depan saya itu mirip Raditya Dika, cuma Dia berkacamata. Karena Ibu di samping saya sudah pergi dan mendadak saya merasa di antara para penyamun (samping dan depan saya semua lelaki). Saya membuang muka ke jendela. Jiah, bayangan mas-mas mirip Raditya Dika itu pun sontak bertengger di kaca. Mungin dia juga tahu kalau saya memperhatikan lewat kaca. Membunuh waktu dan saya tidak ingin terlewat untuk turun Semarang.
Berikutnya, saya seperti melihat sebuah lakon romance. Seorang lelaki berjas kasual membuka pintu gerbong untuk seorang akhwat. Si akhwat ke toilet. Setelah selesai, lelaki itu pun membukakan pintu lagi. Si akhwat melenggang masuk ke gerbong. Ganti si ikhwan yang masuk ke toilet. Hmmm, so sweet gak? Sepertinya mereka pengantin baru :D
Ketika saya turun, saya melihat mereka berdua juga turun Semarang. Saya tersenyum dalam hati. Senang melihat keluarga seromantis ini.
“Turun sini mbak? Mau kemana?”
“Jatingaleh,”kataku.
Si mas mirip Raditya Dika itu hanya say little things itu kepadaku lalu dia pergi. Haha, mungkin karena aku pake wajah datar kali ya, habis tidur ayam sih :D
--lagi-lagi ini hanya intermezzo, jangan diambil pusing--


Senin, 08 Juli 2013 3 komentar

Aku, Lawang Sewu Semarang, dan Mutasi

Pertama kali menginjakkan kaki ke bumi asem arang-arang alias Semarang. Haru! Setidaknya berkat tugas dinas, saya bisa mengenal kota ini dalam waktu 4 bulan.
***

Setelah turun dari Pesawat (Cengkareng-Ahmad Yani), saya sangat senang dengan Surat Keputusan yang membuat saya tinggal di sini. Bahagia yang menggelegak ketika taxi yang saya tumpangi melewati Lawang Sewu. Kota yang indah! Sampailah saya di Hotel Pandanaran. Sendirian di kota baru namun tidak menyiutkan nyali saya untuk mencoba kuliner Semarang. Sempat pengen melihat kuburan Borgotta yang terkenal angker itu. Tapi hati tak siap :p karena sudah malam.
***
Beberapa hari kemudian, dapat kos di Jatingaleh, Semarang atas. Setiap weekend jogging ke Stadion Jatidiri. Hawa sejuk melipur penat setelah 5 hari bekerja di buru setumpuk laporan.


Sambil lalu naik Trans Semarang lalu main ke Gramedia Pemuda dan Paragon City. Wisata buku dan Wisata Mall.



Tak lupa, pernah main ke Lawang Sewu dan wisata kuliner di depan Masjid Baiturrahman Simpang Lima makan tahu gimbal.


Dan yang tak kalah penting pergi ke Stasiun Tawang untuk pulang ke kampung halaman. Jalan menuju ke Tawang dipenuhi dengan sajian Kota Lama yang membuat kita menapaki labirin-labirin waktu ke masa silam di mana tempat ini adalah pesisir yang sangat ramai di masa itu. Tempat di mana pedagang Campa, Kamboja, China berdagang di sini.



Dan hatiku selalu haru ketika melihat lanskap yang elok saat malam hari. Mata menangkap sajian kerlap-kerlip lampu di bukit yang dipenuhi dengan rumah-rumah penduduk dengan lampu menyala seakan-akan bukit itu bisa bercahaya.



Walau seperti sekejap, saya jatuh cinta dengan kota yang berbukit-bukit di bagian Selatan ini. Yang selalu membuat saya kagum akan lanskap yang tercipta di sepanjang perjalanan jalan tol. Semarang, I’ll be miss you!
Rabu, 03 Juli 2013 0 komentar

Serial Abu-Abu: Keberpihakan adalah Sebuah Keniscayaan?

Dunia makin abu-abu. Netralitas pun melumer, baur, tak pekat, tak kedap.
Menjilat dan dijilat pun menjadi sebuah budaya. Keberpihakan bagai magnet yang gayanya sulit ditaklukkan tanpa sebuah usaha atau energi yang prima.

Menang dan kalah adalah sepasang kekasih yang abadi dalam dunia ini.
Apalagi motivasi dan demotivasi adalah bumbu kompetisi dalam keberpihakan.
Lalu, apakah nanti jadi hitam, putih, atau abu keberpihakan itu?
Jawabannya hidup adalah pilihan walau terkadang pahit.

Jangan-jangan, keberpihakan adalah niscaya?
Dan netral adalah kemuskilan?

Ah, engkau tahu sendiri jawabannya!

Semarang, 3 Juli 2013



Minggu, 09 Juni 2013 0 komentar

Resensi Rantau 1 Muara: Kombinasi 3 Pencarian


Rantau 1 Muara—novel ketiga dari trilogi Negeri 5 Menara—karya Ahmad Fuadi kembali hadir dan menjadi novel pamungkas setelah Ranah 3 Warna sukses di pasaran. Sekilas ditilik dari cover novel dengan elemen air, tanah, perahu, dan dua orang manusia sedang mendayung sangat menarik perhatian. Dalam hati, apakah novel ini sangat inspiratif seperti dua novel sebelumnya?
Novel ini dibuka dengan dialog antara Alif dengan Ibu kosnya di Bandung setelah kepulangan Alif dari Quebec, Kanada. Alif menghadiahkan daster macan kepada Ibu kos (Ibu Odah) yang telah berbaik hati tidak menyewakan kamar untuk penghuni lain selama Alif berada di Kanada. Namun semua euforia itu musnah seketika saat ada surat peringatan dari kampus tempatnya berkuliah (Unpad) untuk segera mendaftar ulang dan peringatan dari Ibu kos untuk segera membayar uang kos. Parah, uang yang tersisa di dompet hanya Rp 50.000,- saja!
Alif menelepon Bang Togar dengan maksud mau meminjam uang. Bang Togar malah menyalak dan mengingatkan mengenai honor yang belum dibayarkan oleh media lokal di Bandung yang memuat artikel Alif semasa Alif masih di Kanada. Alif pun girang bukan kepalang dan kedua masalah yang muncul pun akhirnya terselesaikan.
Alif akhirnya menjadi penulis kolom tetap di Warta Bandung dan media yang berbeda memintanya menulis mengenai analisis politik luar negeri. Kini setiap tulisan yang keluar dari kamarnya adalah tulisan yang pasti dimuat.  Jatah kiriman untuk Amak dan biaya sekolah adik-adiknya pun naik tiap bulannya.

Prestasi Alif tidak hanya sampai di situ. Setelah sidang skripsi, Alif segera memenuhi beasiswa sebagai visiting student di The National University of Singapore selama satu semester. Apakah hidup yang penuh kelimpahan ini akan bertahan?







Melegalisir ijazah adalah kegiatan yang populer di kalangan mahasiswa yang baru di wisuda. Alif Fikri pun melakukannya dan mulai berangan-angan untuk bisa bekerja di WHO, Unicef, ataupun media asing. Nahas! Saat itu, dia lulus pada waktu krisis moneter. Alif sudah mencoba melamar ke berbagai perusahaan nasional maupun asing dan jawabannya pun sama. Menolak!
Alif pun juga harus berhenti menulis kolom tetap di Warta Bandung akibat krismon. Puncaknya, Alif menarik tunai di ATM dari kartu kredit yang merupakan kesalahan elementer dan salah satu dosa terbesar seorang pemegang kartu kredit. Alif terjajah oleh utang.
Setelah Alif bertemu dengan Randai dan Raisa. Alif gamang. Sebenarnya jalan mana yang dia ambil? Akankah malah Randai yang memaknai salah satu mantra yang diajarkan di Pondok Madani:


Setelah merenung, Alif menyadari bahwa passion-nya adalah menulis. Alif telah menekuninya selama bertahun-tahun sejak berumur 13 tahun.


Setelah sempat diterima dan kemudian tidak jadi diterima oleh sebuah perusahaan multinasional akibat krismon. Alif segera mendapat pekerjaan sebagai wartawan di sebuah majalah nasional ternama di Indonesia—Derap—yang membawanya meliput rapat kontraktor proyek pemerintah dan kemungkinan adanya korupsi, bertemu dengan wartawan asing dari Associated Press, mewawancarai Jenderal yang terlibat kasus HAM di Irian Jaya, meliput korban kerusuhan 1998 dan akhirnya menjadi journalist of the week.
Di sini Alif pun segera bergelar Doktor bersama Pasus Warta—sahabat karibnya di Derap—karena sering mondok di kantor (Doktor). Niat hati ingin segera mencari kos di Jakarta, namun keinginan itu tinggallah keinginan :D Kebiasaan di Pondok Madani pun terbawa di Jakarta. Tidur beralas sajadah.
Di novel ini, kita juga belajar tentang integritas. Hal yang sangat konyol dan lucu adalah saat Pasus mendapat dooorprize kulkas dari suatu Departemen dan Mas Aji (Pimpinan redaksi di Derap) menyuruhnya mengembalikan ke Departemen terkait karena itu adalah SOGOKAN. Padahal semua rekannya sudah senang menerima kulkas itu dan mau tak mau harus membantu mengangkat kulkas itu ke bajaj dan Pasus pun mengembalikan ke Departemen terkait dengan bersungut-sungut karena membuatnya repot. Pasus berpikir bahwa sogokan itu ya amplop (uang). Ternyata kulkas pun juga sogokan.
“Ketika ada berita yang bisa dibeli, dipesan, diatur sesuai selera, saat itulah media tergadaikan kepada kuasa (Hal. 79).
Alif akhirnya menemukan passion-nya yakni mencari ilmu—belajar TOEFL—selain passion menulis. Maka ketika newsroom semakin senyap maka semakin menyala tekadnya. Dia tahu jika dia terus berjuang dalam sunyi, dia menuju sebuah tempat yang tidak semua orang akan sampai. Ke tempat orang-orang terpilih saja.



Mata kami beradu sejenak. Darahku berdesir. Hanya satu detik, tapi mampu membuat detak jantungku lebih cepat… Walau sekilas, aku tidak akan lupa. Alis itu, mata bulat itu. Aku seperti pernah kenal. Entah di mana (Hal. 84.)
             Gegara Alif penasaran dengan wanita yang duduk di ujung ruang tunggu dan membuatnya telat di rapat redaksi. Mas Aji pun mengazabnya dengan tugas meliput korban kerusuhan dan bentrokan massa di RS Cipto Mangunkusumo setelah jam 12 malam. Gadis bermata indah itu bikin gara-gara.
            “Saya Dinara… Di Depok. Komunikasi UI,”jawabnya.
            “Aku punya teman namanya Raisa, dulu kami sama-sama latihan di Cibubur. Dia pernah bawa temannya datang. Kayaknya aku melihat kamu di sana deh.”
            “Hah? Raisa itu sih sobat guee…  Ooo, iya. Gue pernah diajak waktu dia mau pergi ke Amerika.”
            “Kanada.”
            Si reporter baru—wanita—pun segera dikerubuti oleh reporter laki-laki lainnya seperti Pasus, Faisal (senior Dinara di UI), Yansen, bahkan Yono ikut mengantre dengan sapu ditangannya.
            Tak disangka, piket Sabtu sore mempertemukan Alif Fikri dengan Dinara Larasati. Hubungan mereka yang semula biasa saja akhirnya ‘mencair’ juga. Mulai dari ngobrol mengenai makna hidup, sekolah, dan TOEFL. Akhirnya, Dinara setuju jadi partner Alif untuk belajar TOEFL.
            Pernah suatu kali Alif dan Dinara mendapat tugas meliput Pramoedya Ananta Toer di Bojong. Di sepanjang perjalanan dari Jakarta ke Bogor itu, mereka ngobrol ngalur-ngidul mulai dari cita-cita Alif untuk kuliah di Amerika, cita-cita Dinara untuk kuliah di Westminster University di London, makna keluarga bagi Dinara, dan cara menjadi manusia terbaik versi Alif. Konyolnya, karena keasyikan ngobrol, mereka sampai stasiun Bogor, padahal mereka harus turun di stasiun Bojong. Semenjak kejadian itu, mereka semakin dekat.
            Singkatnya, Alif Fikri memenuhi beasiswa Fullbright di School of Media and Public Affair George Washington University. Lalu bagaimana degan Dinara? Apakah Dinara menerima lamaran Alif atau malah memilih memenuhi beasiswa S2-nya ke London?


Setelah Alif berhasil lulus kuliah S2 di George Washington University kemudian bekerja di ABN (American Broadcasting Network) dan pernah mewawancarai Menteri Pertahanan USA di Pentagon. Hidup hakikatnya adalah perantauan. Suatu masa akan kembali ke akar, ke yang satu, ke yang awal. Muara segala muara. Kemanakah selanjutnya Alif akan memaknai hidup? Tetap tinggal di Amerika atau tinggal di London sebagai senior editor di EBC (European Broadcasting Corporation) atau malah kembali ke tanah air? Simak kisah lengkapnya dengan membaca novelnya, hehehe…



Overall, bahasa yang digunakan dalam novel ini lugas khas seorang jurnalis dan kaya akan detail mengingat pembuatan novel ini membutuhkan waktu hampir dua tahun. Ahmad Fuadi pernah menyampaikan bahwa novel ketiga ini menceritakan masa ketika sudah dewasa sehingga sedikit lebih rumit sedangkan menuliskan cerita masa kanak-kanak itu tanpa beban. Novel ini ditulis disela-sela traveling ke Italia, Jerman, Afrika, dan Australia.
Alur novel maju dan muncul beberapa tokoh baru seperti Mas Garuda yang kehadirannya sangat membantu Alif—seperti Malaikat—yang menghilang setelah kejadian 9/11 (runtuhnya gedung kembar WTC) padahal Mas Garuda adalah seorang TKI yang ingin segera pulang ke tanah air pada tanggal nahas itu. Latar tempat detail bahkan ada dua peta di cover bagian dalam novel ini yang memperkuat visualisasi setting tempat di Washington DC dan New York City. Bahkan saya membayangkan betapa romantisnya saat National Cherry Blossom Festival di Washington DC.


Tak salah jika saya memberi 5 bintang untuk novel ini. Akhirnya, selamat membaca! Temukan inspirasi dalam novel ini dan ledakkan dinamit yang ada pada dirimu!

Judul                           : Rantau 1 Muara
Pengarang                   : Ahmad Fuadi
Tahun Terbit                : 2013
Penerbit                       : PT Gramedia Pustaka Utama
Jumlah Halaman          : 395
Kategori                      : Fiksi/Novel
Harga                          : Rp 75.000,-



Sabtu, 25 Mei 2013 2 komentar

Kaki-Kaki Cinta—Tere Liye



Siapa yang tak mengenal Tere Liye? Beliau adalah penulis berbakat yang sudah menghasilkan belasan karya dan 3 novelnya sudah di filmkan (Hafalan Sholat Delisa, Bidadari-Bidadari Surga, dan Moga Bunda Di Sayang Allah). Siapa sangka beliau adalah seorang dosen. Keren kan?
Dosen Manajemen Investasi Universitas Indonesia ini concern pada masalah remaja loh sob, salah satunya tentang kondisi yang jamak dan bahkan menjadi budaya di masyarakat Indonesia. Beliau sering berbagi nasehat di fans page FB Darwis Tere Liye. Berikut rangkumannya:
1.       Kekuatan “Tidak Bilang”
a)      Bolehkah menyatakan kerinduan? Perasaan kepada seseorang?
Tentu saja boleh. Tapi jika kita belum siap untuk mengikatkan diri dalam hubungan yang serius, ikatan yang bahkan oleh negara pun diakui dan dilindungi, maka sampaikanlah perasaan itu pada angin saat menerpa wajah, pada tetes air hujan saat menatap keluar jendela, pada butir nasi saat menatap piring, pada cicak di langit-langit kamar saat sendirian dan tak tahan lagi hingga boleh jadi menangis.
Dan jangan lupa, sampaikanlah perasaan itu pada yang Maha menyayangi. Semoga semua kehormatan perasaan kita dibalas dengan sesuatu yang lebih baik.
b)      Tidak perlu diumbar
“Sejatinya, rasa suka tidak perlu diumbar, ditulis, apalagi kau pamer-pamerkan. Semakin sering kau mengatakannya, jangan-jangan dia semakin hambar, jangan-jangan kita mengatakannya hanya karena untuk menyugesti, bertanya pada diri sendiri, apa memang sesuka itu.” (Tere Liye—Kau, Aku, dan Sepucuk Angpau Merah)
2.       Hakikat Menunggu
Tidak memilih juga pilihan. Memilih untuk tidak memilih. Pun menunggu juga usaha. Usaha untuk menunggu. Boleh jadi itu lebih baik daripada berantakan gara-gara tergesa-gesa.
Cinta sejati selalu datang pada saat yang tepat, waktu yang tepat, dan tempat yang tepat. Ia tidak pernah tersesat sepanjang kalian memiliki sesuatu. Apa sesuatu itu? Tentu saja bukan GPS, alat pelacak, peta, satelit, dan sebagainya, sesuatu itu adalah pemahaman yang baik bagaimana menjaga kehormatan perasaan dengan tidak melanggar nilai2 agama (Tere Liye, separuh quote dari novel ‘Kau, Aku & Sepucuk Angpau Merah’).
3.       Hakikat Berharap
 “Orang-orang yg merindu, namun tetap menjaga kehormatan perasaannya, takut sekali berbuat dosa, memilih senyap, terus memperbaiki diri hingga waktu memberikan kabar baik, boleh jadi doa-doanya menguntai tangga yg indah hingga ke langit. Kalaupun tidak dengan yang dirindukan, boleh jadi diganti yang lebih baik.”
4.       Wisdom Pergi
"Kau tahu, hakikat cinta adalah melepaskan. Semakin sejati ia, semakin tulus kau melepaskannya. Percayalah, jika memang itu cinta sejati kau, tidak peduli aral melintang, ia akan kembali sendiri padamu. Banyak sekali pecinta di dunia ini yang melupakan kebijaksanaan sesederhana itu. Malah sebaliknya, berbual bilang cinta, namun dia menggenggamnya erat-erat. Pasti akan kembali."(Dalam Novel “Eliana”, Tere Liye)

Nih, ada lagi sob wejangannya:
Pembuka kunci jodoh terbesar buat kalian adalah: Selalu berbuat baik, dan jadikan akhlak yg baik terpancar merekah di sekitar kalian. Maka insya Allah, seperti petromaks yg diletakkan di tengah-tengah sawah, kalian akan amat menarik perhatian serangga di sekitar–maaf kalau ilustrasinya hiperbolik.
Dan kalian akan langsung mendapatkan dua kabar baik sekaligus:
1. Yang mendekat tentu saja yang hanya bisa melihat kebaikan kalian tersebut. Otomatis terseleksi. Bukan sembarang lelaki yg terbiasa mengerubungi petromaks dengan pakaian seksi dan mengumbar aurat; jadi kalaupun yg mendekat sedikit, tak usah berkecil hati (itu sudah finalist-nya). Sy kadang kasihan dgn perempuan2 yg berusaha menarik perhatian lawan jenisnya dengan tampilan tak senonoh, boleh jadi kalian mendapatkannya, tp cintanya mungkin sedangkal tampilan fisik kalian sahaja.
2. Kabar baik kedua: otomatis dengan kebaikan2 itu, kalian juga mendapatkan manfaat tidak terlihat: tidak pusing dgn penilaian orang, tidak cemas dengan usia, dan tidak takut hidup sendiri, selalu bersyukur, menikmati setiap detik kehidupan.
Nah, tinggal semuanya sekarang dibungkus dengan pengharapan kepada yg maha memiliki harapan. Doa-doa.

Lalu?

Menikah, itu bukan akhir kisah cinta, tapi adalah awal kehidupan cinta yang lebih besar, lebih banyak masalah, dan lebih menuntut semua persiapan—bukan sekadar cinta.

Maka, mari menyiapkan diri untuk awal perjalanan berikutnya yang sudah menunggu, bukan sekadar tiba di akhir perjalanan sekarang.

PS:
Berikut foto-foto yang saat acara talkshow dengan Bang Tere di FK UNDIP. Btw, saya gabungan filosofi kaki-kaki cinta dari acara Talkshow dengan catatan Bang Tere yang terserak di FB-nya J



 
;