Minggu, 07 April 2013

Melarung Siluet


Itu mula
Sebaris senyum yang tersungging dan rona yang bersitatap pada suatu sua

Aku bernama kesempatan
yang membawa
ukiran jejak

Anak kehidupan datang pada ruangku
Dia datang mengendap-endap berharap tak terjejak

                Pada ruangku—kesempatan—anak kehidupan menyapa
                Riang
                Membawa hingar dan bening

Aih, pesonanya pun menguar dalam nuansa
Itu jelma dari manifestasi  rupa—hati—yang tak lagi kembara

Ada yang menyerap jejak hingar dan bening itu pada ruangku—kesempatan—lalu mendekap erat siluet anak kehidupan yang menghilang di tikungan

Tanyaku,”Wahai tamu, indah nian lakumu menyesap jejak anak kehidupan?”
Jawabmu,”Aku tak sampai menyesapnya! Aku hanya melarung siluet. Apa salah?”

Semarang, 7 April 2012





0 komentar:

Posting Komentar

 
;