Minggu, 09 Juni 2013 0 komentar

Resensi Rantau 1 Muara: Kombinasi 3 Pencarian


Rantau 1 Muara—novel ketiga dari trilogi Negeri 5 Menara—karya Ahmad Fuadi kembali hadir dan menjadi novel pamungkas setelah Ranah 3 Warna sukses di pasaran. Sekilas ditilik dari cover novel dengan elemen air, tanah, perahu, dan dua orang manusia sedang mendayung sangat menarik perhatian. Dalam hati, apakah novel ini sangat inspiratif seperti dua novel sebelumnya?
Novel ini dibuka dengan dialog antara Alif dengan Ibu kosnya di Bandung setelah kepulangan Alif dari Quebec, Kanada. Alif menghadiahkan daster macan kepada Ibu kos (Ibu Odah) yang telah berbaik hati tidak menyewakan kamar untuk penghuni lain selama Alif berada di Kanada. Namun semua euforia itu musnah seketika saat ada surat peringatan dari kampus tempatnya berkuliah (Unpad) untuk segera mendaftar ulang dan peringatan dari Ibu kos untuk segera membayar uang kos. Parah, uang yang tersisa di dompet hanya Rp 50.000,- saja!
Alif menelepon Bang Togar dengan maksud mau meminjam uang. Bang Togar malah menyalak dan mengingatkan mengenai honor yang belum dibayarkan oleh media lokal di Bandung yang memuat artikel Alif semasa Alif masih di Kanada. Alif pun girang bukan kepalang dan kedua masalah yang muncul pun akhirnya terselesaikan.
Alif akhirnya menjadi penulis kolom tetap di Warta Bandung dan media yang berbeda memintanya menulis mengenai analisis politik luar negeri. Kini setiap tulisan yang keluar dari kamarnya adalah tulisan yang pasti dimuat.  Jatah kiriman untuk Amak dan biaya sekolah adik-adiknya pun naik tiap bulannya.

Prestasi Alif tidak hanya sampai di situ. Setelah sidang skripsi, Alif segera memenuhi beasiswa sebagai visiting student di The National University of Singapore selama satu semester. Apakah hidup yang penuh kelimpahan ini akan bertahan?







Melegalisir ijazah adalah kegiatan yang populer di kalangan mahasiswa yang baru di wisuda. Alif Fikri pun melakukannya dan mulai berangan-angan untuk bisa bekerja di WHO, Unicef, ataupun media asing. Nahas! Saat itu, dia lulus pada waktu krisis moneter. Alif sudah mencoba melamar ke berbagai perusahaan nasional maupun asing dan jawabannya pun sama. Menolak!
Alif pun juga harus berhenti menulis kolom tetap di Warta Bandung akibat krismon. Puncaknya, Alif menarik tunai di ATM dari kartu kredit yang merupakan kesalahan elementer dan salah satu dosa terbesar seorang pemegang kartu kredit. Alif terjajah oleh utang.
Setelah Alif bertemu dengan Randai dan Raisa. Alif gamang. Sebenarnya jalan mana yang dia ambil? Akankah malah Randai yang memaknai salah satu mantra yang diajarkan di Pondok Madani:


Setelah merenung, Alif menyadari bahwa passion-nya adalah menulis. Alif telah menekuninya selama bertahun-tahun sejak berumur 13 tahun.


Setelah sempat diterima dan kemudian tidak jadi diterima oleh sebuah perusahaan multinasional akibat krismon. Alif segera mendapat pekerjaan sebagai wartawan di sebuah majalah nasional ternama di Indonesia—Derap—yang membawanya meliput rapat kontraktor proyek pemerintah dan kemungkinan adanya korupsi, bertemu dengan wartawan asing dari Associated Press, mewawancarai Jenderal yang terlibat kasus HAM di Irian Jaya, meliput korban kerusuhan 1998 dan akhirnya menjadi journalist of the week.
Di sini Alif pun segera bergelar Doktor bersama Pasus Warta—sahabat karibnya di Derap—karena sering mondok di kantor (Doktor). Niat hati ingin segera mencari kos di Jakarta, namun keinginan itu tinggallah keinginan :D Kebiasaan di Pondok Madani pun terbawa di Jakarta. Tidur beralas sajadah.
Di novel ini, kita juga belajar tentang integritas. Hal yang sangat konyol dan lucu adalah saat Pasus mendapat dooorprize kulkas dari suatu Departemen dan Mas Aji (Pimpinan redaksi di Derap) menyuruhnya mengembalikan ke Departemen terkait karena itu adalah SOGOKAN. Padahal semua rekannya sudah senang menerima kulkas itu dan mau tak mau harus membantu mengangkat kulkas itu ke bajaj dan Pasus pun mengembalikan ke Departemen terkait dengan bersungut-sungut karena membuatnya repot. Pasus berpikir bahwa sogokan itu ya amplop (uang). Ternyata kulkas pun juga sogokan.
“Ketika ada berita yang bisa dibeli, dipesan, diatur sesuai selera, saat itulah media tergadaikan kepada kuasa (Hal. 79).
Alif akhirnya menemukan passion-nya yakni mencari ilmu—belajar TOEFL—selain passion menulis. Maka ketika newsroom semakin senyap maka semakin menyala tekadnya. Dia tahu jika dia terus berjuang dalam sunyi, dia menuju sebuah tempat yang tidak semua orang akan sampai. Ke tempat orang-orang terpilih saja.



Mata kami beradu sejenak. Darahku berdesir. Hanya satu detik, tapi mampu membuat detak jantungku lebih cepat… Walau sekilas, aku tidak akan lupa. Alis itu, mata bulat itu. Aku seperti pernah kenal. Entah di mana (Hal. 84.)
             Gegara Alif penasaran dengan wanita yang duduk di ujung ruang tunggu dan membuatnya telat di rapat redaksi. Mas Aji pun mengazabnya dengan tugas meliput korban kerusuhan dan bentrokan massa di RS Cipto Mangunkusumo setelah jam 12 malam. Gadis bermata indah itu bikin gara-gara.
            “Saya Dinara… Di Depok. Komunikasi UI,”jawabnya.
            “Aku punya teman namanya Raisa, dulu kami sama-sama latihan di Cibubur. Dia pernah bawa temannya datang. Kayaknya aku melihat kamu di sana deh.”
            “Hah? Raisa itu sih sobat guee…  Ooo, iya. Gue pernah diajak waktu dia mau pergi ke Amerika.”
            “Kanada.”
            Si reporter baru—wanita—pun segera dikerubuti oleh reporter laki-laki lainnya seperti Pasus, Faisal (senior Dinara di UI), Yansen, bahkan Yono ikut mengantre dengan sapu ditangannya.
            Tak disangka, piket Sabtu sore mempertemukan Alif Fikri dengan Dinara Larasati. Hubungan mereka yang semula biasa saja akhirnya ‘mencair’ juga. Mulai dari ngobrol mengenai makna hidup, sekolah, dan TOEFL. Akhirnya, Dinara setuju jadi partner Alif untuk belajar TOEFL.
            Pernah suatu kali Alif dan Dinara mendapat tugas meliput Pramoedya Ananta Toer di Bojong. Di sepanjang perjalanan dari Jakarta ke Bogor itu, mereka ngobrol ngalur-ngidul mulai dari cita-cita Alif untuk kuliah di Amerika, cita-cita Dinara untuk kuliah di Westminster University di London, makna keluarga bagi Dinara, dan cara menjadi manusia terbaik versi Alif. Konyolnya, karena keasyikan ngobrol, mereka sampai stasiun Bogor, padahal mereka harus turun di stasiun Bojong. Semenjak kejadian itu, mereka semakin dekat.
            Singkatnya, Alif Fikri memenuhi beasiswa Fullbright di School of Media and Public Affair George Washington University. Lalu bagaimana degan Dinara? Apakah Dinara menerima lamaran Alif atau malah memilih memenuhi beasiswa S2-nya ke London?


Setelah Alif berhasil lulus kuliah S2 di George Washington University kemudian bekerja di ABN (American Broadcasting Network) dan pernah mewawancarai Menteri Pertahanan USA di Pentagon. Hidup hakikatnya adalah perantauan. Suatu masa akan kembali ke akar, ke yang satu, ke yang awal. Muara segala muara. Kemanakah selanjutnya Alif akan memaknai hidup? Tetap tinggal di Amerika atau tinggal di London sebagai senior editor di EBC (European Broadcasting Corporation) atau malah kembali ke tanah air? Simak kisah lengkapnya dengan membaca novelnya, hehehe…



Overall, bahasa yang digunakan dalam novel ini lugas khas seorang jurnalis dan kaya akan detail mengingat pembuatan novel ini membutuhkan waktu hampir dua tahun. Ahmad Fuadi pernah menyampaikan bahwa novel ketiga ini menceritakan masa ketika sudah dewasa sehingga sedikit lebih rumit sedangkan menuliskan cerita masa kanak-kanak itu tanpa beban. Novel ini ditulis disela-sela traveling ke Italia, Jerman, Afrika, dan Australia.
Alur novel maju dan muncul beberapa tokoh baru seperti Mas Garuda yang kehadirannya sangat membantu Alif—seperti Malaikat—yang menghilang setelah kejadian 9/11 (runtuhnya gedung kembar WTC) padahal Mas Garuda adalah seorang TKI yang ingin segera pulang ke tanah air pada tanggal nahas itu. Latar tempat detail bahkan ada dua peta di cover bagian dalam novel ini yang memperkuat visualisasi setting tempat di Washington DC dan New York City. Bahkan saya membayangkan betapa romantisnya saat National Cherry Blossom Festival di Washington DC.


Tak salah jika saya memberi 5 bintang untuk novel ini. Akhirnya, selamat membaca! Temukan inspirasi dalam novel ini dan ledakkan dinamit yang ada pada dirimu!

Judul                           : Rantau 1 Muara
Pengarang                   : Ahmad Fuadi
Tahun Terbit                : 2013
Penerbit                       : PT Gramedia Pustaka Utama
Jumlah Halaman          : 395
Kategori                      : Fiksi/Novel
Harga                          : Rp 75.000,-



 
;