Selasa, 12 Maret 2013

Wisata Murah Meriah di Menteng Part 2

Ini lanjutan serial traveling yang saya lakukan bersama sahabat saya--Myva--beberapa pekan yang lalu. Destinasi wisata masih di pusat kota  Jakarta yakni Menteng.

Setelah mengunjungi Taman Menteng dan Taman Kodok, saya dan Myva berjalan kaki menuju Taman Suropati, lumayan bisa membakar lemak dan tubuh bisa bugar.

3. Taman Suropati


Taman Suropati merupakan salah satu peninggalan arsitek Belanda PAJ Mooejen dan FJ Kubatz (1913), dilengkapi beberapa ornamen patung karya seni dan kolam dilengkapi air mancur serta rimbunan puluhan pohon mahoni, terletak dipertemuan Jalan Imam Bonjol dan Jalan Diponegoro, dipertemuan jalan tersebut ada taman bunga ditengahnya ada patung Pangeran Diponegoro, nah diseberang patung tersebut Taman Suropati berada. Setelah direnovasi di awal tahun 2010, track jalan taman dari batu alam jadi lebih bersih dan menarik para pengunjung dikala sore hari untuk bermain dan bercengkerama dengan putra-putri mereka.

Pada saat saya dan teman saya datang ke taman ini, suasananya ramai sekali yakni menjelang waktu sholat dzuhur. Ada satu bis wisata beserta anak SMP berwisata di sini, foto-foto, dan 'mempermainkan' burung-burung yang ada di areal taman Suropati. Maklum, lokasinya cukup strategis dan mudah dijangkau dengan kendaraan pribadi maupun moda transportasi umum seperti bus No.213 jurusan Kampung Melayu - Grogol atau bus No. 67 jurusan Blok M - Senen.

Saya dan sahabat saya datangnya kurang sore, kalau sore kan ada pertunjukan biola. Makin romantis aja nih kalo sore menjelang malam :) Selain itu di sini kami juga wisata kuliner tahu gejrot, maknyuss, enak tenan! apalagi ratu (ora tuku alias gratis dikasi sama Myva)



Bila kita berjalan di track dari Selatan ke Utara maka kita menemukan 6 karya seni yang berada 3 di kiri dan 3 di kanan, adapun 6 artifak di Taman Suropati itu menandakan semangat ASEAN sebagai berikut:
"Peace-Harmony And One" oleh Lee Kian Seng dari Malaysia
"The Spirit of ASEAN" oleh Wee Beng Chong dari Singapore
"Peace" oleh Sunaryo dari Indonesia
"Fraternity" oleh Nonthivathn Chandhanaphalin dari Thailand
"Harmony" oleh Awang Hj Latirf Aspar dari Brunei Darussalam
"Rebirth" oleh Luis E. Yee Jr (Junyee) dari Philippines


*sayang saya tidak memotret semua lambang ASEAN tersebut, kalau foto di atas menunjukkan The Peace of ASEAN

4. Masjid Agung Sunda Kelapa

Masjid ini dibangun atas prakarsa Ir. Gustaf Abbas pada tahun 1960-an, desain interior dan eksterior masjid ini dipenuhi simbol-simbol fleksibel. Tidak kaku dengan simbol Timur Tengah yang kerap menjadi harga mati untuk arsitektur masjid. Abbas adalah arsitek lulusan Insitut Teknologi Bandung [ITB], yang mematahkan arsitektur masjid di tanah air pada umumnya. Karyanya juga dapat Anda rasakan pada Masjid Salman di Jalan Ganesha, Bandung.



Tak seperti masjid kebanyakan, Masjid Agung Sunda Kelapa tak memiliki kubah, bedug, bintang-bulan, dan sederet simbol yang biasa terdapat dalam sebuah masjid. Menara yang ada pun sangat unik. Bentuk bangunannya mirip perahu, sebagai simbol pelabuhan Sunda Kelapa tempat saudagar muslim berdagang dan menyebarkan syariat Islam di masa lalu. Selain itu, bentuk perahu adalah makna simbolik kepasrahan seorang muslim. Bagaikan orang duduk bersila dengan tangan menengadah, berdoa mengharap rahmat dan kasih sayang-Nya.

Di sini, kami juga bisa berwisata kuliner karena tepat di depan masjid Agung Sunda Kelapa, banyak angkringan yang menjajakan makanan mulai dari Sate Padang, Sate dan Tongseng, Rujak Buah, Sushi, Jus dan Aneka Es Buah, Bakso, Mie Ayam, Es Degan, dsb. Ternyata ketika jam makan siang begini, cukup rame, banyak wisatawan domestik yang rehat di sini. Kami pun akhirnya  mencoba tongseng dan sate, namun dari kedua jenis makanan yang kami pesan, yang paling enak ya satenya :) Harganya pun pas di kantong...

5. Danau Situ Lembang

Setelah rehat sholat dan makan di areal Masjid Agung Sunda Kelapa, kami berjalan kaki ke Danau Situ Lembang dan menikmati rujak buah yang saya beli di areal Masjid Agung Sunda Kelapa tadi. Nikmatnyooo...


Taman Situ Lembang terletak di Jl. Lembang, Menteng, Jakarta Pusat, di sisi Jl. Lembang yang bersimpangan dengan Jl. Sutan Syahrir. Taman yang dibangun oleh pemerintah kolonial Belanda pada tahun 1920 ini seolah menjadi "oase" di tengah kepenatan hidup di ibu kota. Tempat ini merupakan salah satu ruang publik yang banyak digemari warga. Walaupun Taman Situ Lembang langsung berbatasan dengan jalan aspal dan rumah penduduk, suasana terasa tenang dan teduh, karena di sepanjang sisi taman terdapat pohon-pohon rindang. Taman ini terbuka untuk umum, dan biasanya digunakan warga untuk menikmati suasana nyaman dan tenang yang jarang ditemukan di tengah kepadatan kota Jakarta. Untuk masuk ke taman ini tidak dipungut biaya, sehingga tempat ini menjadi alternatif wisata murah bagi warga Jakarta, terutama yang tinggal di sekitar daerah Menteng.


Di tengah taman, terdapat danau buatan berbentuk oval dengan luas 11.500 meter persegi.Di tengahnya terdapat air mancur yang pada waktu-waktu tertentu menyemburkan airnya, serta tebaran daun teratai yang pada waktunya akan mengeluarkan bunga berwarna merah jambu. Sebagian besar warga yang datang ke taman ini umumnya memilih duduk-duduk di tepi danau. Beberapa orang bahkan terlihat asyik memancing ikan di danau. Terlihat beberapa orang sedang berjalan-jalan melintasi jalan setapak di sekeliling danau. Di tempat permainan anak yang terletak di salah satu sudut taman, banyak orang tua atau para pengasuh sedang menemani atau mengawasi anaknya bermain. Karena suasana nyaman di dalam taman ini, tak jarang tempat ini dijadikan sarana berkumpul berbagai komunitas.

6. Majid Cut Meutia


Setelah naik bemo, sampailah kami di Masjid Cut Meutia. Menjelang ashar kami rehat setelah capek berjalan-jalan di areal Menteng.


Masjid Cut Meutia sepintas tidak tampak seperti bangunan masjid pada umumnya karena memang awalnya bukanlah dibangun untuk keperluan sebagai rumah ibadah. Posisi mihrabnya juga tidak tepat berada di depan barisan jamaah, ini bisa dimaklumi  karena gedung ini dahulu adalah sebuah perkantoran milik Belanda.

Selain itu, bangunan ini tidak mempunyai kubah, menara atau pun plang nama besar yang biasa menjadi ciri khas masjid pun tak terdapat disana. Yang dapat dijadikan petunjuk bahwa bangunan tersebut masjid adalah kumandang adzan pada waktu shalat.

Dahulu masjid ini adalah kantor NV de Bouwploeg, sebuah perusahaan pengembang yang merancang dan membangun kawasan Nieuw. Baru pada tahun 1987 dengan SK Gubernur DKI Jaya no. 5184/1987 tanggal 18 Agustus, bangunan tersebut resmi menjadi masjid tingkat provinsi.

Nama Cut Meutia diambil dari jalan yang berada di dekat gedung tersebut, bangunan Masjid Cut Meutia dianggap pelopor arsitektur bergaya Hindia Belanda yang lebih sesuai untuk iklim tropis. Cirinya antara lain bumbung atap yang tinggi serta jendela-jendela lebar supaya udara segar bisa masuk.

7. Gedung Joang 45



Setelah rehat sejenak di Masjid Cut Meutia kami pun berjalan kaki ke Gedung Joang 45. Namun kami kurang beruntung karena ternyata ketika hari libur Maulid (hari besar), museum ini tutup. Yahhh.... gak bisa menikmati suasana Gedung Joang 45, mungkin lain ya :)

Baik sobat, edisi traveling murah meriah di Menteng telah selesai, sampai jumpa di edisi traveling selanjutnya yang tak kalah seru... Salam Wisata!




Referensi:
http://www.idjakarta.com/pusat/menteng/menteng/kodepos10310/tamansuropati.html
http://masjidagungsundakelapa.or.id/index.php/profil
http://www.adirafacesofindonesia.com/article.htm/501/Taman-Situ-Lembang--Oase-di-Tengah-Kota-Jakarta
http://travel.ghiboo.com/masjid-cut-meutia-menteng-sarat-sejarah


0 komentar:

Posting Komentar

 
;