Senin, 15 April 2013

Being a Housewife is a Miracle?




Apa yang terlintas di benak Anda ketika mendengar Ibu Rumah Tangga?

Di masa yang semakin modern ini, profesi mulia ini mungkin sedikit ter’abai’kan. Bukan tanpa fakta. Bahkan di desa-desa pun, tak sedikit seorang Ibu juga menjadi kuli maton (menyiangi rumput di sawah), buruh pabrik, menjadi TKI, menjadi PRT yang tentu saja sungguh menyita waktu untuk sepenuhnya menjalankan profesi mulia sebagai fully housewife.

Selama satu dekade terakhir telah terjadi peningkatan partisipasi kerja wanita, termasuk ibu rumahtangga di daerah perkotaan Indonesia, yaitu dari 32 menjadi 40 persen (Republik Indonesia, 1994). Peningkatan ini tidak terlepas dari keberhasilan pembangunan terutama di bidang ekonomi, pendidikan wanita dan keluarga berencana (Chatterjee, 1989 dalam Hardinsyah, 1996).
Peningkatan partisipasi kerja wanita mempunyai efek positif dan negatif. Efek positifnya antara lain makin sedikitnya jumlah anak, meningkatnya kesejahteraan ekonomi,  ikut aktif dalam membangun dan mengurangi sifat ketergantungan pada pria. Sedangkan segi negatifnya adalah pengejaran karier wanita dapat mengecilkan arti keberadaan suami, kemungkinan membawa efek negatif pada pembinaan anak, terjadinya pelanggaran pergaulan wanita-pria yang bukan muhrimnya, wanita kerja merupakan saingan kerja bagi pria (Latief, D., 1986).
Seakan-akan saat ini, profesi menjadi Ibu Rumah Tangga itu sudah tidak keren lagi. Padahal profesi menjadi Ibu Rumah Tangga itu sangat mulia. Mengingat masa kini dengan semakin berkembangnya teknologi yang semakin canggih. Internet semakin mudah diakses lewat genggaman tangan (baca: gadget). Bukan tidak mungkin informasi-informasi yang seharusnya di-filter untuk generasi mendatang (anak-anak dan remaja yang notabene masih labil) ternyata jebol juga karena kurang pengawasan seorang Ibu kepada anak-anaknya yang masih butuh pengawasan.

Tak dipungkiri, kondisi perekonomian sebagian besar masyarakat Indonesia yang masih ‘perlu ditingkatkan’ akhirnya menyebabkan seperti tidak ada pilihan bagi wanita untuk bekerja. Kemudian terjadi peralihan ‘impian profesi’ dari seorang ‘housewife’ menjadi ‘working mother.’

Apa sih sebenarnya plus minus dari menjadi seorang ‘housewife’ & menjadi ‘working mother’ ?



Sebenarnya jawaban itu kembali kepada naluri masing-masing Ibu atau calon Ibu.

2.       Fully HouseWife
Sepertinya ini adalah jawaban mutlak dan terbaik untuk generasi mendatang yang jauh lebih baik (akhlaqul karimah, cerdas, dan bermanfaat untuk bangsa dan Negara). Ibu adalah madrasah pertama bagi anak-anaknya. Ibu adalah sekolah yang ‘menuntun’ anak untuk bisa merangkak, berjalan, naik sepeda, bermain, membaca, berhitung, sholat, menghafal Al Qur’an, bersikap baik terhadap sesama, santun terhadap orang yang lebih tua, mengabdi pada Negara. Indah bukan?
Yang saya maksud fully housewife di sini konteksnya bukan sangat kaku bahwa Ibu itu ya tugasnya merawat anak, memasak, mencuci, menyapu, mengepel, merawat bunga, dll. Tetapi seorang Ibu Rumah Tangga juga bisa berkreasi misal berjualan secara online mengingat Ibu rumah tangga merupakan 15,3 % pengguna internet di Indonesia (survey Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII) tahun 2012), writerpreneur (bisa menulis/berbagi terkait parenting), blogger (ada beberapa blogger yang sukses dan aktif menulis), aktivis sosial (pemberdayaan ekonomi masyarakat), dsb.
Yang jelas contoh tersebut di atas hanyalah sepersekian contoh seorang Ibu yang tetap bisa berkreasi namun tetap bisa menjadi fully housewife.

Menjadi Ibu Rumah Tangga, Masihkah Sebuah Keajaiban?


Referensi:
Suyatno, 1997, Partisipasi Kerja Wanita Pada Sektor Pekerjaan Formal, Implikasinya Terhadap Ekonomi Keluarga Dan Pemberian Air Susu Ibu Pada Anak-Anak. Studi Di Kodia Semarang, Jawa Tengah, Undip: Semarang

0 komentar:

Posting Komentar

 
;