Minggu, 14 Juli 2013 0 komentar

Dari Pisa Kafe, Semarang Terlihat Elok Bercahaya

Ramadhan kali ini lebih terasa special bagi saya karena mobilitas cukup tinggi namun kebersamaan tetap terjaga. Hidup selalu berproses. Datang dan pergi adalah sebuah keniscayaan. Di Semarang baru 4,5 bulan harus sudah pindah kota lagi. Akhirnya, saya mencari-cari destinasi wisata kuliner ciamik buat farewell party  di Semarang dan saya nemu ini. Pisa Kafé!

Lompatan gaya hidup mungkin menjadi tren kelas menengah. Mencoba mencicipi hal baru, termasuk saya mencoba membuat farewell party kecil-kecilan di sini. Demi mewujudkan impian saya yakni  memotret lembah dan ngarai bercahaya di Semarang. Di hari Sabtu malam Minggu pun terwujud.
Ini nih hasil jepretan temen saya pake kamera BB biasa. Bagus kan view-nya, apalagi kalo malem, sayang belom punya DSLR :D



Oya, sambil mengingat prinsip 5P Philip Kotler. Baik, kita mule bahas dari Product dan Price nya ya?

Di sini, saya mencoba menu Lasagna Al Forno (52.000 IDR) dan memesan Jus Melon dan air mineral. Hmmm, membuat saya kenyang :D Sebenarnya bukan mencoba sih, soalnya udah beberapa kali makan Lasagna. Tapi gak papa lah, so far so delicious. Kalo masalah harga ya rata-rata harga kafe di Semarang lah. Apalagi dengan view ngarai bercahaya dari lampu-lampu rumah penduduk yang berkerlap-kerlip jika dilihat dari Pisa Kafe ini… Ini nilai plusnya :D


Selain itu, menu yang disajikan ada Pisa Americana yakni pizza bisa buat berdelapan (price: 115.000 IDR). Pizza yang ada zaitunnya, saya gak sempat nyoba soalnya udah gak kebagian dan udah kekenyangan :D
Trus ada Zuppa Cremosa (25.500): sup dalam roti. Ini nih pesanan senior saya, saya gak icip-icip :D
Juga ada spaghetti macam Bianconerri (31.500 IDR) dan Bolognese (40.000 IDR). Yups sesuai dengan nama kafenya yakni Pisa Kafe maka menu yang ditawarkan berbau Italiano versi Indonesia lah ya….
Tapi jangan khawatir bagi yang gak suka menu Italia, ada menu Indonesia: Sup Iga (75.000 IDR) bisa jadi alternatif kan...


Dari semua minuman yang paling menarik adalah Herbal in Honey (18.500 IDR): mixed antara jahe, madu, lemon, dan sere. Seger kan?

Emang sih agak nyesek kalo buat mentraktir tapi jangan khwatir ada diskon 30% yang ditawarkan oleh 3 Kartu Kredit dari Bank BUMN maupun swasta dan saya pun menggunakannya. Biar dapat diskon :D

Oya, Pisa Kafe ini terletak (Place) di Jalan Diponegoro 22A, kawasan Siranda, Semarang. Untuk akses kesana mudah kok. Saya aja yang belum tahu bisa nemu tempat itu setelah nanya2 ke masyarakat padahal di BB ada GPS :D Taxi di Semarang juga banyak tinggal pilih.


Kalo masalah Promotion sepertinya worth of mouth cukup mujarab. Buktinya tetap rame walau gak penuh sih, mungkin masih kalah dengan promo All you can eat Shabu Auce yang full book. Namun Pisa Kafe tetep terdepan sih kalo dibandingkan dengan pesaing sejenis yang menawarkan keunikan Kafe yang bisa melihat Semarang dari atas.


Terakhir mengenai People, karyawan Kafe cukup responsif walau kurang ramah dan kurang senyum. Semoga manajemen Pisa Kafe lebih baik lagi dalam men-training karyawan mereka supaya mengedepankan kepuasan pelanggan.

Yups, demikian reportase saya mengenai Pisa Kafe ini, semoga bisa menjadi referensi alternatif tempat berbuka puasa. Selamat menunaikan ibadah puasa…

Semarang, 13 Juli 2013


Selasa, 09 Juli 2013 0 komentar

Just Say Hello Man—Sebuah Intermezo

Aku berlari-lari menuju gerbong 3. Semenjak kuliah sampai sekarang, kereta adalah moda transportasi favoritku. Entah sampai kapan…
Aku segera menghempaskan tubuhku ke kursi yang menjadi hak ku. Dalam hati melenguh. “Benar-benar kelas Ekonomi AC, duduk berhadapan tanpa privasi,”gerutuku.
Seorang Ibu di sampingku mengajakku bicara. Beliau berkisah mengenai anaknya (anak gaul Jakarta) yang masih SMP dan mau mengambil kursus bahasa Inggris di Kampung Inggris, Pare (Kediri). Sampai lah tahapan  membahas beasiswa. Dan aku selalu bangga kepada adikku yang telah berhasil menggenggam salah satu impiannya untuk kuliah di Institut terbaik di negeri ini tanpa membayar biaya kuliah sepeserpun. Bagian perjuangannya adalah kisah yang selalu kuceritakan kepada setiap orang, bagiku akan sangat bermanfaat jika yang mendengar termotivasi.
Lama-lama setelah habis bahan percakapan dan kereta belum juga sampai di Semarang, saya pun berusaha tidur ayam. Gak bisa tidur beneran karena takut kelewatan.
Satu jam sebelum sampai di Semarang, saya sudah siap-siap. Membuka mata dengan malas. Melihat sekilas lelaki di depan saya itu mirip Raditya Dika, cuma Dia berkacamata. Karena Ibu di samping saya sudah pergi dan mendadak saya merasa di antara para penyamun (samping dan depan saya semua lelaki). Saya membuang muka ke jendela. Jiah, bayangan mas-mas mirip Raditya Dika itu pun sontak bertengger di kaca. Mungin dia juga tahu kalau saya memperhatikan lewat kaca. Membunuh waktu dan saya tidak ingin terlewat untuk turun Semarang.
Berikutnya, saya seperti melihat sebuah lakon romance. Seorang lelaki berjas kasual membuka pintu gerbong untuk seorang akhwat. Si akhwat ke toilet. Setelah selesai, lelaki itu pun membukakan pintu lagi. Si akhwat melenggang masuk ke gerbong. Ganti si ikhwan yang masuk ke toilet. Hmmm, so sweet gak? Sepertinya mereka pengantin baru :D
Ketika saya turun, saya melihat mereka berdua juga turun Semarang. Saya tersenyum dalam hati. Senang melihat keluarga seromantis ini.
“Turun sini mbak? Mau kemana?”
“Jatingaleh,”kataku.
Si mas mirip Raditya Dika itu hanya say little things itu kepadaku lalu dia pergi. Haha, mungkin karena aku pake wajah datar kali ya, habis tidur ayam sih :D
--lagi-lagi ini hanya intermezzo, jangan diambil pusing--


Senin, 08 Juli 2013 3 komentar

Aku, Lawang Sewu Semarang, dan Mutasi

Pertama kali menginjakkan kaki ke bumi asem arang-arang alias Semarang. Haru! Setidaknya berkat tugas dinas, saya bisa mengenal kota ini dalam waktu 4 bulan.
***

Setelah turun dari Pesawat (Cengkareng-Ahmad Yani), saya sangat senang dengan Surat Keputusan yang membuat saya tinggal di sini. Bahagia yang menggelegak ketika taxi yang saya tumpangi melewati Lawang Sewu. Kota yang indah! Sampailah saya di Hotel Pandanaran. Sendirian di kota baru namun tidak menyiutkan nyali saya untuk mencoba kuliner Semarang. Sempat pengen melihat kuburan Borgotta yang terkenal angker itu. Tapi hati tak siap :p karena sudah malam.
***
Beberapa hari kemudian, dapat kos di Jatingaleh, Semarang atas. Setiap weekend jogging ke Stadion Jatidiri. Hawa sejuk melipur penat setelah 5 hari bekerja di buru setumpuk laporan.


Sambil lalu naik Trans Semarang lalu main ke Gramedia Pemuda dan Paragon City. Wisata buku dan Wisata Mall.



Tak lupa, pernah main ke Lawang Sewu dan wisata kuliner di depan Masjid Baiturrahman Simpang Lima makan tahu gimbal.


Dan yang tak kalah penting pergi ke Stasiun Tawang untuk pulang ke kampung halaman. Jalan menuju ke Tawang dipenuhi dengan sajian Kota Lama yang membuat kita menapaki labirin-labirin waktu ke masa silam di mana tempat ini adalah pesisir yang sangat ramai di masa itu. Tempat di mana pedagang Campa, Kamboja, China berdagang di sini.



Dan hatiku selalu haru ketika melihat lanskap yang elok saat malam hari. Mata menangkap sajian kerlap-kerlip lampu di bukit yang dipenuhi dengan rumah-rumah penduduk dengan lampu menyala seakan-akan bukit itu bisa bercahaya.



Walau seperti sekejap, saya jatuh cinta dengan kota yang berbukit-bukit di bagian Selatan ini. Yang selalu membuat saya kagum akan lanskap yang tercipta di sepanjang perjalanan jalan tol. Semarang, I’ll be miss you!
Rabu, 03 Juli 2013 0 komentar

Serial Abu-Abu: Keberpihakan adalah Sebuah Keniscayaan?

Dunia makin abu-abu. Netralitas pun melumer, baur, tak pekat, tak kedap.
Menjilat dan dijilat pun menjadi sebuah budaya. Keberpihakan bagai magnet yang gayanya sulit ditaklukkan tanpa sebuah usaha atau energi yang prima.

Menang dan kalah adalah sepasang kekasih yang abadi dalam dunia ini.
Apalagi motivasi dan demotivasi adalah bumbu kompetisi dalam keberpihakan.
Lalu, apakah nanti jadi hitam, putih, atau abu keberpihakan itu?
Jawabannya hidup adalah pilihan walau terkadang pahit.

Jangan-jangan, keberpihakan adalah niscaya?
Dan netral adalah kemuskilan?

Ah, engkau tahu sendiri jawabannya!

Semarang, 3 Juli 2013



 
;