Selasa, 09 Juli 2013

Just Say Hello Man—Sebuah Intermezo

Aku berlari-lari menuju gerbong 3. Semenjak kuliah sampai sekarang, kereta adalah moda transportasi favoritku. Entah sampai kapan…
Aku segera menghempaskan tubuhku ke kursi yang menjadi hak ku. Dalam hati melenguh. “Benar-benar kelas Ekonomi AC, duduk berhadapan tanpa privasi,”gerutuku.
Seorang Ibu di sampingku mengajakku bicara. Beliau berkisah mengenai anaknya (anak gaul Jakarta) yang masih SMP dan mau mengambil kursus bahasa Inggris di Kampung Inggris, Pare (Kediri). Sampai lah tahapan  membahas beasiswa. Dan aku selalu bangga kepada adikku yang telah berhasil menggenggam salah satu impiannya untuk kuliah di Institut terbaik di negeri ini tanpa membayar biaya kuliah sepeserpun. Bagian perjuangannya adalah kisah yang selalu kuceritakan kepada setiap orang, bagiku akan sangat bermanfaat jika yang mendengar termotivasi.
Lama-lama setelah habis bahan percakapan dan kereta belum juga sampai di Semarang, saya pun berusaha tidur ayam. Gak bisa tidur beneran karena takut kelewatan.
Satu jam sebelum sampai di Semarang, saya sudah siap-siap. Membuka mata dengan malas. Melihat sekilas lelaki di depan saya itu mirip Raditya Dika, cuma Dia berkacamata. Karena Ibu di samping saya sudah pergi dan mendadak saya merasa di antara para penyamun (samping dan depan saya semua lelaki). Saya membuang muka ke jendela. Jiah, bayangan mas-mas mirip Raditya Dika itu pun sontak bertengger di kaca. Mungin dia juga tahu kalau saya memperhatikan lewat kaca. Membunuh waktu dan saya tidak ingin terlewat untuk turun Semarang.
Berikutnya, saya seperti melihat sebuah lakon romance. Seorang lelaki berjas kasual membuka pintu gerbong untuk seorang akhwat. Si akhwat ke toilet. Setelah selesai, lelaki itu pun membukakan pintu lagi. Si akhwat melenggang masuk ke gerbong. Ganti si ikhwan yang masuk ke toilet. Hmmm, so sweet gak? Sepertinya mereka pengantin baru :D
Ketika saya turun, saya melihat mereka berdua juga turun Semarang. Saya tersenyum dalam hati. Senang melihat keluarga seromantis ini.
“Turun sini mbak? Mau kemana?”
“Jatingaleh,”kataku.
Si mas mirip Raditya Dika itu hanya say little things itu kepadaku lalu dia pergi. Haha, mungkin karena aku pake wajah datar kali ya, habis tidur ayam sih :D
--lagi-lagi ini hanya intermezzo, jangan diambil pusing--


0 komentar:

Posting Komentar

 
;