Minggu, 03 November 2013

Kaki-Kaki yang Membawaku ke Semarang


Tak pernah menyangka bahwa setahun atau dua tahun ke depan saya masih bisa menginjak Pulau Jawa. Yup, dari keputusasaan dan disorientasi-lah semua kisah ini bermula. Masa-masa grey area itu adalah fase setelah lulus kuliah dan what to do setelah lulus kuliah. MIMPI? Tentu saja saya punya, saya punya list-nya yang tertempel rapi dan selalu saya revisi agar hidup saya semakin bergairah dan tentu saja bisa bermanfaat untuk umat.

Semua kembali ke pilihan. Satu setengah tahun yang lalu, saya tak pernah membayangkan saya akan menjadi internal auditor dari salah satu bank BUMN (konvensional). Semua berawal dari coba-coba dan saya lolos dari semua tahap seleksi dengan sedemikian mudahnya. Padahal di sisi lain, saya harus berjuang mati-matian untuk bisa lolos sampai tahap interview user di salah satu perusahaan multinasional di negeri ini.

Lagi-lagi soal pilihan. Saya berasal dari keluarga proletar dan semester 7 (saat masih kuliah-setelah lulus) lumayan sukses mendirikan Allegria Tutorial Club yakni sebuah lembaga bimbingan belajar untuk mahasiswa Fakultas Ekonomi dan Bisnis PTN di Surabaya dengan lebih dari 100 mahasiswa menjadi customer. Tetapi, saya tak bisa selamanya bertahan menjadi tutor karena walau LBB ini adalah yang pertama di kampus saya, tapi LBB ini mudah ditiru, walhasil omzet semakin menipis dan kolega (teman kuliah saya) juga sudah banyak yang lulus sehingga tidak bisa ikut mengembangkan bisnis ini.

Banting setir itulah keputusan labil yang pernah saya buat. Akhirnya saya harus menjalani pendidikan selama 15 bulan untuk menjadi bankir dan terikat kontrak 5 tahun setelah diangkat. Pada mulanya saya sangat serius dan cenderung berambisi untuk menjadi the best di angkatan saya. Beberapa bulan kemudian, semangat itu menguap. Saya semakin aktif ingin tahu tentang Ekonomi Syariah. Lagi-lagi saya hanya bisa menangis tergugu setelah mebaca artikel-artikel ataupun buku yang saya baca. Jalan terakhir adalah saya mengadu padaNya karena keinginan untuk didepak itu semakin mengakar.

Pendidikan di Jakarta menjadi semakin tidak menyenangkan. Belajar hanya sebagai formalitas. Puncaknya ketika saya On the Job Training, saya malah tidak belajar. Tiap hari menulis blog dan blogwalking. Ikut lomba ini itu. Makin bersemangat mencari ilmu agama dan senang bertemu dengan ibu-ibu pengajian yang gaul dan up to date walau usia mereka tidak muda lagi (sekitar 30-40 tahun).

Semua itu bernama pelarian! Puncaknya, ketika akan ujian penentuan ‘tetap bertahan’ atau ‘harus rela dieliminasi’, saya malah main ke Taman Wisata Angke Kapuk bersama sahabat saya. Berwisata sejenak meninggalkan hutan beton dan pergi ke pinggiran Jakarta dengan bantuan KRL, angkot, dan kaki :D

Saya ingat buku Notes From Qatar-nya Kak Muhammad Assad. Saya ingin mencobanya! Kali ini saya benar-benar ingin pamrih padaNya. Saya kuras semua uang tabungan dari gaji saya yang sudah saya kumpulkan selama berbulan-bulan dan jumlah itu sangat lumayan. Transfer sana, transfer sini. Saya hobi mencari alamat lembaga amil ZIS ataupun lembaga sejenis sehingga sedekah saya bisa menyebar ke mana-mana dan tidak terpusat di satu lembaga. Ini saya lakukan karena saya sadar, banyak amalan-amalan yang mungkin setengah hati dan banyak dosa sehingga ada batas antara saya sama Allah. Maka dari itu, saya butuh akselerator. Sedekah kuncinya! Tentu penyempurnanya adalah doa Ibu dan Bapak.

Bim salabim… Saya masih dinyatakan lulus dan bisa sampai tahap selanjutnya. Entahlah, saya masih bandel, mencoba lagi dan lagi. Pada akhirnya, per 1 Maret 2013, saya dinyatakan LULUS dari pendidikan dan diangkat sebagai pekerja tetap di bank BUMN ini.

Saya gigit jari. Ya ALLAH. Beginikah nasib hamba? Doa dan minta doa ortu makin kenceng karena saya tak punya apa-apa untuk membayar penalti jika saya keluar dari perusahaan ini. Saya pun berusaha ikhlas. Saya yakin, ALLAH sedang menunda kebahagiaan saya. Bukankah apa yang menurut kita baik, tetapi belum tentu baik menurutNya?

Waktu itu, ketika akan pengumuman penempatan, saya sangat deg-deg an. Saya tahu. Saya tidak serius menjalani pendidikan selama 15 bulan. Jadi dalam hati, entahlah di pikiran saya, Pulau Sumatera selalu menjadi bayang-bayang pikiran saya mengingat nilai yang berada di klasemen bawah. Takut karena setiap daerah punya budaya masing-masing apalagi saya ingin lebih sering birul walidain.

Surat Keputusan itu saya buka. Alhamdulillah saya ditempatkan di Semarang. Kota ini sangat indah di siang atau malam hari. Lebih indah lagi saat di malam hari. Lanskapnya dipenuhi dengan bukit-bukit dan rumah bertengger di atasnya lalu kerlap-kerlip lampu dari masing-masing rumah itu membuat romantis suasana. Ibukota provinsi dengan segala fasilitas namun tidak seramai Jakarta ataupun Surabaya. Yang paling penting adalah Semarang ke Nganjuk (kota kelahiran dan rumah ortu) bisa ditempuh dengan kereta api dalam waktu 4,5 jam. Subhanallah. Ditambah, teman-teman sekantor yang sangat welcome walaupun saya seorang newbie.

Mungkin ‘kaki-kaki’ yang membawaku ke sini salah satunya adalah tabungan yang aku sedekahkan itu…
Fabiayyi aala irabbikuma tukadzziban….

30 Mei 2013

Jatingaleh, Semarang

0 komentar:

Posting Komentar

 
;