Rabu, 27 November 2013 0 komentar

Mertua-Mertua Takut Istri: Versi Auditor

sumber: picsart.com

Ungkapan suami-suami takut istri sudah lazim di kalangan masyarakat saat ini. Betapa tidak? Mungkin ada yang sampai rela kartu ATM yang menampung rekening gaji pun dipegang oleh si istri. Hayo ngaku yang pernah ngerasain? Hehe…
Tapi ada kasus lain nih ketika mertua takut sama menantu. Kok bisa? Bukannya biasanya mertua itu terkadang lebih kejam daripada ibu tiri bahkan ibu kota?
Bisa nih… Tatkala yang jadi mertua itu adalah perusahaan yang diaudit dan menantunya adalah auditor intern :D
Baru ngeh ya?
Bagaimana perusahaan yang diaudit itu bisa disebut mertua? Karena doi telah menikahkan si auditor intern yang notabene menjadi menantu ini dengan kontrak sehingga ada perjanjian yang mengikat seperti sakralnya ikatan pernikahan :p ceile…
Lalu bagaimana si perusahaan yang diaudit ini menjadi ketakutan? Probabilitas mana pun bisa terjadi mule dari karena menyembunyikan sesuatu atau bahkan karena paranoid dengan yang namanya temuan (findings).
Tetapi si mertua ini pun bisa lebih kejam daripada ibu tiri bahkan ibu kota. Senyum aja gak mau. Disenyumin dibalas dengan air tuba (muka datar, sengak, bahkan berusaha ngece bahasa Indonesianya apa ya?)
Ini nih dukanya menjadi auditor…
Sukanya, udah banyak yang aku ceritain lewat blog ini…
Btw, tetap semangat dan jangan menyerah J

Salam Auditor!
[]

#suatu sore menjelang maghrib di ruang auditor 3x3 yang terasa luas (5:44)
Sabtu, 16 November 2013 0 komentar

Kuliner Khas Gombong: Gethuk Singkong Dalam Kuah Soto


Mau bersantap dan bingung menentukan pilihan? Ini nih ada pilihan instan… Ada soto yang unik nan yummy menurut saya. Selama saya keliling kota dari Jakarta, Bandung, Semarang, Yogya, Kudus, Blora, Pati, dan terakhir ini di Gombong untuk dinas maupun jalan-jalan sambil icip-icip kulinernya. Baru kali ini saya menemukan Soto yang menurut saya aneh. Secara tekstur rasanya hampir sama dengan soto pada umumnya. Soto berkuah santan dengan dilengkapi suwiran daging ayam, suwiran kubis, bihun, dan kecambah dari kacang ijo, krupuk dari singkong yang udah dihancurkan plus gethuk singkong. Sambalnya dari sambal kacang. Maknyusss kan? Kalau pengen lebih lengkap bisa dengan nasi atau lontong tinggal pilih.

Kenapa aneh? Yak kok bisa gethuk singkong bisa nyemplung di kuah soto ini. Ketika saya bertanya dengan salah satu rekan kerja di Gombong. Dia bilang itu ada supaya kita kenyang. Hah, jawaban ngasal saya kira tuh. Ini kenapa juga soto disandingin dengan sambal kacang. Biasanya kan sambal kecap. Yup,  ini memang khas Soto sini deh.

Kalau mau nambah sama lauknya ada daging ayam yang utuh nih. Lihat ada kepalanya. Trus ada ‘brutu’-nya. Yang katanya orang rasanya ‘kenyil-kenyil’ enak tapi saya gak pernah mau nyoba, hehehe…
Cukup Rp 8.000 perak bro… (Plus lontong waktu itu)

Berminat? Datang aja ke warung Pak Min Soto di depan RS Palang Biru Gombong di Jalan Kartini, Kec. Gombong, Kab. Kebumen kalo sedang bisa mampir. Btw, ini bukan iklan loh ya… Cuma saya suka nyoba-nyoba makanan dan berbagi kepada para penikmat kuliner J Buka setiap sore sampai dini hari. Salam kuliner!


Minggu, 03 November 2013 0 komentar

Semangkuk Stroberi dan Dua Cangkir Es Krim


Permintaanmu tak muluk-muluk. Hanya ingin stroberi. Ya, stroberi J dan kau satu-satunya orang yang bisa menghabiskan semangkuk stroberi saat orang lain memakan satu biji saja sudah puas karena asam. Tapi kau tidak! Kau menghabiskannya sampai tidak tersisa.

Kau juga suka membuat gambar wayang, entah dari mana bakat ini berasal. Aku merasa ajaib jika melihat gambar-gambarmu J

Pernah suatu siang yang terik, kau merengek meminta dibelikan makan siang plus ayam goreng crispy di restoran cepat saji di Kediri. Aku menuruti karena jarang sekali kau membuat permintaan yang aneh… aku senang, kau begitu lahap. Dan aku yakin, kamu sudah besar, Dik!

Ada setangkup rindu yang menggelayut di air mata kakak. Semoga kakak bisa sering pulang J **hugs**

Best regards,

Your old sister
0 komentar

Ibuk: Sebuah Novel Iwan Setyawan

Novel Ibuk ini seperti diary, diksi yg dipilih biasa saja, gak njlimet.. Sederhana bahkan sangat sederhana, tetapi mebwtku ingat ortu
0 komentar

Daun yang Jatuh Tak Pernah Membenci Angin dan Lelaki Hipokrit

Sebenarnya sudah sejak lama saya mengidam-idamkan novel Tere Liye ini dan baru kesampaian membeli cetakan kesembilan, padahal awal kali terbit Juni 2010. What a pity I am :D


Dari judul, novel ini sungguh unik dan isinya pun lebih unik tepatnya complicated! Jarang-jarang Tere Liye menulis novel bergenre seperti ini—sudut pandang wanita—dan lagi-lagi sungguh melankolis. Saya menebak Tere Liye menulisnya saat masa-masa “galau” :D


0 komentar

9 SUMMERS 10 AUTUMNS

Novel 9 summers 10 autumns ini membawaku ke ruang2 melankoli, sederhana & membuatku mengingat masa2 penuh perjuanganku dulu semasa kuliah

Menghentak syaraf2 sentimentil, mengingat keluarga di rumah dan adik2ku. Perjuangan msh panjang & selalu ada buliran doa yg mengangkasa :)


9 summers 10 autumns bikin melow... Jadi mengingat masa2 kecil dan pengorbanan ibuk & bapak buat kami anak2nya, mendadak kangen :)
0 komentar

Kaki-Kaki yang Membawaku ke Semarang


Tak pernah menyangka bahwa setahun atau dua tahun ke depan saya masih bisa menginjak Pulau Jawa. Yup, dari keputusasaan dan disorientasi-lah semua kisah ini bermula. Masa-masa grey area itu adalah fase setelah lulus kuliah dan what to do setelah lulus kuliah. MIMPI? Tentu saja saya punya, saya punya list-nya yang tertempel rapi dan selalu saya revisi agar hidup saya semakin bergairah dan tentu saja bisa bermanfaat untuk umat.

Semua kembali ke pilihan. Satu setengah tahun yang lalu, saya tak pernah membayangkan saya akan menjadi internal auditor dari salah satu bank BUMN (konvensional). Semua berawal dari coba-coba dan saya lolos dari semua tahap seleksi dengan sedemikian mudahnya. Padahal di sisi lain, saya harus berjuang mati-matian untuk bisa lolos sampai tahap interview user di salah satu perusahaan multinasional di negeri ini.

Lagi-lagi soal pilihan. Saya berasal dari keluarga proletar dan semester 7 (saat masih kuliah-setelah lulus) lumayan sukses mendirikan Allegria Tutorial Club yakni sebuah lembaga bimbingan belajar untuk mahasiswa Fakultas Ekonomi dan Bisnis PTN di Surabaya dengan lebih dari 100 mahasiswa menjadi customer. Tetapi, saya tak bisa selamanya bertahan menjadi tutor karena walau LBB ini adalah yang pertama di kampus saya, tapi LBB ini mudah ditiru, walhasil omzet semakin menipis dan kolega (teman kuliah saya) juga sudah banyak yang lulus sehingga tidak bisa ikut mengembangkan bisnis ini.

Banting setir itulah keputusan labil yang pernah saya buat. Akhirnya saya harus menjalani pendidikan selama 15 bulan untuk menjadi bankir dan terikat kontrak 5 tahun setelah diangkat. Pada mulanya saya sangat serius dan cenderung berambisi untuk menjadi the best di angkatan saya. Beberapa bulan kemudian, semangat itu menguap. Saya semakin aktif ingin tahu tentang Ekonomi Syariah. Lagi-lagi saya hanya bisa menangis tergugu setelah mebaca artikel-artikel ataupun buku yang saya baca. Jalan terakhir adalah saya mengadu padaNya karena keinginan untuk didepak itu semakin mengakar.

Pendidikan di Jakarta menjadi semakin tidak menyenangkan. Belajar hanya sebagai formalitas. Puncaknya ketika saya On the Job Training, saya malah tidak belajar. Tiap hari menulis blog dan blogwalking. Ikut lomba ini itu. Makin bersemangat mencari ilmu agama dan senang bertemu dengan ibu-ibu pengajian yang gaul dan up to date walau usia mereka tidak muda lagi (sekitar 30-40 tahun).

Semua itu bernama pelarian! Puncaknya, ketika akan ujian penentuan ‘tetap bertahan’ atau ‘harus rela dieliminasi’, saya malah main ke Taman Wisata Angke Kapuk bersama sahabat saya. Berwisata sejenak meninggalkan hutan beton dan pergi ke pinggiran Jakarta dengan bantuan KRL, angkot, dan kaki :D

Saya ingat buku Notes From Qatar-nya Kak Muhammad Assad. Saya ingin mencobanya! Kali ini saya benar-benar ingin pamrih padaNya. Saya kuras semua uang tabungan dari gaji saya yang sudah saya kumpulkan selama berbulan-bulan dan jumlah itu sangat lumayan. Transfer sana, transfer sini. Saya hobi mencari alamat lembaga amil ZIS ataupun lembaga sejenis sehingga sedekah saya bisa menyebar ke mana-mana dan tidak terpusat di satu lembaga. Ini saya lakukan karena saya sadar, banyak amalan-amalan yang mungkin setengah hati dan banyak dosa sehingga ada batas antara saya sama Allah. Maka dari itu, saya butuh akselerator. Sedekah kuncinya! Tentu penyempurnanya adalah doa Ibu dan Bapak.

Bim salabim… Saya masih dinyatakan lulus dan bisa sampai tahap selanjutnya. Entahlah, saya masih bandel, mencoba lagi dan lagi. Pada akhirnya, per 1 Maret 2013, saya dinyatakan LULUS dari pendidikan dan diangkat sebagai pekerja tetap di bank BUMN ini.

Saya gigit jari. Ya ALLAH. Beginikah nasib hamba? Doa dan minta doa ortu makin kenceng karena saya tak punya apa-apa untuk membayar penalti jika saya keluar dari perusahaan ini. Saya pun berusaha ikhlas. Saya yakin, ALLAH sedang menunda kebahagiaan saya. Bukankah apa yang menurut kita baik, tetapi belum tentu baik menurutNya?

Waktu itu, ketika akan pengumuman penempatan, saya sangat deg-deg an. Saya tahu. Saya tidak serius menjalani pendidikan selama 15 bulan. Jadi dalam hati, entahlah di pikiran saya, Pulau Sumatera selalu menjadi bayang-bayang pikiran saya mengingat nilai yang berada di klasemen bawah. Takut karena setiap daerah punya budaya masing-masing apalagi saya ingin lebih sering birul walidain.

Surat Keputusan itu saya buka. Alhamdulillah saya ditempatkan di Semarang. Kota ini sangat indah di siang atau malam hari. Lebih indah lagi saat di malam hari. Lanskapnya dipenuhi dengan bukit-bukit dan rumah bertengger di atasnya lalu kerlap-kerlip lampu dari masing-masing rumah itu membuat romantis suasana. Ibukota provinsi dengan segala fasilitas namun tidak seramai Jakarta ataupun Surabaya. Yang paling penting adalah Semarang ke Nganjuk (kota kelahiran dan rumah ortu) bisa ditempuh dengan kereta api dalam waktu 4,5 jam. Subhanallah. Ditambah, teman-teman sekantor yang sangat welcome walaupun saya seorang newbie.

Mungkin ‘kaki-kaki’ yang membawaku ke sini salah satunya adalah tabungan yang aku sedekahkan itu…
Fabiayyi aala irabbikuma tukadzziban….

30 Mei 2013

Jatingaleh, Semarang
0 komentar

La Tahzan For Hijabers: Kisah Inspiratif bagi Yang Akan dan Yang Sudah Berjilbab


Buku karya Asma Nadia ini lagi-lagi di tulis keroyokan bersama dengan sesama penulis yang sudah saya kenal semenjak masih di bangku SMA serta beberapa nama baru yang merupakan jebolan Asma Nadia Writing Workshop.

Buku ini diawali dengan quote dari Asma Nadia yang menggugah:
Ketakutan tak membuat perubahan apapun. Tapi keberanian sering melahirkan kejutan yang membuat dunia jadi berbeda dari sebelumnya.

Berikut pengantar dari Asma Nadia untuk buku  “La Tahzan For Hijabers” yang memuat tentang kenapa bukunya judulnya La Tahzan lalu apa hubungannya dengan hijabers?

Di sini Asma Nadia menceritakan mengenai kisah pertamanya berjilbab waktu SMA, di masa itu berjilbab bukanlah pilihan yang mudah karena anak ABG yang berjilbab itu masih bisa di hitung jari. Apalagi dengan kondisi Mamanya yang mualaf. Sampailah Asma Nadia menemukan ayat berikut (QS Ali Imran: 139):
Wala tahinu wala tahzanu wa antumul a’lawn in kuntum mu’minin (Janganlah kamu merasa rendah dan bersedih karena kamu adalah orang-orang yang paling tinggi derajatnya jika kamu beriman)

Intinya jangan bersedih jika diri harus melalui ujian dahsyat untuk keputusan menutup aurat demi meraih cinta-Nya karena jilbab adalah tanda cinta dan bentuk taat seorang muslimah kepada Allah.

Definisi Hijab, Khimar, dll
>> Hijab adalah sesuatu yang menutupi atau menghalangi diri
>> Jilbab adalah selendang atau busana lebar yang dikenakan wanita untuk menutupi auratnya; kepala, lalu leher mengulur hingga ke bawah, menampakkan hanya wajah dan telapak tangan. Jilbab bukan merupakan pakaian yag sempit dan melekat ngepas di tubuh. Memenuhi kriteria seperti tidak transparan, tidak ketat, menutupi seluruh tubuh perempuan dari ujung rambut hingga kaki.
>> Khimar atau Kerudung adalah kerudung penutup kepala hingga ke dada tanpa menutupi muka.
>> Burdah adalah pakaian luar atau tirai berjahit mirip dengan abaya.
>> Cadar adalah kain yang menutupi sebagian wajah wanita, hingga hanya sepasang mata yang tampak.
Oke, mari kita kupas artikel di buku ini satu per satu ya….

Artikel pertama di buka dengan karya Mecca Medina “Jatuh Bangun Jilbabku” yang menceritakan kisah jilbab pertamanya waktu SMA yang ditentang oleh Mamanya dengan alasan takut seperti nenek-nenek dan jelek hanya kelihatan moncongnya. Astaghfirulloh…. Lalu Mecca melepas jilbabnya seusai kuliah dengan alasan mencari kerja di bank yang harus memakai rok pendek. Namun Mecca merasa hidup di kedua sisi, bisa di bilang abu-abu, dan merasa munafik. Pada akhirnya ada isu selentingan apabila tidak berjilbab di daerah tsb maka perempuan-perempuan yang belum menutupi kepala akan beresiko digunting rambutnya oleh kelompok di daerah tsb. Situasi ini tidak disia-siakan dan akhirnya Mecca berjilbab dengan persetujuan atasannya dan Alhamdulillah semua pegawai perempuan berjilbab semua.

Ada artikel ketiga yang cukup menarik perhatian saya yang ditulis oleh Nadhira Khalid “Boleh Pinjam Jempolnya?” Nadhira Khalid merupakan keturunan suku sasak Lombok dan masih keturunan Arab namun di keluarganya tsb tumbuh pemahaman bahwa berjilbab itu hanya untuk perempuan yang sudah menikah. Nadhira tinggal di Bali tepatnya di Karanglangko yaitu sebuah desa yang mayoritas penghuninya adalah muslim. Namun ketika dia bersekolah, tetaplah Nadhira menjadi minoritas. Dan jilbab pertama Nadhira diawali saat menjelang kelulusan SMA. Lalu apa hubungannya dengan judul artikelnya. Ternyata ada guru yang suka mengkritik siswa namun ketika menghadapi Nadhira waktu cap jempol hanya mengucapkan “Boleh pinjam jempolnya?” saat cap jempol ijazah.

Berikut artikel ke-10 yang menurut saya cukup kocak yang ditulis oleh Mimin Ha Way “Perjuangan Menuju Jalan Nyaman”. Saat kuliah Mimin akhirnya berjilbab dan ada satu kejadian yang tak terlupakan saat naik sepeda motor dengan memakai rok yang tak terlalu longgar dan membonceng teman yang ukurannya lebih besar dari Mimin. Akhirnya mereka terjatuh di tanjakan. Berikutnya ada lagi kejadian konyol Mimin membonceng temannya dan melorot jatuh ke selokan beserta tasnya lalu diketawain semua orang di aula :D Kok bisa gitu ya?

Ada lagi artikel ke-12 yang cukup menggugah hati dari seorang mualaf Mariska Christianti “Jilbab Dulu dan Sekarang”. Waktu itu dia sedang menjaga tas teman-temannya di Mushola dan disapa oleh mahasiswi berjilbab “Assalamu’alaikum, mahasiswa baru ya? Jurusan apa Dik?” Lalu setelah menceritakan ketertarikan mengenai Islam, senior tsb memberikan buku Tauhid. Di sisi lain Mariska masih mengikuti kebaktian yang diisi oleh Ibu pendeta. Beliau mengatakan bahwa di dalam Perjanjian Lama, ada hewan-hewan yang diharamkan untuk dimakan, salah satunya adalah babi. Namun, di Perjanjian Baru, semua hewan dihalalkan untuk dimakan. Lalu Mariska bertanya kepadanya:
-     1. Mengapa Tuhan tidak konsisten dalam membuat peraturan, berbeda antara Perjajian lama dan Perjanjian Baru.
-        2.   Tolong tunjukkan ayat di mana Nabi Isa Al Masih menyatakan bahwa,”Akulah Tuhan, sembahlah aku.”



 *bersambung
 
;