Sabtu, 25 Mei 2013 2 komentar

Kaki-Kaki Cinta—Tere Liye



Siapa yang tak mengenal Tere Liye? Beliau adalah penulis berbakat yang sudah menghasilkan belasan karya dan 3 novelnya sudah di filmkan (Hafalan Sholat Delisa, Bidadari-Bidadari Surga, dan Moga Bunda Di Sayang Allah). Siapa sangka beliau adalah seorang dosen. Keren kan?
Dosen Manajemen Investasi Universitas Indonesia ini concern pada masalah remaja loh sob, salah satunya tentang kondisi yang jamak dan bahkan menjadi budaya di masyarakat Indonesia. Beliau sering berbagi nasehat di fans page FB Darwis Tere Liye. Berikut rangkumannya:
1.       Kekuatan “Tidak Bilang”
a)      Bolehkah menyatakan kerinduan? Perasaan kepada seseorang?
Tentu saja boleh. Tapi jika kita belum siap untuk mengikatkan diri dalam hubungan yang serius, ikatan yang bahkan oleh negara pun diakui dan dilindungi, maka sampaikanlah perasaan itu pada angin saat menerpa wajah, pada tetes air hujan saat menatap keluar jendela, pada butir nasi saat menatap piring, pada cicak di langit-langit kamar saat sendirian dan tak tahan lagi hingga boleh jadi menangis.
Dan jangan lupa, sampaikanlah perasaan itu pada yang Maha menyayangi. Semoga semua kehormatan perasaan kita dibalas dengan sesuatu yang lebih baik.
b)      Tidak perlu diumbar
“Sejatinya, rasa suka tidak perlu diumbar, ditulis, apalagi kau pamer-pamerkan. Semakin sering kau mengatakannya, jangan-jangan dia semakin hambar, jangan-jangan kita mengatakannya hanya karena untuk menyugesti, bertanya pada diri sendiri, apa memang sesuka itu.” (Tere Liye—Kau, Aku, dan Sepucuk Angpau Merah)
2.       Hakikat Menunggu
Tidak memilih juga pilihan. Memilih untuk tidak memilih. Pun menunggu juga usaha. Usaha untuk menunggu. Boleh jadi itu lebih baik daripada berantakan gara-gara tergesa-gesa.
Cinta sejati selalu datang pada saat yang tepat, waktu yang tepat, dan tempat yang tepat. Ia tidak pernah tersesat sepanjang kalian memiliki sesuatu. Apa sesuatu itu? Tentu saja bukan GPS, alat pelacak, peta, satelit, dan sebagainya, sesuatu itu adalah pemahaman yang baik bagaimana menjaga kehormatan perasaan dengan tidak melanggar nilai2 agama (Tere Liye, separuh quote dari novel ‘Kau, Aku & Sepucuk Angpau Merah’).
3.       Hakikat Berharap
 “Orang-orang yg merindu, namun tetap menjaga kehormatan perasaannya, takut sekali berbuat dosa, memilih senyap, terus memperbaiki diri hingga waktu memberikan kabar baik, boleh jadi doa-doanya menguntai tangga yg indah hingga ke langit. Kalaupun tidak dengan yang dirindukan, boleh jadi diganti yang lebih baik.”
4.       Wisdom Pergi
"Kau tahu, hakikat cinta adalah melepaskan. Semakin sejati ia, semakin tulus kau melepaskannya. Percayalah, jika memang itu cinta sejati kau, tidak peduli aral melintang, ia akan kembali sendiri padamu. Banyak sekali pecinta di dunia ini yang melupakan kebijaksanaan sesederhana itu. Malah sebaliknya, berbual bilang cinta, namun dia menggenggamnya erat-erat. Pasti akan kembali."(Dalam Novel “Eliana”, Tere Liye)

Nih, ada lagi sob wejangannya:
Pembuka kunci jodoh terbesar buat kalian adalah: Selalu berbuat baik, dan jadikan akhlak yg baik terpancar merekah di sekitar kalian. Maka insya Allah, seperti petromaks yg diletakkan di tengah-tengah sawah, kalian akan amat menarik perhatian serangga di sekitar–maaf kalau ilustrasinya hiperbolik.
Dan kalian akan langsung mendapatkan dua kabar baik sekaligus:
1. Yang mendekat tentu saja yang hanya bisa melihat kebaikan kalian tersebut. Otomatis terseleksi. Bukan sembarang lelaki yg terbiasa mengerubungi petromaks dengan pakaian seksi dan mengumbar aurat; jadi kalaupun yg mendekat sedikit, tak usah berkecil hati (itu sudah finalist-nya). Sy kadang kasihan dgn perempuan2 yg berusaha menarik perhatian lawan jenisnya dengan tampilan tak senonoh, boleh jadi kalian mendapatkannya, tp cintanya mungkin sedangkal tampilan fisik kalian sahaja.
2. Kabar baik kedua: otomatis dengan kebaikan2 itu, kalian juga mendapatkan manfaat tidak terlihat: tidak pusing dgn penilaian orang, tidak cemas dengan usia, dan tidak takut hidup sendiri, selalu bersyukur, menikmati setiap detik kehidupan.
Nah, tinggal semuanya sekarang dibungkus dengan pengharapan kepada yg maha memiliki harapan. Doa-doa.

Lalu?

Menikah, itu bukan akhir kisah cinta, tapi adalah awal kehidupan cinta yang lebih besar, lebih banyak masalah, dan lebih menuntut semua persiapan—bukan sekadar cinta.

Maka, mari menyiapkan diri untuk awal perjalanan berikutnya yang sudah menunggu, bukan sekadar tiba di akhir perjalanan sekarang.

PS:
Berikut foto-foto yang saat acara talkshow dengan Bang Tere di FK UNDIP. Btw, saya gabungan filosofi kaki-kaki cinta dari acara Talkshow dengan catatan Bang Tere yang terserak di FB-nya J



 
;