Minggu, 23 Februari 2014 0 komentar

Pilihan Hati

Terkadang kita terjebak dengan sebuah cinta yang absurd: cinta yang berhulu ledak tinggi dengan pemantik obsesi...

Saking absurdnya sampai terpantul dalam setiap kesempatan: saat sibuk bekerja, saat makan, saat bersepeda, apalagi saat merenung di kereta....

Kenangan yang usang terkadang have a precious place in my heart . Terutama orang-orang yang pernah “menarik”. Dengan orang-orang yang menarik ini terkadang aku berpikir, “Apakah naïf sekali diri ini?” Dan terkadang berharap akan ada kelanjutan cerita yang menggugah penuh gelora. Naif! Tak pelak, pada akhirnya sadar. Sebenarnya ini cinta? Atau hanya sebatas obsesi? Mungkin terlalu silau dengan sisi baik dari orang-orang “menarik” itu. Kenapa orang-orang? Karena jamak dan rentang waktu yang kugunakan sebagai populasi adalah 10 tahun terakhir.

Lalu bagaiman kabar mereka? Tetap menarik dan membuatku sadar. Akan ada yang memilih dan dipilih.

Hidup itu logis: dipenuhi dengan pilihan yang berujung kepada konsekuensi.
Dan aku menemukan quote menarik berikut:  

Spend life with whoever makes you happy;
Not who you have to impress.....
(anonym)

Sumber: picsart.com

Ya, terkadang saya atau Anda mungkin terjebak dalam seseorang yang who you have to impress.
Logis sebenarnya alasan kenapa pengin memberi kesan baik untuk seseorang yang menarik itu. Pengin tampil baik, keren, menarik, bahkan kalau bisa outstanding!
Kejam sekali ya? Pakai topeng untuk terlihat baik….
Qoute di atas membuat saya kembali berpikir jernih untuk menjalani hidup dengan apa adanya, bukan ada apanya. Percuma bisa “mendapatkan” seseorang yang menarik kalau kita memakai topeng dan apa pantas orang terkasih diberikan topeng itu? Bahkan belum tentu seseorang yang “menarik” itu baik untuk kita. Bahkan belum tentu seseorang yang “menarik” itu bisa membuat hidup kita bahagia dunia akhirat. Apalagi standar “menarik” itu juga sungguh relative baik/buruknya.
Lalu? Mari belajar dan terus belajar mengarahkan hati agar hati-hati…
Agar benar dalam memilih, salam!


0 komentar

Cintaku Hambar

Diantara wajah-wajah baru ku eja satu per satu,
Berusaha ku menangkap atmosfir guyub,
Wajah-wajah yang menunduk itu, kutangkap satu,
Elok!
Kau di antara yang berjejal melayani tamu agung,
Aku hanyalah kawanan tamu agung yang terpaksa menangkap wajah datar…
Bingar itu ketika aku menangkap wajahmu ada di kerumunan orang-orang yang melempar doa setiap pagi-pagi…
Sesekali kau mampir di rumah tamu agung yang kau layani kemarin, masih sama kau setor muka atau terkadang hanya mengambil beberapa lembar kertas berjejal perintah atau entah informasi yang akan dibaca atau tidak…
Wajahmu kutangkap lagi, ketika aku turun dari tangga…
Sepermili sekon degup-degup itu berpesta…
Lagi-lagi seperti biasa kau hanya menunduk…
Alam tak sanggup menyampaikan isyaratku padamu
Karena aku terlalu lirih menyampaikan rasa yang kini menyala hambar…
Karna kita hanya bagai medan yang kehilangan atau malah tak pernah berusaha memiliki gaya…
0 komentar

Bilur Rindu

Aku hanya bisa memelukmu lewat tulisan
Aku hanya bisa mengingaumu lewat kata
Aku hanya bisa mengejamu lewat huruf demi huruf
Ah, kau masih sama, di tempat pertama kali kita bersua…
Berubah, tentu saja!
Aku juga!
Lalu…
Adakah yang tersisa?
Kau dulu yang kenalkan aku lewat sebuah makna yang menggelora
Kini tinggal puing lebur
Kukejar, rasanya tak perlu,
Hanya bilur rindu yang sedikit merintih
Menguar pudar
Inginku, melepasmu….

Gombong, 29 November 2013
 
;