Senin, 20 Oktober 2014 0 komentar

BORI (Bolang Sendiri): Chapter Mojokerto

Hi Blog!

 Niatnya sih ke nikahan temen, cuman pas sadar kalo rumah temenku ini di Trowulan, Mojokerto, kenapa gak sambil minum air kita nyelam? Hehe kebalik ya...

Oke, intip nih chapter bori aka bolang sendiri ditemani mamang ojek Pak Nurochman namanya, bapak paro baya yg pendiem... Padahal aku kriuk juga, klop dah...

1. Vihara Buddha Majapahit

Kirain ini peninggalan Majapahit, ternyata Vihara yg dibangun oleh komunitas Buddha Mojojerto, keren nih patung Buddha yg tiduran (melambangkan wafatnya Buddha). Nih patung Buddha terbesar ketiga loh sedunia katanya...

2. Candi Brahu


Masuk ke sini dipalak sama penjaganya, harusnya ada karcis gitu ya biar masuk kas daerah... Lokasinya gak jauh dari Vihara cuman 5 menit ( km) via google map.

Di sini juga ada tumbuhan dibentuk stupa, coba aq punya tumbuhan kayak gitu hehe



3. Candi Gentong

Lokasinya juga gak jauh dari Candi Brahu. Intinya kalo ada kendaraan sendiri enak sob, deket cuman satu kecamatan.


4. Kolam Segaran

Konon katanya saking kayanya Kerajaan Majapahit, tiap habis jamu tamu, peralatan makannya dibuang di sini. Really?



Keliling selama 2 jam ini disponsori oleh uang saku 100ribu. Lumayan lah..

Sanpai jumpa di chapter berikutnya.... Happy travelling fellas!
Minggu, 22 Juni 2014 0 komentar

Jamur Merang Saus Tiram

Hari Minggu bosan, main ke Pasar Wonokriyo, Gombong dan mencoba membeli ini...


Akhirnya saya putuskan memasak jamur merang saus tiram (masaknya pake magic com hehe) Ini nih bahan-bahannya:

- jamur merang disuir-suir panjang
- 5 siung bawang merah
- 1 siung bawang putih
- lada bubuk
- garam secukupnya
- buncis 3 biji diiris panjang 5 cm
- wortel 1 biji diiris seperti korek api
- seledri
- daun bawang
- saus tiram
- saus tomat
- sosis dipotong potong tebal 2 cm

Tra lala, this is it ala chef Mila :)


Minggu, 25 Mei 2014 0 komentar

HUJAN BULAN JUNI





Sepilihan sajak yang berjudul Hujan Bulan Juni ini adalah karya pujangga terkemuka Indonesia kelahiran Surakarta, 74 tahun yang lalu yakni Sapardi Djoko Damono yang ditulis pada tahun 1959-1994 yang diterbitkan oleh PT Gramedia Pustaka Utama. Buku ini terdiri dari 102 judul puisi yang isinya mengenai bermacam hal mulai dari waktu, tentang hubungan manusia kepada Tuhan, cinta, kematian, hubungan antar manusia, doa, hujan, lingkungan, dan kota; puisi-puisi tsb menggambarkan kekhasan karya Sapardi Djoko Damono.

Ada satu judul puisi di buku ini—yang sempat saya bacakan di sebuah forum peningkatan kinerja—yang berjudul Sajak Desember. Ini adalah pengalaman pertama saya membaca puisi di depan 200-an audiens tanpa nervous.

kutanggalkan mantel serta topiku yang tua
ketika daun penanggalan gugur
lewat tengah malam. kemudian kuhitung
hutang-hutangku pada-Mu

mendadak terasa: betapa miskinnya diriku;
di luar hujan pun masih kudengar
dari celah-celah jendela. ada yang terbaring
di kursi letih sekali

masih patutkah kuhitung segala milikku
selembar celana dan selembar baju
ketika kusebut berulang nama-Mu; taram
temaram bayang, bianglala itu

1961

Selain puisi di atas saya juga tertarik dengan puisi-puisi berikut yang memang tidak sepopuler judul lainnya:

Ketika Jari-Jari Bunga Terbuka
Ketika Jari-jari bunga terluka
mendadak terasa betapa sengit, cinta kita
cahaya bagai kabut, kabut cahaya
di langit menyisih awan hari ini
di bumi meriap sepi yang purba
ketika kemarau terasa ke bulu-bulu mata

suatu pagi, di sayap kupu-kupu
disayap warna, suara burung
di ranting-ranting cuaca
bulu-bulu cahaya
betapa parah cinta kita
mabuk berjalan diantara
jerit bunga-bunga rekah…

Ketika Jari-jari bunga terbuka
mendadak terasa betapa sengit, cinta kita
cahaya bagai kabut, kabut cahaya
di langit menyisih awan hari ini
di bumi meriap sepi yang purba
ketika kemarau terasa ke bulu-bulu mata

Sepasang Sepatu Tua
sepasang sepatu tua tergeletak di sudut sebuah gudang, berdebu
yang kiri terkenang akan aspal meleleh, yang kanan teringat jalan berlumpur sehabis hujan – keduanya telah jatuh cinta kepada sepasang telapak kaki itu
yang kiri menerka mungkin besok mereka dibawa ke tempat sampah dibakar bersama seberkas surat cinta, yang kanan mengira mungkin besok mereka diangkut truk sampah itu dibuang dan dibiarkan bersama makanan sisa
sepasang sepatu tua saling membisikkan sesuatu yang hanya bisa mereka pahami berdua
(1973)
Berikut, puisi karya Sapardi Djoko Damono yang cukup populer:

Puisi Cat Air Untuk Rizki
angin berbisik kepada daun jatuh yang tersangkut kabel telpon itu, "aku rindu, aku ingin mempermainkanmu! "
kabel telpon memperingatkan angin yang sedang memungut daun itu dengan jari-jarinya gemas, "jangan berisik, mengganggu .
hujan!"
hujan meludah di ujung gang lalu menatap angin dengan tajam,
hardiknya, 'lepaskan daun itu!"
--Puisi di atas sering dijadikan tebakan untuk mengetahui karakter seseorang—

Sihir Hujan
Hujan mengenal baik pohon, jalan dan selokan
Swaranya bisa dibeda-bedakan
Kau akan mendengarnya meski sudah kaututup pintu dan jendela
Meskipun sudah kau matikan lampu

Hujan, yang tahu benar membeda-bedakan, telah jatuh di pohon, jalan, dan selokan
Menyihirmu agar sama sekali tak sempat mengaduh
Waktu menangkap wahyu yang harus kaurahasiakan
--Tentang kebesaran Tuhan dalam menciptakan hujan—

Hujan Bulan Juni
tak ada yang lebih tabah
dari hujan bulan juni
dirahasiakannya rintik rindunya
kepada pohon berbunga itu  

tak ada yang lebih bijak
dari hujan bulan juni
dihapusnya jejak-jejak kakinya
yang ragu-ragu di jalan itu  

tak ada yang lebih arif
dari hujan bulan juni
dibiarkannya yang tak terucapkan
diserap akar pohon bunga itu
                                                1989
--Puisi di atas membahas tentang kerinduan yang ditahan, disembunyikan—

Aku Ingin
Aku ingin mencintaimu dengan sederhana
Dengan kata yang tak sempat diucapkan
Kayu kepada api yang menjadikanya abu

Aku ingin mecintaimu dengan sederhana
Dengan isyarat yang tak sempat disampaikan
Awan kepada hujan yang menjadikannya tiada
1989
--Puisi ini cukup popular dan sering menjadi hiasan dalam undangan pernikahan. Diksinya sederhana namun memiliki ruh yang menyusup ke relung hati apabila diresapi--

Kepopuleran puisi-puisi di atas sebagian disebabkan oleh musikalisasi terhadapnya. Musikalisasi puisi karya SDD dimulai pada tahun 1987 ketika beberapa mahasiswanya membantu program Pusat Bahasa, membuat musikalisasi puisi karya beberapa penyair Indonesia, dalam upaya mengapresiasikan sastra kepada siswa SLTA. Saat itulah tercipta musikalisasi Aku Ingin oleh Ags. Arya Dipayana dan Hujan Bulan Juni oleh H. Umar Muslim. Kelak, Aku Ingin diaransemen ulang oleh Dwiki Dharmawan dan menjadi bagian dari "Soundtrack Cinta dalam Sepotong Roti" (1991), dibawakan oleh Ratna Octaviani. Beberapa tahun kemudian lahirlah album "Hujan Bulan Juni" (1990) yang seluruhnya merupakan musikalisasi dari sajak-sajak Sapardi Djoko Damono. Duet Reda Gaudiamo dan Ari Malibu merupakan salah satu dari sejumlah penyanyi lain, yang adalah mahasiswa Fakultas Sastra Universitas Indonesia (sumber: Wikipedia.org).

Salam Puisi {}
Minggu, 23 Februari 2014 0 komentar

Pilihan Hati

Terkadang kita terjebak dengan sebuah cinta yang absurd: cinta yang berhulu ledak tinggi dengan pemantik obsesi...

Saking absurdnya sampai terpantul dalam setiap kesempatan: saat sibuk bekerja, saat makan, saat bersepeda, apalagi saat merenung di kereta....

Kenangan yang usang terkadang have a precious place in my heart . Terutama orang-orang yang pernah “menarik”. Dengan orang-orang yang menarik ini terkadang aku berpikir, “Apakah naïf sekali diri ini?” Dan terkadang berharap akan ada kelanjutan cerita yang menggugah penuh gelora. Naif! Tak pelak, pada akhirnya sadar. Sebenarnya ini cinta? Atau hanya sebatas obsesi? Mungkin terlalu silau dengan sisi baik dari orang-orang “menarik” itu. Kenapa orang-orang? Karena jamak dan rentang waktu yang kugunakan sebagai populasi adalah 10 tahun terakhir.

Lalu bagaiman kabar mereka? Tetap menarik dan membuatku sadar. Akan ada yang memilih dan dipilih.

Hidup itu logis: dipenuhi dengan pilihan yang berujung kepada konsekuensi.
Dan aku menemukan quote menarik berikut:  

Spend life with whoever makes you happy;
Not who you have to impress.....
(anonym)

Sumber: picsart.com

Ya, terkadang saya atau Anda mungkin terjebak dalam seseorang yang who you have to impress.
Logis sebenarnya alasan kenapa pengin memberi kesan baik untuk seseorang yang menarik itu. Pengin tampil baik, keren, menarik, bahkan kalau bisa outstanding!
Kejam sekali ya? Pakai topeng untuk terlihat baik….
Qoute di atas membuat saya kembali berpikir jernih untuk menjalani hidup dengan apa adanya, bukan ada apanya. Percuma bisa “mendapatkan” seseorang yang menarik kalau kita memakai topeng dan apa pantas orang terkasih diberikan topeng itu? Bahkan belum tentu seseorang yang “menarik” itu baik untuk kita. Bahkan belum tentu seseorang yang “menarik” itu bisa membuat hidup kita bahagia dunia akhirat. Apalagi standar “menarik” itu juga sungguh relative baik/buruknya.
Lalu? Mari belajar dan terus belajar mengarahkan hati agar hati-hati…
Agar benar dalam memilih, salam!


0 komentar

Cintaku Hambar

Diantara wajah-wajah baru ku eja satu per satu,
Berusaha ku menangkap atmosfir guyub,
Wajah-wajah yang menunduk itu, kutangkap satu,
Elok!
Kau di antara yang berjejal melayani tamu agung,
Aku hanyalah kawanan tamu agung yang terpaksa menangkap wajah datar…
Bingar itu ketika aku menangkap wajahmu ada di kerumunan orang-orang yang melempar doa setiap pagi-pagi…
Sesekali kau mampir di rumah tamu agung yang kau layani kemarin, masih sama kau setor muka atau terkadang hanya mengambil beberapa lembar kertas berjejal perintah atau entah informasi yang akan dibaca atau tidak…
Wajahmu kutangkap lagi, ketika aku turun dari tangga…
Sepermili sekon degup-degup itu berpesta…
Lagi-lagi seperti biasa kau hanya menunduk…
Alam tak sanggup menyampaikan isyaratku padamu
Karena aku terlalu lirih menyampaikan rasa yang kini menyala hambar…
Karna kita hanya bagai medan yang kehilangan atau malah tak pernah berusaha memiliki gaya…
0 komentar

Bilur Rindu

Aku hanya bisa memelukmu lewat tulisan
Aku hanya bisa mengingaumu lewat kata
Aku hanya bisa mengejamu lewat huruf demi huruf
Ah, kau masih sama, di tempat pertama kali kita bersua…
Berubah, tentu saja!
Aku juga!
Lalu…
Adakah yang tersisa?
Kau dulu yang kenalkan aku lewat sebuah makna yang menggelora
Kini tinggal puing lebur
Kukejar, rasanya tak perlu,
Hanya bilur rindu yang sedikit merintih
Menguar pudar
Inginku, melepasmu….

Gombong, 29 November 2013
Minggu, 26 Januari 2014 1 komentar

Backpacker Nekad Edisi Floating Market Lembang: Waktunya Lupa Waktu

Dingin menyambut kedatanganku di bumi pasundan, Bandung. Jam menunjukkan pukul 03:30 dini hari. Seperti biasa, ngemper di stasiun Bandung adalah alternatif tepat untuk menunggu pagi. Sebelum Shubuh datang, aku buka tab-ku dan mulai googling destinasi wisata apa saja yang bisa kami kunjungi. Jiahhh, jadi sudah di Bandung tapi gak tahu mau ke mana aja? Makanya namanya backpacker nekad! Hehehe…

Pukul 6 lebih sedikit, wajah tirus itu datang menyeruak di antara wajah-wajah para kereta-ers di hari Minggu. Tra lala… My lovely brother dengan model rambut barunya :p

Sebelum backpacker-an dimulai. Isi perut dulu di warung yang tak jauh dari Stasiun Bandung. Lumayan lah dengan Rp 12.000 bisa dapat dua nasi dengan ayam dan ikan serta teh tawar hangat. Aku yang tak sabar bilang, kita ke floating market naik apa? Adikku menunjuk ke angkot warna putih tulang jurusan Lembang. Baiklah…

Perjalanan cukup lama sekitar 1 jam-an. Kami lebih banyak diam dan mendengarkan bahasa sunda yang terus terang membuat kami roaming. Sampailah kami di depan pintu gerbang floating market dengan di sambut billboard ukuran raksasa.



Jalan aja terus deh, sampai dipanggil oleh petugas tiket hahaha, gak kelihatan sih loketnya. 1 orang Rp 10.000 (kami sayangnya gak nukerin dengan welcome drink coffe atau milo, gak tahu sih).

Kemudian, jalan kaki masuk ke dalam. Kami ini termasuk wisatawan yang nyentrik. Gak pake kendaraan pribadi tapi angkutan umum adalah moda transportasi yang setia menemani ke mana saja kaki-kaki kami melangkah menikmati indahnya alam Indonesia….

Loh, kok malah bangunan joglo yang jadi ikon pintu masuk ke Situ Umar seluas 7,8 Ha yang sekarang lebih populer dengan nama FML (Floating Market Lembang). Ini juga unik, di tanah pasundan kok malah bangunan-nya joglo. Ini yang kami gak tahu kenapa di pilih temanya seperti itu…

Yak, pertama foto-foto… Terus terang pas ke sini rasanya bukan wow banget. Biasa aja sih, tapi karena ada wisata kulinernya tempat ini juga jadi menarik. Ketahuan banget kalo suka makan, mbem!



Konsep Wisata Pasar Terapung FML ini adalah desa wisata yang asri, sejuk, damai, dan lengkap. Kelengkapan fasilitasnya sangat ideal untuk tujuan wisata bersama keluarga. Anak-anak akan sangat menyukai tempat ini karena banyak fasilitas diperuntukkan bagi mereka.



Ada taman angsa.


Ada kampung leuit: kampung untuk menanam padi.


Ada banyak penjual di atas perahu, ini nih yang bikin unik. Aku pikir pasar apungnya itu pembeli juga harus naik perahu supaya bisa beli, bayanginnya seperti di pasar apung Kalimantan. Ternyata yang pake perahu cuma penjualnya.

Ini nih, mau milih jajanan apa aja? Ada arum manis, ada tutut (di Jawa namanya kol—baca o nya gak seperti baca bunga kol loh ya), ada sosis bakar, sate ayam kelinci sapi kambing, lontong jamur bakar, siomay, batagor, bakpao dan aneka jajanan lainnya. Lumayan mahal sih, tapi kapan lagi nyoba makanan-makanan yang belum pernah di coba.

Pertama nuker uang rupiah kita dengan uang koin sebagai alat tukar utama di FML ini, ini nih koinnya… Unik kan?


Kami pertama mencoba lontong jamur bakar, lalu si brother beli tut tut, trus kami memutuskan naik sepeda air, lumayan setengah jam ngantri bo!


Puas main sepeda air, mungkin orang-orang mengira kami pacaran atau bulan madu wkwk, padahal enggak!
Trus capek kan, makan lagi deh sate kelinci…

Sebelumnya saya terpesona sama kaktus yang imut dan lucu trus adik saya bilang gak usah beli deh, nanti gak bisa ngerawatnya malah mati. Efisien banget nih anak! Hahaha sorry bro…


Wisatawan yang mengunjungi FML ini gak hanya wisatawan dalam negeri tapi juga wisatawan mancanegara terbukti dari wajah bule dan bahasa asing yang mereka gunakan.

Akhirnya kami pun sholat Dhuhur di mushola masih areal FML dan siap melanjutkan perjalanan berikutnya. Tangkuban Perahu!

Summary Fasilitas FML:
Wahana Air, Taman Kelinci, Taman Angsa, Kampung Leuit, Kuliner
Resto, mushola, toilet bersih, tempat parkir luas
HTM: Ketentuan harga tiket masuk untuk week day sama dengan week end: Rp.10.000,-  (mendapatkan welcome drink).
Parkir dikenakan Rp. 1000 (untuk sepeda motor), Rp. 3 ribu (untuk mobil) dan Rp. 10 ribu (untuk bus)



Minggu, 05 Januari 2014 2 komentar

Diary Dodol Auditor (2)

TERDAMPAR!

Hari senin kemarin terdampar di Jogja. Demikian pula hari Kamis!

"Pak, lewat Jalan Magelang kan?"
"Wah, gak lewat mbak, tujuan terakhir Condong Catur."
Speechless...

***
Shuttle yang aku tumpangi dari daerah barat Jogja (3 jam perjalanan) melewati Tugu. Aku panik bukan main. Bagi orang yang buta Jogja walau pernah tingggal sebulan di Jogja. Tetap saja. Akhirnya aku memutuskan minta diturunkan di pinggir jalan. Entah jalan apa!

Kuturunkan tas laptop dan travel bag dari genggaman. Sejauh mata memandang. Mayoritas jalan ini dipenuhi bank dan rumah makan ternama. Alamak! Dimana aku ini? Kalau menurut GPS gak jauh dari Jalan Magelang...

Baterai BB sudah merah bentar lagi padam. Grusa grusu aku menghubungi ojek langgananku. Taxi? Sudahlah jangan berharap taxi di Jogja, sudah lagu lama kalau pengen naik taxi di Jogja harus nyegat yang langsung lewat. Pesan by phone? Bukan ide bagus. Gak bakal digubris sama operator. Beda dengan Semarang yang layanan taxi-nya bagus. Ada dua pemain major taxi di Semarang yang siap melayani. Di Jogja, jangan harap!

Telpon ojek langganan dua kali gak nyambung.
Ada telpon dari kenalanku sesama auditor.

"Mbakkkkk, kok lagi di pinggir jalan? Ngapain?"
"Aku terdampar Ka! Shuttle yang aku tumpangi gak beres. Tadi pas aku naik pertama dah aku bilangin. Trus bilang bisa lewat Jalan Magelang. Tapi ini gak lewat. Kapok aku!"
"Ya sudah mbak, tunggu di situ. Tadi pak Daniel lihat mbak di pinggir jalan. Nanti dijemput mobil Pak Daniel ya... Tunggu di situ!"
"Oke,"sahutku masygul. Dan terjadi lagi-nya Noah mengalun. Wassalam, aku malu lagi! Padahal kemarin sudah malu akibat insiden ketinggalan kereta. Sekarang terdampar di pinggir jalan Jogja. Auditor macam apa aku ini?

Mobil hitam itu lewat. Aku ragu-ragu mendekat. Kaca dan pintu dibuka. Muncul wajah yang tak asing. Sopirnya Pak Daniel. Hatiku mencelos!

***
"Alle, kenapa tadi kamu bisa di pinggir jalan?"kata Pak Daniel setelah sampai di kantor. 
Sabtu, 04 Januari 2014 0 komentar

Diary Dodol Auditor (1)

sumber: aldyputra.net

"Ati-ati mas!"kataku dengan keras ke Mas Lio karena kakiku menyenggol becak yang juga memadati jalanan Jogja sekitar jam 8 malam. Beruntung kakiku tidak memar.
"Iya mbak, maaf... Berapa menit lagi mbak?"sahutnya panik.
"TUJUH MENIT MAS!"kataku tak kalah kalap.
"Mbak, ini sudah nyampe stasiun. Saya tunggu di sini ya? Nanti saya telpon. Kabari ya dapat kereta atau tidak."kata Mas Lio.
"Lah, saya gak punya nomor hape mas, ya sudah saya masuk dulu,"kataku sambil berlari.
Nahas, antrian panjang. Namun kereta Malabar belum nongol. Sedikit bernapas lega, masih bisa ngantri.
Lama-lama kok gak selesai-selesai yah nih orang di depanku.... Beli tiket apa ngapain? Nengok sebelah kanan udah kelar, seharusnya aku ngantri di sana deh... Tetapi antrian sebelah kanan sudah dipadati konsumen lainnya. Tiba giliranku, kereta datang. Petugas tiket tidak mau melayani. Aku meninggalkan dengan gontai.

Apesnya, wajah itu sudah gak ada. Wajah Mas Lio raib!

Dengan gontai aku mencari taksi sekenanya. Sepertinya lagu Jogjakarta-nya katon Bagaskara yang kalem nan puitis itu tak berlaku malam ini. Jogja padat merayap. Banyak ruas jalan ditutup. Walhasil perjalanan yang seharusnya bisa ditempuh sepuluh menit jadi dua kali lipatnya.

***
"Ayo sini, kita mulai review-nya,"sahut atasanku.
Segera aku mengekor dengan membawa laptop.

Takzim review dimulai dikuliti. Dicecar dan adu argumen memenuhi atmosfir ruangan ber-wallpaper krem bermotif ini.

"Wajahmu kok kelihatan lesu. Lapar ya? Mas Lio, belikan nasi atau mie buat semua orang di kantor yang masih lembur. Oya, Pak Irvan tolong dibuku di biaya rapat ya? Oya kamu kan kemalaman, sudah tidur di hotel aja. Ini tolong ya Pak Irvan biar si Alle dibuatin surat perjalanan dinasnya ya..."cerocos atasanku.

Wajar datar seperti di emoticon chat.

"Pak, saya langsung pulang aja pak, gak perlu dikasih hotel, masih cukup kok waktunya."kataku sambil melirik jam di laptop menunjuk angka 7.25.

"Beneran nih gak mau dikasi hotel?"
"Iya Pak. Ada kereta jam 9 malam dari Jogja,"sahutku optimis.
"Oke, kita lanjutkan reviewnya."

"Oya, makanan sudah datang, so far sudah ya, nanti dikirim by email aja hasil review kita hari ini, beneran nih gak nginap di Jogja aja?"

"Terima kasih pak, maaf saya tidak bisa ikut makan dan tidak menginap di hotel. Barusan saya online melihat ada kereta jam 20.22. Sekarang pukul 8 malam Pak. Saya ijin pamit."
"Ya sudah, kamu hati-hati ya."


***

TERDAMPAR!

Kalimat yang membuatku semakin kalut. Sudah pukul 9 dan taksi yang kutumpangi tak tentu arah. Malam ini menginap di mana ya? Kereta langganan Mutiara Selatan jam 21.45 sudah habis dan tersisa kereta Malabar 20.22. walau sudah dikejar dengan susah payah, tidak terkejar. Seperti mengejar cintamu #tsahhh...

Akhirnya nomor asing masuk dan cuma miscalled. Alamak! telpon balik aja deh...

"Mbak Alle, sudah dapat kereta? Saya sudah balik kantor ini..."

Suara khas Mas Lio!

"Mas, saya gak dapat tiket, gimana ini? Tadi saya juga habis di bbm si Rose kalo Bus Efisiensi-nya juga sudah habis jam segini, musim tahun baru sih Mas... Trus aku gimana Mas? Aku malu sama Pak Daniel. Udah ditawarin hotel tapi gak mau... Tapi hotel itu bukan hak aku mas. Aku kan ke Jogja atas inisiatif sendiri... Aku perlu konsul ke atasan atas kerjaanku. Piye mas?"kataku menahan tangis.

"Ya sudah gini aja mbak, mbak balik ke kantor aja,"tawar Mas Lio.

"Oke deh, tapi aku di lantai 1 aja, aku gak mau naik ke lantai 2. Aku malu Mas sama Pak Daniel..."








 
;