Selasa, 01 Januari 2013

Sebuah Nama di Selembar Struk ATM



Aku mematung di depan ATM. Niat hati ingin mentransfer dan masih berpikir penasaran untuk pertama kalinya. Siapakah sebenarnya pemilik rekening ini? Mahasiswa sekampus atau mahasiswa yang berasal dari kampus tetangga yang didominasi anak-anak teknik? Ah, bagaimana bisa? Apa peduliku? Yang penting, uang yang kemarin kami pinjam telah kembali kepada yang berhak.

***

“Kurang 10 JUTA!”pekik Rania.
“Iya, kita harus mengumpulkan uang sebanyak itu dalam dua hari atau kita tak akan pernah bisa mewujudkan impian kita,”kataku masygul.
“Pasti bisa! Khaira sudah menghubungi semua relasi kita?”tanya Rania masih antusias.
“Sudah,”kataku lirih.
“Coba hubungi lagi, mungkin kemarin masih banyak yang sibuk dan tidak ada yang bisa membantu kita. Dengan kita menghubungi lagi mungkin mereka akan paham kita sedang membutuhkan pertolongan. Tetap semangat, sist,”kata Rania masih dengan semangat tiada tanding.
Dalam hati aku pun masih berpikir dan hampir merasa menyerah. Tetapi impian ini sudah menjadi embrio sejak jaman senior-senior terdahulu. Mungkin embrionya sudah mengakar tetapi gak lahir-lahir.
“Lebih baik berusaha daripada tidak sama sekali!”pekikku dalam hati.

Seperti biasanya. Tugasku adalah meng-sms semua senior-senior dan menanyakan apakah ada uang lebih sehingga kami bisa meminjam. Kalo aku sedang mujur, senior-senior itu lah yang balik meneleponku. Mayoritas bilang,”Kami tidak ada uang sebanyak itu.” Dan aku pun berusaha bersabar di sela hiruk pikuk agenda kampus.

Tut tut tut tut. Bunyi sms masuk.
“Dik, mbak bisa minjamin uang. Tapi ini uang kas rohis SMA Negeri Ibu Pertiwi. Jadi tolong dikembalikan segera ya setelah kalian punya uang.”
Yes, sms dari senior! Alhamdulillah, walau tak seberapa. SATU JUTA lumayanlah untuk menambah dana yang kami butuhkan untuk merealisasikan impian kami.

Hari demi hari. Kami seperti orang gila. Ke sana kemari meminta pinjaman uang. Aku pun makin dekat dengan Rania dan Mbak Violet. Formasi yang sempurna dengan ciri khas watak masing-masing. Yang jelas, dalam ‘diam’ pun kami berjuang. Tinggal DUA HARI dan kami harus dapat uang 10 JUTA lagi!
Ternyata, dengan tekad yang kuat akhirnya kami bisa mendapatkan pinjaman-pinjaman itu. Sedikit demi sedikit dari uang pinjaman para senior telah membuat kami hampir bisa merealisasikan mimpi kami itu yakni membuat markas sebagai tempat multi fungsi untuk beristirahat, rapat, siraman rohani, dan berbagi kepada masyarakat.

Waktu pun bergerak demikian cepatnya. Tempo pengembalian uang begitu cepat. Gali lubang dan tutup lobang. Itu lah tugas kami. Tak apalah demi mewujudkan mimpi-mimpi.

***

Aku mematung di depan ATM. Niat hati ingin mentransfer dan masih berpikir penasaran untuk kedua kalinya. Siapakah sebenarnya pemilik rekening ini? Mahasiswa sekampus atau mahasiswa yang berasal dari kampus tetangga yang didominasi anak-anak teknik? Ah, bagaimana bisa? Apa peduliku? Yang penting, uang yang kemarin kami pinjam telah kembali kepada yang berhak.

Yang aku tahu. Seorang senior alumni rohis SMA Negeri Ibu Pertiwi menyuruhku mengirim ke rekening itu. Tetapi kan seniorku seorang perempuan. Kenapa nama di rekening itu laki-laki? Aku hanya berpikir positif, mungkin itu adiknya. Keesokan harinya aku bertanya kepada Mbak Violet bahwa senior alumni rohis SMA Negeri Ibu Pertiwi itu gak punya adik laki-laki. Hmmm, mungkin pacar! Ah, yang benar saja! Gak mungkin lah…. Aku tahu gimana karakter seniorku itu.


ENAM BULAN KEMUDIAN
Ketika aku sedang duduk menunggu giliran di sebuah Rumah Sakit ternama di Timur Jawa Dwipa. Aku mendengar nama itu disebut. Ya, nama yang ada di selembar struk ATM itu. Nama yang membuat aku penasaran karena aku hafal siapa saja donatur kami dan aku tahu siapa mereka. Lah yang satu ini. Kenapa membuatku bisa terusik? Padahal nominalnya kecil. SATU JUTA dibanding 20 JUTA yang kami butuhkan waktu itu. Penasaran ya tetap penasaran! Tak kan bisa ditawar sebelum ada jawaban.

Si empu nama itu berdiri. Ya, pemilik nama Rekyan Dwipa. Berdiri lalu memenuhi panggilan dari perawat itu. Aku tak tahu ada apa gerangan dia ke Rumah Sakit ini. Yang jelas aku ke Rumah Sakit karena tak tahan dengan pendengaranku yang bermasalah. Kata dokter kampus sih kotoran di telingaku sudah menggunung dan waktunya diangkat. Menggelikan sekali masalahku.

Rekyan Dwipa telah keluar dari ruangan itu. Hanya menatap sebentar ke arahku. Tiada senyum dan tiada kata. Yah, pasti dia hanya berpikir kenapa ada makhluk yang begitu peduli memperhatikan dia semenjak dia berdiri memenuhi panggilan hingga setelah dia diperiksa oleh dokter THT.
Dan dia pergi begitu saja. Menyisakan saya yang masih termangu di sini menunggu antrian. Huft, Rumah sakit pemerintah selalu ramai. Apapun harinya!

***

Aku bergegas setelah menyelesaikan kelas 3 SKS pagi ini. Yaks, dugaanku benar. Lorong lantai 4 ini ramai oleh pasien. Dalam hati aku bergumam,”Banyak banget ya orang yang bermasalah dengan telinga, hidung, dan tenggorokan.” Padahal matahari pun belum berada tepat di atas kepala kita.

 Seperti biasa, aku harus menunggu antrian. Aku datang kurang pagi. Yah, perlu ngapain ya? Gak bawa novel atau buku motivasi membuat hidupku runyam ditekuk kebosanan. Buku kuliah? Yang benar saja di tengah hiruk pikuk orang mencari kesembuhan aku membaca buku kuliah… Tengok kanan, tengok kiri. Tak ada yang cocok untuk diajak bicara. Atau aku yang terlalu kehabisan ide untuk memulai pembicaraan. Aku berdiri dan bruk. Aku menabrak kakek yang renta dan memakai tongkat sehingga dia duduk terjengkang. "Maaf, Kek....." Aku tercekat.

“Kek, gak papa kan?”kata Rekyan Dwipa sopan.
“Ya ndak apa-apa Yan, cuma sakit sedikit ini….”
“Iya Kek. Mari saya antar,”kata Rekyan Dwipa sambil memapah kakek itu.

Aku hanya bisa menatap dengan wajah ajaib melihat momen ini. Kedua orang itu menghilang setelah memasuki lorong menuju labirin-labirin yang dipenuhi dokter THT sekaligus perawat-perawatnya.
Baiklah, aku pun duduk menunggu. Menunggu giliranku dan menunggu mereka. Sampai giliranku, wajah-wajah yang kuharapkan tiada juga nampak. Ya sudah, buat apa pula diributkan. Itu hanya masalah nama di selembar struk ATM. Lagian aku juga sudah tahu orangnya. Lalu apa pula yang perlu aku tahu?

***

bersambung

0 komentar:

Posting Komentar

 
;