Kamis, 14 Februari 2013

HADITS ARBA'IN NAWAWI KE-9: MEMILIH YANG MUDAH DAN MENINGGALKAN YANG SUSAH

Abu Hurairah Abdurrahman bin Shahr ra berkata : Aku mendengar Rasulullah SAW bersabda : Apa yang kularang, jauhilah, dan apa yang kuperintah, laksanakan semampu kalian. Sesungguhnya yang membinasakan umat-umat sebelum kalian adalah banyak bertanya dan berselisih dengan nabi mereka.
(HR Bukhori dan Muslim)

AHAMMIYATUL HADITS (URGENSI HADITS)

Yang menjadikan HADITS ini sangat penting adalah perintah untuk senantiasa komitmen terhadap syariat ALLAH baik yang berupa larangan maupun perintah.

SABABUL WURUD (LATAR BELAKANG HADITS)
           
            Ibnu Abbas meriwayatkan bahwa Aqra’ bin Habis ra. Bertanya kepada nabi SAW saat haji wada’ sampai 3 kali,” Ya Rasulullah haji dilakukan setiap tahun atau sekali?” Rasululloh menjawab, “Sekali dan barangsiapa yang mampu maka kerjakanlah dengan segala kerelaan.” (HR Ibnu Majah)

FIQHUL HADITS (KANDUNGAN HADITS)

1.      Apa yang aku larang, maka jauhilah
a)      Larangan yang sifatnya haram, contoh: larangan berzina, minum-minuman keras, mencuri, membunuh tanpa alasan yang dibenarkan menurut syariah, membuka aurat di depan orang yang bukan muhrim, berdusta, menipu, suap, ghibah, namimah, dsb.
b)      Larangan yang sifatnya makruh, contoh: larangan makan bawang mentah bagi orang yang ke masjid untuk melakukan sholat jama’ah.
2.      Keterpaksaan menyebabkan dibolehkannnya melanggar larangan (Al Baqarah: 173)
Adh-dharuratu tubihul mahdzurat: keterpaksaan menyebabkan dibolehkannya larangan-larangan. Contoh: makan bangkai bagi orang yang tidak memiliki makanan sama sekali, dibolehkan membuka aurat dalam rangka berobat ke dokter, tidak diterapkannya hokum potong tangan terhadap orang yang mencuri karena terpaksa dsb.
3.      Komitmen terhadap perintah
a)      Perintah yang bersifat wajib
Perintah ALLAH SWT melalui Nabi Muhammad SAW kepada umat Islam untuk melakukan suatu perbuatan dan didasari berbagai hal yang menyatakan bahwa perintah tsb wajib. Contoh: shalat, zakat, haji, puasa, amar ma’ruf nahi munkar, menepati janji, dsb.
b)     Perintah yang bersifat sunah
Perintah ALLAH SWT melalui Nabi Muhammad SAW kepada kaum muslimin untuk melakukan satu perbuatan dan didasari berbagai hal yang menyatakan bahwa perintah tsb sunah. Contoh: shalat rawatib, perintah azan, nafkah untuk keluarga, perintah infak untuk kebaikan, dsb.
4.      Kesukaran mendatangkan kemudahan (Al Baqarah 185, Al Hajj 78)
Contoh: ALLAH membolehkan berbuka puasa bagi orang yang berpuasa dan melakukan perjalanan atau sakit, membolehkan untuk meng-qasar shalat bagi yang bepergian, membolehkan tayamum bagi orang yang hendak berwudhu taoi tidak menemukan air atau karena kulitnya tidak boleh terkena air (rukshah/dispensasi)
5.      Bagian kewajiban yang mudah tidak boleh ditinggalkan karena adanya bagian yang sulit (Al maysur laa yasquthu bil ma’sur) (Al Baqarah 186, Al Hasyr 7, Al Ahzab 21)
Contoh: ketika hendak sholat, ia tidak bisa berdiri, maka ia tetap harus melakukan shalat dengan kondisi yang bisa ia lakukan
6.      Menjauhi larangan dan mengikis sumber kerusakan
Contoh: wanita yang mengeluarkan zakat hartanya secara sempurna namun ia tetap tidak mengenakan jilbabnya
7.      Mencegah kerusakan lebih didahulukan daripada mengambil manfaat (Dar-ul mafasid muqaddamun ‘ala jalbil maslahih)
Contoh: tidak diperbolehkan menjual anggur kepada orang yang akan membuatnya menjadi khamer meskipun ia berani membayar dengan harga lebih tinggi.
8.      Penyebab kehancuran umat terdahulu
Rasululloh telah menjelaskan kepada kita bahwa penyebab kehancuran umat-umat terdahulu adalah akibat dua perkara. Dua hal tersebut adalah banyaknya pertanyaan yang tidak berguna dan tidak komitmen dengan syariat ALLAH.
9.      Macam-macam pertanyaan
a)      Pertanyaan yang diperintah
-          Bersifat fardhu ‘ain, contoh: bersuci, shalat, puasa, zakat, haji, dsb
“Maka tanyakanlah kepada orang yang mengerti, jika kalian tidak mengetahui (An Nahl 43)
-          Fardhu kifayah, contoh: mendalami masalah fiqih, hadits, tafsir (At Taubah 122)
-          Mandub (dianjurkan), contoh: menanyakan amalan sunnah atau untuk memperjelas hal-hal seputar sah atau batalnya satu perbuatan
b)     Pertanyaan yang dilarang
-          Haram, contoh: tentang waktu tibanya hari Kiamat, hakikat ruh, rahasia qada dan qadar.
-          Pertanyaan yang bertujuan untuk mengejek (Al Maidah 101)
-          Bertanya tentang mukjizat dengan sikap menentang, sebagaimana yang dilakukan oleh orang-orang musryrik
-          Menanyakan sesuatu yang rumit dan hampir tidak bisa dijawab
-          Makruh: pertanyaan yang lebih baik ditinggalkan walaupun jika ditanyakan, ia tidak berdosa
10.  Memahami dan mengamalkan lebih diutamakan daripada bertanya
Seorang muslim hendaklah lebih mementingkan untuk mengkaji dan berusaha memahami semua masalah yang datang dari ALLAH dan RasulNya. Jika yang diadapati adalah perkara yang bersifat normative maka hendaknya ia meyakinin kebenarannya. Namun, jika yang diadapati adalah perkara yang bersifat aplikatif maka bersegeralah untuk mengaplikasikannya.
11.  Sikap para ulama
Semua Imam berusaha mengkaji dan mendalami nilai-nilai yang terkandung dalam Al Qur’an melalui penafsiran Nabi SAW dan ucapan para sahabat dan tabi’in. inilah yang mereka tempuh, maka siapapun yang tidak mengikuti jejak mereka akan sesat dan menyesatkan.
12.  Pertanyaan terhadap sesuatu yang belum terjadi
Dalam kitab Al Marasiil, Abu Dawud meriwayatkan dari Muadz bin Jabal ra bahwa Rasululloh bersabda,” Janganlah kalian menyegerakan datangnya musibah. Jika kalian tidak menjalankan kewajiban, niscaya masih ada dari kalangan kaum muslimin orang yang berkata benar dan mendapat kemudahan. Jika kalian menyegerakan musibah niscaya kalian akan tercerai berai.
13.  Bertanya dengan tujuan mengamalkan
Rafi’ bin Hudaij ra. Bertanya kepada Rasululloh SAW, “ Ya Rasululloh, besok kami menghadapi musuh, sedangkan kami tidak memiliki pisau. Apakah kami boleh menyembelih dengan kulit tebu?” rasululloh menjawab,”Selama darahnya mengalir dan menyebut bismillah maka makanlah. Kecuali dengan gigi dan kuku.” (HR Bukhari dan Muslim)
14.  Ketaatan dan kepatuhan merupakan jalan keselamatan (Al Baqarah 285-286 dan An Nur 51-52)
Keselamatan dan keberuntungan hanya didapat dengan tunduk dan patuh terhadap semua perintah Allah dan rasulNya dan bukan dengan jalan mengikuti orang-orang yang selalu membangkang kepada RasulNya.
15.  Peringatan agar tidak terjadi perpecahan (Al Anbiya’ 92 dan Ali Imran 105)
Allah telah memberikan karakter bagi umat Islam dengan sebutan ummatan wahidah (umat yang satu).
16.  Balasan bagi orang yang keluar dari jamaah (Islam) dan menjadi penyebab terjadinya perpecahan dan perselisihan (An Nisa 115)
Islam sangat tegas terhadap siapapun yang menyebabkan tercerai berainya persatuan umat islam. Karenanya mereka diancam hukuman mati dan siksa yang pedih di akhirat.
17.  Berpegang teguh terhadap syariat Allah SWT merupakan jalan menuju persatuan (Ali Imran 103 dan Al An’am 185)
Rasululloh SAW bersabda,”Aku tinggalkan kepada kalian dua perkara. Jika kalian berpegang teguh pada keduanya, maka kalian tidak akan sesat selamanya. Dua hal itu adalah kitabullah dan sunahku.” (HR Al Hakim)
18.  Perselisihan dalam masalah agama (Ays Syura 13)
“Baca dan pelajarilah Al Qur’an, selama hatimu bersatu. Jika kalian berselisih paham, maka berhentilah (HR Bukhari)
19.  Bahaya mengikuti hawa nafsu (Al An’am 159, Ali Imran 105, dan Al bayyinah 4)
Menurut Al Qur’an, orang-orang yang berusaha membuat perpecahan berdasarkan hawa nafsu bukanlah termasuk dalam barisan orang-orang Islam.
20.  Bisa disimpulkan bahwa haji hanya diwajibkan sekali seumur hidup, bagi orang yang mampu

Referensi:
AL WAFI, Syarah Kitab Arba’in An-Nawawiyah, Menyelami Makna 40 Hadits Rasulululloh karya DR Musthafa Dieb Al Bugha Muhyidin Mistu

0 komentar:

Posting Komentar

 
;